Episode 9 - Membutuhkan Sandaran

1602 Words
"Jadi, akhlakul mazmumah itu adalah akhlak tercela. Yaitu golongan akhlak atau tindakan buruk yang harus dihindari oleh setiap manusia. Akhlak mazmumah ini harus dijauhi karena dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain," jelas Nata, pada semua santri dan santriwatinya sore itu. Mereka semua mencatat apa yang Nata katakan, dalam buku catatan mereka masing-masing. "Perilaku buruk ini menunjukkan lemahnya keislaman seseorang, dan menjadi tolak ukur imannya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Hal ini tercantum dalam sabda Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasalam, 'Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya', hadits riwayat At - Tirmidzi." Nata kembali memberikan jeda agar semua orang bisa mencatat. Pikirannya saat itu tengah terbagi dua, antara kegiatannya di Pesantren dan juga kegiatannya di perusahaan milik Keluarga Brawijaya. Ia benar-benar butuh seseorang untuk membantunya menangani perusahaan itu, namun sayangnya, tak ada yang bisa ia lakukan selain menerima bahwa saat ini semua harus dilakukan sendiri. Terkadang, Nata ingin sekali menyerah. Namun saat keinginan itu tengah meraja di dalam hatinya, ia kembali teringat dengan wajah Kakeknya yang telah memberi amanah dan kepercayaan di tangannya. Ia begitu tak ingin mengecewakannya, namun di satu sisi ia juga punya batas dan ketidakmampuan. Kini, ia benar-benar merasa bingung luar biasa, ia tak tahu harus berbuat apa untuk tetap bertahan. "Ustadz? Ustadz Nata?" tegur salah satu santri yang melihat Nata tengah melamun. Nata pun tersadar dari lamunannya, lalu tersenyum penuh rasa bersalah. "Oh, Afwan, hari ini saya agak lelah dan kurang berkonsentrasi. Mari kita lanjutkan, ya," ujar Nata, merasa tak enak hati pada para santri dan santriwatinya. Nata menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan. "Akhlak mazmumah itu ada bermacam-macam, contoh yang paling sering kita jumpai adalah, dusta, dan mabuk. Kedua hal itu adalah akhlak paling tercela yang wajib untuk kita jauhi. Setiap minuman keras, baik itu diminum dalam kadar banyak hingga mabuk, ataupun sedikit, tetap hukumnua haram di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala. Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasalam bersabda 'Setiap yang memabukkan itu khamar, sedangkan setiap khamar itu haram', hadits riwayat Muslim. Jadi, jauhilah minuman keras, agar kalian tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang berakhlak mazmumah." Salah satu santri yang duduk di bagian tengah mengangkat tangannya. Nata tersenyum ke arahnya, dan mempersilahkannya untuk bertanya. "Kalau dalil tentang dusta, Ustadz Nata?" tanyanya. "Nah, perilaku dusta adalah induk banyak maksiat dan dosa. Dusta dilakukan dengan menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam bersabda, 'Berhati-hatilah kalian pada dusta karena dusta membawa kepada kekejian dan kekejian membawa ke neraka, seseorang yang selalu berdusta maka akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta', hadits riwayat Ath-Tirmidzi. Sampai di sini, ada yang belum paham?" tanya Nata. "Sudah paham, Ustadz!!!" jawab semua santri dan santriwati, kompak. "Alhamdulillah kalau begitu. Baiklah, sekian dulu materi dari saya. Insya Allah akan kita lanjutkan lagi besok sore. Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh." "Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh." Para santri pun bergegas membubarkan diri. Nata melihat ke arah Mahmud yang sedang mendekat ke arahnya. "Sebaiknya Akh Nata langsung pulang saja. Wajah Akh Nata terlihat sangat kurang sehat. Akh Nata harus beristirahat sejenak," saran Mahmud. Nata pun kembali tersenyum. "Sepertinya memang demikian, Akh Mahmud. Kalau begitu, saya akan langsung pulang saja hari ini. Tolong sampaikan pada para pengajar lain, bahwa saya agak kurang sehat," pinta Nata. "Insya Allah akan saya sampaikan, Akh Nata," balas Mahmud, meyakinkan. Malam itu, Nata pulang dari Pesantren dengan wajah dipenuhi rasa lelah yang luar biasa. Namun ia tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan semua orang. Dahlia menatapnya sambil membereskan dapur, ketika Nata muncul di hadapannya. "Nak, tadi siang Bara ke sini," ujar Dahlia. "Mas Bara? Mas Bara pulang, Mi? Terus Mas Bara sekarang di mana? Kok aku nggak lihat dia dari tadi?" tanya Nata begitu antusias. "Tenang dulu, biar Ummi cerita," pinta Dahlia. Nata pun akhirnya mengangguk lalu menunggu penjelasan Ibunya. "Dia ke sini lalu bicara dengan Bi Inah di luar setelah tahu kalau Mamanya sudah tidak tinggal di sini. Ummi dan Kakekmu mendengar semua pengakuannya, lalu Kakekmu keluar dan marah padanya. Kakekmu mengusir Bara, Nak. Ummi sudah berusaha menahannya, tapi mungkin Bara merasa tidak enak dan memutuskan benar-benar pergi." "Astaghfirullah hal 'adzhim! Kenapa Ummi nggak telepon aku tadi siang? Aku bisa pulang dan menahannya agar tidak pergi lagi," Nata benar-benar merasa sangat tidak enak pada Bara sekarang. "Ummi takut mengganggu pekerjaanmu Nak." "Mi, Mas Bara lebih penting daripada pekerjaanku. Ummi tahu sendiri kalau aku sudah sangat tak mampu bertahan di posisiku sekarang. Aku butuh Mas Bara untuk membantu di perusahaan Mi, agar aku bisa fokus pada pesantren. Ummi tahu sendiri kalau ini bukan duniaku. Lagipula Mas Bara berperan besar dalam hidup kita sejak aku masuk Madrasah Aliyah, tanpa dia aku mungkin sudah akan memutuskan untuk berhenti sekolah dan lebih memilih mencari nafkah," ujar Nata, kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Iya, Ummi tahu. Maka dari itu Ummi menanyakan padanya di mana dia menginap selama berada di Indonesia. Dia bilang pada Ummi kalau dia menginap di hotel Horison, Jakarta selatan. Kamu bisa menyusulnya tapi bujuk dulu Kakekmu agar bisa menerima kehadiran Bara di rumah ini. Ummi nggak mampu membujuknya Nak, Ummi tidak bisa melukai perasaan Kakekmu, Ummi takut salah bicara," jelas Dahlia sambil menyeka airmatanya. Nata pun menganggukan kepalanya lalu segera berbalik untuk keluar dari dapur, namun ternyata Akmal sudah ada di ambang pintu dapur sejak tadi dan mendengar semuanya. "Nata, ayo antar Kakek ke kamar," pinta Akmal. Nata pun menurut, ia segera mendorong kursi roda milik Akmal menuju ke kamarnya. Akmal duduk bersandar di tempat tidurnya sambil menatap Nata dengan sendu. "Katakan pada Kakek, apa maksud pembicaraanmu dengan Ummimu di dapur tadi? Kenapa Bara bisa berperan besar dalam hidup kalian?" tanya Akmal, pelan. Nata menggenggam tangan Kakeknya dengan erat. "Kek, saat aku masuk ke Madrasah Aliyah kehidupanku dan Ummi sedang berada dititik terendah. Pesantren yang Abi bangun sedang mengalami kemunduran dan sedikit sekali yang mau mendaftar menjadi santri di sana. Sehingga aku hampir memutuskan untuk berhenti sekolah untuk mencari pekerjaan agar kami bisa bertahan hidup," ujar Nata. "Lalu apa hubungannya dengan Bara?" "Mas Bara datang pada suatu hari, dia memperkenalkan diri pada kami kalau dia adalah putra Bibi Nia dan Paman Bagas. Dia juga bilang kalau saat itu dia tengah berkuliah di luar negeri. Dia datang dan membantu memberi biaya sekolah untukku dan juga biaya kebutuhan sehari-hari kami. Dia bersujud di kaki Ummiku agar Ummi mau menerima bantuan itu, dia bahkan meminta maaf atas semua kesalahan Kakek yang tidak bisa menerima Ummi sebagai menantunya. Dia merasa sangat bersalah Kek, seakan dia yang tidak mengakui Ummi sebagai menantu, bukan Kakek." Nata kembali menyeka airmata yang menggenangi kedua matanya. Akmal pun begitu, kedua matanya sudah berkabut sejak tadi karena merasa sangat bersalah dengan masa lalu. "Kek, biarkan aku menjemput Mas Bara ya," pinta Nata. "Apakah kamu tidak akan merasa tersaingi oleh Bara jika dia ada di sini?" tanya Akmal. "Kek, aku tidak akan merasa tersaingi. Kita ini manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan. Mas Bara punya kelebihannya sendiri dan aku juga punya kelebihan sendiri. Tidak akan ada yang merasa bersaing Kek, semua sudah ada dalam jalannya masing-masing," Nata berusaha meyakinkan Akmal. "Baiklah, jemput dia, bawa dia pulang," Akmal menyetujui. * * * Nata berjalan menuju kamar yang ditunjukkan oleh resepsionis. Kamar yang di tempati oleh Bara selama berada di Indonesia. Ia mengetuk pintu itu setelah resepsionis yang mengantarnya pergi. Bara membukakan pintu setelah beberapa saat berlalu. "Assalamu'alaikum Mas Bara," Nata tersenyum saat melihat sosoknya. "Wa'alaikumsalam. Nata? Kamu datang sama siapa ke sini? Apakah Bibi Lia yang memberitahumu kalau aku ada di sini?" tanya Bara. "Iya Mas, Ummiku yang memberitahu kalau Mas Bara ada di hotel ini selama ada di Indonesia. Makanya aku segera ke sini setelah bicara dengan Kakek," jawab Nata, jujur. "Ayo masuk," ajak Bara. Nata pun mengikuti langkah Bara menuju ke dalam kamar itu. Mereka duduk di kursi yang tersedia di sana. "Ada apa? Kenapa kamu sampai datang ke sini malam-malam?" tanya Bara sambil menyodorkan air minum pada Nata. "Saya mau membawa Mas Bara pulang. Pulang Mas, Kakek menunggu kepulanganmu," Nata membujuk. Bara tersenyum. "Kamu nggak perlu repot-repot menjemputku. Aku yang memang tidak mau pulang, bukan salah Kakek. Aku hanya ingin melupakan masa lalu," ujar Bara. "Mas, semua sudah berlalu. Sekarang di rumah itu tidak ada lagi yang akan menekanmu, tidak akan ada lagi yang membebanimu dengan kejahatan apapun. Jujur Mas, aku nggak sanggup menjalankan perusahaan. Kamu tahu sendiri kalau duniaku bukan di dalam perusahaan milik Kakek, setiap hari aku harus membagi waktu antara perusahaan dan pesantren milik Almarhum Abiku. Aku sudah hampir menyerah Mas, tolong aku." "Nata, kamu itu seharusnya takut jika aku kembali ke rumah. Kamu seharusnya takut kalau aku memegang perusahaan. Mungkin bukan aku yang akan berusaha menguasainya, tapi Mamaku yang bisa berusaha menguasainya," jelas Bara. "Mas, aku nggak perlu takut dengan semua itu. Kamu itu kuat, kamu pasti bisa mempertahankan apa yang Kakek amanatkan padamu. Dan aku nggak perlu merasa tersaingi olehmu, karena sejujurnya apa yang kita pegang saat ini adalah titipan dari Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali oleh-Nya," ujar Nata. Bara pun terdiam. "Kalau sampai Mamaku berusaha kembali menguasai perusahaan itu, tolong, bantu aku untuk bertahan. Selama ini aku sendirian, aku butuh bantuan dan tidak ada yang bisa menolongku. Sekarang aku punya kamu, dan aku harap kita bisa melakukannya bersama-sama," pinta Bara. "Insya Allah Mas Bara, aku akan selalu ada untuk Mas Bara. Kapanpun yang Mas Bara butuhkan," janji Nata. Bara membiarkan airmata meluncur di wajahnya dengan deras. Ia begitu kesulitan selama ini karena harus menutupi semua dosa Ibunya, dan sampai saat ini ia masih begitu takut untuk membuka semuanya. "Katakan padaku Nata, apakah Haura baik-baik saja?" tanya Bara. "Haura saat ini... ." * * * Besok Episode 10 ya. Terima kasih telah membaca, jangan lupa tinggalkan komentar :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD