Caleb memilih untuk mengabaikan pertanyaan Kana, dia tak sanggup untuk menjelaskan apa yang terjadi, karena bagi Caleb, perpisahannya dengan Aruna bagaikan mimpi buruk, masih belum terasa nyata. Kana terus menatapnya dengan kesal melalui kaca spion tengah mobil sepanjang sisa perjalanan pulang. Sedangkan Noella yang biasanya banyak bicara juga terdiam. Bagaimana tidak terdiam, hubungan yang sudah 9 tahun terjalin tiba-tiba berakhir begitu saja.
Noella menatap wajah Caleb yang terlihat sangat sedih. Sepertinya apa yang ditanyakan oleh Kana benar, mereka pasti sedang bertengkar. Kalau seperti ini, selalu Kak Caleb yang harus memohon-mohon kepada wanita tidak tahu diri itu. Padahal kadang, kesalahan ada pada Aruna, tapi selalu Kak Caleb yang harus meminta maaf. Andai Kak Aruna menyadari betapa baiknya Kak Caleb. Betapa sempurnanya dia sebagai pria, pasti wanita itu tidak menyia-nyiakan pria yang begini setia.
Mereka sampai di rumah. Kana Menatap rumah yang sudah dia tinggalkan selama 4 tahun kuliah di Bandung. Kenangan akan mamanya masih melekat. Dia masih menunggu mamanya keluar dari dalam rumah dan menciumi pipinya. Dia mendesah lalu menatap wajah kakaknya yang sendu. Lalu teringat saat pemakaman mamanya, Aruna tidak datang, dengan alasan panas di kuburan. Kana yang dulunya tidak pernah menyukai Aruna, saat itu resmi membencinya. Jika memang kakaknya berpisah dengan Aruna, itu adalah hadiah terbesar dari surga untuknya. Wanita itu memang tidak pantas mendapatkan Kak Caleb.
Caleb menurunkan bawaan mereka, lalu membuka kunci rumah. Pria itu masuk lalu menyalakan lampu. Keadaan rumah masih persis sama sepeninggal mama. Rasa dingin menyapu hati Kana yang ternyata masih merindukan mamanya. Kakaknya sepertinya mengerti hal itu, dia menghampiri Kana dan memeluknya.
“Mama sudah bahagia di surga Kana, Dia sudah tak sakit lagi,” ujarnya memeluk erat adiknya. Kana mendengus kesal karena perasaannya dapat dibaca kakaknya.
“Iyaaa udah ah lepasin,” ucap Kana mendesis langsung mendorong kakaknya sehingga rangkulan pria itu terlepas.
“Barang-barangku yang lain sudah di kamar ya?” tanya Kana tidak mau membicarakan mamanya lagi. Air mata Kana hampir tumpah setiap dia teringat mamanya.
“Barang-barangmu sudah,” ucap Caleb cepat namun dia menatap Noella dengan penuh rasa bersalah.
“Tapi punya Noella masih di dalam boks, kakak kira kamu mau ke kosan.” Pria itu menggaruk belakang kepalanya dengan tidak enak hati. Noella memajukan bibirnya dengan kesal. Dia melirik jam di dinding. Jam sudah menunjukan jam 11 malam, dan ternyata dia tidak bisa langsung merebahkan dirinya di kasur.
“Maaf,” Pria itu terlihat menyesal.
“Aku yang minta maaf, seharusnya aku tidak dadakan seperti ini, nggak apa-apa kak, nanti aku bongkar sendiri,” ucap Noella tidak enak. Kana menggaruk kepalanya, dia sudah lelah dan ingin segera tidur.
“Kalau kamu mau, kamu tidur bersamaku saja di kamarku, besok pelan-pelan kita rapikan kamarmu. Kamar yang kosong yang kamar di depan kan Kak?” tanya Kana pada kakaknya. Pria itu mengangguk dengan rasa bersalah.
“Oke deh kalau begitu,” ucap Noella menyerah. Dia menatap tumpukan dus ini barangnya yang dikirim dari Bandung. “Eh tapi, aku bawa dulu deh semua masuk ke kamarku, disini ngalangin jalan, “ ucapnya terkekeh terpaksa. Kana mendengus, lalu berjalan ke kamarnya.
“Okelah terserah lo, gue ke kamar ya? Nggak gue kunci kamarnya, lo nanti masuk aja kalau dah beres,” ujar Kana Membawa kopernya masuk ke kamarnya yang di lantai atas. Noella mengangguk lalu mulai membawa sebagian barangnya ke kamar depan. Caleb menatap dengan tidak enak lalu ikut membawa sebagian besar barang-barang Noella.
“Eh, nggak apa-apa kak, aku bisa sendiri kok,” ucap Noella malu-malu.
“Nggak apa-apa, sudah malam biar kamu juga bisa istirahat,” jawab pria itu cepat. Kamar depan adalah kamar tamu, di sebelah kamar mamanya Caleb dulu. Kamar itu tetap kosong. Sedangkan kamar tamu itu memang sudah sering Noella gunakan jika menginap. Letaknya sangat strategis bagi dirinya karena berseberangan dengan kamar Caleb.
Mereka masuk ke kamar dan meletakkan barang-barang Noella. Ternyata memang jika dikerjakan berdua semua cepat selesai. Noella menatap tempat tidur dengan kerinduan. Sepertinya kamar ini sudah lumayan bisa ditiduri, dia tidak enak mengganggu Kana yang pasti sudah lelap tertidur sekarang.
“Oke sepertinya semua sudah masuk ke kamar ya, kalau kamu mau ubah posisi kamar, kasih tahu kakak, biar kakak bantu nanti.” ucap Caleb tersenyum lelah. Noella menatap pria itu dengan sedih. Dia sangat merindukan pria ini, karena hanya sebagai penggemar dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menatap sosial media pria itu. Kali ini pria tampan itu ada dihadapannya dan terlihat sedih.
“Iya kak, tapi sepertinya aku tidur disini saja, sudah rapi juga kok.” Caleb menatap sekeliling dan mendesah tidak enak,
“Besok kakak bantu kamu bongkar ini semua okey, sekarang kamu tidur ya,” ujar pria itu dengan suara hangat. Dia kembali dengan santainya mengusap rambut Noella. Tapi tiba-tiba Noella menangkap tangan pria itu dan masuk ke dalam pelukannya.
“Makasih ya Kak, aku kangen kakak,” bisiknya pelan dalam pelukan. Calem menghela napas panjang lalu menepuk pudak Noella.
“Oke, nggak apa-apa, sekarang bobo ya,” ucapnya melepaskan diri sambil tersenyum tipis. Saat Caleb keluar, Noella melompat senang, oh pastinya dia akan tidur dengan nyenyak, dia akhirnya bisa memeluk Kak Caleb dan dia memeluknya kembali, “Ya… tidak memeluk seperti seharusnya sih, tapi setidaknya dia menepuk pundakku, itu tanda sayang kan?” tanya Noella dalam hati sambil tersenyum lebar. Dia menggoyangkan tubuhnya, menari-nari tanpa musik, tanpa menyadari Caleb kembali masuk ke kamarnya.
Pria itu tercengang karena melihat tarian tak senonoh Noella yang aneh. Sampai akhirnya dia pura-pura batuk agar Noella sadar akan kehadirannya. Wanita muda itu langsung berhenti bergoyang. Dan berdiri seperti patung, hanya matanya yang bergerak dengan malu.
“Umm, kakak cuma mau tanya, kamu nggak akan keluar lagi kan, kakak mau matikan lampu tengah, dan kunci pintu keluar.” Noella mengangguk pelan karena sangat malu.
“Oke, selamat tidur,” ucap pria itu kembali menutup pintu. Wajah Noella memerah panas karena malu. “Ish, baru bisa memeluknya, sekarang dia melihatku seperti itu, hancur deh citra diriku!” keluhnya sedih lalu melempar dirinya ke kasur.
Tapi Noella tetap kembali tersenyum karena membayangkan pelukan tadi. Aroma tubuh Kak Caleb yang sangat maskulin, menggelitik indra penciumannya ”Aaah aku akan ingat semua ini sampai aku mati nanti,” ucapnya dalam hati.
Aku akan mencoba merebutnya dari Aruna. Apalagi, mereka sudah serumah sekarang, kira-kira Kana mau membantuku nggak ya?” pikirnya sambil mulai merasa nyaman. Dia menguap lalu akhirnya menutup mata.
“Harus mau, harus,” pikirnya sebelum dia jatuh tertidur.