Semalam, Arsen tidak bisa tidur karena ulah Elena. Perempuan itu tidak bisa diam saat tidur. Bahkan sampai menyenggop adiknya. Dan sialnya saat Arsen akan pergi ke kamar mandi, Elena mengenggam tangannya. Membuat Arsen berusaha menidurkan adiknya yang berdiri demgan susah payah. Jadilah, Arsen begadang semalaman.
"Pagi Pak Arsen, mata bapak kok kaya panda," ucap Elena dengan wajah tak berdosanya.
Arsen memutar bola matanya dengan malas dan segera duduk untuk sarapan. Mereka berdua pun sarapan dengan keadaan hening, tanpa ada yang bicara. Selesai sarapan, Arsen dan Elena segera berangkat ke kantor bersama menggunakan mobil.
Lima belas menit kemudian...
"Pagi Elena," sapa Stella.
"Pagi juga Stella. Pagi Agnes," ucap Elena.
"Pagi Elena. Nanti sore pulang bareng kita ya, lama nih gak hangout," ucap Agnes.
"Lihat situasi nanti ya Nes," ucap Elena.
"Ahsiapp," ucap Agnes.
Deheman Arsen membuat atensi Elena dan kedua sahabatnya mengarah pada Arsen. "Pekerjaan kalian banyak. Tidak ada waktu untuk kalian bergosip," ucap Arsen dengan tatapan tajamnya.
Kedua sahabat Elena pun segera pergi meninggalkan Elena dan kembali ke tempatnya. Dan Elena pun segera menyusul bosnya masuk ke dalam lift.
Ting
Pintu lift telah terbuka, Elena segera berjalan menuju ke ruangannya. Sama hal dengan Arsen. Setelah masuk ke dalam ruangannya, Arsen memandang dirinya di depan cermin. Wajah kusut dan mata seperti panda.
"Muka ganteng gue," ucap Arsen sambil memegang wajahnya.
Arsen pun menatap horor ke arah ruangan kerja Elena. "Awas kamu Elena. Jika kamu menjadi istri saya, tidak akan saya ampuni kamu saat malam pertama," ucap Arsen.
***
Jam makan siang, Elena tidak bisa makan siang bersama Arsen. Karena Alisha mengajaknya makan siang bersama. Membuat Arsen penasaran, baru kali ini Elena menolak diajak makan siang bersama. Arsen pun berniat untuk mengikuti Elena dan untuk mengetahui siapa yang mengajak makan siang Elena. Tapi, sayang ada pekerjaan yang mendesak dirinya.
Di tempat lain, Elena merasa ketakutan karena disuruh Alisha untuk pergi ke gedung terbengkalai. Teringat akan kejadian waktu dirinya dijeburin ke dalam kolam renang saat malam hari.
"Datang juga kamu anak pungut," ucap Ariana dengan tatapan sinisnya.
"Mama, kenapa mama ada disini?" tanya Elena bingung.
Datanglah Alisha dari belakang sambil membawa tali rapiah dan silet. Alisha pun segera mengikat tangan Elena dengan rapiah. Membuat Elena panik seketika.
"Diam kamu anak pungut! Sekeras apapun kamu berteriak, tidak akan ada orang yang mendengar teriakan mu, sayang," ucap Ariana sambil mencengkeram dagu Elena.
Selesai mengikat tangan dan kaki Elena dengan rapiah, Alisha pun mendekat ke arah Elena dan satu tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Elena.
"Gue udah peringatin lo! Tapi, lo masih bandel! Rasaian ini," ucap Alisha sambil menggores pipi Elena dengan silet. Tak lupa Alisha taburi garam. Bertambahlah rasa perih di pipi Elena.
"Sa-sakit Lis, ampun," rintih Elena dengan air mata yang sudah banjir.
"Perempuan kaya lo tidak wajib diberi ampun. Gue tau lo kemarin jalan kan sama Pak Arsen. Seharusnya yang ada di samping dia dan jadi sekertaris dia itu gue. Bukan lo!" bentak Alisha di depan wajah Elena. Tak lupa tangannya menyileti pipi Elena.
Ariana duduk santai di sofa yang ada di ruangan itu sambil memakan popcorn. Seperti orang yang sedang menonton film bioskop.
Krek
Krek
Alisha merobek sedikit pakaian Elena. Menampilkan tanktop Elena. Tangis Elena pun semakin histeris. Dirinya semakin panik akan kehadiran dua laki-laki bertubuh besar dan menyeramkan itu. Pikiran Elena melayang kemana-mana.
Alisha mencengkeram dagu Elena dengan sangat keras. Sampai kuku Alisha melukai dagu Elena. "Lo mau hidup tenang? Lo harus keluar dari pekerjaan Emiliano Company dan angkat kaki dari rumah Pak Arsen. Dan ya, bujuk dia buat nerima sebagai sekertarisnya," ucap Alisha penuh penekanan.
Mulut Elena sudah tidak bisa berbicara. Elena hanya bisa mengangguk dengan air mata yang banjir membasahi pipinya.
"Sekali lagi lo ngulangin dan deket-deket sama Pak Arsen. Siksaannya akan lebih berat dari ini," ancam Alisha dan segera menghempaskan tubuh Elena di sofa.
"Untuk kalian nikmati. Lumayan, dia sexy juga," ucap Alisha dengan smirknya.
"Siap, makasih bos," kompak dua laki-laki bertubuh besar.
Elena semakin ketakutan saat mamanya dan Alisha pergi meninggalkan Elena bersama dengan dua laki-laki bertubuh besar itu.
"Ka-kalian mau apa?" panik Elena.
"Hanya ingin bermain-main denganmu, sayang," ucap laki-laki tersebut.
Belum saja kedua laki-laki tersebut menyentuh Elena. Terdengar suara tembakan yang mengenai punggung kedua laki-laki tersebut. Terlihat ada Arsen, Bi Inah, dan Pak Wirya. Bi Inah berlari mendekat ke arah Elena untuk menutupi tubuh Elena dan membantu Elena keluar dari dalam ruangan tersebut. Sedangkan Arsen dan suaminya fokus menghajar kedua laki-laki tersebut. Sampai beberapa polisi datang ke gedung terbengkalai tersebut.
"Hukum mereka seberat mungkin. Jika bisa, hukum mati saja mereka,'' ucap Arsen dengan napas menggebu.
"Den, mending sekarang kita ke bawah saja. Kasihan, Non Elena sepertinya trauma akan kejadian tadi," ucap Pak Wirya.
Arsen dan Pak Wirya pun segera berlari menuju ke bawah untuk menemui Elena. Terlihat Elena dengan tatapan kosong.
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang den, kasihan Non Elena," ucap Bi Inah.
Arsen datang tepat waktu saat kejadian ini. Bagaiamana dirinya bisa mengetahui ini semua? Jawabannya adalah Arsen di telpon oleh Bi Inah.
"Bi Inah, tumben telpon," ucap Arsen dan segera mengangkat panggilan telepon dari Bi Inah.
"Hallo, ini Den Arsen kan. Tolong den, bantu bibi. Tadi, bibi denger samar-samar. Nyonya sama Non Alisha mau siksa Non Elena di gedung terbengkalai. Den Arsen bisa bantu bibi tidak?" tanya Bi Inah dengan suara paniknya.
Arsen terkejut akan ucapan Bi Inah. "Sekarang bibi ada dimana? Kirim lokasi ke nomer Arsen ya bi. Arsen berangkat kesana sekarang," ucap Arsen dan segera pergi meninggalkan pekerjaannya.
Arsen mengendarai mobilnya secepat mungkin menuju ke lokasi yang dikirmkan oleh Bi Inah kepada dirinya. Sampailah Arsen di depan gedung tua yang terbengkalai. Arsen sengaja memarkirkan mobilnya jauh dari mobil milik Alisha. Arsen mengetahui jika mobil di depannya itu milik Alisha.
Arsen berlari secepat mungkin dan mencari keberadaan Bi Inah dan Pak Wirya. Mereka berada di lantai dua mengintip ke sebuah ruangan kecil.
"Den, Non Alisha sama nyonya udah keluar. Waktu yang tepat untuk membantu Non Elena," ucap Pak Wirya.
Kebetulan Arsen membawa pistolnya. Karena setiap ada keadaan seperti ini, Arsen tak lupa membawa pistolnya. Tak lama kemudian suara tembakan pun terdengar.
Dor
Dor
"Bi Inah, sekarang cepet selamatin Elena,'' Ucap Arsen.
Hati Arsen sangat sakit saat melihat perempuan yang dicintainya seperti ini keadannya. Arsen berjanji akan mengumpulkan bukti dan mengungkap semua kejahatan Alisha dan mamanya.