Ini Salahku

1147 Words
Mungkin karena terlalu senang atau merasa begitu dekat dengan Caleb, Noella menjadi tidak bisa tidur. Dia masih merasakan betapa nyamannya berada dalam pelukan pria itu tadi dan betapa memalukan perbuatannya setelah itu. “Aaah, kenapa aku harus berjoget seperti itu sih!” makinya dalam hati. Wanita berambut panjang itu mendesah lalu membuka matanya. Isi kepalanya terlalu banyak, dan terus berputar sehingga dia tak bisa tidur. Sebaiknya dia menghentikan usaha pura-puranya untuk tidur dan mulai merapikan kamarnya. Noella bangkit dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Dia tersenyum membayangkan pria yang dia cintai seumur hidupnya sedang tidur di kamar di depannya. “Seperti apa ya wajah Kak Caleb kalau sedang tidur?” tanya wanita berbola mata coklat itu sambil berdiri dan menuju pintu kamarnya lalu membukanya untuk mengintip pintu kamar pria itu. “Kalau serumah seperti ini, aku jadi bisa lebih banyak mengumpulkan informasi tentang pria itu, ooh aku nggak sabar!” pekiknya lagi dengan semangat dalam hati. Caleb menatap handphonenya untuk kesekian kalinya malam itu. Benda pipih berwarna hitam itu tetap hening, satu-satunya pesan yang masuk adalah dari Noella yang mengucapkan terima kasih telah mengizinkannya untuk tinggal di rumah ini. Pria berambut pendek itu mendesah. Noella sudah dianggap anak oleh mamanya dulu. Karena yatim piatu, sejak kenal dengan Kana, Noella sering sekali menginap dan akhirnya menjadi akrab dengan keluarga mereka. Tentu saja dia akan mengizinkan adik kecilnya itu tinggal di rumahnya. “Adik kecil,” gumam Caleb mendengus geli saat dia teringat tarian aneh Noella tadi. “Kalau dia terus melakukan hal seperti anak-anak tadi bagaimana dia bisa mendapatkan pacar?” pikir Caleb terkekeh mengingat kekonyolan Noella. Pria itu terus mengabaikan kalau Noella menyukainya sejak pertama kali mereka bertemu. Baginya Noella adalah adik terkecilnya setelah Kana, karena wanita muda itu berulang tahun di bulan Desember. “Ah gadis itu memang selalu ada-ada saja,” ujar Caleb sambil meletakkan handphonenya. Caleb baru saja mau mencoba untuk tidur saat terdengar bunyi keras berdebam dari kamar depannya. Pria bertubuh jangkung itu segera melompat dari tempat tidurnya dan berlari masuk ke kamar depan. Apakah tumpukan kardus itu menimpa adiknya itu? “Noella?” panggilnya dengan khawatir. Dus-dus itu memang jatuh berantakan di lantai dan Caleb tak dapat melihat wanita muda itu. Setelah menyesuaikan matanya dalam keremangan malam, akhirnya Caleb dapat melihat ujung kaki wanita itu di bawah tumpukan dus. Dengan Segera pria itu menyingkirkan dus-dus itu dan menatap Noella yang tergeletak di lantai merengut di bawah sinar bulan yang menerobos masuk dari jendela kamarnya. “Noella,” panggil Caleb dengan takut. Wanita itu membuka matanya dan terkejut saat melihat Caleb berada di atasnya. Jantungnya berdebar kencang. Di bawah sinar bulan seperti ini, Caleb terlihat begitu tampan. Rahangnya yang kokoh, hidungnya yang mancung, belum juga bibirnya yang tebal dan sensual. “Oh dia memang pantas menjadi idolaku dari dulu,” erang Noella sambil menahan napasnya karena Caleb begitu dekat dengannya. Tatapannya yang begitu khawatir, membuat Noella merasa senang. “Dia ternyata begitu peduli denganku,” jerit Noella dalam hati. “Kamu tidak apa-apa?” tanya pria itu sambil menyelipkan telapak tangannya yang besar ke belakang tangan Noella dan mencoba menarik Noella bangkit. Wanita muda itu terbelalak dan menatapnya tanpa suara. “Jika ini mimpi, aku jangan sampai terbangun,” desah Noella dalam hati sambil berusaha bangkit dari jatuhnya. Pria di hadapannya menariknya dan dengan sengaja wanita berambut panjang itu masuk dalam pelukan Caleb lagi. “Oooh aku kaget sekali, aku pikir aku akan mati,” ucapnya dengan isakan yang berlebihan. Untuk membuat Noella kaget, Caleb tidak mendorongnya menjauh seperti biasa, tapi pria itu malah mengelus rambutnya dengan lembut untuk sesaat. Malam ini memang malam yang sangat spesial dia sudah bisa mencium dan memeluk pria ini lebih banyak dari beberapa tahun yang lalu. Jantung Noella berdebar kencang dan wanita itu mengerang saat Caleb akhirnya melepaskan pelukan mereka. Dia berusaha kembali untuk ke dalam pelukan Caleb tapi pria itu kini sudah menahannya. Pandangan mereka bertemu dan jantung Noella seakan berhenti berdetak. Tatapan pria itu begitu khawatir membuat hati Noella mencelos. “Aku tidak apa-apa, hanya tergelincir tadi, aku mau ambil ikat rambutku di bawah tempat tidur,” ujar Noella sambil berusaha menegakkan tubuhnya. Caleb dengan sigap membantunya berdiri kembali, tapi ternyata kaki Noella memang sedikit terkilir sehingga sesaat dia berdiri dia segera ingin jatuh kembali. “Seharusnya kamu tidur, bukannya malah membongkar kardus-kardus ini,” erang Caleb sambil kembali memegangi lengan Noella. Wanita itu dengan sengaja segera meletakkan wajahnya di d**a Caleb. “Kesempatan yang jarang terjadi ini, harus aku manfaatkan sebanyak-banyaknya,” pikir Noella dalam hati seraya menghirup dalam-dalam aroma maskulin tubuh Caleb. Pria itu mendesah sambil mendorong Noella kembali. “Sepertinya kakimu terkilir?” tanya pria itu dengan kening berkerut. “Sakit,” ucap Noella manja. Caleb lalu mendudukkan Noella di atas tempat tidurnya dan menatap bola mata keemasan wanita itu sesaat sebelum melihat ke kaki wanita yang dia anggap sebagai adiknya itu. Noella mendesah saat pria itu menunduk dan memperhatikan kakinya yang sakit. Tubuhnya seakan dialiri listrik saat merasakan sentuhan Caleb yang sebenarnya biasa saja. Pria itu memeriksa sebagaimana parahnya kondisi kaki Noella. Wanita itu mendesis kesakitan saat Caleb mencoba memutar pergelangan kaki Noella. “Ah, sepertinya pergelangan kakinya yang kena, aku ambilkan balsem,” ujar pria berambut hitam itu lalu segera keluar dari kamar Noella. Wanita itu segera menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak karena semua sentuhan Caleb yang baru dia rasakan tadi. Kini sama sekali tidak ada keraguan sama sekali dalam hatinya. Caleb memang pria yang luar biasa tampan dan sangat lembut. “Dia benar-benar tipeku, dia benar-benar pria yang luar biasa, bodoh sekali Aruna menyia-nyiakannya.” Noella mendesah pelan sambil mengambil bantal dan menutup wajahnya. Dia memekik pelan saat kakinya kembali di sentuh Caleb. “Ah, biar aku saja,” ucapnya tak enak karena pria itu harus menyentuh kaki kotornya. “Tidak apa-apa, ini semua karena kesalahanku, harusnya aku sudah mengurus kardus-kardus ini kemarin. Sekarang kamu terluka. Aku harus bertanggung jawab.” Pria itu terus mengoleskan balsem di kaki Noella dengan lembut sehingga hati Noella kembali bergetar. “Aku tahu aku menyukainya, tapi kalau begini terus, aku pasti akan segera jatuh cinta padanya,” erangnya dalam hati. “Sekarang kamu tidur ya, besok kakak akan membantumu membongkar ini semua,” janji Caleb sambil menatap Noella dengan penuh penyesalan. Sebenarnya kaki Noella sudah tak begitu sakit, tapi jika mendapat janji seperti itu tadi, Noella tak boleh sia-siakan. Itu berarti Noella akan kembali seharian bersama Caleb besok, “Kencan! Kencan! Itu seperti kencan kan?” tanya Noella dalam hati dengan penuh harap. “Kakak, terima kasih ya, maaf aku menyusahkan,” ujarnya menatap Caleb yang sudah berada di pintu kamarnya. “Tidak apa-apa, kakak yang justru minta maaf, besok kamu bebas menyuruhku untuk merapikan kamar, oke?” ujar Caleb sambil tersenyum dan menutup pintu. “Ahh, hanya seperti ini saja aku sudah berdebar, bagaimana kalau besok aku seharian dengannya, ooh tidak aku tak akan bisa tidur sekarang,” pekik Noella senang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD