Nata membuka lemari bajunya dan mengeluarkan sebuah kemeja berwarna biru gelap. Ia memadukannya dengan celana jenis pleated, agar terlihat formal. Dahlia melihat kedua pilihan Nata saat itu, ketika ia masuk ke kamar mengantarkan pakaian yang sudah disetrika.
"Yakin, kamu mau pakai pakaian gelap seperti itu ke kantor? Baju kemejanya sudah gelap, dan celananya pun berwarna gelap," tanya Dahlia.
"Memangnya, akan terlihat jelek ya, Mi?" Nata balas bertanya, akibat merasa ragu.
Dahlia pun tersenyum, kemudian mendekat ke arah putranya.
"Sebaiknya kamu memakai kemeja berwarna cokelat muda ini, saja," Dahlia mengambilkan kemeja yang lain, "warna gelap memang bagus, tapi kalau semuanya gelap termasuk celana, maka akan terlihat tidak bagus."
Nata pun menerima kemeja yang Dahlia sodorkan padanya. Ia tersenyum sambil menaruh kembali kemeja berwarna biru gelap yang tadi ia pilih, ke dalam lemari pakaiannya.
"Maklum ya, Mi. Aku ini nggak terlalu pintar memadukan warna, jadinya selalu asal-asalan saja saat memilih baju," ujar Nata, malu-malu.
Dahlia tersenyum ke arah putranya, sambil tetap menyusun pakaian yang tadi dibawanya dari rumah sebelah, ke dalam lemari milik Nata.
"Kamu itu benar-benar mirip seperti Almarhum Abimu. Tidak ada satu hal pun dalam dirimu yang berbeda darinya. Kamu pemalu dan pendiam, kamu pengertian dalam hal apapun, kamu juga disiplin, dan kamu juga tidak bisa memadukan warna pada benda apapun. Kalau sudah pilih warna yang gelap, maka gelaplah semua pilihanmu dari ujung rambut sampai ujung kaki," tutur Dahlia, tanpa ada yang terlewat.
Nata pun mendekat dan merengkuh Ibunya ke dalam pelukan yang lembut.
"Itulah mengapa, aku dan Almarhum Abi selalu membutuhkan bantuan Ummi. Hidup kami memang tidak akan pernah seimbang, jika Ummi tidak ada. Ummi tidak pernah lelah mengurusku dan Abi, Ummi juga tidak pernah bosan mengingatkan kami setiap saat. Itulah yang membuat Ummi begitu spesial untuk Abi dan juga aku," ujar Nata.
Dahlia pun menepuk-nepuk pelan punggung putranya yang kini semakin bertambah dewasa, seiring dengan berjalannya waktu. Terkadang ia merasa baru kemarin melahirkan Nata, namun sekarang Nata telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia. Membuatnya sadar bahwa tak lama lagi, Nata akan membangun keluarga sendiri.
"Intinya, jangan pernah kamu lupakan semua nasehat dari Almarhum Abimu. Pegang erat yang pernah ia ajarkan padamu, dan jangan pernah keluar dari jalur yang harus kamu tapaki. Insya Allah, kamu akan selalu mendapatkan kebahagiaan, jika kamu tidak menapaki jalan yang salah, Nak," pesan Dahlia, sambil menahan airmatanya.
Nata pun segera mengusap airmata itu, sebelum jatuh membasahi wajah dan niqob yang dipakai oleh Ibunya.
"Ummi tenang saja, Insya Allah aku nggak akan lupa sama semua hal yang pernah Abi ajarkan dan pesankan untukku. Abi adalah panutanku, beliau adalah seseorang yang kufavoritkan setelah Rasulullah. Cintanya pada Ummi, tanggung jawabnya pada keluarga, dan juga kasih sayangnya yang tidak pernah berbatas, adalah hal yang paling aku banggakan darinya. Insya Allah, aku tidak akan pernah mengecewakan Abi dan Ummi," janji Nata, sepenuh hati.
Dahlia pun mengangguk, lalu kembali menyusun baju-baju yang masih tersisa. Nata meraih bajunya, lalu pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian, dan keluar tak lama kemudian setelah selesai. Ia sudah selesai bersiap-siap untuk pergi ke kantor dan menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin dua perusahaan milik Keluarga Brawijaya. Dahlia telah kembali ke rumah sebelah, dan Nata menyusulnya tak lama kemudian.
"Nanti sore aku akan langsung ke pesantren ya, Mi. Mungkin aku akan pulang agak malam," ujar Nata.
"Iya Nak, nanti sore Ummi, Kakekmu, dan Haura akan menyusul. Kami akan ikut dalam acara penerimaan santri baru," balas Dahlia.
Nata tersenyum sambil mengecup kening Ibunya dengan lembut.
"Kalau begitu, Nata pergi dulu ya, Mi. Assalamu'alaikum," pamitnya.
"Wa'alaikumsalam."
Dahlia pun segera bergegas menyelesaikan semua pekerjaan. Dokter Ema sedang memeriksa kondisi Haura dan Bi Inah sedang berada di dapur. Akmal berlatih bersama Pak Saiful--supir pribadi keluarga Brawijaya--di taman bagian belakang.
"Ukhti Vera, apakah Ukhti melihat obat milik Haura yang saya simpan di laci?" tanya Dahlia.
"Saya sudah ambil tadi pagi Nyonya Lia, obat yang sebelumnya sudah habis dan saya sudah memberi minum yang baru pada Ukhti Haura," jawab Vera.
"Baiklah kalau begitu Ukhti Vera, saya ke atas dulu. Nanti sore Ukhti Vera juga ikut ya bersama kami," pesan Dahlia.
"Baik Nyonya Lia, Insya Allah saya akan ikut."
Dahlia segera naik ke atas untuk menyetrika pakaian yang sudah kering. Semua pekerjaan harus ia selesaikan tepat waktu seperti biasanya.
'Tak ada yang berubah, hanya saja kebahagiaan lebih banyak datang menghampiriku dan Nata saat ini, Mas Danu.'
* * *
Nata tiba di pesantren tepat jam empat sore setelah ia menyelesaikan semua pekerjaan di kantor. Pengasuh pesantren menyambutnya dengan sangat antusias.
"Assalamu'alaikum, Akh Nata," sapanya.
"Wa'alaikum salam Akh Mahmud. Bagaimana kabar pesantren selama saya jarang berada di sini?" tanya Nata.
"Agak kekurangan penceramah Akh. Kami berusaha mencari yang kualitasnya sama seperti Akh Nata, tapi nyatanya tidak mudah. Banyak yang bisa berceramah, tapi tidak tahu cara menuntun para santri dan santriwati," jawab Mahmud, jujur.
"Kalau begitu saya mungkin akan kembali lagi mengajar di sini Akh Mahmud," ujar Nata.
"Loh, bukankah Akh Nata sekarang punya kewajiban untuk meneruskan perusahaan milik keluarga dari Almarhum Abinya Akh Nata?" Mahmud agak kaget.
"Benar Akh Mahmud, tapi apa boleh dikata, jiwa saya tidak ada di sana. Semua panggilan yang ada di dalam jiwa saya mengarah ke tempat ini. Tempat yang dibangun dengan susah payah oleh Almarhum Abi saya, dan juga tempat saya bernaung selama ini bersama Ummi. Saya akan mencari jalan agar perusahaan itu tetap berjalan, tapi juga saya bisa ada di sini untuk mengajar," jelas Nata.
Mahmud mengangguk-anggukan kepalanya, pertanda ia sangat mengerti dengan apa yang Nata rasakan saat itu. Mereka berjalan ke dalam aula pesantren yang sudah disiapkan untuk acara penyambutan santri dan santriwati baru. Nata pergi menuju ruangannya sendiri untuk mengganti bajunya agar sesuai dengan acara hari itu, ia tak mau terlihat seperti orang yang salah kostum di depan para anak didiknya.
Pak Saiful membantu Akmal turun dari mobil untuk duduk di atas kursi rodanya. Dahlia sendiri yang mendorong kursi roda milik mertuanya menuju ke arah aula pesantren. Haura dan Vera mengikuti langkahnya.
"Jadi ini pesantren yang Danu bangun sejak dua puluh tahun lalu?" tanya Akmal, terpukau.
"Iya Pak, ini pesantren yang Mas Danu bangun sebagai hadiah untuk Nata karena bisa menghafalkan Al-Qur'an di usianya yang baru menginjak lima tahun. Mas Danu tidak setengah-setengah ketika mewujudkan semua ini Pak, karena semuanya untuk Nata dan masa depannya," jawab Dahlia.
"Wah, akan lebih bagus kalau di bangun beberapa asrama lagi! Saya akan bicarakan dengan Pranoto, biar nanti dia rancangkan bangunan asrama tambahan untuk pesantren ini agar lebih maju," ujar Akmal, antusias.
"Masya Allah Pak, Alhamdulillah kalau Bapak ingin seperti itu. Para santri dan santriwati di sini pasti akan senang sekali kalau mereka bisa menempati kamar yang tidak berdesak-desakan," sambut Dahlia, lembut.
"Insya Allah, secepatnya akan saya wujudkan. Saya tidak mau Nata kesulitan mengatur kamar para santri dan santriwati ini. Mereka kan sedang menuntut ilmu, maka dari itu mereka juga harus kita beri kenyamanan."
Akmal tertawa pelan dan bahagia. Entah kenapa hatinya terasa begitu sejuk saat mencetuskan impian yang baik seperti itu.
Pak Saiful membawa Akmal menuju ke arah shaf khusus Ikhwan saat acara akan segera dimulai. Dahlia membimbing Haura dan Vera untuk ikut bersamanya ke shaf khusus Akhwat. Para santri dan santriwati baru berada di bagian depan sebagai tanda bahwa hari ini mereka disambut dengan baik oleh seluruh penghuni pesantren.
Nata naik ke atas mimbar setelah selesai mengganti bajunya. Ia tersenyum saat melihat antusiasnya para santri dan santriwati yang akan disambut, ia juga tersenyum bahagia saat melihat keluarganya benar-benar datang ke pesantren itu.
"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," ucap Nata.
"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh."
"Alhamdulillahi rabbil'aalamiin, washsholaatu wassalaamu 'ala asyrofil anbiyaa i walmursaliin, wa'alaa alihi washohbihii ajma'iin ammaba'du. Robbisrohli shodri wayassirli amri wahlul uqdatam mil-lisani yafqohu qouli."
Nata senang sekali saat tahu kalau semua orang begitu antusias dengan kehadirannya hari itu.
"Hari ini dalam acara penyambutan santri dan santriwati baru, saya akan memberikan satu materi awal untuk kalian semua sebagai pembukaan atau sebagai tanda bahwa kalian telah resmi menjadi bagian dari pesantren ini. Sudah siap semuanya?" tanya Nata.
"Siap Ustadz," jawab semuanya, serempak.
Akmal tertawa senang saat mendengar jawaban yang menggema di dalam aula pesantren itu. Ia menepuk paha Pak Saiful yang duduk di sebelahnya.
"Lihat itu, dia cucu saya. Anak kebanggan Almarhum Danu dan Dahlia. Siapa yang menyangka, kalau di balik wajah tampan itu ada dua orang yang sangat berjasa dalam hidupnya hingga dia menjadi seperti saat ini. Dia sangat rendah hati, sangat penyabar, dia sangat ikhlas menjalani hidupnya tanpa menyalahkan siapapun. Dia bahkan tidak marah pada saya dan justru bersedia merawat saya di saat kritis," ujar Akmal, penuh kesedihan.
"Tuan, Almarhum Tuan Danu sudah mengajarkannya kebaikan sejak Den Nata baru lahir. Itulah sebabnya kenapa Den Nata menjadi pribadi yang shaleh. Dia tidak akan marah pada Tuan Besar, dia justru akan menyayangi Tuan seperti Almarhum Tuan Danu yang sayang pada Tuan Besar," ujar Pak Saiful.
"Iya, benar sekali. Saya jadi malu pada Nata. Dia yang masih begitu muda sudah tahu mana baik dan mana buruk, sementara saya yang sudah tua baru akan belajar mengenali mana yang baik dan mana yang buruk. Entah dari mana kebaikan Almarhum Danu berasal, yang jelas kebaikan yang ada di dalam dirinya adalah kebaikan untuk Istri dan juga putranya. Bahkan Dahlia tetap begitu setia pada Danu meski sudah lima belas tahun terpisah oleh maut. Saya tidak pernah menduganya Pak Saiful, tidak pernah sama sekali," ungkap Akmal.
Mereka kembali menatap ke arah Nata yang sudah siap menyampaikan ceramahnya.
"Jadi, hari ini saya akan... ."
* * *
Besok Episode 7 ya. Terima kasih sudah membaca :)