Mobil Arsen sudah terparkir rapi di depan gerbang kediaman Fedinand. Elena segera turun dari mobil milik bosnya. Sebelum Elena turun, Arsen mengatakan sesuatu pada Elena.
"Besok saya jemput. Tidak ada penolakan," ucap Arsen pada Elena dengan senyum tipis di wajahnya.
"Iya Pak Arsen penakut," ucap elena sambil tertawa dan segera keluar dari dalam mobil Arsen.
Arsen yang dirinya diejek pun menyesali atas perilakunya tadi di kantor. Membuat image yanga dirinya jaga selama ini. "Sialan," umpat Arsen.
Arsen segera melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya. Karena hari ini adalah jatahnya untuk pulang ke rumah. Di rumah, mama dan Alisha sudah menghadang dirinya di depan pintu masuk rumah.
"Gue udah peringatin lo buat jauh-jauh dari Pak Arsen, tapi lo bandel," ucap alisha sambil bersedekap d**a dan berjalan mendekat ke arah Elena.
"Kamau mau apain aku Alisha?" anya Elena dengan wajah takutnya.
"Sayang, ini alat yang kamu minta," ucap Ariana sambil memberikan gunting pada Alisha.
Alisha segera mendekat ke arah Elena dan memegang rambut Elena. Alisha mengarahkan gunting tersebut ke rambut Elena dan memotongnya.
Kres
Kres
Rambut Elena yang panjang menjadi pendek sebahu dengan potongan acak-acakan. Setetes demi setetes air mata Elena turun membasahi pipinya.
"Jangan lakukan itu Alisha," ucap Elena dengan tangisannya.
Di dapur, Bi Inah dan Pak Wirya mengintip ke arah ruang tamu. Hati mereka berdua terasa sakit saat melihat majikan mudanya disakiti oleh ibu dan adiknya. Mereka ingin membantu, tapi mereka juga takut dengan Ariana dan Alisha.
"Jahat tenan ya nyonya ambi Non Alisha," ucap Pak Wirya.
(Jahat banget ya nyonya sama Non Alisha)
"Heeh, gak duwe rasa welas asih babar blas," sahut Bi Inah.
(Heeh, gak punya rasa belas kasih sama sekali)
Ariana mengambil tali yang ada di dekatnya dan menali kedua tangan Elena di belakang dan menyeretnya ke kolam renang.
"Di lakban aja ma, mulutnya," ucap Alisha.
Elena menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang mengalir dengan sangat derasnya. "Tidak usah, jika dia mati, kita akan kena masalah besar," ucap Ariana.
Ariana dan Alisha pun segera mendorong tubuh Elena agar masuk ke dalam kolam renang. Elena pasrah, dirinya diperlakukan seperti ini oleh mama dan adiknya.
Byur
"Besok-besok, ulangi lagi ya. Biar gue puas siksa lo!" teriak Alisha dengan tawa jahatnya.
"Sudah lah, mari masuk. Hari semakin malam," ucap Ariana dan meninggalkan Elena yang masih berada di kolam renang. Berusaha meminta tolong. Kakinya sudah terasa kram dan tangannya tidak bisa berfungsi karena di tali. Mulutnya pun juga sudah tidak kuat untuk berteriak karena kehabisan napas.
Kebetulan Eryk papa Elena sedang pergi keluar kota dadakan. Jadilah, Ariana dan Alisha puas untuk menyiksa Elena. Secara mental ataupun fisik.
Dilihat kedua majikannya sudah pergi, Pak Wirya dan Bi Inah pun segera berlari ke kolam renang. Panik? Tentu saja. Majikan sebaik Elena tak mungkin dibiarkan seperti itu.
Tatapan Elena semakin memburam, dadanya sangat sesak. Perlahan mata Elena tertutup dan tubuhnya tertarik ke dasar kolam. Tak lama kemudian, ada tangan yang membantu Elena untuk naik ke atas permukaan.
"Non Elena, bangun non," ucap Pak Wirya dengan suara lirih.
"Bu, ambilin handuknya cepet," ucap Pak Wirya.
Pak Wirya dan Bi Inah adalah sepasang suami istri yang pergi ke Jakarta untuk bekerja. Dan dapatlah mereka bekerja di rumah ini. Sudah hampir sepuluh tahunan.
"Sini, biar ibu yang lap muka Non Elena," ucap Bi Inah.
Dengan telaten, Bi Inah mengelap wajah Elena dan menghanduki tubuh Non Elena. Sebelum dihanduki, Bi Inah melakukan pertolongan pertama yaitu CPR atau bisa disebut resusitasi jantung paru pada Elena. Beruntung, Non Elena bisa memuntahkan air di dalam tubuhnya.
"Di-dingin bi," ucap Elena dengan suara bergetar karena kedinginan.
"Iya non, bibi olesin dulu minyak kayu putih," ucap Bi Inah dan segera mengoleskan minyak kayu putih di tangan, kaki, dan tengkuk Elena.
"Bu, wajah Non Elena pucat. Bagaimana kita membawanya ke rumah sakit?" tanya Pak Wirya.
"Bapak telpon dokter saja, suruh masuk lewat pintu belakang dan suruh ngomongnya pelan-pelan. Takut nyonya sama Non Alisha kedengeran," ucap Bi Inah.
"Yasudah, bapak bantu angkat Non Elena ke kamar kita,.'' Ucap Pak Wirya dan segera membopong Elena dibantu Bi Inah menuju kamar mereka.
***
Pagi-pagi buta, kediaman Eryk Ferdinand mendapatkan tamu. Siapa lagi jika tamunya kalau bukan Arsen Emiliano. Kebencian di hati Alisha semakin bertambah. Dirinya berusaha menggoda Arsen di ruang tamu dengan pakaian ketatnya, tetapi Arsen tidak tergoda sama sekali dan malah melihat ponselnya.
Di lain sisi, Arsen merasa risih dengan kehadiran Alisha. Dirinya memang pria normal, tetapi jika melihat perempuan yang memberika tubuhnya cuma-cuma membuat jijik Arsen. Daripada dirinya memandang ke arah Alisha, mending membuka ponselnya sambil menunggu Elena.
"Dasar perempuan murahan. Kau kira saya akan tertarik dengan tubuhmu itu," batin Arsen.
Tak lama kemudian, Elena pun datang. Elena mengajak Arsen sarapan terlebih dahulu. Arsen pun menuruti ucapan Elena. Tetapi, Arsen melihat ada sesuatu yang janggal. Kenapa mata Elena sembab, kakinya pincang, dan rambutnya tinggal sebahu. Bahkan potongannya tidak rapi. Alias panjang sebelah.
"Hai Arsen, baru kali ini kamu mau sarapan bersama kami," ucap Ariana dengan senyumannya.
"Iya tante, kasihan Elena sudah mengajak sarapan saya, tapi nanti saya tolak, " ucap Arsen sambil tersenyum simpul.
Saat Elena akan duduk di sebelah Arsen, Ariana memelototinya. Elena pun berpindah di hadapan Arsen. Agar Alisha duduk di samping Arsen. Kejadian tersebut pun tak luput dari pengelihatan Arsen. Membuat tanda tanya besar di kepalanya.
Selesai sarapan bersama, Arsen dan Elena pun segera berangkat ke kantor. Elena menahan rasa pusing di kepalanya karena kejadian semalam. Arsen yang melihat gerak-gerik Elena yang tidak enak pun meminggirkan mobilnya. Tangan Arsen pun terulur memegang kening Elena. Panas.
"Kamu demam Elena," ucap Arsen.
"Saya tidak demam kok pak," ucap Elena.
"Badan kamu panas," ujar Arsen.
"Kalau badan gak panas ya mati dong pak," ucap Elena sambil terkekeh agar Arsen percaya.
"Kamu saya antar pulang ya?" tanya Arsen dengan wajah khawatir.
"Tidak usah pak. Lagian saya juga tidak demam, mendingan sekarang kita berangkat ke kantor. Sebentar lagi ada rapat," ucap Elena untuk menyakinkan bosnya itu.
"Bener?" tanya Arsen.
Elena menganggukan kepalanya dengan mantap dan jangan lupakan senyuman yang menghiasi bibir ranumnya. Bibir pucat yang dipolesi lipstik agar tidak kelihatan jika pucat. Dengan segera, Arsen pun melajukan mobilnya menuju kantor agar tidak terlambat rapat.