Aruna merasakan hatinya berbunga-bunga karena terlalu bahagia. Indra memang tak setampan Caleb tapi dia sangat romantis. Dia terus menghujani wanita itu dengan kata-kata manis sehingga Aruna merasa dia wanita tercantik sejagat raya.
"Cantikku, apakah kamu sudah lelah?" tanya Indra sambil meraih tangan Aruna dan mengecup punggung tangan wanita berambut coklat itu. Aruna kembali tersipu-sipu, pipinya kembali memerah karena sikap Indra yang sangat terampil mengambil hati itu.
Dulu dia pikir Caleb sudah manis karena selalu memanjakannya. Tapi Caleb orang yang kaku. Aruna tak dapat menebak apa yang dipikirannya. Aruna selalu bertindak seenak sendiri karena tak pernah bisa tahu apa yang ada di pikiran Caleb. Tapi yang dia bisa pastikan, apapun yang dia lakukan, Caleb selalu menerimanya.
"Ish, kenapa aku memikirkan pria kaku itu? Aku sedang bersama dengan pria terbaik sekarang," desah Aruna dalam hati mencoba mengusir Caleb dalam pikirannya.
"Aku belum lelah kok," jawabnya dengan suara manja. Indra tersenyum senang. Pria itu kembali mengecup punggung tangan Aruna lagi.
"Bagus, karena aku masih mau mengajakmu berjalan-jalan dipinggir sungai," ujar Indra dengan suara beratnya. Sudah lama Aruna main mata dengan pria itu, dan suaranya yang berat selalu membuat hati Aruna bergetar.
"Pinggir sungai?" tanya Aruna mendesah, pura-pura terpesona, padahal dia memikirkan betapa banyaknya nyamuk nanti disana. Kalau Caleb yang mengajaknya dia pasti segera menolak, dia tak sudi kulitnya digigit nyamuk, tapi masalahnya saat ini yang mengajaknya adalah Indra, bos sekaligus calon kekasihnya. Sepertinya kulitnya harus bertahan dengan gigitan serangga malam ini.
Pria itu ternyata membawanya ke sebuah taman umum dengan sungai panjang di sebelah kirinya. Ada pagar putih panjang mengikuti aliran sungai dengan lampu keemasan di sepanjang jalan bata berwarna abu-abu berpola zig-zag.
Sebenarnya semuanya indah, pria itu mengajaknya ke tempat yang yang indah dengan pohon di sebelah kanan dan sungai di sebelah kiri.
Tapi Aruna tak bisa menikmatinya, dia takut ada kodok, atau kadal, dan nyamuk banyak sekali nyamuk! Wanita itu sangat sengsara berpura-pura senang dirangkul Indra sepanjang jalan itu.
"Udaranya enak sekali ya?" tanya Indra sambil memasukkan udara banyak-banyak ke dalam paru-parunya sambil memandang wanita yang dari tadi ingin dia rebut hatinya.
Aruna sedang menepuk lengan atasnya saat pria itu memandangnya dengan lembut. Jantungnya mencelos, wanita itu segera merubah raut wajahnya yang merenggut tadi menjadi senyuman imut palsunya. "Aih apakah dia melihat wajahku tadi?" pikirnya takut-takut.
"Wah nyamuk ya, kasian Aruna-ku kena gigit nyamuk," ujar Indra segera mengelus lengan atas Aruna yang terbuka. Wanita itu mengenakan gaun floral kecil-kecil selutut berwarna putih dan merah muda berlengan pendek. Roknya berayun saat dia berjalan. Kakinya yang polos juga terasa gatal karena banyak nyamuk yang sudah mampir di kaki Aruna.
Wanita itu tersenyum malu-malu. "Iya, banyak nyamuk, aku tak mengerti, nyamuk sangat suka menggigitku disaat orang lain masih tenang-tenang saja," jawab Aruna dengan bibir maju merengut dengan gaya sok imut.
Indra melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Aruna. Wanita itu terkejut dan menatap pria itu. "Pakai dulu, agar kamu tidak digigit lagi ya, katanya sih nyamuk lebih suka menggigit yang memiliki darah manis. Nah kamu kan manis sekali, jadi sudah pasti nyamuk memilih untuk menggigit kamu," ujar Indra sambil menyentuh dagu wanita itu.
Jantung Aruna segera berdebar kencang. "Oh…oh apakah dia akan menciumku?" tanya Aruna dengan penuh harap. Tapi ternyata Indra hanya mengelus pipinya sambil tersenyum tipis.
Aruna menahan kekecewaannya, apakah Indra sama seperti Caleb yang selalu sopan dan menahan dirinya? Padahal Aruna mencari pria yang lebih dewasa karena ingin merasakan percintaan yang panas.
Kadang Aruna menyadari Caleb ingin melakukan lebih, tapi pria itu terlalu kaku sehingga dia hanya menggaruk rambutnya dengan canggung dan terkekeh seperti orang bodoh. "Haish, lagi-lagi aku memikirkan pria itu, ada apa denganku sih!" keluh Aruna dalam hati.
Setelah jalan-jalan romantis itu, Aruna diantar pulang ke kosan oleh Indra. Pria itu menggandeng tangannya sampai ke depan pintu. Jantungnya berdebar kencang karena mengharapkan pria itu melakukan sesuatu yang lebih daripada mencium tangan Aruna.
Kosan Aruna adalah sebuah rumah besar berbentuk U dengan banyak kamar yang mirip seperti hotel. Tidak ada penjaga, namun ada petugas bersih-bersih yang datang saat siang hari untuk membersihkan kamarnya. Aruna sangat dimanja oleh papanya karena dia adalah anak satu-satunya. Kosan Aruna sangat mewah dengan kolam renang di tengah-tengah rumah.
Indra sudah sering mengantar Aruna pulang. Sejak melihat wanita itu menginjakkan kakinya di kantor mereka, pria itu sudah langsung jatuh hati. Setelah melakukan pendekatan dalam beberapa bulan, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengajaknya makan malam. Kali ini entah sudah ke beberapa kalinya Indra mengajak Aruna keluar tidak sepulang kerja, pria itu ingin mereka menjadi resmi kekasih.
"Una?"
"Iya, Pak Indra?" jawab Aruna dengan mendesah, dia selalu senang dipanggil Una oleh Indra, kesannya namanya sangat eksotis. Pujaan hatinya itu tersenyum saat pandangan merek bertemu. Aruna kembali berdebar-debar.
"Jangan panggil aku pak, dong," ucap Indra pura-pura marah. Dia mengelus pipi wanita muda di hadapannya dengan lembut.
"Jadi, aku harus panggil kamu apa donk?” tanya Aruna sambil menyentuh kancing kemeja Indra, tiba-tiba pria itu menahan tangannya dan menariknya mendekat.
“Bagaimana dengan sayang?” tanya pria itu sambil mengecup bibir Aruna dengan sekilas. Aruna terkesiap lalu menatap bola mata hitam milik Indra. Jantungnya seakan mau terlepas dari dadanya. Wanita itu baru merasakan ciuman pertamanya dengan pria tampan yang menjadi idola di kantor. Setelah menciumnya, pria itu menyentuh dagunya dengan lembut saat Aruna hanya membelalakkan matanya.
“Hmm, rasanya semanis wajahmu,” ujar Indra dengan suara rendah yang membuat Aruna semakin berdebar. “Jadi bagaimana, maukah kamu memanggilku sayang, Una?” .
“Bo-boleh,” jawab Aruna tersipu.
“Benarkah?” tanya Indra senang lalu menarik wanita muda itu dalam pelukannya. Aruna dengan gugup menerima pelukan pria itu dengan senang. Akhirnya dia resmi menjadi kekasih Indra. “Aku punya pacar baru!” pekiknya dalam hati.
“Oh, Aruna sayang, aku senang sekali, kalau begitu hari ini hari kita pertama menjadi pasangan kekasih ya?” tanya Indra sambil memandang Aruna yang berada di dadanya. Wanita itu mengangguk senang dengan malu-malu.
“Aku sangat menyukaimu sayang,” ucap Indra lalu kembali mengecup bibir Aruna, namun yang tadi hanya sekilas, kini lebih lama dan lebih dalam. Hati Aruna berbunga-bunga. Beginilah hubungan orang dewasa, tak perlu ijin jika mau mencium, dan ciumannya dalam dan hangat,” pikir Aruna saat Indra memperdalam ciumannya. Pria itu pandai mencium, Aruna yang tak berpengalaman merasa tubuhnya menjadi ringan dan melayang. Wanita itu menutup matanya dan menempel ke tubuh Indra sepenuhnya berserah.
Pria itu yang menyudahi ciuman mereka, saat Aruna masih mau merasakan ciuman dewasa itu. “Oh…maaf aku jadi terbawa emosi, aku sangat menyukai bibir mungilmu ini,” desah pria itu sambil menyentuh bibir Aruna dengan ujung jarinya. Semuanya terasa sangat baru dan sensual bagi Aruna. Dia hanya bisa termangu sambil menatap bibir Indra yang baru saja menciumnya.
“Tapi sayang, ada yang aku harus beritahu padamu. Walau tidak tertulis, tapi ada peraturan kantor yang menyatakan kalau antara kolega tidak boleh berkencan. Karena itu, sayangku, hubungan kita tidak boleh ada yang tahu ya?”
“Hubungan rahasia?” tanya Aruna bingung.
“Iya, bisa kan sayang?” tanya Indra dengan wajah memelas. Lalu kedua tangannya masuk ke tengkuk Aruna dan menariknya lebih dekat dan kembali menciumnya lagi. Aruna mengerang dan kembali melayang.
“Iya, rahasia,” ujar Aruna terbius dalam permainan Indra.