MWCB11. Gairah Tertahan

1022 Words
Setelah dari mall, Arsen berniat mengajak Elena menuju ke taman bermain. Elena melihat sebuah wahana yang sangat seru dilihatnya. Wahana itu adalah rollercoaster. "Naik itu yuk pak, kayanya asik," ucap Elena. Arsen jengah mendengar dirinya selalu di panggil pak oleh Elena. Padahal ini diluar kantor. "Elena, tolong jika diluar kantor jangan panggil saya pak. Panggil saya sesukamu saja, bahkan jika kamu panggil sayang juga tak apa," ucap Arsen sambil tersenyum. Elena memutar bola matanya dengan sangat malas. "Elena panggil kakak aja gak papa?" tanya Elena. "Okelah, saya kira mau panggil sayang," ucap Arsen. "Saya perempuan setia, gak mungkin saya akan mendua dari pacar saya," alibi Elena. "Ya ya, terserah kamu. Pinter-pinter aja bohongnya, karena pacar kamu tak mungkin lebih tampan dari saya," ucap Arsen dan segera menarik lengan Elena menuju tempat penjual tiket. "Emang bapak ganteng ya? Perasaan saya biasa aja sih," ucap Elena dengan wajah tak berdosa. Arsen pun memberhentikan langkahnya secara tiba-tiba. Mengakibatkan Elena menubruk pundak Arsen dengan sangat keras. "Kalau mau berhenti bilang dong pak, sakit tau," ucap Elena. "Jangan panggil saya pak jika diluar kantor. Jika kamu melanggar, akan saya beri hukuman," ucap Arsen dengan smirknya. "Ups, lupa," ucap Elena sambil menyengir seperti kuda. Arsen dan Elena pun berjalan memasuki area wahana. Menunggu sampai giliran mereka yang naik. Tak lama kemudian, Arsen dan Elena pun segera naik wahana tersebut. "Kakak Arsen, kok jadi ngeri ya," ucap Elena dengan wajah tegang. Panggilan Elena pada dirinya terasa sangat aneh. Tapi, lucu juga. Saat Arsen melihat ke samping, ternyata wajah Elena sangat tegang dan keluar keringat dingin. Arsen pun berniat mengenggam tangan Elena. "Yang minta naik wahana ini tadi siapa, hm?" tanya Arsen. "Tapi, tadi dilihat kayanya seru. Kok sekarang jadi ngeri kaya begini ya pak. Turun aja yuk," ucap Elena. "Buang-buang uang dong. Lagian sebentar lagi japan wahananya," ucap Arsen sambil menahan tawanya. Sebenarnya sih tak masalah bagi Arsen jika turun. Namanya juga lagi pdkt, banyak alasan dan modus yang akan dikeluarkan oleh Arsen. Kereta roller coaster mulai bergerak, wajah Elena sangat pucat. Sedangkan Arsen senantiasa mengenggam tangan Elena. "Aaa, mamaaa," teriak Elena. Arsen berusaha semaksimal mungkin untuk menahan tawanya karena Elena. Wajah sangat lucu jika sedang ketakutan. Aksi Elena yang dadakan memeluk Arsen membuat jantung Arsen berdegup sangat kencang. "Nih jantung ngapain pakai acara dugem," batin Arsen sambil memegang dadanya. "Tapi, gak apa-apa lah. Rejeki nomplok, hehehe," batin Arsen lagi dans segera membalas pelukan Elena. Arsen terlihat sangat menikmati wahana ini. Sedangkan Elena, terdengar berdoa agar wahananya cepat berhenti. Membuat Arsen menahan tawanya sebisa mungkin. Akhirnya, wahana roller coaster pun berhenti. Elena segera turun dan berlari menuju toilet. Disusul Arsen dibelakangnya. Hoek Hoek Elena muntah karena wahana roller coaster. Arsen memijat tengkuk Elena pelan-pelan agar Elena bisa memuntahkan semuanya. Hati Arsen merasa kasihan saat melihat keadaan Elena yang sangat lemah. Elena segera mencuci mulutnya untuk membersihkan sisa muntahannya. "Udah?" tanya Arsen. Bugh Elena menggebuki lengan Arsen dengan slim bagnya. "Kak Arsen nyebelin, tega banget. Nyebelin, nyebelin," kesal Elena sambil menggebuki Arsen dengan slim bagnya. Tapi, tidak terasa sakit oleh Arsen. Karena gebukan Elena tidak terasa. "Hei-hei, saya minta maaf ya. Janji gak ulangin lagi, sekarang kita pulang ya," ucap Arsen sambil menangkup kedua pipi Elena. Dengan segera Elena menghempaskan tangan Arsen dari pipinya dan memunggungi Arsen. "Jangan ngambek dong. Saya beliin es krim deh," ucap Arsen berusaha membujuk Elena. Elena pun membalikkan badannya ke arah Arsen. "Dasar gak peka! Saya laper, karena muntah tadi. Bukannya diajak makan malah mau dibeliin es krim," kesal Elena. Arsen menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah lucu Elena. Dengan segera Arsen pun mengajak Elena keluar dari dalam toilet dan mengajaknya makan. Tidak lupa membelikan Elena es krim strawberry. Biasanya sih perempuan suka es krim strawberry. *** Mansion Elena sedang duduk santai di depan televisi. Karena pekerjaannya sudah selesai. Ternyata rasanya begini, santai duduk di depan televisi tanpa disiksa mama dan adiknya. Tiba-tiba, Elena teringat ucapan mama dan papanya waktu berdebat. Elena semakin penasaran, kenapa mamanya memanggil dirinya sebagai anak pungut. "Dor!" kaget Arsen. Elena terperanjat kaget sambil memegangi dadanya. Setelah itu menatap tajam ke arah bosnya. "Kayanya Pak Arsen pengen saya punya penyakit jantungan deh," ucap Elena dengan tatapan tajam. "Salah siapa ngelamun, kesambet baru tau rasa kamu,'' ucap Arsen menakut-nakuti Elena. Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar. Membuat Elena terkejut dan segera memeluk tubuh bosnya itu. Disusul juga dengan acara mati lampu. "Pak Arsen, saya takut petir sama gelap, hiks,'' ucap Elena dengan suara tangisnya. Arsen pun seger membalas pelukan Elena dan menepuk-nepuk bahu Elena. "Cup-cup, ada saya disini. Gak usah takut, kamu peluk saya aja," ucap Arsen berusaha menenangkan Elena. "Takut," ucap Elena dengan suara sesenggukannya. "Gak usah takut, ada saya. Bentar lagi maid datang nganterin senter sama lilin," ucap Arsen. Pelukan Elena semakin erat pada tubuh Arsen. Arsen pun membalas memeluk Elena dengan sangat erat. Hingga terasa sebuah gunung kembar yang sangat empuk. Dengan segera Arsen menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak khilaf. "Permisi Pak Arsen, ini senter dan lilinya," ucap salah satu maid. "Terima kasih, kamu taruh disitu saja," ucap Arsen. Maid pun kembali ke belakang. Hanya tersisa Arsen dan Elena yang berada di ruang televisi. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Menbuat Elena semakin erat memeluk Arsen dan semakin membuat Arsen tersiksa. "Jangan terlalu kenceng meluknya Len, saya gak bisa napas," ucap Arsen. Elena pun melonggarkan pelukannya dan mendusel-dusel kepalanya di da*a bidang milik bosnya. "s**t! Perempuan ini memang perempuan polos," umpat Arsen di dalam hatinya. Arsen berusaha mati-matian menahan gairahnya agar tidak menerkam perempuan dihadapnnya. Ditambah lagi, Elena membuat gambar abstrak di da*a bidangnya. "Stop Elena! Saya laki-laki normal. Saya tidak mau jika terjadi hal yang tidak diinginkan diantara kita," ucap Arsen sambil memegang jemari Elena. "Hal apa? Memang benar kan hubungan kita bos dan sekertaris. Memang ada apa dengan hubungan kita?" tanya Elena dengan wajah polosnya. Mengambil napas sedalam-dalamnya. Arsen berdoa agar dirinya di beri stok kesabaran yang banyak untuk menghadapi perempuan polos yang berada di pelukannya ini. "Tidak ada apa-apa, sekarang kita ke kamar saja. Biar bisa tidur," ucap Arsen. "Saya gak mau tidur sendiri, seranjang sama bapak semalam aja. Gak apa-apa ya," mohon Elena. "Baiklah, hanya semalam." Ucap Arsen dan segera menuntun Elena menaiki tangga untuk menuju ke kamar milik Arsen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD