Caleb masuk ke kamarnya dan melihat bayangan dirinya di cermin. Semalam dia tidak bisa tidur, karena memikirkan Aruna, tapi jika orang lain matanya akan bengkak, itu tidak terjadi pada Caleb. Pria itu menyentuh matanya yang cekung ke dalam.
"Minggu ini adalah minggu pertamaku tanpa Aruna," ucapnya dengan pilu. Rasanya dadanya sesak. Kadang dia masih tak percaya kalau Aruna-nya meninggalkannya untuk bersama orang lain hanya karena bosan?
"Bosan, mungkin aku memang orang yang membosankan," erang Caleb sambil mendesah pelan. Pria itu lalu menyadari kalau bibirnya tadi sedikit terluka. Dengan ujung jarinya pria itu menyentuhnya lalu tertawa pelan saat teringat kondisi bibir Noella tadi. Bibir mungilnya tadi bengkak dan berwarna ungu.
"Ah anak itu selalu saja bikin aku tertawa." Caleb memandang penampilannya. Celana panjang berbahan chino coklat tua dan kemeja polos biru muda. "Mungkin Aruna benar, aku membosankan," erang Caleb lalu menyadari ada rambut pirang yang tersangkut di kancing kemejanya.
Lalu pria itu seketika teringat saat naluri laki-lakinya tadi tiba-tiba muncul saat menghirup aroma tubuh Noella. "Bagaimana mungkin aku melakukan itu, dia itu adikku, bisa-bisanya aku mengendus seperti tadi. Aku harus bisa lebih mengendalikan diriku." Caleb mengambil rambut itu lalu membuangnya ke lantai.
"Noella adalah adik terkecilku, aku harus menjaganya," pikirnya lalu keluar dari kamar hanya untuk terkejut.
Noella memasang riasan guna menutupi bibirnya yang ungu. Sebenarnya dia malas memakai riasan, tapi ketika hanya memakai lipstik, dia merasa wajah aneh, karena itu wanita muda itu mau tak mau memakai riasan tipis untuk menyesuaikan bibirnya.
Lalu setelah selesai memakai riasan Noella menyisir rambutnya yang kusut. Noella segera teringat saat rambutnya terkait kancing kemeja Caleb.
Tapi yang Noella ingat adalah aroma tubuh Caleb yang maskulin dan kehangatan yang Noella waktu wajahnya menempel di d**a pria itu.
"Oh andai dia pacarku, aku akan selalu merebahkan kepalaku di dadanya yang bidang," erang Noella sambil memeluk dirinya sendiri mengenang kehangatan yang Caleb berikan tadi lalu teringat akan pacar Caleb, Aruna.
"Pasti wanita itu sangat puas merebahkan kepalanya di d**a Kak Caleb," pikir Noella dengan iri. Dia memandang rambutnya yang panjang bergelombang. "Sebaiknya aku menguncir setengah dan memakai pita cantik. Walau kata Kak Caleb ini bukan kencan, aku akan tetap menganggapnya ini adalah kencan pertamaku, aku harus terlihat cantik,” gumam Noella sambil tersenyum memandang bayangannya di cermin.
Kamarnya sudah tertata rapi. Memang kak Caleb adalah pria serba bisa. Rak buku Noella dalam sekejap sudah jadi. Dengan senang wanita berambut pirang itu memandang sekelilingnya. “Aroma kak Caleb masih tercium,” desah Noella senang. Dia lalu berdiri dan membuka lemari bajunya.
“Aku pakai baju apa ya?”
Selesai berpakaian, wanita itu kembali memandang bayangannya di cermin. Menurutnya dia sudah tampil lumayan, tapi tentunya bagi Kak Caleb, Kak Aruna lebih cantik. Noella kembali mendesah, “Ah, menyebalkan, kenapa wanita itu selalu tampak sempurna di mata kak Caleb. Padahal aslinya wanita itu benar-benar jelmaan iblis.” erang Noella sambil merapikan rambutnya lagi. “Tapi hari ini memang cukup aneh, seharian ini Aruna tidak ada menghubungi kak Caleb dan menyuruh Kak Caleb ini itu, ada apa ya dengan mereka?” tanya Noella dalam hati.
Wanita itu mendengus lalu melihat bayangannya sekali lagi dan tersenyum. “Ah bodo amat, yang penting hari ini aku jadi bebas bersama Kak Caleb,” ucapnya riang sambil keluar dari kamarnya. Saat dia membuka pintu, Kak Caleb ternyata sudah menunggunya. Pria itu menatapnya dengan tatapan aneh.
“Noella, kamu tak salah pakai baju seperti itu?” hardik Caleb dengan bola mata membulat kaget.
Noella terkejut dengan sikap Caleb yang seperti itu. Wanita itu segera melihat gaun yang dia kenakan. “Memangnya kenapa? Gaun ini lucu aku beli kemarin sebelum berangkat ke Jakarta,” jawab Noella tersenyum sambil memutar tubuhnya. Caleb menatap adik kecilnya itu dengan geram.
“Gaunmu…itu nggak terlalu terbuka?" desis Caleb sambil menatap lengan atas Noella yang terbuka.
Sebenarnya gaun itu biasa saja, gaun terusan putih tanpa lengan selutut berbahan katun dengan rok lipit. Gaun itu polos dengan motif yang berasal dari jahitan kainnya sendiri.
Namun gaun itu memang sangat pas di torso bagian Noella, sehingga perutnya yang rata dan dadanya lebih terekspos. Bagian roknya pas selutut, lipitan kecil-kecil yang lucu dengan pita yang senada dengan pita rambut yang dipakai oleh Noella.
Semua itu memang normal bagi Noella, tapi bagi Caleb, melihat Noella dalam gaun sebagai wanita yang sangat cantik sangat menggugah hati dan pikirannya.
"Terbuka? Nggak lah, hanya lengannya aja, Jakarta kan panas, nggak seperti di Bandung, jadi nggak apa-apalah," ujar Noella sambil mendekati Caleb dan merangkul tangannya.
"Dandananmu juga, itu nggak terlalu medok?" tanya Caleb lagi sambil memperhatikan wajah Noella yang tampil dewasa setelah berdandan.
"Mau tak mau aku memakai riasan, soalnya aneh kalau hanya lipstik, semua karena berciuman dengan Kak Caleb," ujar Noella menatap pria itu. Caleb segera merasa wajahnya panas.
"Itu bukan ciuman," ujar Caleb ketus lalu melepaskan dirinya dari rangkulan Noella. Dia tak mengerti mengapa melihat Noella dengan tampilan dewasa menbuat hatinya tergugah. "Sepertinya aku tak siap melihat adikku sudah dewasa," pikir Caleb menenangkan diri. Pria itu segera bergegas ke pintu keluar, diikuti oleh Noella yang segera berwajah masam.
"Heran, kemarin Kana mengatakan aku cantik kalau mengenakan gaun ini, kenapa pria itu memandangku seakan aku memakai karungs sih," keluh Noella dengan kesal.
Tapi saat dia sedang menuju keluar, Caleb tiba-tiba berhenti dan memutar tubuhnya. "Memangnya kamu tak ada kain atau jaket buat menutup lenganmu, siapa yang mau melihat ketiakmu," ujar Caleb entah bagaimana walau maksudnya adalah memberikan saran, yang keluar dari mulutnya adalah seperti perintah. Noella menatap pria itu dengan kesal.
"Ish, aku tak akan angkat-angkat tanganku, jadi kamu tak perlu takut melihat ketiakku, lagian ketiakku putih kok, bersih lagi, aku habis waxing," ujar Noella tanpa malu mengangkat ketiaknya yang nyatanya memang putih.
"A-aku ada jaket, pakai jaketku kalau kamu tak ada," ujar Caleb masih keras kepala walau matanya kembali menyadari kalau tubuh Noella memang putih dan bersih, termasuk ketiaknya.
"Jadi…kita tak akan berangkat kalau aku tidak pakai kardigan?" Caleb diam menandakan kalau pria itu setuju dengan perkataan Noella.
"Haish, kakak norak sekali sih!" pekik Noella menghentakkan kakinya dengan kesal. Tapi wanita berambut panjang itu menurut dan kembali ke kamarnya lalu keluar dengan mengenakan kardigan merah muda yang dengan pita-pita kecil yang manis. Caleb menghela napas panjang saat melihat wanita itu keluar dari kamarnya.
"Sudah, puas kakak?"
"Pakai sepatumu," ujar Caleb menunjuk sepatu olah raga yang dipakai Noella sehari-hari. Wanita itu segera memutar matanya. “Aku sudah pakai dress seperti ini, tidak mungkin pakai sepatu begitu,” desis Noella lalu membungkuk untuk mengeluarkan sendal berhaknya. Saat tadi Caleb sibuk membuat rak besi untuk buku-buku Noella, wanita itu menyusun koleksi sendal dan sepatunya di rak sepatu Caleb. Pria itu terkejut melihat wanita itu mengeluarkan sendal putih bertali yang membuat kaki Noella menjadi semakin jenjang.
“Yakin kamu pakai itu?” tanya Caleb lagi. Noella menghela napasnya lagi.
“Yakinlah, aku sudah sering pakai kok,” ujar Noella lalu keluar dari rumah dengan kesal. “Sejak kapan Kak Caleb jadi bawel sekali sih?” pikir Noela sambil berjalan menuju mobil SUV hitam milik Caleb. Pria itu mendesah sambil melihat Noella dari belakang.
“Sepetinya adik kecilku sudah besar juga ya?” tanya Caleb dalam hati sambil menyusul Noella ke mobilnya.