"Kita ke atas bersama, apakah bagus meninggalkan bosnya berjalan sendiri?" tanya Arsen.
***
Arsen dan Elena pun berjalan berdampingan menuju ke lift. Awalnya Elena berjalan di belakang Arsen. Tetapi, Arsen malah memarahinya. Jadilah, Elena berjalan disamping bosnya dengan berjaga jarak.
Mereka berdua pun masuk kedalam lift, ternyata keadaan lift sedang kosong dan hanya ada dirinya bersama dengan Elena. Suasana di dalam lift menjadi canggung. Tanpa disadari, lift berhenti mendadak. Padahal belum sampai di lantai yang dituju. Lampu di dalam lift pun juga mati. Membuat Elena panik.
"Pak, kita kejebak di lift," ucap Elena dengan suara panik.
"Tenang lah, ini sudah sering terjadi. Jangan panik, nanti kami kehabisan napas," ucap Arsen.
Keringat panas dingin keluar dari tubuh Elena, karena dirinya sangat panik. Baru pertama kali seumur hidupnya kejebak di dalam lift. Elena pun memojokkan tubuhnya sambil memeluk kepalanya. Arsen yang melihat Elena ketakutan pun menghampirinya.
"Elena, are you okay?" tanya Arsen berusaha agar tidak panik.
Elena tak menjawabnya, hanya ada suara tangisan dari mulut Elena. Arsen pun merengkuh tubuh Elena untuk dipeluknya. Agar rasa takut Elena.
"Tidak usah takut, saya ada disini ada di dekatmu," ucap Arsen sambil mengusap-usap kepala Elena.
"Pak Arsen, napas saya sesek," ucap Elena dengan suara tersenggal-senggal.
Arsen pun segera menidurkan Elena di lantai lift. "Iam sorry, saya harus melakukan ini padamu," ucap Arsen.
Arsen pun mendekatkan dirinya ke bibir ranum Elena. Arsen mencium Elena untuk memberika napas tambahan. Tak sengaj, tatapan mata mereka bertemu dengan bibir yang masih menempel. Tak lama kemudian, lift pun mulai kembali normal. Arsen menekan tombol lantai atasnya. Bukan lantai ruangannya, agar Elena bisa menghirup udara.
Ting
Arsen membantu Elena berdiri dan berjalan keluar. Banyak tatapan mata mengarah pada dirinya dan Elena. Membuat emosi Arsen meningkat saat melihat pegawainya yang tidak cepat tanggap.
"Kenapa kalian diam saja? Bantu dia sekarang!" bentak Arsen dengan suara baritonnya.
Semua pegawai segera membawa Elena ke sofa agar Elena bisa menghirup udara kembali. Terlihat Arsen dengan keringat bercucuran di pelipisnya karena tadi memberikan napas untuk Elena dan membopongnya keluar. Disaat kejadian seperti ini, otak Arsen masih saja bisa me*um.
Arsen menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak teringat kejadia itu. Tapi, rasa bibir Elena masih terasa di bibirnya. Arsen pun memyentuh bibirnya tadi saat mencium Elena.
"Pak Arsen, keadaan Mbak Elena sudah mulai membaik. Apa perlu salah satu dari kami mengantarkan Pak Arsen dengan Mbak Elena ke lantai atas?'' tanya salah satu pegawai Arsen.
"Tidak usah, biar Elena saya yang tangani," ucap Arsen dan segera membantu Elena berdiri.
"Sudah kuat?" tanya Arsen.
Elena menjawab dengan anggukan kepalanya. Jangan lupa senyuman yang menhiasi bibirnya. Bibir yang membuat Arsen menjadu gila.
"Mari kita ke lantai atas," ajak Arsen.
Sebenarnya Elena masih takut, tapi yasudah lah. Jika dirinya menolak, pasti bosnya akan marah. "Tidak usah takut, ada saya dan saya jamin tidak terulang lagi kejadian seperti itu," ucap Arsen sambil tersenyum
Sedikit demi sedikit akhirnya rasa takut Elena menghilang karena tangan Arsen mengenggam tangan Elena dari masuk lift sampai keluar lift. Elena pun berjalan menuju ke ruangannya. Sama halnya dengan Arsen.
Jam makan siang telah tiba, Elena dipanggil oleh Arsen untuk masuk ke dalam ruangannya. "Duduk lah, kita makan siang bersama dan jangan lupakan syarat yang akan saya berikan hari ini," ucap Arsen dan segera menutul laptopnya.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Arsen.
"Saya pesan mie ayam saja, sudah lama saya tidak makan mie ayam," jawab Elena.
"Tidak. Kamu belum makan nasi, kamu harus makan satu box nasi dengan ayam. Agar tenaga mu kembali," ucap Arsen.
Elena diam saja, tapi juga asa resa kesal sedikit pada dosennya. Jika tadi tidak boleh memesan makanan yang diinginkan, mending tidak usah bertanya.
Tak lama kemudian, pesanan makanan mereka sampai. Arsen makan hamburger, sedangkan Elena makan nasi dengan ayam. Mata Elena yang melihat Arsen memakan hamburger kun menjadi pengen.
"Masih ada satu hamburger disana. Kamh boleh memakannya, asal kamu sudah makan nasi," ucap Arsen yang mengetahui arah pandang Elena.
Dengan cepat, Elena menghabiskan makan siangnya. Setelah itu mereka pun bersantai sebentar sebelum melanjutkan pekerjaan.
"Saya akan sampaikan syaratnya lada kamu. Satu, bos tetap benar dan tidak pernah salah. Dua, kamu harus menuruti oerintah bos. Tiga, selain menjadi sekertaris kamu juga akan menjadi asisten saya. Dari merawat saya dan membersihkan rumah saya. Empat, jika bos meminta pergi ke apartnya mau pagi, siang, sore, malam ataupun weekend, tetap harus berangkat. Lima, jika membantah akan diberikan sanksi," ucap Arsen panjang lebar.
Elena memelototkan matanya saat mendengar syarat-syarat yang dilontarkan oleh bosnya itu. "Jadi, saya harus bolak-balik dari rumah saya ke rumah Pak Arsen?" tanya Elena.
"Pintar, dan satu lagi. Kamu harus bisa cari alasan agar bisa tinggal dengan saya atau membeli alartemen di sebelah saya. Agar tidak bolak-balik," ucap Arsen.
"Saya usahakan,'' ucap Amara.
"Sekarang, kamu boleh kembali ke ruangan kamu dan melanjutkan pekerjaan kamu," ucap Arsen.
Elena pun segera bangkit dari duduknya dan kembali menuju ruang kerjanya. Tak lupa, membawa hamburger yang dibelikan Arsen tadi pada dirinya.
Arsen yang melihat Elena menyetujui syarat-syaratnya pun tersenyum bahagia. "Cepat atau lambat, kau akan menjadu Nyonya Emiliano. Entah dari kapan perasaan ini mulai muncul, bahkan aku pun tak menyadarinya." Ucap Arsen dan segera kembali menuju meja kerjanya.
***
Hari sudah mulai malam, pekerjaan Elena baru saja selesai. Jam sudah menunjukka pukul delapan malam. Elena pun segera membereska alat-alat pekerjaannya dan bergegas untuk pulang. Takut mamanga memarahu dirinya.
"Pulang bareng saya," ucap Arsen.
"Tapi, pak," ucap Elena yang terpotong.
"Ingat syarat nomer lima. Untuk hari ini syaratnya belum berlaku sepenuhnya, akan berlaku besok. Sekarang waktunya kita untuk pulang." Ajak Arsen dan segera berjalan menuju lift.
Saat sudah sampai di bawah, kantor Arsen sangat sepi. Bahkan hanya terdengar suara jangkrik. Membuat bulu kuduk Elena berdiri.
Gubrak
Suata gubrakan membuat Elena terkejut sampai berteriak. Membuat kuping Arsen terasa sakit saat mendengar teriakan Elena.
"Jangan ganggu aku se*an. Saya gak ganggu kamu kok," ucap Elena sambil memeluk lengan Arsen.
Arsen yang merasa lengannya di peluk pun merasa berbunga-bunga hatinya. Dengan ide usil, Arsen melihat ada bola di dekatnya lun melempar kebelakang. Membuat suara yang sangat kencang. Elena pun bertambah ketakutan.
Tak sengaja, pendengaran Arsen mendengar ada sebuah langkah yang mendekat ke arahnya. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Arsen. Dan tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dengan sangat keras.
"Pak Arsen," panggil Pak Bimo penjaga kantor.
"Aaa," kaget Arsen dan Elena dengan kompak.
Pak Bimo yang melihat pun menahan tawanya agar tidak terlihat oleh bosnya. Bisa berbahaya jika dirinya tertawa. "Pak Bimo, jangan ngagetin. Ini sudah malam," kesal Arsen.
"Pak satpam jangan kaya begitu, nanti setannya marah," ucap Elena sambil bergidik ngeri.
"Tidak ada yang namanya seperti itu, saya kira malah penyusup," ucap Pak Bimo.
Arsen mengambil napasnya dalam-dalam untuk menghilangkan rasa takutnya. "Kalau begitu saya pamit dulu. Jaga kantor baik-baik," ucap Arsen.
"Siap pak bos," ucap Pak Bimo dan segera kembali berpatroli.
Elena menatap dengan tatapan mengejek kearah Arsen. Membuat Arsen bingung sendiri. "Baru kali ini saya lihat CEO Emiliano Company ketakutan," ucap Elena sambil terkekeh.