MWCB5.PulangBareng

1066 Words
Orang rumah dikejutkan karena Elena pulang diantar oleh Arsen. Bahkan sekarang Alisha menatap benci ke arah Elena. Arsen mengetahui tatapan yang ditunjukkan Alisha pada Elena. "Hai, tante. kita bertemu lagi," ucap arsen sambil menjabat tagan Ariana. "Hai Arsen, ada apa kau kemari? apakah Elena berulah di kantormu?" tanya Ariana. "Tidak, elena baik di kantor kok. hanya saja dia tadi pingsan karena tubuhnya kurang sehat dan banyak pikiran," jawab Arsen sambil menekankan kata tekanan. Ariana dan Alisha pun saling pandang dan memberi kode. Satu pikiran yang ada di otak Arian dan Alisha, apakah Elena mengadu kepada Arsen. "Benarkah? mungkin dia masih lelah karena pulang dari LA, langsung pergi jalan-jalan," alibi Ariana. arsen menganggukan kepalanya dan segera pamit untuk pulang, karena hari semakin larut. "Kalau begitu saya pamit pulang dulu tante, Alisha," ucap Arsen sambil menyalimi tangan Ariana. "Hati-hati Arsen, jangan ngebut," ucap Ariana. Arsen mendekat kearah Elena untuk berpamitan dan mengucapkan sesuatu pada elena. "Saya pamit pulang dulu, cepat sembuh dan jumpa lagi besok di kantor dengan keadaan sehat," ucap Arsen sambil tersenyum ke arah Amara. "Terima kasih pak, sudah membantu saya tadi," ucap Elena membalas senyuman Arsen. "Sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu." Ucap Arsen dan segera keluar dari dalam rumah Eryk Ferdinand. Setelah mobil Arsen menjauh dari pekarangan rumah, tiba-tiba tangan Alisha menjambak rambut Elena dengan sangat kuat. Sampai-sampai membuat rambut Elena rontok. ''Seneng kan lo bisa pulang bareng sama Pak Arsen!!'' teriak Alisha tepat di depan wajah Elena. "Sakit Al," ucap Elena berusaha menjauhkan tangan Alisha dari rambutnya. "Lepaskan Alisha, sebentar lagi papamu pulang. Jika dia mengetahuinya, pasti akan marah besar dan membela anak pungut ini," ucap Ariana. Hati Amara terasa sakit karena ucapan mamanya. Tetapi, Elena harus kuat. Mungkin mamanya sedang kecaapean jadilah memanggil mengucapkan kata seperti itu. Alisha segera melepaskan tangannya dari rambut Elena dan membuang rontokan rambutnya di depan wajah Elena. "Makan tuh rambut lo!! Gue peringatin, lo harus jauh-jauh dari Pak Arsen atau lo akan tau akibatnya." Ancam Alisha dan segera berjalan menuju kamarnya. Arianaa yang melihat jika Elena sangat tertekan pun tersenyum puas. Sebelum dirinya pergi menuju kamar, Ariana mendorong tubuh Elena dengan sangat kencang. Bahkan kepala Elena sampai terjedut lantai. Bi Inah yang melihat nyonyanya sudah menjauh pun segera membantu Elena duduk di sofa dan memeriksa kepala Elena. "Non, ayo bibi bantu," ucap Bi Inah. Elena seera bangkit dri jatuhnya dan duduk di sofa belakangnya. Bi Inah pergi mencari minyak untuk diolesi ke kepala Elena. Agar benjolan di kepalanya kempes. "Sini non kepalanya, biar bibi olesi minyak," ucap Bi Inah. Elena mendekatkan kepalanya pada Bi Inah agar di obati. "Sakit non?" tanya Bi inah. "Gak sakit kok bi. Makasih ya udah obatin Elena, kalau begitu Elena pamit ke kamar dulu ya," ucap Elena sambil tersenyum ke arah Bi Inah. "Non, minyaknya di bawa ya. Nanti kalau udah selesai mandinya jangan lup diolesi," ucap Bi Inah sambil memberikan sebotol minyak yang tadi untuk mengolesi kepala Elena yang benjol. "Makasih ya, Bi Inah." Ucap Elena dan segera pergi menuju kamarnya. *** Sedari tadi, wajah menggemaskan Elena berputar-putar di kepalanya. Sampai-sampai membuat dirinya tersenyum, jika mengingat wajah Elena. "Gue kan punya data diri Elena, kayanya ada nomer teleponnya deh," ucap Arsen dan segera bangkit dari tidurnya untuk mencari dokumen data diri Elena. Arsen pun berjalan menuju ruang kerjanya untuk mencari data diri Elena dan mencari nomor teleponnya. Masalahnya, tadi Arsen lupa meminta nomor Elena. Bodoh sekali dirinya ini. "Nah, ketemu," ucap Arsen dengan mata berbinar. Arsen pun segera mencari nomor teleponnya Elena dan menulisnya di kontak hp agar dirinya bisa menghubungi Elena kapan pun. "Coba deh gue telepon," ucap Arsen dan segera menelpon Elena. Di lain sisi, Elena sedari tadi melamun memikirkan ucapan sang mama. Walaupun dirinya berusaha membuang jauh-jauh pikiran itu, tetapi tetap saja pikiran itu muncul di kepalanya. Lamunan Elena pun buyar, dikejutkan oleh deringan ponselnya. "Nomer siapa ini?" tanya Elena pada diri sendiri. Elena pun segera mengangkat telepon tersebut, takutnya penting. Saat Elena mengangkatnya, dirinya tidak menjawab terlebih dahulu. Agar orang tersebut yang bicara duluan. "Halo, ini dengan Elena Caroline?" tanya seseorang laki-laki dari seberang telepon. "Maaf, anda siapa dan bagaimana anda bisa mendapatkan nomor saya?" tanya Elena. "Perkenalkan nama saya Arsen Emiliano, CEO di Emiliano Company. Saya bos yang memiliki seorang sekertaris cantik bernama Elena Caroline. Sudah cukup?" tanya Arsen dengan suara kekehan di seberang telepon. Elena pun memelototkan matanya karena terkejut akan ucapan bosnya itu. "Maaf Pak Arsen, saya tidak tau jika ini nomor Pak Arsen. Ada apa ya pak malam-malam seperti ini menelpon saya?" tanya Elena sesopan mungkin. "Permintaan maafmu tidak saya terima," ucap Arsen. "Saya minta maaf pak, saya benar-benar tidak tau jika ini nomor Pak Arsen," ucap Elena. "Saya akan maafkan, jika kamu mau menuruti syarat dari saya," ucap Arsen dengan otak pintarnya. "Syaratnya apa pak?" tanya Elena dengan suara gugup. "Besok akan saya jelaskan. Bagaimana keadaan mu sekarang? Sudah membaik?" tanya Arsen. "Sudah pak, besok saya akan masuk bekerja untuk pertama kalinya," ucap Elena sambil tersenyum tanpa diketahui Arsen. "Beristirahatlah, jangan begadang. Good night," ucap Arsen dengan suara lembutnya. "Pak Arsen juga istirahat, jangan begadang. Good night too." Ucap Elena dan segera mematikan sambungan telepon antara dirinya dengan bosnya. Elena segera manruh ponselnya dan pergi untuk menyikat gigi. Sedangkan Arsen, setelah menelpon Elena. Dirinya tak berhenti untuk tersenyum. Mendengar suara Elena yang meminta maaf, sangatlah imut bagi dirinya. Malam semakin larut, Arsen segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Pagi hari yang cerah, Elena sudah siapa untuk berangkat kerja dengan menampilkan senyum fakenya di depan sang papa. "Pagi semuanya," sapa Elena. "Pagi Elena, tidurmu nyenyak semalam?" tanya Eryk. "Nyenyak sekali papa, apakah papa juga nyenyak?" tanya Elena dengan senyum fakenya. "Nyenyak sekali, sampai memimpikan mu Elena." Ucap Eryk dan percakapan pun berakhir. Alisha yang melihat kedekatan papanya dengan Elena pun semakin bertambah kebenciannya. Ariana yang melihat jika putrinya iri dengan Elena pun memikirkan cara agar Elena menderita telah merebut papa Alisha. Selesai sarapan, Elena dan Eryk segera berangkat bekerja. Hari ini, Elena masih diantar oleh sang papa. Karena pekerjaan papanya tidak terlalu padat. "Semangat kerjanya, sayang," ucap Eryk sambil mencium kening putrinya. "Semangat juga ya buat papa." Ucap Elena dan segera keluar dari dalam mobil milik sang papa. Tak lupa melambaikan tangannya ke arah sang papa dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Baru saja akan melangkah kan kakinya, suara berat yang Elena kenal memanggilnya. "Ada apa Pak Arsen?" tanya Elena. "Kita ke atas bersama, apakah bagus meninggalkan bosnya berjalan sendiri?" tanya Arsen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD