Liana masih meratapi dua hal yang menimpanya secara bersamaan. Sedangkan Dewa masih merasakan nyeri saat meninggalkan rumah Larisa. Dia tahu jika dirinyalah penyebab utama mengapa gadis itu memilih pergi. Kenapa Korea, Sa? Itu jauh sekali. Kamu nggak kasihan sama mamamu? Berbagai tanya bermunculan di hatinya. Dewa menghela nafasnya pelan. Ingin rasanya menyusul gadis itu dan menariknya pulang. Namamu sudah dibersihkan, Sa. Kamu bisa kembali ke perusahaan. Aku tidak keberatan jika kamu menggodaku seperti biasanya. Dewa menyadarkan dadanya ke setir mobil, menatap jalan raya yang mulai sepi. Mobilnya masih diam di parkir taman dekat rumah Larisa. Telepon selular miliknya berbunyi. Ada panggilan masuk dari sang mama. “Ya, Ma. Masih di tempat Papa Farid?” dia bermaksud menje

