Tok..., tok..., tok...!!!
"Assalamu'alaikum."
Bi Inah pun segera berlari ke arah depan untuk membukakan pintu.
"Wa'alaikumsalam."
Sosok itu berbalik dan tersenyum pada Bi Inah setelah sebelas tahun tak pernah lagi pulang.
"Bi Inah, apa kabar Bi?" tanya Bara--putra tunggal Nia.
"Ba..., baik Den Bara. Den Bara pulang?" Bi Inah tak ingin mempercayai penglihatannya.
"Iya Bi, saya pulang," jawabnya sambil mengamati isi rumah yang agak kosong, "Mamaku lagi nggak ada di rumah?"
"Anu Den, Mama Den Bara dan Mbak Niken tidak tinggal lagi di sini. Mereka diusir oleh Tuan Besar dan sekarang yang tinggal di sini Nyonya Lia, Umminya Den Nata, Istri Almarhum Tuan Danu," jawab Bi Inah, jujur.
Bara pun tersenyum penuh kelegaan.
"Alhamdulillah kalau begitu. Akhirnya Kakek mau membuka matanya dan menatap ke arah yang benar. Saya duduk di luar saja Bi kalau begitu, nggak enak sama Bibi Lia kalau saya masuk ke dalam," ujar Bara yang langsung duduk bersama Bi Inah di kursi teras.
Bara mengeluarkan air mineral dari dalam tasnya.
"Den Bara mau minum? Biar Bibi buatkan minum dulu Den," tanya Bi Inah.
"Nggak usah Bi, jangan repot-repot. Saya datang tadinya hanya ingin menjenguk Kakek. Saya di Indonesia hanya satu minggu saja, dan harus segera kembali lagi ke Turki. Pekerjaan saya menunggu di sana," jawab Bara.
Bi Inah pun mengerti.
"Apa yang terjadi Bi? Bagaimana akhirnya Kakek menyadari kalau selama ini dia salah menilai seseorang?" Bara ingin tahu.
"Begini Den, Tuan Sakit sejak enam tahun lalu. Beliau sakit ginjal sehingga harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Mbak Nia dan Mbak Niken bukannya mengurus tapi malah tidak peduli. Mereka bahkan terang-terangan mengatakan bahwa mereka berharap Tuan Besar cepat mati agar mereka benar-benar bisa menjadi Nyonya Brawijaya yang sah dan menguasai semuanya. Tapi Nyonya Lia dan Den Nata justru memberikan jawaban lain ketika diberitahu mengenai keadaan Tuan Besar. Mereka akhirnya mengurus Tuan Besar selama enam tahun hingga Tuan Besar benar-benar sembuh setelah mendapatkan donor ginjal," jelas Bi Inah.
Bara tersenyum sejak tadi dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Itu semua karena kesabaran Bibi Lia yang tidak pernah marah pada Kakek meskipun dihina dan tak dianggap sebagai menantu. Almarhum Paman Danu sangat beruntung karena bisa menikahi seorang wanita yang tepat dalam hidupnya. Tidak seperti Papaku Bi, dia justru melepas yang baik dan terus menyimpan yang buruk," ungkap Bara.
Bi Inah menepuk-nepuk punggung Bara seperti saat pria itu masih kecil dulu.
"Den Bara sendiri kenapa nggak pernah pulang? Tuan Besar butuh Den Bara, tapi Den Bara tidak ada," Bi Inah menangis.
"Kalau saya tetap ada di sini, maka saya akan menjadi alat bagi orang-orang zhalim Bi. Saya akan dituntut oleh Mama untuk menguasai segalanya yang Kakek miliki dengan alasan bahwa saya adalah cucu pertama keluarga Brawijaya. Lalu apakah Kakek akan berpaling ke arah yang benar jika saya ada di sini? Sudah inilah jalannya Bi, Kakek harus menatap ke arah yang benar, di mana dia memiliki menantu yang sangat baik dan cucu lainnya yang juga mewarisi kebaikan dari Almarhum Paman Danu. Bagiku, tidak dianggap pun tidak akan jadi masalah, aku sudah banyak menerima semua hal dari Kakek, tapi tidak begitu dengan Nata dan Bibi Lia," jelas Bara.
"Jadi menurutmu semua jalan yang kamu ambil itu sudah benar?" suara tegas Akmal menggema di belakang Bi Inah dan Bara.
Bara dan Bi Inah pun bangkit dari kursi lalu menoleh ke arah belakang punggung mereka.
"Bi Inah, masuk!" perintah Akmal.
"Baik Tuan Besar."
Dahlia masih berdiri di belakang Akmal dan berusaha menyabarkan mertuanya agar tidak marah pada Bara.
"Kemana kamu selama sebelas tahun? Kenapa kamu tidak pulang? Apakah kamu benar-benar menuntut ilmu atau hanya melarikan diri?" tanya Akmal.
"Aku menuntut ilmu Kek, sesuai dengan amanat dari Kakek. Tapi bukan di Australia, melainkan di Turki, Marmara University. Aku tetap mengambil jurusan management sesuai dengan yang Kakek sarankan, tapi aku juga membutuhkan pelajaran lain dalam hidup ini. Aku butuh sesuatu untuk batinku, karena aku sadar bahwa bukan duniawi saja yang harus aku urus," jawab Bara.
"Jadi sekarang kamu pulang untuk apa?" Akmal masih tetap merasa marah.
"Menjenguk Kakek, dan kembali ke Turki untuk mengurus pekerjaan di sana setelah pekerjaan di sini selesai. Aku hanya punya waktu seminggu, jadi aku mengendap-endap datang ke sini karena takut ketahuan oleh Mama. Tapi bagusnya, Mama sudah tidak ada di sini, aku lega."
"Pak, sudah Pak. Jangan terus memarahinya seperti Bapak memarahi Ibunya. Dia tidak tahu apa-apa," bujuk Dahlia.
Bara tersenyum ke arah Dahlia.
"Tidak apa-apa Bi, saya memang salah karena tidak pernah pulang. Saya bahkan tidak tahu kalau Kakek sakit, saya memang salah," Bara mengakui.
"Bagus kalau kamu tahu! Sekarang pergi dari sini dan jangan pernah pulang lagi!" tegas Akmal.
"Pak, jangan begitu. Bara tidak tahu apa-apa. Dia hanya berusaha menghindari tuntutan Ibunya, Bapak sudah dengar sendiri pengakuannya. Jangan begini Pak, Allah tidak akan suka jika Bapak berbuat zhalim pada cucu sendiri," ujar Dahlia.
Akmal tak menjawab, ia hanya memutar kursi rodanya dan masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun. Dahlia pun menatap Bara.
"Ayo masuk Nak, kamu pasti capek dan ingin beristirahat," ajak Dahlia.
"Tidak usah Bi, saya harus kembali ke kantor cabang tempat saya bekerja. Saya masih ada pekerjaan yang belum saya selesaikan. Syukron atas tawarannya, Insya Allah mungkin lain kali saya akan masuk ke dalam dan bertamu dengan pantas," tolak Bara, halus.
"Kamu menginap di mana?" tanya Dahlia.
"Di hotel Horison Bi, Jakarta Selatan. Hanya hotel itu yang dekat sekali dengan kantor cabang perusahaan tempatku bekerja," jawab Bara.
"Kamu yakin tidak mau masuk dulu?" tawar Dahlia sekali lagi.
"Yakin Bi. Lagipula, Kakek tidak mau saya masuk ke dalam. Sebaiknya tetap seperti ini, Kakek akan hidup lebih tenang tanpa gangguan saya ataupun keluarga saya. Di masa tuanya saya harap dia lebih merasakan ketenangan ketimbang ketidak nyamanan," Bara meyakinkan Dahlia.
Akmal masih mendengarkan dari balik pintu. Ia berusaha menahan diri untuk tidak kembali keluar dan menahan Bara agar tidak pergi.
"Saya pergi dulu Bi, sampaikan salam dari saya untuk Nata. Assalamu'alaikum," pamit Bara.
"Wa'alaikumsalam," balas Dahlia.
Bara pun pergi, pria itu berjalan menuju ke arah gerbang rumah itu untuk menyetop taksi. Sekali lagi ia menatap rumah itu dan tersenyum dengan seluruh perubahan di dalamnya.
"Ya, sebaiknya tetap seperti ini, agar semua tak lagi kembali seperti masa lalu," batin Bara.
* * *
Flashback On
Bara berdiri di hadapan Akmal, setelah tadi ia dipanggil ke ruang kerja Kakeknya tersebut. Akmal menyodorkan padanya sebuah berkas berisi formulir pendaftaran ke salah satu Universitas ternama di Australia. Bara menatap formulir itu dengan kedua tangan yang dingin serta kedua mata yang berembun karena berusaha menahan airmata. Di rumah sebelah, Ibunya tengah menyiksa Haura habis-habisan, sementara dirinya hidup dalam kemewahan dan penuh jaminan di mana ia takkan terusik oleh satu kekerasan pun di dunia ini.
Saat itu, hati Bara terasa seakan dicabik-cabik oleh kenyataan, bahwa yang tinggi semakin dijunjung, dan yang rendah semakin diinjak. Ia benar-benar tak berdaya untuk menyelamatkan Haura dari kekejaman Ibu dan Bibinya, tapi ia sendiri justru mendapatkan jackpot dari Akmal dengan mudah, hanya karena ia adalah cucu yang pintar.
"Isi formulirnya, kelengkapan yang dibutuhkan akan diurus oleh Pranoto. Lusa kamu tinggal berangkat saja ke Australia. Belajar di sana dengan baik, lalu kembalilah dengan ilmu agar kamu segera bisa menggantikan Kakek," perintah Akmal, tak terbantah.
Bara hanya menatap Akmal dengan wajah dingin dan tersenyum palsu.
"Baik, Kek. Aku akan menjalankan semua perintah Kakek," jawab Bara.
Bara pun keluar dari ruang kerja pribadi milik Akmal, lalu berjalan menuju ke arah kamarnya sendiri. Ia duduk dan merenung sambil menatap ke arah formulir yang tadi diberikan oleh Akmal. Ia ingin sekali merobek-robek semua itu, namun ia takut tak bisa menyelamatkan Kakeknya di masa mendatang. Ia sudah punya rencana sendiri mengenai kuliah, namun ia tak pernah menduga kalau Akmal akan ikut mengatur hal tersebut. Sehingga kini ia harus kembali memutar otak, untuk menjalankan rencana demi menyadarkan Kakeknya.
Pintu kamar Bara tiba-tiba terbuka, sosok Nia masuk ke dalam dengan begitu santai seakan tak pernah terjadi apapun di rumah sebelah. Bara menatap ke arahnya, sambil menahan diri agar emosinya tak meledak.
"Mama dengar Kakekmu tadi memanggilmu. Apa itu benar?" tanya Nia.
Bara mengangguk pelan.
"Apa yang dia bicarakan?"
"Dia ingin aku mengisi formulir ini, untuk kuliah ke Australia. Aku harus kuliah di sana, lalu kembali untuk memimpin perusahaan dan menggantikan Kakek," jawab Bara, jujur.
Nia pun tersenyum penuh kemenangan, sambil menatap formulir yang telah diambilnya dari atas meja tulis milik Bara.
"Akhirnya, tiket yang selama ini Mama tunggu-tunggu akhirnya keluar juga," ujar Nia, terdengar sangat senang.
Nia menatap kembali ke arah putranya yang saat itu hanya bisa diam mematung.
"Isi dan segeralah berkuliah di Australia seperti yang Kakekmu inginkan. Setelah selesai, segeralah kembali dan buat Mamamu ini menjadi Nyonya Brawijaya seutuhnya!" perintah Nia, tak segan-segan.
Nia pun meletakkan kembali formulir itu ke atas meja tulis, lalu berjalan meninggalkan Bara sendirian di kamar itu. Airmata yang sejak tadi Bara tahan kini meluruh tanpa bisa dicegah lagi. Ia menangis pilu karena tak berdaya melawan penguasa-penguasa zhalim di rumah itu. Jika pun ia bisa melawan, maka ia akan menjadi anak durhaka, karena yang ia lawan adalah Ibu kandungnya sendiri.
Rasa sesak di dadanya semakin menjadi-jadi, terlebih saat ia ingat bahwa ada yang tengah tersiksa di rumah sebelah. Ia benar-benar tak punya jalan lain, ia harus menjalankan rencananya, atau keadaan takkan pernah bisa berubah.
Flashback Off
* * *
Besok Episode 9 ya. Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan komentar :)