Setelah selesai meeting, Arsen melanjutkan pekerjaannya yang lain. Tetapi, Arsen sedari tadi tidak fokus karena pikirannya terpenuhi nama Elena.
Arkh
"Kenapa gue kepikiran Elena terus sih!" ucap Arsen sambil mengacak-acak rambutnya.
Arsen pun menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai memfokuskan dirinya kembali pada pekerjaannya. "Arsen fokus! Selesaiin pekerjaan lo, habis itu jenguk Elena." Ucap Arsen dan setelah itu dirinya kembali fokus.
Dilain tempat, Elena sedari tadi menahan tubuhnya yang tidak enak. Tubuhnya sangat panas, mukanya pun juga pucat. Tetapi, sang mama dan adiknya menyuruh Elena mencuci baju mereka. Tidak boleh di bantu oleh Bi Inah. Satu jam berlalu, akhirnya Elena selesai mencuci baju dan segera menjemurnya.
Dari kejauhan, Alisha yang melihat Elena hampir selesai menjemur. Alisha pun berjalan ke arah Elena sambil membawa segelas air berisi pewarna merah. Tetapi, terlihat seperti sirup. Dengan sengaja, Alisha mendekat ke belakang Elena. Karena Elena yang masih fokus menjemur, jadi tidak mengetahui keberadaan Alisha di belakangnya. Tanpa sengaja, Elena menyenggol tangan Alisha yang membawa segelas air berwarna merah dan tumpah di baju kesayangan Alisha.
"Elena! Kamu sengaja ya!" Bentak Alisha.
"Aa-Alisha, kamu ada disini?" tanya Elena yang terkejut.
"Gue udah lama ada di belakang kamu! Gak usah pura-pura gak tau deh jadi orang!" Bentak Elena.
"Maaf Alisha. Aku memang tidak tau jika kamu di belakang aku," ucap Elena dengan wajah melasnya.
Alisha pun bersedekap d**a sambil memutar bola matanya dengan malas. "Kalau kamu iri, bilang aja kakak!" ucap Alisha.
"Aku gak ada rasa iri sama kamu kok Alisha," ucap Elena.
Alisha yang mendengar ucapan Elena pun memelototkan matanya dengan tajam ke arah Alisha sambil mengambil bajunya yang ketumpahan pewarna merah yang sengaja ia bawa tadi. "Aku akan aduin kamu ke papa dan mama!" Bentak Alisha.
Elena pun mencengkal tangan Alisha saat Alisha akan beranjak pergi dari hadapan Elena. "Aku minta maaf Alisha. Aku beneran gak sengaja," mohon Elena.
Alisha pun menghempaskan tangan Elena dengan sangat kencang sampai Elena terduduk di tanah. Sambil menahan rasa pusing di tubuhnya, karena kejadian tadi di kolam renang. Tanpa dirinya sadari, air mata Alisha menetes di kedua pipi putih Elena.
Tanpa Elena sadari, ada sesorang yang membantu dirinya berdiri. "Non Elena gak apa-apa kan?" tanya Bi Inah.
Elena pun segera mengusap air matanya dengan cepat agar Bi Inah tidak mengetahui bahwa dirinya sedang menangis. "Makasih Bi Inah. Elena gak apa-apa kok," ucap Elena.
Bi Inah yang merasakan tubuh Elena panas pun bertanya. "Non Elena sakit?" Tanya Bi Inah.
"Elena gak sakit kok bi. Mungkin kecapean kemarin baru datang dari LA," ucap Elena sambil tersenyum.
"Non Elena istirahat saja. Biar bibi yang bawa masuk embernya." Uap Bi Inah.
Elena pun menganggukan kepalanya dan segera masuk ke dalam. Disusul Bi Inah di belakang Elena. Sesampainya di dalam, saat Elena akan naik keatas. Tiba-tiba suara Ariana terdengar memanggil dirinya.
"Elena!" Panggil Ariana dengan sangat kerasnya.
Elena pun segera berjalan ke mamanya. Sang mama dan sang adik ternyata berada di ruang keluarga. Dengan keadaan Alisha menangis tersedu-sedu.
"Ada apa ma?" tanya Elena.
Plak
Tiba-tiba Arian menampar pipi Elena dengan sangat kerasnya. Sampai Elena jatuh tersungkur kembali. Terlihat juga cap tangan sang mama di pipi putih mulusnya.
Elena pun berusaha bangkit dari jatuhnya sambil menahan air matanya agar tidak keluar. "Ada apa ma?" tanya Elena sambil memegang pipi kanannya yang terasa panas.
"Kamu sengaja ya rusakin baju Alisha? Oh, apa kamu iri dengan Alisha karena mendapat perhatian lebih dari papa kamu?" Tanya Ariana dengan nada sinisnya.
Elena pun segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Enggak ma, Elena gak iri sama Alisha. Tadi itu, Alisha ada di belakang Elena tanpa Elena ketahui. Elena gak sengaja senggol lengan Alisha yang lagi bawa minuman dan akhirnya minumannya tumpah di baju Alisha," ucap Elena panjang lebar.
"Halah! Banyak alasan! Udah tau kalau kamu salah ya salah aja, gak usah ngelak!" Bentak Ariana.
Elena pun menarik napasnya dalam-dalam dan berusaha mengalah saja daripada masalah semakin panjang dan rumit. "Baiklah kalau begitu, memang iya Elena yang salah ma. Elena minta maaf ma, Alisha," ucap Elena sambil menundukkan kepalanya.
"Sebagai hukumannya, kamu bersihin taman depan rumah sampau bersih," ucap Ariana sambil bersedekap d**a.
"Baik ma. Elena akan turuti permintaan mama, asal Alisha dan mama maafin kesalahan Elena," ucap Elena sambil mendongakkan kepalanya.
"Sudah cepat sana pergi! Mama muak lihat muka kamu yang pura-pura baik di depan, padahal busuk hatinya!" Ucap Ariana sambil mendorong tubuh Elena.
Untung saja Elena tidak melamun, jadi dirinya tidak jatuh tersungkur lagi. Dengan cepat Elena pergi ke gudang untuk mengambil peralatan membersihkan taman.
"Loh Non Elena ngapain ada disini?" tanya Pak Wirya saat bertemu Elena di depan gudang.
Ariana yang membuntuti Elena sampai taman depan rumah pun mengetahuinya. "Pak Wirya masuk! Elena saya hukum buat ngebersihin taman!" Perintah Ariana.
Mang Asep pun menurut dengan ucapan Ariana. Karena dirinya takut kena semprot dengan majikan galaknya. "Baik nyonya," ucap Pak Wirya sambil menundukkan kepalanya dan berjalan melewati Ariana.
"Selesaikan hukaman kamu! Jangan harap bisa masuk rumah jika halaman ini belum bersih!" Perintah Ariana dan segera masuk ke dalam rumah.
Dari kejauhan dua orang paruh baya yang melihat Elena kesusahan membersihkan taman pun merasa prihatin. "Mesakke ya Mbak Elena. Masok ibu kandung jahat eram, "
(Kasihan ya Mbak Elena. Masa ibu kandung jahat banget)
"Bener, mosok mbok kandung koyo ngono. Gak nduwe roso welas asih sama sekali," ucap Bi Inah.
(Bener, masa ibu kandung kaya begitu. Gak punya rasa welas asih sama sekali)
Ariana yang mendegar bisik-bisik di sebalik tembok pun menghampirinya. "Kalian ngapain disitu? Kalau mau gosip depan orangnya langsung. Gak usah bisik-bisik!" Bentak Ariana.
Bi Inah dan Pak Wirya oun hanya menundukkan kepalanya, karena mereka berdua keciduk sedang bergosip tentang majikannya.
"Kalian kesini bekerja dan digaji. Kembali ke pekerjaan kalian! Dan satu lagi, jangan bantu Elena, sampai kalian ketahuan bantu Elena, kalian akan saya pecat! Perintah Ariana.
Bi Inah dan Pak Wirya pun menganggukan kepalanya berarti paham. "Kami berdua pamit kembali kerja dulu nyonya," kompak mereka berdua.
Ariana tidak menanggapi ucapan mereka dan kembali masuk ke dalam rumah untuk melihat Elena dari atas.
"Ada apa ma?" tanya Alisha.
"Tadi Bi Inah sama Pak Wirya bisik-bisik sampai nyebutin nama mama. Gimana gak kesel mama coba, mereka bisik-bisik pakai Bahasa Jawa," ucap Ariana sambil bersedekap d**a.
"Oh iya ma, kita harus ancem Bi Inah sama Pak Wirya biar gak ngomong sama papa. Kita kan gak tau mulut mereka ember apa enggak," ucap Alisha dengan senyum liciknya.
"Oh iya, mama sampai gak kepikiran. Pinter juga kamu," ucap Ariana sambil memeluk Alisha.
"Anak Mama Ariana dong, pasti pinter." Ucap Alisha sambil membalas pelukan sang mama.