MWCB16. Nanem Padi

1142 Words
Hari ini adalah hari perta Alisha bekerja di Emiliano Company. Atensi seluruh pegawai mengarah kepada Alisha, karena pakaian yang digunakan Alisha sangat ketat. Cklek Alisha masuk ke dalam ruangannya dan segera duduk di tempat yang biasa dipakai kerja oleh Elena. Alisha melihat sekilas, ternyata barang-barang Elena sudah tidak ada. "Ternyata udah gak ada, baru aja mau gue buang yerus gue bakar," ucap Alisha sambil menaruh tangannya di dagu. Tok...Tok...Tok Terdengar, pintu ruangan Alisha diketuk. Alisha pun segera berjalan dan membukakan pintu tersebut. Tampak lah seorang perempuan dengan tumpukan dokumen ditangannya. "Ini pekerjaan Bu Alisha dari Pak Arsen. Kebetulan Bu Alisha adalah sekertaris baru yang menggantikan Bu Elena," ucap perempuan tersebut sambil memberika tumpukan dokumen tersebut. Alisha terkejut akan tumpukan dokumen yang sangat banyak. "Kenapa semua dikasih ke saya? Pegawai disini kan banyak. Harus saya semua?" tanya Alisha dengan tatapan tajamnya. "Maaf, bu. Semua pegawai disini juga sudah mendapatkan tugasnya masing-masing. Nah ini, tugas Bu Alisha. Say permisi dulu," ucap perempuan tersebut dan segera keluar dari ruangan Alisha. Alisha pun berjalan menuju mejanya dan menaruh kasar dokumen-dokumen tersebut. "Kenapa banyak banhet sih," kesal Alisha. Terlihat Arsen baru saja datang dan masuk ke ruangannya. Alisha pun menyusul Arsen masuk ke ruangan untuk menawarinya kopi. "Pagi Pak Arsen, mau saya buatkan kopi?" tanya Alisha sambil membusungkan da*anya. Arsen melihat sekilas, tampak Alisha memakai baju ketat dan roknya diatas lutut. Bukannya tergoda, Arsen malah kembali menatapa layar laptopnya. "Tidak. Saya tidak suka pegawai saya, terutama sekertaris memakai pakaian seperti itu. Tidak sopan dan menjatuhkan harga diri Emiliano Company," ucap Arsen dengan suara ketus. Alisha mendengus kesal dan segera keluar dari ruangan Arsen tanpa berpamitan. Arsen tidak menghiraukan perbuatan Alisha. "Jika ingin menjadi sekertarisku secara paksa, kamu harus mendapat tugas lebih daripada biasanya yang saya berikan ke Elena," batin Arsen dengan smirk di bibir. Arsen kembali fokus terhadap layar laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Alisha, mengerjakan semua tugasnya dengan tidak niat. *** "Mbak Elena sudah kuat kalau ke sawah?" tanya Laras. "Sudah kok Ras, ini buktinya aku udah kuat jalan," ucap Elena menyakinkan. "Laras khawatir, takut mbak kecapean kaya kemarin," ucap Laras. Kemarin saat Laras dan Elena sedang keliling kampung, tiba-tiba wajah Elena sangat pucat dan tidak sanggup untuk berjalan. Berakhirlah Laras membopong Elena sampai ke rumah. "Ayo Ras, kita berangkat sekarang. Keburu siang," ucap Elena dengan semangat. Mereka berdua pun segera berjalan menuju ke sawah, tempat Bi Inah dan Pak Wirya sedang menanam padi. Laras membawa teko besar berisi teh dan Elena membawa rantang yang berisi lauk pauk dan wadah berisi nasi. Mereka berdua berjalan santai menuju sawah, sambil bercerita. "Mbak Elena bisa gak?" tanya Laras dengan wajah khawatir. "Bisa Ras, kamu jangan khawatir terus dong," ucap Elena sambil terkekeh. Elena berjalan dengan hati-hati saat melewati jalan sempit dan licin karena terkena lumpur. Laras memberi tau, jika tidak ingin terpeleset sendalnya harus dicopot. "Ya Allah, kalian berdua ngapain kesini," kaget Bi Inah. "Mbak Elena yang maksa ngajak ke sawah budhe. Padahal udah Laras bilang gak usah," ucap Laras. "Non udah gak sakit? Kalau sakit jangan ke sawah. Disini panas, terus nanti kulit Non Elena jadi hitam," ucap Bi Inah. "Masalah kulit hitam, nanti bisa diputihin lagi. Soalnya Elena penasaran, sama nanem padi," ucap Elena sambil terkekeh. "Mbak Elena duduk disini aja dulu, lihat cara mereka nanem padinya. Nanti kalau udah paham betul, Mbak Elena boleh ikut nanem padi. Jangan lupa pakai capilnya ya mbak," ucap Laras dan segera ikut dengan Bi Inah untuk membantu menanam padi. Elena mengamati cara menanam padi, sungguh hal yang luar biasa dirinya bisa pergi ke desa dan pergi ke sawah. Setelah beberapa menit Elena mengamati, Elena pun segera ikut masuk ke dalam sawah untuk membantu menanam padi. "Elena udah paham kok. Bagi dong itunya," ucap Elena sambil menunjuk tumbuhan pada yang masih kecil. "Ini, bisa gak mbak?" tanya Laras sambil terkekeh. "Bisa kok. Liat aja," ucap Elena dan segera menanam padi yang diberikan oleh Laras tadi. Laras melihat jika Elena sangat pandai menanam padi, padahal ini adalah hal pertama bagi Elena. Sangat cepat paham walaupun hanya melihat. "Wah, hebat Mbak Elena. Padahal cuma lihat, langsung bisa nanem," ucap Laras denhan senyumannya. "Makannya jangan ngeraguin kemampuan aku. Bisa kan aku," ucap Elena sambil menoel hidung Laras dengan tangan penuh lumpur. "Mbak Elena usil. Hidung Laras jadi kena lumpur nih," ucap Laras dengan wajah lucunya. "Hahaha, maaf Laras." Ucap Elena dengan tawanya. Bi Inah dan Pak Wirya sangat bahagia saat majikannya bisa kembali tertawa bahagia. Jarang-jarang mereka bisa melihat Elena tertawa. Di lain tempat, sedari tadi Arsen dibuat kesal karena tingkah Alisha. Sangking kesalnya, Arsen pun menyuruh Alisha untuk mengerjakan tugasnya di ruangannya. "Pak, ini maksutnya gimana ya?" tanya Alisha dengan wajah bingung. Arsen sudah muak akan pertanyaan Alisha dan menggebrak meja kerjanya. "Kamu disini niatnya kerja apa mau pamer tubuh? Saya pusing jawab pertanyaan kamu. Jika kamu tidak bisa bekerja, silahkan angkat kaki dari perusahaan ini. Masih banyak orang yang mau jadi sekertaris saya!" bentak Arsen dengan tatapan tajamnya. Merasa jika dirinya dibentak oleh Arsen, Alisha pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke ruangannya. Dirinya harus bisa mengerjakan semua tugas yang diberikan Arsen padanya. Arsen yang melihat tingkah laku Alisha pun memijit pelipisnya dan segera duduk kembali di kursi kebesarannya. "Agnes, kamu ke ruangan saya sekarang," ucap Arsen. Arsen berniat menyuruh Agnes untuk mengambil semua tugas yang dikerjakan oleh Alisha dan menyuruh Alisha untuk pulang cepat. Bisa-bisa nanti dirinya tidak fokus bekerja karena ulah Alisha yang kekanak-kanakan. Tok...Tok...Tok "Masuk," ucap Arsen dengan wajah lelahnya. "Maaf pak, ada apa memanggil saya?" tanya. Agnes. "Kamu ambil semua pekerjaan yang dikerjakan oleh Alisha. Dan suruh dia untuk pulang cepat, saya mau pergi keluar dulu. Tolong kamu dan Stella handle pekerjaan saya," ucap Arsen. "Baik pak. Saya permisi dulu," ucap Agnes dan segera keluar dari ruangan Arsen. Tak lupa Agnes menelpon Stella sahabatnya untuk membantu membawa pekerjaan Alisha. "Ada apaan?" tanya Stella yang sudah datang disamping Agnes. "Pak Arsen nyuruh kita berdua buat ngerjain tugas Alisha. Adik tirinya Elena. Sama disuruh ngehandle pekerjaannya Pak Arsen," jawab Agnes. "Gue tau, tuh uler keket pasti bikin Pak Arsen pusing. Mana kita yang kena imbasnya lagi," kesal Stella. "Udah lah, mending kita buru-buru ambil pekerjaannya dan suruh dia pulang. Keburu Pak Arsen ngamuk," ucap Agnes. "Siap-siap." Ucap Stella. Mereka berdua pun berjalan menuju ke ruangan Alisha. Terlihat, Alisha sedang santai bermain ponselnya, bukan mengerjakan pekerjannya. Tanpa izin, Agnes dan Stella mengangkut semua pekerjaan Alisha yang ada di meja. "Kalian mau ngapain?" tanya Alisha dengan tatapan tajamnya. "Pak Arsen nyuruh buat ngambil semua pekerjaan kamu dan menyuruh kamu untuk dipulangkan cepat," jawab Agnes. "Jangan lancang ya kamu. Saya bisa pecat kamu," ucap Alisha. "Tidak ada yang berhak memecat pegawai Emiliano Company tanpa persetujuan dan keputusan dari saya." Ucap Arsen tepat dibelakang Agnes dan Stella. Alisha dibuat kicep akan ucapan Arsen. Setelah mengatakan tersebut, Arsen pun berjalan menuju ke lift dan disusul oleh Agnes dan Stella dengan tumpukan dokumen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD