Arsen danElena saat ini sudah berada di sebuah Restoran Jepang. Sambil menunggu pesanan tiba Arsen dan Elena membahas pekerjaan yang tertunda tadi.
"Maaf pak ingin tanya, jadikah kita membahas perusahaan di Australia?'' tanya Elena.
Arsen menjauhkan laptop dari hadapannya dan menatap Elena. ''Saya lupa jika tidak kau ingatkan,'' ucap Arsen sambil tersenyum tipis.
"Bagaimana pak keeberangkatan kita ke Australia?" tnya Elena.
"Kita akan berangkat kesana bulan depan dan kamu harus tinggal di apartemen saya, jika sewaktu-waktu saya membutuhkanmu atau kau cari apartemen yang satu gedung denganku," ucap Arsen.
Tak lama kemudian makanan mereka pun datang. Sesi obrol dilanjutkan setelah makan. Elena terlihat sangat suka dengan makanan yang bernama sushi.
Lima belas menit kemudian, acara makan mereka telah selesai. Elena segera menanyakan tentang kepindahannya ke apartemen. "Pak, mungkin nanti saya tidak diizinkan oleh ibu saya untuk pindah ke apart bapak. Sedangkan pindah ke apart bapak, saya keluar rumah saja tak diperbolehkan," ucap Elena sambil menatap bosnya.
"Nanti saya yang akan bicara pada ibumu," ucap Arsen dengan wajah santainya.
Elena hanya bisa pasrah akan ucapan bosnya. Entah nanti ibunya akan memberikannya izin atau tidak. Selesai makan siang, Arsen dan Elena pun kembali ke kantor. Karena masih banyak pekerjaan yang harus diurus.
***
Mobil Arsen sudah terparkir di depan rumah Elena. Mereka berdua pun segera turun dari dalam mobil. Awalnya Elena berjalan dibelakang Arsen, tetapi tangan kokoh dan besar milik bosnya menarik tangan Elena.
"Kamu bukan pembantu saya. Saya tidak suka jika kamu berjalan di belakang saya," ucap Arsen dengan tatapan datarnya.
"I-iya pak, saya minta maaf," ucap Elena.
Mereka berdua pun segera masuk ke dalam rumah. Pintu dibukakan oleh Bi Inah. Tak lama kemudian, kedatangan Elena dan Arsen disambut oleh Ariana dan Alisha.
"Saya permisi ke atas dulu ya pak, saya mau ganti baju," ucap Elena.
"Silahkan," ucap Arsen.
Elena pun berjalan menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian. Disusul Alisha yang mengikuti Elena di belakangnya.
Tiba-tiba Alisha menjambak kuat rambut Elena sampai sang pemilik rambut kesakitan. "Gue udah peringatin lo berkali-kali. Apa kurang puas lo kemarin gue jeburin ke kolam renang hah?!" ucap Alisha penuh penekanan.
"Sa-sakit Al, aku udah berusaha buat nolak. Tapi, Pak Arsen ancam aku," ucap Elena sambil memegangi rambutnya yang dijambak oleh Alisha.
Alisha merasa penasaran akan ancaman yang diberikan Arsen. Alisha pun menjambak lebih kuat rambut Elena sampai kepalanya ikut ketarik. "Pak Arsen ancem lo apa?" tanya Alisha pas di telinga Elena.
"Pa-pak Arsen, ngancem kalau ...," ucap Elena terpotong karena pintu kamarnya dibuka oleh Ariana.
"Bukan waktunya Alisha. Elena! Cepat kamu turun ke bawah, Arsen tidak mau bicara jika kamu tidak ada disana!" perintah Ariana dengan tatapan tajamnya.
"I-iya ma, Elena segera ke bawah setelah berganti pakaian," ucap Elena.
Ariana pun mengajak Alisha turun ke bawah untuk mengajak ngobrol Arsen. Elena mencuci kaki dan tangannya terlebih dahulu setelah itu memakai piyama tidurnya.
Elena bergegas turun dan segera duduk di sofa. Saat akan duduk di sofa dekat Arsen, Ariana memelototinya. Dan saat ingin duduk di sofa dekat Alisha, Arsen menatapnya dengan tajam. Yasudah, Elena nurut sama bosnya. Jadilah, Elena duduk di samping Arsen.
"Elena sudah datang, kamu mau bicara apa?" tanya Arsen.
"Elena akan tinggal di mansion saya sementara waktu untuk urusan pekerjaan. Jika, anda tidak memperbolehkannya saya akan tetap mengajak Elena pergi ke mansion saya," ucap Arsen to the point.
Elena terkejut, bukannya tadi Arsen bilang akan mengajaknya pindah ke apartemennya. Tapi, sekaeang malah mengajak dirinya pindah ke mansionnya.
"Maaf Arsen, tapi Elena tak bisa jauh-jauh dari mama-papanya. Apalagi sama adiknya. Mereka udah kaya prangko, kemana-mana bareng," ucap Ariana sambil terkekeh agar Arsen percaya.
"Benarkah? Saya kurang percaya dengan ucapan mu Mrs.Jolanka. Saya masih ingat betul akan kejadian Elena di dorong ke kolam renang oleh putrimu," ucap Arsen dengan smirknya.
Jleb
Ucapan Arsen membuat mulut Ariana kicep. Apalagi Alisha, ternyata Arsen masih mengingat betul akan kejadian dirinya mendorong Elena sampai tercebur ke dalam kolam renang.
"Baik, saya tidak membutuhkan izinmu. Biar besok, saya yang bilang sama Pak Eryk. Saya permisi dan Elena, besok pagi saya jemput. Siapkan barang-barangmu," ucap Arsen dengan senyum tipisnya.
"I-iya pak," gugup Elena.
Elena pun segera mengantarkan keluar bosnya. Setelah itu dirinya masuk ke dalam rumah. Tatapan tajam dari sang mama dan adiknya mengarah pada dirinya. Elena mulai ketakutan, jujur dirinya trauma akan kejadian kemarin.
"Puas lo!" bentak Alisha tepat di depan wajah Elena.
Alisha pun menampar pipi Elena dengan sangat kuat sampai Elena jatuh tersungkur di depan kaki dengan menggunakan sepatu kulit berwarna hitam. Tak mungkin jika itu sepatu sang mama.
"Alisha! Apa yang kamu lakukan pada kakakmu?" bentak Eryk dan segera membantu Elena berdiri.
Elena tampak menangis sambil memegangi pipinya yang panas karena tamparan Alisha. Sedangkan, Arian dan Alisha tampak terkejut akan kedatangan Eryk tiba-tiba.
"Papa bentak Alisha?" tanya Ariana dengan suara nyaringnya
"Anakmu harus kamu didik dengan baik! jangan terlalu kau manjakan!" bentak Eryk.
"Elena juga kau manjakan. Dia yang anak pungut kau bela. Sedangkan, anakmu, darah dagingmu tidak kamu hiraukan. Apakah itu keadilan dari ayah?" tanya Ariana sambil bersedekap d**a.
"Elena darah dagingku. Jadi, jika kau memperlakukan Elena seperti ini kau akan mendapat akibatnya dengan tercoretnya nama Alisha dari daftar cucu yang akan mendapatkan warisan dari papa," ucap Eryk penuh penekanan.
Ariana diam seribu bahasa. Dirinya dan Alisha bertindak gegabah. Jika terulang lagi, dirinya dan Alisha tak akan mendapatakan warisan tersebut. Karena papa mertuanya tak setuju akan hubungannya.
"Elena, kamu pergi ke kamarmu dulu ya. Jangan lupa obati bekas tamparanmu ini, besok kamu akan dijemput oleh Arsen. Jika bosmu mengetahui lukamu itu. Papa ini akan disidang oleh bos galakmu itu," ucap Eryk.
"Baik pa, tapi papa kok bisa tau?" tanya Elena.
"Arsen tadi telepon papa. Bi Inah, tolong obati luka Elena," panggil Arsen.
Bi Inah berlari dari dapur menuju ke ruang tamu. "Baik tuan. Mari non Elena, bibi obati di kamar,'' ucap Bi Inah dan segera membawa Elena ke kamarnya.
Eryk pun menatap tajam kembali kearah Alisha dan Ariana. "Saya peringatkan padamu, perlakuanmu pada Elena tak luput dari pengelihatan saya. Jika, kau berani bertindak lebih. Nama anakmu akan tercoreng dan kalian berdua harus pergi dari rumah ini." Ucap Eryk penuh penekanan dan segera pergi menuju kamarnya. Dirinya sangat lelah, ekspetasinya pulang akan disambut dengan kebahagian. Tetapi, malah disambut dengan siksaan pada anaknya yang sangat dirinya jaga ketimbang Alisha.