Episode 7 - Teruskan

1602 Words
"Jadi, hari ini saya akan menyampaikan materi mengenai tiga faktor yang meninggikan derajat," ujar Nata. Semua memperhatikan dengan baik. Dahlia meminta Haura dan Vera ikut memperhatikan dari shaf akhwat agar mereka bisa ikut belajar. "Setiap orang tentu ingin derajatnya tinggi di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala, karena hal itu di sebutkan oleh Allah dengan jelas di dalam Al-Qur'an mengenai apa yang harus dilakukan agar bisa memperolehnya. Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat dua puluh, Alladziina aamanuu wa haajaruu wa jaahaduu fii sabiilillaahi bi'amwaalihim wa anfusihim a'zhamu darajatan 'indallaah, wa ulaa'ika humul-faa'izuun. Artinya, 'orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan'." Beberapa santri dan santriwati baru mencatat apa yang Nata berikan hari itu. "Berdasarkan ayat di atas, ada tiga faktor yang membuat manusia bisa mencapai derajat yang tinggi. Faktor yang pertama adalah iman. Iman adalah keyakinan kepada Allah dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Sesudah membuktikan iman dengan amal shaleh, maka seorang mukmin harus istiqamah. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat Fushshilat ayat tiga puluh dan tiga puluh satu, silahkan dicatat ya. Innalladziina qaaluu rabbunallaahu tsummastaqaamuu tatanazzalu 'alaihimul malaaa'ikatu allaa takhaafuu wa laa taḥzanuu wa absyiruu bil-jannatillatii kuntum tuu'aduun. Naḥnu auliyaaa'ukum fil ḥayaatiddunyaa wa fil aakhirah, wa lakum fiihaa maa tasytahii anfusukum wa lakum fiihaa maa tadda'uun." Vera menatap Haura selama Nata memberikan jeda bagi yang mencatat, ia mendekat perlahan. "Ukhti Haura mau ikut mencatat?" tanya Vera, berbisik. Haura pun tersenyum malu-malu dari balik niqob-nya. "Afwan, masalahnya saya lihat dari tadi Ukhti begitu serius memperhatikan semua yang Akh Nata sampaikan." "Artinya, sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata, 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.' Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya surga kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta." Microfone yang Nata gunakan kini ia pindahkan agar bisa lebih leluasa di atas mimbar. "Akan saya lanjutkan, faktor yang kedua adalah hijrah. Hijrah adalah meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda dalam sebuah hadits, 'orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah atasnya', hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Hal ini berarti antara yang hak dan yang bathil jangan sampai di campur dalam sikap dan tingkah laku kita sehari-hari. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat empat puluh dua, wa laa talbisul ḥaqqa bilbaathili wa taktumul ḥaqqa wa antum ta'lamuun, yang artinya 'dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya'," jelas Nata. "Masya Allah, sangat detail sekali apa yang Den Nata sampaikan," ujar Pak Saiful. "Ya, sangat luar biasa. Inilah dunianya yang selama ini dia bangun dengan sangat baik," tambah Akmal. "Lalu faktor yang terakhir adalah jihad. Jihad adalah bersungguh-sungguh dalam melaksanakan dan menegakkan nilai-nilai Islam. Kesungguhan ini dimulai dari menundukkan hawa nafsu agar selalu berada dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda, 'orang yang berjihad adalah orang yang berjuang terhadap hawa nafsunya untuk menaati Allah', hadist riwayat Ath-Tirmidzi dan Ibnu Majah." Vera kembali mendekat pada Haura. "Dulu di sekolah saya ada juga yang suka memberikan ceramah seperti yang Akh Nata lakukan, tapi penceramah itu tidak memberikan ceramah sampai sedetail yang Akh Nata lakukan," bisik Vera. "Mungkin karena gaya penyampaian ceramah seseorang itu berbeda-beda Ukhti Vera. Akh Nata mungkin lebih suka kalau menyampaikan sesuatu secara detail. Contohnya, 'tidak usah Ukhti Vera, bawa saja Ukhti Haura ke kamar. Jangan terlalu lama berada di sini kalau sedang ada saya, nanti terjafi fitnah'," Haura mencontohkan apa pernah Nata katakan pada Vera. Dahlia mendengarkan apa yang mereka katakan sambil menahan senyumannya. "Sangat jelas, kan? Akh Nata tidak menyampaikannya setengah-setengah karena dia tidak mau kita tersinggung," tambah Haura. Vera pun mengangguk-anggukan kepalanya sambil menahan senyum seperti yang Dahlia lakukan. Haura memang cepat tangkap dalam banyak hal, hanya saja gadis itu terlalu lama hidup dalam ketakutan sehingga terlihat bodoh di mata orang lain. "Puncak jihad adalah perjuangan menegakkan agama Allah dengan pengorbanan harta dan jiwa. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat Ash-Shaff ayat sepuluh sampai sebelas. Yaaa ayyuhalladziina aamanuu hal adullukum 'alaa tijaaratin tunjiikum min 'adzaabin aliim. Tu'minuuna billaahi wa rasuulihii wa tujaahiduuna fii sabiilillaahi bi'amwaalikum wa anfusikum, dzaalikum khairul lakum ing kuntum ta'lamuun, artinya, 'Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui'. Apakah semua sudah di catat?" tanya Nata lagi. "Sudah Ustadz." "Alhamdulillah, kalau begitu sampai di sini dulu materi awal yang saya berikan untuk kalian semua. Selamat datang di Pesantren Al-Mukaromah, dan semoga kalian bisa menimba ilmu yang bermanfaat selama kalian berada di sini, amiin yaa rabbal 'alamiin," do'a Nata. "Amiin yaa rabbal 'alamiin." "Baiklah, sampai bertemu lagi di lain kesempatan. Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh." "Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh." Nata pun turun dari atas mimbar menuju ke arah Kakeknya yang sedang dibantu oleh Pak Saiful untuk kembali duduk di kursi rodanya. Ia menggendong Akmal agar lebih mudah duduk di sana dan agar Pak Saiful tidak kerepotan. "Alhamdulillah, terima kasih ya Nak, karena kamu selalu ada untuk Kakek," ucap Akmal. "Afwan Kek. Kakek tidak perlu berterima kasih, ini memang sudah kewajibanku untuk berbakti pada Kakek sebagai ganti Almarhum Abiku yang tidak sempat berbakti pada Kakek semasa hidupnya," jawab Nata, merendah. Akmal tersenyum bangga mendengar jawaban dari cucunya. Dahlia mendekat setelah memastikan kalau Haura telah dijaga dengan baik oleh Vera. "Kamu mau pulang bersama kami Nak?" tanya Dahlia. "Tidak Mi, aku akan pulang nanti malam setelah pembagian kamar dilakukan secara merata untuk para santri dan santriwati," jawab Nata. "Besok Pranoto akan menemuimu di sini. Kakek sudah mengatakan padanya untuk membantumu membangun beberapa bangunan asrama lagi agar para santri dan santriwati di sini tidak perlu berdesak-desakan karena kekurangan kamar," ujar Akmal. "Benarkah? Kakek menyarankan itu pada Pak Pranoto?" Nata kebingungan. Akmal mengangguk-anggukan kepalanya. "Teruskan apa yang Almarhum Abimu inginkan dari kamu. Kalau kamu bisa membahagiakan Kakek seperti ini, maka kamu juga harus bisa membahagiakan Almarhum Abimu." * * * Pranoto duduk di hadapan Akmal yang tadi meminta bertemu, melalui telepon. Mereka memutuskan untuk bicara berdua di kamar, agar tak perlu ada yang mendengar. Akmal meminta Pranoto membawakan stempel khususnya, dan Pranoto sendiri masih mencoba menebak-nebak tentang apa yang akan Akmal lakukan menggunakan stempel khusus tersebut. "Saya yakin, kamu pasti tengah bertanya-tanya mengenai apa yang akan saya lakukan dengan stempel ini," ujar Akmal, sambil menimang-nimang stempel itu di tangannya. Pranoto menatap ke arah Akmal dengan tenang, lalu kemudian mengangguk untuk membenarkan apa yang Akmal katakan. Akmal terlihat menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan dengan penuh beban. "Dua hari yang lalu, kamu melihat sendiri bagaimana kelakuan Nia dan Niken saat datang ke rumah ini," tutur Akmal. Pranoto diam dan hanya mendengarkan saja. "Dan saya yakin, kalau kamu juga melihat sendiri bahwa Lia tidak melawan sama sekali atas kata-k********r yang terlontar untuknya. Maka dari itu, untuk mencegah hal seperti itu terjadi lagi, dan untuk mencegah Nia atau Niken berusaha menyingkirkan Lia, maka saya akan meminta kamu untuk mengalihkan semua aset Keluarga Brawijaya menjadi atas nama Lia. Jangan lupa selipkan poin, yang menegaskan bahwa semua harta milik Keluarga Brawijaya tidak akan bisa dicairkan kecuali oleh Lia." Akmal pun menyodorkan stempel khusus itu ke tangan Pranoto. Pranoto menerimanya dan segera menyimpannya kembali ke dalam tas yang ia bawa. "Pastikan stempel itu terlihat jelas dalam surat yang kamu buat. Saya tidak mau Nia atau Niken kembali lagi ke rumah ini dan berbuat semena-mena. Mereka harus menerima ganjarannya, mereka harus menerima konsekuensi dari semua kejahatan yang telah mereka lakukan selama ini," tegas Akmal, tak main-main. "Baik, Tuan Akmal. Akan segera saya kerjakan," balas Pranoto. "Dan satu lagi," Akmal membuat Pranoto kembali menatap ke arahnya, "pastikan Pesantren yang dibangun oleh Almarhum Danu akan segera memiliki bangunan baru untuk para santri dan santriwati. Nata begitu mencintai Pesantren itu. Tempat itu adalah impian terbesar yang ingin dia kembangkan, di dalam hidupnya. Saya pernah menghempaskan seluruh cita-cita Almarhum Danu, hingga dia harus berusaha sendiri untuk menggapai apa yang dia impikan. Sekarang, saya tidak mau Nata kesulitan dalam hal apapun. Hanya dia dan Lia yang tersisa dari kenangan tentang Danu dalam hidup saya. Jadi, bantulah Nata. Bangun Pesantren itu dan kembangkan," pinta Akmal. Pranoto menatap ke arah Akmal yang tampak begitu rapuh dihari tuanya. Dia telah kehilangan seorang putra, yang belum sempat dia rengkuh ketika ada di sisinya. Kemewahan serta kesombongan telah membuatnya buta, dan dia baru menyadari bahwa semuanya adalah kesalahan, ketika sudah hampir tak mampu lagi melawan sakit yang menyerang fisiknya. Pranoto masih ingat betul, ketika Akmal memintanya mencari Danu untuk mengabarkan bahwa dirinya tengah sakit keras. Saat itu, Bagas, Nia, Yoga, dan juga Niken tidak ada sama sekali yang mau mempedulikannya. Bahkan dengan tega, mereka mempertanyakan pada Dokter, mengenai kapan batas waktu Akmal agar bisa tetap hidup. Hal itu membuat Pranoto menemui Dahlia dan Nata, lalu memberi mereka kabar tentang Akmal. Dan pada akhirnya, Akmal hanya bisa menangis tanpa henti saat tahu kalau putranya telah tiada dan hanya menyisakan kenang-kenangan dalam sosok Nata, sebagai cucunya. "Terkadang, kita tak pernah tahu tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Maka dari itu, tidak ada salahnya untuk mengoreksi diri, sebelum terlambat." * * * *Materi diambil dari buku berjudul 160 Materi Dakwah Pilihan karya Drs. H. Ahmad Yani. Besok Episode 8 ya. Terima kasih sudah membaca :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD