MWCB.8 Bertemu Sahabat Lama

1069 Words
Akhirnya, setelah dua jam duduk di ruangan rapat. Elena bisa keluar. Alias rapat sudah selesai. Elena bergegas menuju toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Selama rapat, Elena menahan gejolak di perutnya. Selesai sudah Elena mengeluarkan isi perutnya. Dirinya pun mencuci wajahnya. "Pucat sekali wajah ku," ucap Elena sambil memegangi wajahnya. Cklek Dua orang perempuan seumuran Elena masuk ke dalam kamar mandi. Mereka bertiga saling berpandangan dan tiba-tiba salah satu perempuan berteriak histeris. "Elena Caroline? Benar kan kamu Elena Caroline?" tanya perempuan itu yang bernama Stella Yocelyn. Biasa dipanggil Stella. Elena menganggukan kepalanya dan segera memeluk kedua sahabatnya. Melepas rindu setelah sekian lama tak berjumpa. Terkahir bertemu, saat dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. "Gue kangen banget sama lo," ucap Stella. "Lama loh Na kita gak ketemu. Lo ngapain ada disini?" tanya Agnes Pamela. Biasa dipanggil Agnes. "Sama, aku kangen juga sama kalian. Aku disini kerja, sebagai sekertaris Pak Arsen," jawab Elena. "Jadi, ini sekertaris baru Pak Arsen. Congrats ya, Na," ucap Agnes. "Kita sekantor, yuhuu," ucap Stella. "Stella, kamu gak berubah ya dari dulu sampai sekarang. Kalau ngomong terlalu kecil suaranya," ucap Elena sambil mengusap-usap kupingnya. "Mbaknya, kalau bilang pinter amat sampai ke hati," ucap Stella sambil terkekeh. "Bercanda, La" ucap Elena sambil menepuk bahu Stella. "Sans ae kali, Na. Kita lama loh gak ketemu. Nanti pulang kerja mau gak party di apart gue?" tanya Agnes. Elena menundukkan kepalanya, dirinya mungkin tidak akan bisa. Karena sang mama pasti akan menghukum dirinya. "Gak usah peduliin si nenek sihir, Na," ucap Agnes sambil mengusap-usap bahu Elena. "Bener apa yang diomong Agnes. Tenang aja, nanti kita bantuin. Gue juga udah lama gak lihat adek lo yang kecentilan itu," ucap Stella. "Aku usahain nanti ya. Aku pamit dulu ke ruangan aku, nanti kalau ada apa-apa ke ruangan aku aja. Jangan ke ruangan bos besar, nanti kena sengap," ucap Elena sambil terkekeh dan segera pergi meninggalkan toilet perempuan. "Eh, Stel ngapa tadi kita kagak minta nomor telepon Elena ya," ucap Agnes. "Gue lupa, k*****t. Nanti aja deh ke ruangannya. Itung-itung cuci mata ke gedung atas," ucap Stella. "Pinter juga tuh otak." Ucap Agnes sambil tertawa. Stella memanyunkan bibirnya karena ucapan Agnes. Bukannya dibujuk, malah bibirnya di tarik sama Agnes. Kan jadi tambah kesel. *** Terlihat Elena memasuki ruangannya, Arsen pun menelpon Elena mnggunakan telepon kantor. Tetapi, dirinya berniat mengerjai Elena dengan mematikan sambungan telepon jika diangkat oleh Elena. Sudah ke lima panggilan yang masuk ke sambungn telepon milik Elena. Tetapi, jika diangkat sambungan telepon akan dimatikan oleh Arsen. elena kesl karena merasa dirinya dikerjai oleh bosnya. Dengan segera elena masuk ke ruangan bosnya dengan wajah kesal. "Ada apa Pak Arsen terhormat?" tanya Elena sambil menampilkan senyum yang tepaksa. "Nanti makan siang bareng saya untuk membicarakan perusahaan yang ada di Australia," ucap Arsen. "Apakah kita juga akan pergi ke Australia?" tanya Elena. "Nanti kita bahas waktu jam makan siang," jawab Arsen. "Kalau begitu saya pamit kembali ke ruangan saya,"ucap Elena dan segera keluar dari daalam ruangan Arsen. Elena kembali ke ruangannya dan kembali fokus mengerjakan pekerjaannya yang tertunda tadi. Tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang. Elena segera membukakan pintu tersebut. "Hai Elena, jam makaan siang nanti lo makan sama siapa?" tanya Agnes. Arsen yang mendengar samar-samar suara ramai pun melihat ke ruangan Elena. Ternyata ruangan Elena ada dua orang perempuan yang terlihat sangat akrab pada Elena. "Sejak kapan Elena dekat dengan pegawai kantor," ucap Arsen sambil menautkaan alisnya. Di ruangan Elena terdengar sangat berisik. Kedua sahabat Elena saling melemparkan candaan. Bahkan Elena saat ini juga ikut tertawa. "Lo masih inget kan waktu pulang sekolah lo kecebur got?" tanya Agnes pada Stella sambil tertawa. "Kaya lo kagak aja! Lo dikejar anjing sampai naik ke pohon mangga pak botak, disangka maling, hahaha" ucap Stella. "Udah-udah, perutku sakit. Nanti aku gak bisa makan siang bareng kalian, karena ada urusan sama Pak Arsen," ucap Elena sambil memegangi perutnya. "Urusan apa? Mau diajak nikah?" tanya Agnes. "Mau diajak kawin?" tanya Stella sambil memelototkan matanya. Tangan Agnes meluncur begitu saja menonyor kepala Stella. Emang satu orang ini kalau ngomong frontal banget. "Nikah dulu ege baru kawin. Yakali kawin dulu, kek kucing aja. Kawin di mana-mana jadi," ucap Agnes. "Yee, lo sensian. Btw, ada urusan apaan Len?" tanya Stella. "Katanya mau bahas perusahaan yang ada di Australia," jawab Elena. Tanpa mereka sadari, bos mereka sudah bersandar di pintu ruangan Elena sambil memasukkan tangannya ke dalam kantong celana. "Saya menggaji kalian bertiga untuk bekerja, bukan menggosip. Dan sekarang sudah waktunya jam makan siang, saya ada urusan dengan Elena," ucap Arsen dengan nada datarnya. Mereka bertiga pun melotot karena terkejut akan kehadiran Arsen yang seperti setan saja. Tadi belum ada, sekarang tiba-tiba ada. "Eh ada Pak Arsen, ini juga mau makan siang ngajakin Elena. Tapi, udah ada janji sama Pak Arsen dulu," ucap Stella sambil menyengir seperti kuda. "Kalau begitu kita pamit dulu ya pak," ucap Agnes. "Maaf ya Nes, Stel," ucap Elena. "Santai aja cantik," ucap Stella sambil mengedipkan matanya sebelah. "Genit lo kek b*****g," tukas Agnes dan segera menarik tangan Stella keluar dari ruangan Elena. Arsen segera duduk di hadapan Elena sambil menunggu perempuan itu membersihkan barang-barangnya. "Mari pak," ucap Elena. "Kita akan makan ke restoran Jepang. Kamu tidak alergi kan?" tanya Arsen untuk mengantisipasinya. "Tidak sama sekali pak, malah saya suka." Ucap Elena sambil tersenyum. Mereka berdua pun segera keluar dari ruangan dan menuju ke arah lift. Ternyata, mereka satu lift dengan Agnes dan Stella. "Kita satu lift, Len," ucap Stella tanpa memikirkan jika ada bosnya. "Lo ngomong pelan dikit kek, ada pak bos noh,'' ucap Agnes sambil membekap mulut Stella. Melihat tingkah laku kedua pegawainya, membuat Arsen tersenyum. Bahkan senyumannya sangat tipis sampai mereka bertiga tidak mengetahuinya. "Kalian mau makan siang dimana?" tanya Arsen tiba-tiba. "Di kantin pak, kalau diluar gak ada duit. Soalnya gaji belom turun," ucap Stella. Agnes yang kelewat kesal pun mencubit kecil lengan Stella. Mengakibatkan Stella berteriak sangat kencang dan membuat kuping orang yang ada di dalam lift menjadi sakit. Arkhh "Sakit b**o! Lo ngapain cubit-cubit gue. Kan gue bukan kue cubit," kesal Stella sambil mengusap-usap lengannya yang tadi dicubit oleh Agnes. "Maaf Pak Arsen, emang mulutnya Stella perlu di kondisikan," ucap Agnes. "Lain kali jangan diulangi lagi. Saya tidak suka mempunyai pegawai yang suka mengumpat. Apalagi mengumpati bosnya," ucap Arsen. "Iya pak, kami minta maaf," ucap Agnes sambil menundukkan kepalanya. Sedari tadi memang Elena diam saja, karena hari ini dirinya sangat lelah. Baru pertama kalinya Elena mengikuti rapat selama itu. Membuat bokongnya keram.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD