Sesampainya di rumah sakit, Elena pun segera ditangani oleh dokter. Hati Arsen berdegup kencang menunggu keluarnya dokter dari dalam ruangan.
"Den, bibi sama bapak mau pulang dulu. Takut nyonya sama Non Alisha curiga nanti," ucap Bi Inah.
"Iya bi, pulang aja gak apa-apa. Nanti Arsen kasih kabar," ucap Arsen.
"Maaf ya, den. Kami permisi dulu," ucap Bi Inah dan segera pergi dari hadapan Arsen.
Tak lama kemudian, seorang dokter yang menangani Elena pun keluar dari dalam ruangan. "Bagaimana keadaannya dok?" tanya Arsen.
"Maaf, bapak siapanya Elena ya?" tanya sang dokter.
"Saya kakaknya," jawab Arsen
"Adik mas, kena trauma. Ada luka di pipinya dan pernapasannya agak terganggu karena terlalu sering berenang di malam hari," ucap sang dokter.
Arsen pun mengernyitkan alisnya, setau Arsen semalam Elena berada di pelukannya terus. Tidak pergi kemana-mana.
"Dan ya, jangan terlalu diajak berbicara yang berat-berat, karena pasien saat ini sedang sensitif dan mudah emosi," sambung sang dokter.
"Baik dok, boleh saya jenguk sekarang?" tanya Arsen.
"Silahkan mas." Ucap sang dokter dan segera pergi meninggalkan Arsen.
Arsen pun segera masuk ke dalam ruangan Elena. Terlihat Elena sudah sadar dan tengah melamun. Hati Arsen ngilu saat melihat permpuan yang ia cintai seperti ini.
"Elena," panggil Arsen dengan suara pelan.
Elena tak mengalihkan pandangannya ke arah Arsen. Dengan segera Arsen pun mendekat ke Elena dan memeluknya.
"Elena, ini saya Arsen. Apakah kamu tidak mengingat saya?" tanya Arsen.
Tiba-tiba Elena mendorong Arsen dengan sangat kuat sampai Arsen jatuh tersungkur. "Pergi! Pergi jauh-jauh buat kamu yang bernama Arsen! Karena mu, saya menjadi seperti ini!" teriak Elena sambil menatap tajam ke arah Arsen.
Arsen segera bangkit dari jatuhnya dan mendekat pelan-pelan ke arah Elena. "Elena, kamu kenapa? Saya salah apa sama kamu?" tanya Arsen.
Elena memberikan selembar surat kepada Arsen. Memang saar dokternya keluar, Elena sempat menulis surat sebentar. "Kamu baca dan pergi dari sini sekarang!" bentak Elena sambil melemparkan surat tersebut ke arah Arsen.
Surat itu terjatuh tepat dihadapan Arsen, dengan segera Arsen mengambil dan membaca surat itu. Belum sempat membaca, Elena sudah melayang vas bunga kearah dirinya. Untung saja lemparannya melesat. Arsen segera memegang kedua tangan Elena dan memencet tombol diatas Elena untuk memanggil sang dokter. Tak lama kemudian pun dokter pun datang ke ruangan Elena.
"Mohon maaf, masnya bisa keluar sebentar?'' tanya sang dokter.
Arsen menganggukan kepalanya dan segera keluar dari dalam ruangan. Arsen menunggu diluar. Dirinya teringat akan surat yang diberikan oleh Elena tadi. Arsen pun segera membuka surat tersebut.
"Hai pak bos, maafin sifat Elena tadi. Sebenarnya trauma Elena juga gak sampai segitu wkwkw. Elena cuma akting biar gak ketahuan aja kalau Elena deket sama pak bos. Oh ya, Elena mau bilang. Elena mau ngundurin diri jadi sekertaris bapak, Elena udah punya penggantinya kok. Dia Alisha, adik Elena gak kalah pinter sama Elena. Bahkan lebih cantik dia daripada Elena. Untuk sementara ini, Elena akan menjauh sebentar dari Pak Arsen. Tolong jangan paksa Elena untuk selalu di dekat pak bos dan tetap menjadi sekertaris pak bos. Oh, iya Elena juga akan pindah dari rumah pak bos. Jangan lupa jaga kesehatan ya, Elena tau kok semalem pak bos gak bisa tidur karena Elena gak sengaja nyenggol adik pak bos. Maaf ya, d**a pak bos. Elena sayang pak bos."
Tak sengaja air mata Arsen jatuh saat membaca surat dari Elena. Arsen berjanji, Arsen akan membuat sengsara orang yang menghancurkan perempuan yang sangat dirinya cintai.
"Elena, kenapa kamu harus pergi ninggalin saya. Bahkan saya belum sempat mengenalkanmu pada mama papa,'' ucap Arsen sambil mengusap air matanya.
Tak lama kemudian seorang dokter pun keluar.
"Tolong ya mas, jangan diajak berbicara yang berat-berat Mbak Elenanya. Saat ini dia sedang tidur karena obat bius," ucap sang dokter.
"Terima kasih dok. Kalau begitu saya permisi masuk dulu," ucap Arsen dan segera masuk ke dalam ruangan Elena.
Tampak, Elena sangat tenang saat tidur. Wajahnya yang cantik, pipinya yang gembul, dan bibirnya yang merah seperti ceri. Arsen pun mendekat ke arah Elena dan mencium kening Elena cukup lama.
"Suatu hari nanti, jika kita berjodoh kita akan bertemu lagi, Elena. Saya akan menyuruh orang saya untuk menjagamu. Cepat sembuh sekertaris bawel," ucap Arsen berusaha menahan air matanya agar tidak turun.
Arsen pun segera menelpon orang suruhannya untuk menjaga Elena. Tentu saja orang itu adalah perempuan. Arsen tidak tega jika Elena dijaga oleh laki-laki selain dirinya.
Setelah orang suruhan Arsen datang, Arsen pun kembali ke kantornya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
Di lain tempat, Alisha dan Ariana sedang tertawa bahagia saat memikirkan keadaan Elena saat ini. "Kira-kira Elena mati gak ya ma?" tanya Alisha dengan nada mengejek.
"Emm, kayanya hamil deh. Kasian, pasti dia kena trauma, hahaha," ucap Ariana dengan tawanya.
Kebetulan Bi Inah sedang mengantarkan minuman pada nyonya dan nonanya.
Sekalian Bi Inah dan Pak Wirya pamit untuk pulang. Karena sudah waktunya mereka pulang ke rumah mereka yang ada di Semarang.
"Nyonya, nona, ini minumannya. Silahkan diminum. Sekalian bibi sama Pak Wirya mau pamit pulang kampung," ucap Bi Inah sambil duduk di lantai.
"Sudah waktunya kamu pulang kampung kah?" tanya Ariana.
"Iya nyonya. Saya pamit pulang dulu," ucap Bi Inah.
Ariana pun pergi menuju kamarnya untuk mengambil uang gaji Bi Inah dan Pak Wirya. "Ini gaji kamu dan suami kamu. Saya beri waktu cuti kamu dua bulan," ucap Ariana.
"Apakah tidak terlalu lama nyonya?" tanya Bi Inah.
"Tidak. Sekarang cepat kemasi barang-barangmu," ucap Ariana dengan tatapan tajamnya.
Bi Inah pun segera pergi menuju dapur untuk menemui suaminya. "Bapak, apa kita ajak aja Non Elena ke Semarang ya? Biar dia gak kesiksa," ucap Bi Inah.
"Heeh yo bu, bener juga. Kita bawa aja ke Semarang, sekarang ibu beresin barang Non Elena. Biar bapak yang beresin barang-barang kita," ucap Pak Wirya.
"Iya pak, tapi nanti kalau ditanyain sama tuan bagaimana?" tanya Bi Inah.
"Nanti kita jelaskan. Sebentar, bapak ambilin tas ibu buat isi bajunya Non Elena. Biar gak ketahuan sama nyonya dan nona," ucap Pak Wirya dan segera berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tas milik sang istri.
"Ini bu, sekarang ibu ke kamar Non Elena diem-diem. Jangan sampai ketahuan sama nyonya atau nona. Nanti kita bisa kena," ucap Pak Wirya.
"Siap pak. Laksanakan." Ucap Bi Inah.
Mereka berdua pun segera menjalankan aksinya tanpa sepengetahuan nyonya dan nonanya. Sampai akhirnya, Bi Inah kembali masuk ke dalam kamar untuk menghampiri sang suami. Bi Inah pun mengacungkan jempolnya lada sang suami berarti sukses. Mereka berdua pun segera pamit kepada nyonya dan nonanya.
"Kami berdua pamit dulu nya, non," ucap Bi Inah.
"Kalau mau pulang-pulang aja sana. Gak usah kebanyakan pamit, daripada nanti saya gak ijinin pamit," ucap Ariana sambil membaca majalah.
Bi Inah dan Pak Wirya pun segera keluar dari kediaman Eryk Ferdinand dan berjalan menuju depan komplek untuk menunggu angkot dan menjemput Elena untuk dibawa ke Semarang.