#R – Kara Anastasya Kusuma

1850 Words
Kara langsung menarik Anggasta keluar dari ruangan kelas ketika dia melihat kekasihnya datang dengan tangan diperban dan dahi yang memar. Gadis itu menyeret Anggasta hingga ke taman belakang sekolah, karena di sekolah mereka memang terdapat tiga taman, yang terlekak didepan, didekat perpustakaan, dan dibagian paling belakang gedung sekolah. Taman yang mereka kunjungi memang lebih sering di kunjungi satu atau dua orang saja, terlebih saat itu mereka datang ketika bel masuk sudah hampir terdengar. “Ada apa sama kamu ? kenapa kamu luka begini ?” tanya Kara, sambil menyentuh lengan Anggasta yang saat itu dibalut perban, dan sebelah tangannya lagi mengelus dahi Anggasta yang saat itu terlihat memar. Sejenak Anggasta yang sejak tadi hanya diam dengan kepala menunduk akhirnya mendongak, masih dalam diam dia menatap mata Kara dengan tatapan tidak terbaca. Hingga akhirnya Kara langsung memeluk Anggasta, karena hanya dengan tatapan yang Anggasta perlihatkan saat itulah dia tahu apa yang terjadi pada kekasihnya. “Sampai hari ini aku masih belum terbiasa dengan rasa sakit ini, rasa sakit yang ku alami ketika melihat mereka saling menghianati” ujar Anggasta, sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Kara. “Terlalu menyesakan rasanya ketika aku harus menjadi penonton perselinghan kedua orang tua ku sendiri, menjadi saksi seberapa gilanya mereka saling memukul seakan ingin saling membunuh” lanjut Anggasta, sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Kara. Mendengar apa yang kekasihnya katakan, gadis itu melerai pelukan mereka, dengan tangannya yang masih memegang pundak Anggasta, mata yang masih menatap mata Anggasta, gadis itu kemudian membawa tangan Anggasta yang dibalut perban ke dalam genggaman tangannya. “Saat kamu merasakan sakit yang sama dan terasa semakin menyakitkan, bahkan saat kamu sudah tidak mampu lagi menahan sakitnya, datanglah pada ku, jangan sakiti dirimu, aku janji akan selalu ada untuk kamu, memberikan kamu pelukan agar merasa tenang, jangan menyakiti diri mu seperti ini, karena luka – luka ini membuat ku merasa sedih” ujar Kara, tanpa mengalihkan tatapan matanya dari mata Anggasta. “Aku akan selalu berusaha menjadi rumah ternyaman untuk mu pulang, jadi datanglah setiap kali kamu merasa sedih ataupun terluka, karena sampai kapanpun aku akan selalu menjadi rumah tempat kamu pulang” lanjut Kara, sambil tersenyum membuat Anggasta langsung menarik tubuh gadis itu untuk dia peluk kembali. Anggasta meremas selembar poto yang masih dia simpan di dalam laci meja kerjanya, sebuah poto yang memperlihatkan potret dirinya bersama seorang gadis yang pernah sangat dia cintai saat mereka masih menggunakan seragam SMA. Laki – laki itu menghela nafas berat dengan tangan yang masih terkepal kuat ketika kenangan masa lalunya bersama Kara kembali teringat dalam benaknya, sebuah kenangan yang indah tapi kini justru menjadi sesuatu yang teramat menyesakan baginya. Kara Anastasya Kusuma, gadis keturunan asli Indonesia itu adalah mantan kekasih Anggasta. Mereka menjalin hubungan dari kelas dua SMA dan berakhir tepat semester enam mereka kuliah. Dia adalah putri seorang model dan pemilik bank ternama di Indonesia, dan sejak kuliah dia sudah mulai mengikuti jejak ibunya menjadi seorang model. Dulu mungkin dia selalu menjadi tempat Anggasta berlari untuk menemukan obat kala hatinya sedang terluka, tapi nyatanya sekarang dia jugalah yang menjadi sumber dari luka hati Anggasta. Anggasta menoleh kearah pintu ruang kerjanya ketika dia mendengar seseorang membukanya dengan kasar, sejenak dengan tatapannya yang terlihat tajam dia menatap sosok yang datang itu dengan dingin. Hingga akhirnya dia sudah berdiri dihadapan Anggasta dengan senyuman yang terbit dari bibirnya, tapi melihat senyuman itu Anggasta justru merasa membencinya. “Apakah kau sudah putus dengan pacar mu, hingga kau punya banyak waktu untuk repot – repot datang ke sini ?” tanya Anggasta, sambil memfokuskan tatapan matanya kearah komputer berpura – pura sibuk dengan pekerjaannya agar menghindari interaksi yang terlalu intens dengan sosok orang yang baru masuk ke dalam ruangannya. “Aku minta maaf karena sudah membuat mu tumbuh dewasa dalam keadaan keluarga kita yang hancur, aku minta maaf karena membiarkan mu hidup dengan kenangan masa kecil yang tidak seharusnya kau dapatkan, tapi aku bangga meskipun begitu kamu tetap tumbuh menjadi anak baik dan kini sudah menjadi pria dewasa yang bijaksana bahkan diusia mu yang masih cukup muda kau sudah dipercaya untuk menjabat sebagai direktur utama” mendengar perkataan itu, sejenak Anggasta menghentikan tangannya yang sedang mengetik sesuatu diatas keyboardnya. Sejenak, Anggasta terdiam menatap sosok pria paruh baya dihadapannya. Dialah Danian sosok ayah kandung Anggasta yang sudah beberapa bulan tidak pernah bertemu dengannya, atau lebih tepatnya Anggasta selalu berusaha menghindar setiap kali kesempatan memberikan dia waktu bertemu ayahnya itu. “Katakan apa sebenarnya tujuan mu datang menemui ku, aku tahu kata – kata menjijikan itu bukan bahasan utama yang ingin kau sampaikan pada ku, katakan dengan jelas dan jangan basa basi waktu ku tidak banyak” ujar Anggasta, sambil menatap ayahnya dengan tatapan dingin. Kurangajar memang, kepada ayahnya sendiri Anggasta bersikap cuek bahkan berbicara dengan dingin, semua itu Anggasta lakukan demi melindungi perasaannya sendiri. Karena kenyataannya, ayah dan ibunya adalah kelemahan Anggasta, sikap saling menghianati yang mereka lakukan hingga melukai ingatan Anggasta membuat laki – laki itu benar – benar membenci masa lalunya, setiap kali melihat kedua orang tuanya tidak tahu kenapa Anggasta seperti melihat wujud bahwa di dunia ini tidak ada kesetiaan karena sejak kecil dia hidup di tengah sebuah penghianatan. “Sekarang kamu sudah tumbuh dengan baik, menjadi pria dewasa yang penuh wibawa, umur mu sekarang juga sudah sangat cocok untuk berkeluarga, Papah datang ingin menawarkan seorang gadis anak teman Papah, dia cantik, manis, pintar, dan …” “Keuntungan apa yang akan kau dapatkan dari pernikahan ku ?” potong Anggasta, sambil menoleh menatap kearah ayahnya dengan tatapan dingin yang tidak hilang sedikitpun dari wajahnya. “Tapi, apapun itu aku tidak peduli karena aku tidak akan pernah mau dijodohkan dengan perempuan manapun terlebih perempuan itu adalah pilihan mu” lanjut Anggasta, sambil memalingkan wajahnya. “Pergilah, percakapan kita cukup sampai di sini karena sampai kapanpun aku tidak akan mengubah keputusan ku” lanjut Anggasta, tanpa mau menoleh menatap kearah ayahnya lagi. Melihat respon yang ditunjukan oleh Anggasta, Danian hanya bisa menghela nafas. Kemudian sambil mengelus pundak putranya dia berlalu pergi meninggalkan ruangan Anggasta seperti yang Anggasta inginkan. Sementara itu, tangannya yang sejak tadi tersimpan dibawah meja meremas kuat selembar foto yang sebelumnya tidak tahu sedang dia pikirkan atau sedang dia tatap saja. “Seharusnya, kamu hanya menjadi masa lalu dan tidak perlu terus menerus menetap di dalam hati ku hingga membuat ku merasa tersiksa seperti ini” gumam Anggasta, sambil memperhatikan selembar foto yang sejak tadi sudah dia remas – remas tapi pada akhirnya tetap dia tatap lagi. “Seharusnya aku bisa melupakan mu setelah kamu memberikan aku luka yang sangat menyakitkan, tapi nyatanya sampai detik ini bersama dengan luka yang kamu torehkan ada cinta yang tidak bisa aku hilangkan” lanjut Anggasta, sambil menatap wajah sosok perempuan dalam foto tersebut. Kara Anastasya Kusuma, adalah cinta pertama Anggasta, seorang perempuan yang sudah berhasil memikat hatinya, dan Anggasta pikir dia tidak pernah salah memilih dia menjadi pelabuhan cintanya. Namun, ternyata setelah Anggasta memberikan dia segalanya Kara justru malah pergi meninggalkannya, dan bodohnya saat itu Anggasta masih berharap perempuan itu kembali dan menemaninya. Bibir Anggasta menyunggingkan senyuman saat dia menyadari apa yang dia pikirkan, nyatanya dia sering kali merasa ingin menertawakan diri sendiri karena cintanya kepada Kara adalah bukti seberapa lemahnya Anggasta, kesetiaannya yang di balas penghianatan adalah wujud dari awal kehancuran dia yang sesungguhnya. “Aku hanya mencintai kamu dan aku janji akan meninggalkan Anggasta, aku bertahan bersama dia tidak lebih hanya karena sebuah rasa kasihan, percayalah cinta ku hanya milik mu, Alex” ujar Kara, sambil tersenyum dan posisi tangannya yang saat itu sedang terkalung di leher laki – laki yang dia panggil dengan sebutan Alex. “Aku akan selalu setia menjadi pendamping mu sampai kapanpun, Anggasta hanyalah piguran yang aku datangi ketika kamu sedang tidak bersama ku, karena pemeran utama sesungguhnya dalam hubungan ini adalah aku dan kamu” lanjutnya, dengan senyuman lebar yang tercetak dari bibir indahnya. “Kara …” mendengar namanya dipanggil gadis itu menoleh, dalam sejenak terjadi keheningan diantara mereka, keduanya sama – sama saling menatap satu sama lain dalam diam. Kemudian, Kara membawa tangan Alex ke dalam genggaman tangannya dan memperlihatkannya secara langsung pada Anggasta yang saat itu masih berdiri diambang pintu rumah Kara dengan keadaan tubuhnya yang basah kuyup. Anggasta, masih terdiam sambil melihat apa yang kekasihnya itu lakukan dan menunggu kalimat apa yang selanjutnya akan dia katakan. “Karena kamu sudah melihatnya, maka aku akan mengatakannya Anggasta, aku dan Alex kami sudah berpacaran sejak satu tahun yang lalu dibelakang mu, aku melakukan ini karena aku merasa jauh lebih bahagia ketika bersamanya, dia bisa memberikan aku bahagia, dia mengenalkan aku pada kehidupan pacaran yang sesungguhnya yang bahkan tidak pernah bisa aku dan kamu lakukan, bersama kamu aku merasa kehidupan ku stak di satu posisi saja” ujar Kara, sambil menatap Anggasta tepat dibagian matanya. “Apa kamu sangat mencintainya ?” tanya Anggasta, dengan suara yang terdengar datar dan matanya yang tidak lepas sedikitpun menatap kearah mata Kara. Mendengar pertanyaan dari Anggasta, Kara menganggukkan kepalanya, bahkan dengan berani gadis itu mencium bibir Alex didepan mata kepala Anggasta. “Ya, aku sangat mencintainya, dan aku ingin melanjutkan hubungan ku dengannya” ujar Kara, saat dia sudah menghentikan ciumannya. Anggasta, tersenyum kecut ketika dia kembali mengingat kenangan paling menyakitkan baginya di masa lalu. Kenangan ketika Anggasta merasa sangat ingin mengakhiri hidupnya sendiri ketika dia tahu orang yang paling dia cintai, orang yang paling dia percaya ternyata juga menghianatinya, dan saat itu Anggasta merasa menjadi manusia paling bodoh karena setelah sekian lama berlalu dia masih menyimpan rasa cinta terhadap penghianat itu di dalam hatinya. “Semakin lo maksa buat bisa lupain dia lo akan semakin inget sama dia, semakin lo berusaha membenci dia kemungkinan lo akan semakin mencintai dia, karena saat itu yang lo lakuin adalah melawan apa yang hati lo katakan, dan saat itu jugalah hati lo akan melawan dan mempertahankan perasaan yang berusaha lo hapuskan” Anggasta menoleh ketika dia mendengar suara tidak asing masuk ke dalam indra pendengarannya. “Ikutin apa kata hati lo, lo boleh marah tapi lo gak bisa maksa hati lo buat berhenti cinta sama dia, biarkan semuanya mengalir gitu aja tanpa harus lo paksa, sampai akhirnya semua bisa lo ikhlaskan tanpa ada rasa amarah, mungkin saat ikhlas itu datang adalah saat dimana lo bisa menerima dan merelakan Kara karena dia memang gak pantas buat lo” lanjut Megumi, sambil menarik selembar foto yang sudah terlihat lecek dari tangan Anggasta. “Cinta gak pernah salah, tapi egolah yang menuntut manusia bertindak serakah sampai akhirnya membuat rasa cinta itu terasa tidak ada harganya” ujar Megumi, sambil tersenyum kearah Anggasta yang hanya diam mendengar perkataan sahabatnya. “Tiba – tiba gue ngidam bakso kesukaan lo, ayolah temenin gue, nanti bayi dalam perut gue ngeces” ujar Megumi, secara tiba – tiba mengubah topik pembicaraan sambil mengelus permukaan perutnya membuat Anggasta seketika langsung memalingkan wajah merasa tidak habis pikir dengan sikap sahabatnya. Namun, saat itu Anggasta memilih bangkit dan pergi mengikuti keinginan sahabatnya. Karena, sejak dulu Megumi selalu menjadi orang yang berhasil membuat Anggasta lupa sejenak terhadap semua luka yang dia rasakan, dia selalu mempunyai cara untuk menghibur Anggasta, dia selalu punya cara untuk membuat Anggasta kuat melewati segalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD