Sarapan Bareng Ayang

1357 Words
Karena tidak bisa tidur semalaman, Noella ketiduran. Dia tak terbangun saat Caleb membangunkannya. Pria itu mendengus lalu beralih ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan. Sejak kecil Caleb memang dekat dengan mamanya, dia sudah terbiasa mengurus rumah atas suruhan mamanya dan kini itu sudah menjadi kebiasaannya. Sejak SMA, Caleb mulai diajari masak dan semenjak mamanya tiada, Caleb lah yang memasak di rumah. Kana selalu menjadi anak papa, sayangnya papa mereka sudah lebih dulu meninggal saat mereka masih kecil. Sejak itu Kana menjadi anak yang tertutup. Walau Caleb berusaha untuk mendekati Kana, adiknya itu malah semakin tertutup. Caleb segera memotong bawang dan cabai, lalu menumisnya. Dia memasukkan telur dan bumbu lainnya terakhir nasi sisa kemarin. Saat dia mengangkat nasi goreng itu ke bakul nasi dan meletakkannya di tengah meja makan. Pria itu lalu mengambil piring dan mulai makan. Adiknya yang berambut hitam pendek itu tak lama turun sambil menggaruk kepalanya. Wajahnya masih terlihat mengantuk. "Selamat pagi," ucapnya dengan suara serak. Dia menuju lemari dan mengambil mug dan kopi sachet. Wanita itu mengambil air di dispenser lalu duduk di hadapan kakaknya. "Pagi," balas Caleb sambil menunjuk nasi goreng yang dia buat. "Sarapan dulu," ujar Caleb sambil menyodorkan piring ke hadapan Kana. Wanita itu mendesah pelan. "Aku sekarang jarang sarapan," balasnya sambil melirik ke bakul nasi yang masih penuh itu. "Ah, kenapa?" tanya Caleb dengan bingung. "Perutku terasa penuh," balas Kana singkat sambil menyeruput kopinya. Wanita itu menoleh ke arah kamar sahabatnya. "Kenapa dia, masih belum bangun?" tanya Kana sambil kembali menyeruput kopinya. Dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya sambil berdiri. "Aku bangunkan ah," ujar Kana segera. Sebenarnya dia merasa canggung kalau berdua saja dengan kakaknya. Semenjak mamanya tiada, Kana selalu merasa canggung jika hanya berdua bersama kakaknya. Kana tak pernah bisa akrab dengan kakaknya, dan ketika mamanya meninggal, hubungan mereka semakin menjauh. Tanpa menungu tanggapan kakaknya, Kana segera menuju kamar Noella dan menggedor dengan kencang sampai sahabatnya itu terlompat dari tidurnya sambil mengaduh. "Haish, kepalaku, aaaw!" pekik Noella sambil menyentuh kakinya yang keseleo kemarin. Kana kembali menggedor saat tidak terdengar balasan sahabatnya. "Noella!" teriak Kana sambil mencoba membuka pintu. Pintu kamar Noella ternyata tidak dikunci, dan segera terbuka saat Kana mendorong. Dengan cepat Kana mematikan AC dan membuka jendela sehingga sinar matahari segera memasuki kamar Noella. Wanita berambut panjang itu segera meraih selimut dan menutup kepalanya "Bangun, katanya mau temani aku melihat tempat kafe." Noella mengerang karena masih tidak mau bangun. Tetapi sahabatnya menarik selimutnya tanpa belas kasihan. "Haish, Kana, kemarin gue kurang tidur, kepala masih pusing nih," erang Noella masih menutup mata sambil mencoba menarik selimutnya tapi dengan terampil Kana segera melipat selimut sahabatnya itu dengan cepat. "Tega nian, gue semalaman nggak bisa tidur tau, baru ketiduran dah disuru bangun!" erang Noella sambil membuka matanya. Dia bangkit duduk sambil mengacak rambut coklatnya dengan kesal. "Lo dah janji," tandas Kana sambil duduk di sisi tempat tidur sambil memukul kaki Noella sehingga sahabatnya itu menjerit kesakitan. “Lo kenapa sih?” tanya Kana dengan bingung. Dia memandang sahabatnya itu sambil mengerutkan keningnya. “Sakit tau, kaki gue lagi terkilir, gue semalem kepeleset trus ketimpa kardus-kardus tuh!” desis Noella meringis sambil memegang kakinya yang terkilir yang tadi baru saja dipukul Kana. Wanita berambut hitam itu tertawa terbahak-bahak. “Ish, orang lagi kesakitan dia malah ketawa loh, dasar sakit,” ujar Noella kesal melihat sahabatnya malah mentertawakan dirinya yang kesakitan. “Lagian, malem bukannya tidur malah pecicilan, pasti mo ngintip kakak gue ya lo?” selidik Kanna dengan memicingkan matanya. Noella segera memajukan bibirnya dengan kesal. “Eh, plis ya, gue tuh mau ngerapiin kamar, lo kaga liat tuh semua barang gue masih di kardus semua, trus kalau gue ada butuh gimana? Kek handuk, atau selimut yang tebal semua masih di dus loh, dingin banget tau selimutan pake selimut tipis ini, eh betewe, ntar gue pinjem handuk lo ya?” Kana mendesis mendengar penjelasan wanita berambut panjang di hadapannya itu. “Malesh ah, minjemin lo mah sama aja jadi hak milik. Nanti lo tumpuk-tumpuk dimana, lo lupa dan cus jadi hak milik lo dah,” ujar Kana sambil berdiri. Noella menatap sahabatnya dengan tidak percaya. “Dah ah gue mau berangkat, gue janji sama yang punya ruko jam 9 dah sampe disana,“ ujar Kana sambil keluar dari kamar Noella. Sesampainya di pintu, wanita berambut pendek itu memutar tubuhnya yang langsing. “Oh iya, Kak Caleb lagi buat nasi goreng tuh, buatan dia biasanya enak loh. Kalau butuh handuk sama selimut, lo yang ambil ke kamar gue, okeh” ucapnya lalu berlalu keluar. Noella membulatkan matanya tersenyum ”Thank you bestie!” teriaknya saat mendengar ucapan terakhir Kana, dia tahu sahabatnya itu tak akan tega membiarkan dia kedinginan saat malam tiba. Noella pelan-pelan bangkit sambil menghela napas senang. “Sarapan di buatkan oleh kak Caleb, kapan lagi!” Dengan tertatih-tatih wanita itu segera berjalan keluar dari kamarnya, dan dia hampir memekik senang karena melihat pujaan hatinya masih duduk di meja makan. “Sarapan berdua dengan ayang, makan makanan yang di masakin ayang, oooh bahagianya,” pekik Noella dalam hati sambil melangkah pelan-pelan ke arah meja makan. Saat dia sudah dekat, wanita muda itu segera berpura-pura menyeret kakinya. Sebenarnya kalau tidak tersentuh sudah tidak begitu sakit, tapi Noella segera memasang wajah kesakitannya dan berpura-pura tiap langkahnya begitu menyakitkan. “Ooh sakitnya,” erangnya sambil menyeret kakinya. Dia mendesah keras. Tapi pria itu seakan tidak mendengar kedatangannya. Caleb masih menatap ke bawah sambil menggoyang-goyangkan sendoknya tak beraturan. Nasinya masih penuh di piringnya. Sepertinya pria itu bukannya makan malah melamun. Noella mendekat dengan agak kesal karena akting yang menurutnya sangat sempurna tadi tidak dilihat oleh Caleb bahkan sepertinya pria itu tidak menyadari kehadiran Noella sama sekali. Wanita itu mendesah kuat-kuat saat duduk di samping Caleb dengan bibir maju beberapa senti. Caleb terkejut melihat keberadaan Noella yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Dia segera menarik handphonenya dan memasukkannya ke dalam kantong celananya. Namun percuma, Noella sudah terlanjur melihat apa yang Caleb perhatikan dari tadi. Foto Aruna. Hati Noella mencelos. “Mereka hanya bertengkar atau memang sudah putus sih, mengapa kak Caleb menatap foto Aruna dengan linglung seperti itu?” tanya Noella sedih. Walau sudah ada kemajuan dengan hubungannya dengan Caleb, tapi semua itu hanya perhatian kakak pada adiknya. “Sampai kapan aku dipandangnya menjadi adik?” erang Noella sedih. “Makan, aku sudah buat nasi goreng nih.” Pria itu tersenyum dengan ramah. Noella tersenyum dengan kikuk lalu mencoba mengambil piring tapi kakinya yang terkilir membuatnya memekik pelan. “Ah, aku lupa,” ujar pria berambut hitam gelap itu lalu segera berdiri dan mengambilkan nasi goreng untuk Noella. “Segini cukup?” tanya Caleb sambil memperlihatkan isi piring kepada Noella. Wanita itu menatap isi piring dan mengangguk pelan. Sebenarnya kurang, Noella makannya banyak, namun karena Caleb yang menyendokkan nasinya dia menjadi malu untuk meminta tambah. “Setelah sarapan, kita mulai buka kardusmu sedikit demi sedikit ya,” ucap Caleb dengan lembut seraya memberikan piring berisi nasi goreng kepada Noella. “Oke,” jawab Noella. “Eh kamu mau pakai telor nggak? Mau kakak gorengin?” tanya Caleb sambil menatap Noella serius. Wanita di sebelahnya segera mengangguk kesenangan. “Oh dimanja dengan pria setampan Caleb sangat menyenangkan sekali,” pikir Noella sambil memandang kakak sahabatnya dengan tatapan memuja. “Jangan kak, biar dia urus sendiri makanannya, dia cuma pura-pura tuh, kakinya sudah tak sesakit itu,” ujar Kana yang sedang turun dari tangga. Wanita itu sudah mengenakan jeans ketat yang robek-robek dengan kaos kebesaran. Wajahnya walaupun polos, terlihat sangat cantik. “Ish, aku beneran sakit tau!” erang Noella dengan geram. “Kamu beneran nggak mau makan dulu, Na?” tanya Caleb memandang adiknya dengan khawatir. “Sudah aku bilang, aku tak bisa makan pagi, nanti aku muntah. Sudah ya aku pergi dulu.” Tanpa menunggu, wanita berambut pendek itu segera berlalu. Caleb menatap kepergian adiknya dengan sedih. “Haish, anak itu benar-benar keterlaluan ya,” ucap Noella dengan gaya sok tua. Caleb menatap bola mata keemasan Noella yang menatapnya dengan polos. Dengan segera Caleb tertawa sambil mengusap kepala wanita itu. “Dasar, sok tua kamu,” ujarnya sambil terus tertawa. “Yah…setidaknya dia jadi tertawa kan?” pikir Noella senang sambil ikut tersenyum melihat tawanya Caleb.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD