Pagi hari yang cerah, dengan mata sembab dan wajah pucatnya Elena memaksakan diri untuk berangkat bekerja. Karena hari ini adalah hari pertamanya bekerja.
"Pagi papa, mama, Alisha," sapa Elena.
"Pagi juga sayang. Bagaimana tidurnya? Nyenyak?" tanya Eryk.
"Nyenyak kok pa," jawab Elena dengan senyuman tipis.
"Hari ini kamu akan bekerja di kantor milik Arsen kan?" tanya Eryk.
"Iya pa." Jawab Elena dan percakapan pun berakhir.
Terlihat tatapan mata kebencian mengarah pada Elena. Siapa lagi jika bukan tatapan mata milik Alisha dan Ariana. Mereka berdua saling pandang dan tersenyum licik.
"Tunggu permainan dimulai, Elena." Batin Alisha dengan smirknya.
Selesai sarapan bersama, Elena pun berangkat ke kantor milik Arsen bersama dengan sang papa. Karena Eryk ingin mengantarkan Elena berangkat bekerja pertama kali.
"Semangat anak papa, semoga sukses ya," ucap Eryk sambil mencium kening sang anak.
"Makasih papa, semangat juga ya buat papa." Ucap Elena.
Dengan segera, Elena keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam kantor besar milik Arsen. Sebelumnya, Elena bertanya pada resepsionis dimana keberadaan ruang interview untuk calon sekertaris baru.
"Permisi mbak, diman ya ruang interview untuk calon sekertaris baru?" tanya Elena dengan sopannya.
"Mbak calon sekertaris baru ya? mari saya antar ke ruangannya. Hari ini langsung dari bos besar yang menginterview," ucap mbak resepsionis.
"Terima kasih mbak." Ucap Elena dan segera mengikuti mbak resepsionis yang akan mengantar dirinya ke ruang inerview.
Elena bingung, kenapa malah ke ruangn CEO langsung, bukannya ke sebuah ruangan tersendiri. "Kenapa kita langsung ke ruangan CEO ya mbak?" tanya Elena bingung.
"Karen hanya tersisa mbak sendiri. Orang yang mendaftar menjadi sekertaris Pak Arsen. Banyak orang yang ketolak, semoga mbak ke terima ya," ucap mbak resepsionis.
Elea menganggukan kepalanya dan segera mengikuti langkah mbak resepsionis tadi.
Tok...Tok...Tok
"Silahkan masuk," ucap seseorang dari dalam ruangan.
"Mari mbak masuk," ajak mbak resepsionis tersebut.
Elena merasa gugup sendiri saat dirinya akan di interview. Karena mengingt kejadian dua hari yang lalu, saat Arsen menolongnya yang kecebur kolam renang. Bahkan saat ini dirinya sedang merasa tidak enak badan, karen hukuman dari Ariana kemarin.
"Apakah itu calon sekertarisnya?" tanya Arsen masih dengan pandangan yang fokus pada layar laptopnya.
"Benar pak. Kalau begitu saya permisi dulu,'' ucap mbak resepsionis.
"Silahkan duduk," ucap Arsen sambil mengalihkan laptopnya agar bisa melihat wajah calon sekertarisnya. Semoga saja orang yang di pikirannya sejak dua hari yang lalu.
Elena segera duduk di kursi hadapan Arsen dengan jnatung yang berdegup kencang. Arsen pin menatap ke arah Elena dengan senyum yang sangat tipis. Wajah cantik, sopan, dan memakai baju rapi. Tidak seperti calon sekertaris lainnya yang memakai baju kurang bahan.
"Apakah kau Elena anak Eryk Ferdinand?" tanya Arsen sambil menaikkan satu alisnya.
"Benar pak, saya Elena anak Pak Eryk Ferdinand," jawab Elena.
"Yasudah, kalau begitu kita mulai sesi interviewnya." Ucap Arsen.
Interview pun dimulai, Elena berusaha untuk menghilangkan sifat gugupnya. Sedangkan Arsen, sedari tadi menahan senyumnya agar tidak keluar. Karena melihat wajah gugup Elena yang sangat menggemaskan baginya.
Lima belas menit berlalu, akhirnya interview pun selesai. Hasil lulus atau tidaknya langsung diberitahukan saat itu juga. Karena Arsen sudah tak sabar melihat Elena bekerja besok.
"Selamat Elena, kamu di terima di Emiliano Company," ucap Arsen sambil mengulurkan tangannya.
Elena tersenyum bahagia saat dirinya lulus menjadi sekertaris seorang Arsen Emiliano. Dengan cepat Elena membalas uluran tangan bos barunya. Setelah itu dirinya beranjak keluar dari dalam ruangan Arsen. Belum selangkah, Elena tiba-tiba jatuh pingsan. Untung saja Arsen dengan sigap menangkap Elena.
"Elena, Elena. Bangun Elena,'' ucap Arsen sambil menepuk-nepuk pipi Elena.
Dengan cepat Arsen pun membopong Elena dan dibawanya ke dalam kamar pribadi. Setelah itu dirinya menelpon dokter pribadinya agar datang ke kantor Arsen.
***
Elena terbangun dari pingsannya. Dirinya sangat terkejut berada di sebuah kamar yang asing. Seingatnya tadi, dirinya berada di ruangan bosnya.
"Sudah bangun kamu, Elena," ucap Arsen sambil mendekat ke arah Elena membawa semangkuk bubur.
"Pak Arsen," kaget Elena dan segera bangkit dari tidurnya.
Arsen pun mendekat ke arah Elena dan segera membantu Elena untuk duduk. "Kamu tadi pingsan di ruang kerja saya. Jadi, saya bawa kamu ke kamar yang ada di ruang kerja saya. Makanlah ini dulu, agar tenaga mu pulih dan setelah itu minum obatnya," ucap Arsen dengan nada lembut.
"Makasih pak. Tapi, maaf saya tidak bisa menerimanya. Saya harus cepat-cepat pulang jika sudah selesai interview," ucap Elena dengan wajah panik. Karena tadi sebelum dirinya berangkat, sang mama sudah bilang jika selesai interview harus cepat-cepat kembali.
"Duduklah. Saya tidak suka dibantah, jangan lupa kasih salep di pipi kamu yang lebam. Seperti bekas tamparan," ucap Arsen dengan tatapan tajam.
Elena pun kicep, bagaimana bisa masih kelihatan bekas tamparan mamanya kemarin. Elena pun memutuskan untuk menuruti ucapan bosnya itu.
"Saya suapi saja, biar kamu bisa istirahat," ucap Arsen saat mengetahui Elena akan meraih mangkok yang ada di atas meja kecil samping ranjangnya.
"Tapi, pak," ucap Elena terpotong.
"Saya tidak suka dibantah! Ingat itu." Ucap Arsen.
Arsen pun menyuapi Elena dengan hati-hati agar Elena tidak memuntahkan bubur tersebut. Saat bubur tinggal dua suapan lagi, terlihat Elena akan muntah.
"Sudah?" tanya Arsen sambil memberikan segelas air putih.
Elena menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Terima kasih pak. Maaf merepotkan Pak Arsen," ucap Elena sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak merepotkan sama sekali. Karena kamu adalah sekertaris saya, jika kamu sakit. Maka pekerjaanku tidak ada yang membantu lagi. Jangan sampai kamu kegeeran, ini adalah salah satu bentuk perhatian bos pada pegawainya," ucap Arsen dengan wajah angkuhnya.
"Maaf pak, saya tidak geer kok. Saya sudah memiliki kekasih," bohong Elena. Jangankan mempunyai kekasih, dekat dengan laki-laki saja Elena tidak pernah. Baru kali ini saja dekat dengan laki-laki. Yaitu bosnya.
Arsen yang mendengar ucapan Elena tadi pun merasakan sesuatu yang tak terima. Tetapi, Arsen bingung akan rasa itu. Sebab dirinya dari dulu sampai sekarang tidak pernah mempunyai pacar.
"Baguslah kalau begitu. Kamu nanti pulangnya saya antar saja. Beristirahat lah," ucap Arsen dan segera keluar dari dalam ruangannya.
"Tapi, pak ...," ucap Elena terpotong.
Arsen pun membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekat ke arah Elena. Membisikkan sesuatu di telinga Elena. "Jika kamu membantah ucapan saya. Kamu akan saya buat mengandung keturunan Emiliano," ucap Arsen dengan suara menggoda.
Tubuh Elena pun bergidik ngeri seketika. Sepertinya ini adalah warning untuk dirinya agar tidak terlalu dekat dengan bosnya. Semoga hati Elena bisa teguh. Karena penampilan bosnya saja membuat goyah iman, dengan rahang tegas, badan seperti atlet, tangan kekar dan mempunyai wajah yang sangat berkharisma. Membuat permpuan seketika luluh saat melihatnya.
"Jangan menatap saya sepeti itu. Apa kamu benar mau mengandung keturunan Emiliano?" tanya Arsen sambil terkekeh.