MWCB15. Keliling Kampung

1080 Words
Pagi yang indah, disambut dengan suara burung berkicau. Berbeda dengan Jakarta. Jarang sekali ada burung berkicau di pagi hari. Duduklah seorang perempuan cantik dengan wajah bule di kursi kayu. "Non Elena, ini diminum dulu tehnya sekalian dimakan biskutinya," ucap Bi Inah. "Makasih bi, jadi ngrepotin bibi deh," ucap Elena sambil tersenyum. "Enggak lah non. Lebih baik non yang bibi ladenin daripada Non Alisha sam nyonya. Gak ada akhlak," ucap Bi Inah sambil duduk di samping Elena. "Hush, bibi malah ngegosip pagi-pagi," ucap Elena sambil terkekeh. "Bener loh non, bibi gak bohong," ucap Bi Inah sambil terkekeh. Terlihat seorang laki-laki paruh baya dari dalam rumah sambil membawa cangkul dan memakai caping. "Bu, bapak tak mangkat neng sawah ndisik yo,'' ucap Pak Wira. (Bu, bapak berangkat ke sawah dulu ya) "Nggeh pak. Bekale pon dibeto dereng?" tanya Bi Inah. (Iya pak. Bekalnya udah dibawa belum?) "Sampun bu. Mengko bue nyusul nyang sawah ra?" tanya Pak Wirya. (Sudah bu. Nanti bue nyusul ke sawah gak?) "Insyaallah ya pak. Delok mengko keadaanne piye," ucap Bi Inah. (Insyaallah ya pak. Lihat nanti keadannya gimana) Elena yang tak paham akan percakapan Bi Inah dan Pak Wirya pun garuk-garuk kepala. Dirinya memang harus belajar Bahasa Jawa sedikit-sedikit. Lumayan bisa nambah ilmu baru. "Yowes, tak mangkat ndisik. Assalamualaikum," ucap Pak Wirya. (Yaudah, tak berangkat dulu. Assalamualaikum) "Waalaikumsallam," kompak Bi Inah dan Elena. Pak Wirya pun segera berangkat ke sawah untuk menanam padi. Saat Pak Wirya sudah berangkat, Elena pun menanyakan percakapan Bi Inah dengan Pak Wirya tadi. "Tadi Pak Wirya bilang apa bi? Kelihatannya mau ke sawah," ucap Elena. "Oh, iya tadi bapak mau pergi ke sawah. Mau nanem padi, nanti kalau keadaan Non Elena sudah membaik bibi pamit ke sawah bisa non?" tanya Bi Inah. Elena tersenyum saat melihat asisten rumah tangganya yang minta izin. Padahal bukan dirumahnya. "Kenapa harus izin bi? Kan ini waktu cuti bibi. Elena sih gak apa-apa ditinggal. Andai badan Elena udah seger, Elena pengen ikut ke sawah," ucap Elena sambil terkekeh. "Orang bule ke sawah, pasti jadi artis di sawah nanti. Gak takut hitam kulitnya non?" tanya Bi Inah. "Ih, gak apa-apa bi. Elena penasaran banget lihat petani nanem padi langsung. Elena sih gak takut hitam, kalau hitam tinggal putihin lagi, hehehe," ucap Elena sambil terkekeh. "Non Elena bisa aja. Bibi pamit ke dalam dulu ya non. Mau beberes," ucap Bi Inah. "Elena bantuin ya bi," ucap Elena. "Gak usah. Nanti ponakan bibi kesini, dia cewek. Bibi suruh ngajak kamu jalan-jalan keliling kampung sama belajar Bahasa Jawa. Biar punya pengalaman," ucap Bi Inah sambil terkekeh. "Ih, gak sabar deh Elena. Makasih banyak ya bi, Elena jadi banyak ngrepotin bibi," ucap Elena. "Enggak. Yaudah bibi tinggal dulu, kamu tungguin aja." Ucap Bi Inah dan segera masuk ke dalam rumahnya. Elena pun duduk anteng di kursi kayu tradisional. Sambil menunggu keponakan Bi Inah datang. Tak berselang lama, terlihat ada seorang perempuan dengan rambut di kepang dua berjalan ke rumah Bi Inah. "Assalamualaikum," salam perempuan rambut kepang dua itu. "Waalaikumsallam, keponakan Bi Inah ya?" tanya Elena. "Enggeh mbak. Sampeyan majikanne budhe to?" tanya perempuan tersebut. (Iya mbak. Kamu majikannya budhe to?) Elena mengernyit tidak paham dengan ucapan perempuan di depannya ini. "Maaf mbak, aku gak paham sama omongan mbak," ucap Elena sambil menyengir seperti kuda. "Ya Allah, lupa aku mbak. Kamu orang Jakarta kan? Kenalin saya Laras, keponakan Budhe. Tadi, budhe telpon suruh ngajak jalan-jalan majikannya yang lagi nginep dirumah budhe. Mbak majikan budhe to?" tanya Laras. "Gak apa-apa. Iya, aku majikannya Bi Inah dan aku orang Jakarta. Aku udah gak sabar diajak jalan-jalan keliling kampung sama kamu. Oh iya sampai lupa kenalan. Nama aku Elena Caroline, panggil aja Elena. Salam kenal ya Laras," ucap Elena mengulurkan tangannya. Laras pun membalas uluran tangan Elena sambil tersneyum. "Ternyata ada juga orang Jakarta yang enggak sombong. Biasanya anak-anak orang sini yang merantau ke Jakarta. Pulang-pulang gak mau nyapa, diajak salaman juga gak mau," ucap Laras sambil duduk di kursi samping Elena. Elena terkekeh menanggapi ucapan Laras. "Enggak semua orang Jakarta seperti itu kok mbak. Tergantung sama sifatnya aja. Ada yang seperti itu, ada juga yang baik. Keliling kampungnya sekarang atau besok mbak?" tanya Elena sambil terkekeh. Laras pun menepuk jidatnya karen lupa. "Astagfirullohaladzim, Laras lupa lagi. Ayo mbak berangkat sekarang aja. Keburu panas, sekalian pamit sama budhe dulu," ucap Laras beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah untuk pamit pada budhenya. "Budhe, Laras sama Mbak Elena pamit dulu mau keliling kampung ya," ucap Laras. "Wes tekan to koe, biasane celuk-celuk," ucap Bi Inah sambil terkekeh. (Udah sampai to kamu, biasanya manggil-manggil) "Sampun budhe. Kulo kalih Mbak Elena pamit riyen nggeh. Assalamualaikum," ucap Laras sambil menyalimi tangan Bi Inah. (Sudah budhe. Aku pamit sama Mbak Elena pamit dulu ya. Assalamualaikum) "Elena pamit dulu ya bi," ucap Elena. "Hati-hati ya. Nanti kalau udah mau dhuhur jangan lupa pulang, makan siang sama sholat loh. Ojo bablas leh dolan ngasi surup," ucap Bi Inah. (Jangan langsung main sampai sore) "Nggeh budheku seng ayu dewe," ucap Laras sambil terkekeh. (Iya budheku yang cantik sendiri) Laras dan Elena pun segeera keluar dari dalam rumah dan berjalan santai keliling kampung sambil bertukar cerita. Terlihat pemandang gunung yang berjejer, pohon-pohon yang masih banyak, burung-burung masih ada, dan ditambah udara yang segar dengan pemandangan sawah dipinggirnya. "Ini warungnya Yu Painem. Kalau mau beli apa-apa kesini aja. Udah komplit banget. Kalau mau ke supermarket harus ke kota, jauh lagi jaraknya. Susah nyari ojek disini," ucap Laras. "Warungnya deket ya. Masih asri juga kampung ini. Warganya dilihat juga ramah-ramah. Kelihatan banget kaya jaman dalu," ucap Elena sambil manggut-manggut. "Eits, jangan tertipu. Mereka semua memang ramah, tapi kalau musuhan udah kaya kucing garong. Oh ya, jangan lupa jaga sikap. Karena di desa, satu orang yang melihat beritanya sampai ke desa seberang. Biasa mulutnya tetangga pedes, baik doanh kalau mau ngutang, hahaha,'' ucap Laras sambil terkekeh. "Jangan kenceng-kenceng, Ras. Nanti kalau denger di lempar sendal mulut mu," ucap Elena sambil terkekeh. "Loh, Mbak Elena kok bisa tau?" tanya Laras bingung. "Dulu temenku cerita. Dia punya temen asli desa itu. Ngomongnya itu ceplas-ceplos. Tiba-tiba mulutnya di lempar pakai sendal sama salah satu warga desa. Karena dia ngejek ratu gibah di desa itu. Alias tetangganya,'' jawab Elena sambip terkikik. "Woalah, bener. Kalau di desa harus jaga sikap pergaulan sama tata bicara. Kalau gak bisa yaudah, satu orang yang melihat, beritanya sampai kampung sebelah.'' Ucap Laras. Elena dan Laras pun meneruskan perjalanan keliling kampung. Melihat pemandangan yang indah ditambah udara yang sangat segar. Membuat Elena betah tinggal di rumah Bi Inah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD