Kana menatap tindak tanduk kakaknya yang aneh. Pria itu memang tertutup. Jarang memperlihatkan perasaannya, tapi hari ini lebih aneh. Dia terlalu banyak tersenyum.
Noella sahabatnya itu terus bercerita segala macam pengalamannya. Sampai masalah tong sampah di bandung pun dia ceritakan. Dan senyuman kakaknya tak pernah lepas. "Aneh, ini sangat aneh, pasti terjadi sesuatu," pikir Kana menatap kakaknya.
Pria itu juga berulang kali menatap handphone-nya, seakan sedang menunggu kabar dari seseorang. "Aruna kah? Apakah mereka bertengkar, apalagi yang diminta Aruna, wanita bréngsék itu sering sekali menyusahkan Kak Caleb," pikir Kana kesal.
"Kak Aruna mana? Tumben dia nggak bareng kakak, biasanya wanita itu menempel seperti lintah?" tanya Kana sambil lalu.
Noella mendesis kesal, dia sedang asyik berbicara dengan Kak Caleb, pria yang dia cintai sejak lama, baru kali ini pria itu benar-benar fokus mendengarkan ceritanya, tanpa harus diganggu oleh pacarnya yang manja itu.
"O-ooh, dia sedang ada urusan," jawab Caleb tergagap. Kana menatap mata kakaknya dari spion tengah mobil.
"Wah, tumben banget dia bisa ada urusan dan nggak nyuruh kakak nemenin atau ikut beresin," ujar Kana mengejek. Sejak dulu dia memang tak pernah suka dengan Aruna, wanita itu terlalu semena-mena dengan kakaknya.
Kak Caleb terlalu baik buat Aruna, wanita itu terlalu menyusahkan dan manja. Kak Caleb butuh kekasih yang juga mengasihinya, dia pantas mendapat kekasih yang lebih baik.
"Oh iya, dia sekarang memang seperti itu, kamu kan sudah jarang sekali tak bertemu dengannya," ujar Caleb terlihat enggan membahas wanita itu.
"Iya, terakhir ketemu saat kita pulang pas liburan semester kemarin ya La?" tanya Kana kepada sahabatnya, wanita itu harus belajar mengontrol emosinya.
Siapapun yang mengenal mereka pasti tahu kalau Noella menyukai Kak Caleb, tapi kali ini dia berlebihan. Bagaimana bisa dia melamun menatap Kak Caleb sampai seperti tak berkedip begitu.
"He-eh," jawabnya asal. Kana memukul kepala sahabatnya dengan brosur yang dibagikan di kereta tadi. Wanita itu mengaduh lalu menatap ke arah Kana dengan kesal.
"Ish apaan sih?" tanya Noella kesal.
"Berhenti liatin Kak Caleb seperti itu, memalukan tau," sergah Kana separuh geli separuh kesal.
"Biar, Kak Caleb juga nggak protes, dia aja yang punya muka aja ga sewot, kenapa jadi lo yang sewot Na," balas Noella membela diri.
"Soalnya kakakku itu terlalu baik, dia nggak akan ngomong, walau sebenarnya dia ngerasa nggak enak," ujar Kana mendengus. Noella malah menjadi lebih memperhatikan pria disebelahnya, dan tersenyum.
"Masa sih Kak Caleb ngerasa ngga enak, aku rasa dia cuma terlalu tampan, gimana sih Kak rasanya jadi orang yang ganteng banget?" tanya Noella tanpa malu. Kana langsung mendengus mendengar pertanyaan sahabatnya itu.
Caleb memutar bola matanya dan menatap kembali ke depan.
"Kak, traktir kita makan donk, aku lapar nih," rengek Noella masih menatap Caleb dengan tatapan memelas.
Pria itu akhirnya tertawa, bersama Noella memang tak pernah membosankan, ada saja kelakuannya yang membuat Caleb tertawa.
"Oke, aku mau traktir makanan jepang yang enak banget."
"Asyik sushi," pekik Noella semangat.
"Bukan, pokoknya ikut aja," ujar Caleb senang melihat antusiasme Noella. Wanita itu memang selalu terlihat bahagia dan ceria. Caleb heran mengapa dia belum juga memiliki pacar.
Dia lalu melirik adiknya, Kana memiliki wajah yang berahang kuat, rambutnya hitam pendek di bawah telinga hidungnya tinggi dengan mata yang tajam, mereka memiliki bola mata yang sama dengan mama mereka, hijau keemasan.
Adiknya itu sangat cantik, tapi karena sifatnya yang pendiam dan pemarah membuat para pria yang mendekatinya langsung takut. Caleb mendesah pelan. Kebalikan dengan Kana, Noella bersifat periang. Rambutnya yang halus berwarna keemasan, kontras dengan kulitnya yang putih. Hidung dan bibirnya mungil. Dipadu dengan bola mata coklat caramel dilengkapi bulu mata yang teramat lentik.
Cantik, kedua wanita yang bersamanya sangat cantik, namun entah kenapa sudah sampai umur seperti ini, di antara dua wanita ini tidak ada yang pernah memiliki kekasih. Sepertinya pria-pria disekitar mereka buta.
Mobil berbelok memasuki pasar tradisional yang ketika malam menjadi pasar malam. Banyak restoran tenda yang memiliki rasa dan kualitas makanan yang tak kalah dengan restoran ternama. Tapi Aruna tak pernah mau, makan di restoran tenda seperti ini membuat dia berkeringat, dan dia tak suka itu.
Tapi sepertinya tidak ada masalah dengan Noella, wanita itu dengan semangat turun dari mobil dan menggandeng lengan Caleb. Pria itu segera melepaskan rangkulan Noella tapi, wanita itu tetap kembali menempel seperti ada magnet di tangan Caleb.
"Yang mana?" dengus Kana sambil melihat ke sekelilingnya, ada berbagai restoran tenda dengan berbagai hiasannya.
“Pasti yang ini ya?” tanya Noella sambil menunjuk satu tenda yang berlampion merah di depan pintu masuknya. Caleb tersenyum menatap Noella sambil mengusap rambut wanita itu. Jantung Noella segera berdebar dengan cepat. Pria itu mungkin hanya memperlakukan Noella sebagai adik kecilnya, namun usapan lembut tadi sangat berarti bagi Noella. Dia hanya bisa menatap dengan penuh harap pria di hadapannya, yang segera masuk untuk mencari duduk.
“Jangan berpikir macam-macam, ingat jangan berharap. Hati kakakku hanya untuk Aruna,” bisik Kana saat melewati Noella yang terpaku menatap Caleb. Sahabatnya itu mendesah. Ucapan Kana benar sekali, tak sedikitpun hati Caleb bisa terguncang, cinta pria itu hanya untuk Aruna, kekasihnya sejak SMA. Selama itu cinta Noella kepada Caleb hanya bisa dari jauh, dan pria itu masih saja menganggapnya seperti anak kecil.
“Ish, iya tau kok,” ucap Noella sedih.
Mereka masuk dan duduk di kursi, Noella segera mengambil posisi duduk di sebelah Caleb seperti biasa. Pria itu langsung menunjuk menu.
“Pilih apa saja yang kalian mau, klo disini aku bisa bayar semua," ucap Caleb sambil memberikan menu kepada adiknya. Kana mendengus sedangkan Noella bertepuk tangan.
"Azeeek, aku mau makan apa ya?" ujarnya membaca menu yang ada di tangan Caleb, sehingga kepalanya bersandar pada lengan pria itu. Kana memutar bola matanya, sedangkan Noella terus menempel pada Caleb.
Pria itu terus memiringkan badannya tapi Noella terus maju, sampai akhirnya pria itu mengalah dan memberikan menu itu kepadanya. Dengan merengut Noella menerima menu itu, dia kembali duduk tegak dan membaca menu itu dengan keras-keras.
"Beef teriyaki atau chicken yakiniku ya? Aku mau yang asin," ucap Noella mencoba mengajak bicara Caleb yang kembali melihat teleponnya.
Pikirannya kembali ke Aruna yang tadi tersenyum bahagia merangkul pria lain. Buat apa dia mengharapkan teleponnya. Wanita itu pasti sedang asyik berkencan. Dari gayanya tadi, terlihat sekali dia senang sudah lepas dari Caleb.
Bagaimana wanita itu bisa membuang 9 tahun mereka bersama begitu saja dengan alasan bosan. Padahal, Caleb sedang menabung untuk melamarnya. Pria itu tanpa sadar mendesah sedih.
"Eh kalau nggak boleh dua-duanya, aku yang teriyaki aja deh, yang beef teriyaki,” ucap Noella takut-takut. Caleb menoleh tersadar dari lamunannya saat adiknya menendang kakinya dari bawah meja.
“Eh, bukan, kamu pilih saja sesukamu apa, mau dua atau tiga menu juga boleh,” ucap Caleb segera tertawa tidak enak, lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan.
Mereka makan tanpa banyak bicara, karena Caleb sering melamun sendiri, bahkan Noella yang biasanya bisa mengajak Caleb kali ini gagal, dia terdiam lalu menghabiskan makannya dengan cepat. Setelah itu mereka segera pulang.
Selama ini Caleb tinggal bersama mamanya, namun setelah mamanya meninggal tahun lalu, dia selalu sendirian di rumah. Dengan adanya Kana dan Noella, Caleb berharap rumahnya bisa lebih ada kehidupan. Selama ini dia pulang hanya untuk tidur. Biasanya dia menjemput Aruna dan makan malam bersamanya, menemaninya melakukan pekerjaannya, lalu mengantarnya pulang. Akhir-akhir ini, Aruna memang selalu menolak di jemput. Alasannya adalah karena dia ingin mandiri, namun sepertinya karena dia memiliki pacar baru.
Caleb kembali melamun saat menyetir pulang ke rumah, jika tidak karena Noella, pria itu hampir melanggar lampu merah. Kana akhirnya tak tahan dan segera menyerang kakaknya.
“Kakak bertengkar atau putus dengan Aruna ya?” tanya Kana tanpa basa basi. Noella menoleh begitu cepat sampai lehernya terasa sakit. Matanya terbelalak menatap Kana lalu ke kakaknya. Pria itu mendesah panjang.
“Jawab, dia sudah ada pria yang baru ya?” tanya Kana, tanpa sadar tiap kata-kataya menikam hati Caleb yang sudah berdarah.