MWCB14. Saling Menjebak

1034 Words
Bi Inah dan Pak Wirya sudah sampai di rumah sakit tempat Elena dirawat. Terlihat ada dua orang laki-laki yang menjaga di depan ruang inap Elena. "Maaf, anda siapa?" tanya salah satu bodyguard Arsen. "Maaf pak, saya budhe dan pakdhenya Elena. Kami disuruh jemput Elena untuk dibawa pulang," ucap Bi Inah. Tampak bodyguard Arsen sedang berpikir dan segera memberikan izin kepada Elena. "Non, ini bibi," ucap Bi Inah dengan suara lirih. "Bi Inah, Pak Wirya," kaget Elena. Bi Inah memberi intruksi untuk diam. Disaat Bi Inah dan Pak Wirya akan menjemput Elena. Mereka berdua sudah kongkalikong dengan sang dokter. Bahkan akting Elena tadi dihadapan Arsen. Bi Inah mengetahui semua rencana jahat nyonya dan nonanya. Jadilah, Bi Inah selalu ada disaat Elena hampir sekarat. "Ayo non, sekarang kita pulang," ucap Bi Inah. "Pulang kemana bi?" tanya Elena. "Ke rumah bibi di Semarang. Ayo bibi bantu," ucap Bi Inah. Elena pun segera bangkit dari tidurnya. Tidak lupa Elena mengganti pakaian rumah sakit menjadi pakaian yang dibawakan oleh Bi Inah dari rumah tadi. "Mari non, saya bantu," ucap Bi Inah sambil memapah Elena. Disaat sampai di depan pintu, Bi Inah tidak lupa memberikan salam dan ucapan terima kasih pada bodyguard Arsen. "Makasih ya pak, kami pamit dulu," ucap Bi Inah. "Apa perlu kami antar?" tanya salah laki-laki. "Tidak usah pak. Terima kasih, kita sudah dijemput kok." Ucap Bi Inah dan segera membawa Elena keluar dari rumah sakit. *** Seorang pria tampan dan gagah saat ini sedang mengamuk di ruangannya. Dia Arsen Emiliano. Arsen mengamuk karena Elena dibawa orang entah siapa itu. "Kenapa kalian bisa kecolongan hah?!'' bentak Arsen kepada seluruh bodyguardnya dan asisten perempuan yang ditugaskan Arsen untuk menjaga Elena. "Ma-maaf pak, tadi mereka bilang budhe dak pakdhenya Non Elena,'' ucap salah satu bodyguard Arsen dengan suara gemetar. Arsen pun berjalan mendekati bodyguardnya dengan tatapan tajam. "Apa kau tidak mendengarkanku tadi? Jika Elena di Indonesia tidak mempunyai siapa-siapa," ucap Arsen dengan aura mengerikan. "Sa-saya kelupaan pak," jawab bodyguard itu dengan gemetar. "Sekarang, perintahkan seluruh bodyguard untuk mencari Elena di penjuru Indonesia," ucap Arsen penuh penekanan di setiap kalimatnya. "Ba-baik pak." Ucap bodyguard itu dan segera keluar dari ruangan Arsen. Arkh Arsen melempar semua barang-barang yang ada di meja. Pikirannya kacau karena perempuan yang dicintai hilang begitu saja dibawa oleh seseorang. Bahkan Arsen tidak mengetahui orang tersebut. Tok...Tok...Tok Pintu ruangan Arsen diketuk oleh seseorang, Arsen pun mempersilahkan orang tersebut masuk. Nampak dua perempuan yang satu sudah berumur dan satunya masih muda. Mereka adalah Ariana dan Alisha. "Arsen, kamu kenapa? Ini ruangan kamu juga kenapa berantakan?" panik Arian dan mendekat ke arah Arsen. Sebelum Ariana mendekat, Arsen mengulurkan tangannya seperti orang sedang menyetop kendaraan. "Jangan mendekat," ucap Arsen sambil menatap tajam ke arah Ariana dan Alisha. Ariana pun berhenti di tempat, sedangkan Alisha tetap berjalan mendekati Arsen dan mengusap-usap pundak Arsen. Sekilas Arsen menatap jijik pada pakaian Alisha dan setelah itu mendorong tubuh Alisha. "Saya bilang jangan mendekat! Apa kamu tuli, hah?!" bentak Arsen dengan tatapan mautnya. "Jika kamu ada masalah bercerita lah, Arsen. Jangan kamu pendam sendiri seperti ini. Kami siap membantu mu," ucap Arian dengan suara lembut agar Arsen luluh. Arsen mendekat ke arah Ariana dan Alisha dengan tatapan tajamnya dan jangan lupakan smirk di bibir Arsen. "Tidak usah banyak drama. Saya tau kebusukan kalian berdua. Sekarang pertanyaan saya, dimana Elena?" tanya Arsen sambil menodongkan pistol yang berada di dalam saku jas kemejanya. Terlihat Ariana dan Alisha sangat gugup, karena Arsen menodongkan pistol ke arah mereka dan Arsen memojokkan mereka ke dinding. "Jawab atau peluru ini bersarang di jantung kalian," ucap Arsen dengan smirknya. "Ka-kami tidak tau Pak Arsen, karena Elena tinggal bersamamu. Saya tadi siang berchattan dengan Elena. Katanya dia mau pamit dari rumah Pak Arsen ke rumah saudaranya. Saya ada buktinya kok," alibi Alisha. "Keluarkan bukti itu," ucap Arsen penuh penekanan. Alisha pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan segera memberi tau bukti chatnya pada Arsen. Alias chat palsu dengan nomor lain yang diberi nama Elena dan foto Elena. Arsen diam mematung saat membaca chat Alisha dan Elena. Tertulis, Elena tidak suka tinggal di mansion Arsen dan pura-pura menjadi perempuan polos agar bisa merauk harta Arsen. "Di wajah Elena tidak ada kepalsuan saar ku ajak ke kamarnya. Pasti ini akal-akalan Alisha untuk menjatuhkan Elena. Saya ikuti permainanmu Alisha dan jika sudah waktunya akan ku bongkar semua kebusukanmu," batin Arsen. Arsen pun menatap Alisha dan Ariana. Dirinya akan menjalankan rencananya yaitu mengikuti permainan Alisha dan mamanya. "Sejahat itu kah Elena pada saya? Dibalik sifat diam dan polosnya, ternyata Elena bersifat jahat," ucap Arsen dengan tatapan tajam yang dibuat-buat. Alisha dan Ariana pun saling pandang dan tersenyum. Rencana mereka berhasil dan sebaliknya rencana Arsen pun juga berhasil. Alisha pun segera memegang bahu Arsen dan mengusap-usapnya. "Sudahlah, jangan dipikirkan. Perempuan seperti Elena itu harus dijauhi. Oh ya, tadi kenapa Pak Arsen tanya Elena pada kami? Memangnya Elena kemana?" tanya Alisha kepo. "Elena pergi setelah kecelakaan. Apakah kalian mengetahui Elena dimana? Saya akan memaki dia, karena dia perempuan ular. Dan satu lagi, sebelum Elena pergi, dia memberikan surat untuk menjadikanmu sekertaris saya. Apakah kamu bersedia menggantikan Elena?" tanya Arsen. Alisha sangat bahagia saat ditawari menjadi sekertaris Arsen langsung dari orangnya. "Apakah nanti Elena tidak akan marah pada saya? Karena jabatannya di Emiliano Company saya ambil?" tanya Alisha dengan wajah memelasnya. "Jika dia memarahi mu, akan saya marahi balik. Karena dia sangat jahat. Untung saja kamu memberi tahu saya tentang chat mu dengan Elena," ucap Arsen sambil tersenyum. Ralat, tapi senyum terpaksa. "Sesama manusia harus saling membantu. Sebaiknya Pak Arsen pulang agar Pak Arsen besok bisa bekerja. Oh ya, besok saya apa bisa mulai bekerja?" tanya Alisha. "Bisa. Kalian boleh keluar sekarang, saya ingin sendiri. Saya masih terbawa emosi saat mengetahui kebusukan Elena. Daripada kalian kena emosi saya dan maaf untuk tadi telah membentak kalian dan mendorongmu, Alisha," ucap Arsen. "Tidak apa-apa pak. Saya tau Pak Arsen sedang emosi. Kami permisi terlebih dahulu," ucap Alisha dan segera pergi meninggalkan ruangan Arsen. Arsen pun berjalan menuju ke kursi kebesarannya sambil membuka ponsel. Dirinya membuka galeri dan menatap wajah Elena yang sedang makan. "Kalian akan masuk ke jebakan saya dan kebusukan kalian akan terbongkar. Saya akan ikuti permainanmu, Nona Alisha." Ucap Arsen dengan tatapan tajam yang mengarah ke pintu dan tangannya yang mengepal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD