Kana menatap jam tangannya dengan kesal, Pemilik ruko ini terlambat. Dia mendesah dengan kesal. Percuma dia menggunakan taksi online tadi, kalau tahu pertemuan mereka akan terlambat, dia bisa mengenakan bis saja tadi. Saat dia kembali menghela napas panjang. Ada sebuah mobil SUV berwarna putih masuk ke pekarangan ruko.
“Akhirnya sampai juga dia,” ujar Kana dalam hati dengan kesal karena menunggu panas-panasan. Dia memandang seorang pria yang memakai kaca mata hitam turun dari mobil. Pria itu bertubuh tinggi dan berbadan tegap. Anehnya Kana setelah melihat pria itu turun dan mendekatinya, Kana seperti mengenal pria itu.
"Kamu?" tanya Kana kaget. Dia memandangi pria yang selalu mengikutinya saat dia kuliah dulu. Pria itu tersenyum saat menyadari Kana sudah mengenalinya.
"Kana, maaf aku terlambat datang, aku tadi terjebak meeting di Bogor," ujar pria itu sambil melepas kacamata hitamnya.
"Ka-kamu ngapain di sini?" tanya Kana masih menatap pria itu tidak percaya.
"Ruko kan? Kamu mau menyewa ruko aku kan?" tanya Ari sambil mengeluarkan kunci dari kantong celananya. Pria itu lalu maju menuju pintu kaca ruko dan memasukkan kunci.
Kana memandang dengan bingung pria bertubuh jangkung itu lalu segera mengikuti Ari masuk.
"Tapi nama kamu kan Ari, aku mau ketemu dengan Pak Arya Aditya." Kana mengikuti pria itu ke tengah ruko. Pria berambut coklat itu berputar dan menunduk untuk memandang Kana sambil mendengus geli.
"Iya, aku Ari. Arya Aditya, itu juga aku," jawabnya sambil mengeluarkan kartu namanya.
Kana mengambil kartu nama itu dengan cepat lalu membacanya dengan tidak percaya. Nama pria yang janjian bertemu dengannya itu tertera di kartu.
Kana merasa seperti sedang disiram air. Dia sangat berharap pada ruko ini. Wanita berambut pendek itu mendapat info dari broker kalau ada ruko huk yang disewakan murah. Kana sama sekali tak menyangka kalau akan bertemu Ari sebagai pemilik ruko itu.
"Bagaimana bisa?"
"Apanya?"
"Aku mencari ruko, lalu kamu yang punya rukonya?" tanya Kana dengan sangsi. Ari tertawa pelan. "Mungkin karena kita berjodoh?" jawab Ari sekenanya. Wanita berbola mata coklat kehijauan itu memandangnya sambil mendengus kesal.
Ari menahan dirinya untuk tidak menggoda Kana lagi. Sebenarnya memang dia merasa seperti itu. Jodoh memang tak kemana.
Setelah kelulusan Kana, Ari sudah menyerah karena tak akan tahu di mana wanita itu berada. Dia sudah pasrah tidak akan bertemu wanita cantik itu untuk selamanya. Dia baru saja mau menyerah dan melupakan Kana saat mendapat kabar ada seorang wanita bernama Kana mau menyewa rukonya.
Awalnya dia tak percaya kalau wanita itu adalah Kana, kebetulan seperti itu hanya terjadi di novel-novel, film, karangan manusia. Tapi ketika melihat wanita itu menunggu di depan rukonya, Ari menjadi yakin kalau Kana memang jodohnya. Dia tidak akan melepaskan Kana lagi. Wanita itu harus menjadi kekasihnya.
"Ish, kamu pasti mengikutiku lagi kan? Ayo kamu tau dari mana aku mencari ruko, lalu bagaimana bisa kamu bisa punya ruko seperti ini?" cecar Kana semakib curiga saat melihat senyuman di wajah tampan Ari.
"Kana sayang, aku mendapatkan ruko ini dari warisan, kamu lupa papa mamaku orang kaya? Aku sendiri memang tak mungkin memiliki ruko di pinggir jalan besar seperti ini, tapi papa mamaku bisa. Mereka memberikan ruko ini sebagai hadiah kelulusanku." Pria itu menjelaskan dengan sabar.
Tapi kerut di kening Kana masih ada dan wanita itu masih kesulitan menerima kalau ruko idamannya adalah milik pria yang selalu mengikutinya di Bandung dulu.
"Sebelumnya ruko ini disewa oleh pedagang mie ayam. Tapi rasanya nggak enak, jadi cuma sewa setahun nggak lanjut lagi," lanjut Ari sambil merendahkan suaranya sehingga suaranya seperti berbisik.
Kana menatap ke sekelilingnya. Memang ruko ini harus dibersihkan, belum bekas poster-poster yang ditempel sembarangan. Belum juga bekas minyak yang ada di tembok. Kana mendesah untuk memikirkan biaya dan tenaga yang digunakan untuk membersihkan semua ini.
"Mau lihat dapurnya?" tanya Ari dengan lembut. Kana mengangguk cepat. Pria itu segera berjalan menuju dapur dan membuka pintunya.
Aroma busuk dan debu segera menyeruak dengan pekat. Kana terbatuk dan mencari tisu dari tasnya.
"Ini, memang baunya luar biasa ya?" Ari memberikan sapu tangannya yang segera di tolak oleh Kana.
"Kalau kamu jadi sewa, aku akan membersihkannya, dan mencatnya ulang, bagaimana?" Kana segera menatap Ari dengan curiga.
"Lalu apa untungnya untukmu, sewanya murah, dan tidak ada uang deposit. Kini kamu bilang kamu juga yang membersihkan ini semua dan cat ulang, kok tgtbt ya," ujar Kana dengan sengit.
"Tgtbt?" Ari menatap Kana dengan bingung. Alisnya yang tebal ikut berkerut. Kana mendengus kesal.
"Too Good To Be True, alias mencurigakan," desis Kana sambil melipat tangannya di depan dadanya. Ari mendengus geli semakin gemas dengan kelakuan wanita yang dia sukai bertahun-tahun itu.
"Oooh, aku baru kali ini mendengar istilah tgtbt itu, yang pasti memang setiap penyewa baru aku akan membersihkan dan cat ulang sebagai service. Kalau kamu tak mau aku bersihkan dan mau cat sendiri ya terserah. Tapi kalau kamu ada dekor sendiri, semua harus dikembalikan seperti awal saat kontrak selesai ya," ujar Ari serius. Kana menatapnya dengan bingung karena baru sadar kalau Ari serius.
"Eh nggak bisa begitu, kamu tadi sudah janji. Kamu harus bersihkan sekaligus cat juga," dengus Kana segera merasa rugi. Ari kembali merasa gemas dan ingin mencubit Kana tapi dia tetap menahan dirinya agar telihat serius.
"Oke kalau begitu, kamu ada mau permintaan warna cat spesial? Kalau tidak aku kembalikan menjadi putih semua?" tanya Ari sambil memeriksa air dari keran.
"Air sudah jalan dan listriknya 2200, kamu mau melihat ke lantai dua?" Kana memandang pria tampan yang di hadapannya. "Pria ini ternyata bisa serius juga ya," pikirnya dalam hati.
"Oke," jawab Kana sambil mengangguk. Pria itu segera naik tangga diikuti Kana dari belakang. Pegangan tangganya entah kenapa lengket. Kana sangat menyesal menyentuhnya. "Jangan pegang pegangan tangganya, sepertinya kemarin si tukang mie menempel entah apa, yang pasti lemnya kuat sekali," ucap Ari memperingatkan.
"Telat aku keburu menyentuhnya," ujar Kana kesal karena Ari telat memberitahunya. Ari menoleh ke bawah dengan wajah bersalah.
"Maaf, nanti aku suruh anak buahku juga membersihkannya, ayo sini, cuci tanganmu,” ujar Ari tanpa sengaja memberikan tangannya agar Kana memegang tangannya untuk naik tangga.
“A-aku bisa sendiri,” jawab Kana ketus. Dia segera menaiki tangga dan menuju kamar mandi. Ari mengikutinya karena khawatir ada sesuatu, tapi wanita keras kepala itu dengan pongah segera melewati Ari dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.
“Dasar, bisa-bisanya dia menyuruh aku menggenggam tangannya, memangnya dia siapa?” tanya Kana dalam hati sambil segera mencuci tangannya, tapi tiba-tiba dia merasakan ada yang berjalan di kakinya.
“KECOAK!!!” jeritnya segera lari terbirit-b***t keluar dari kamar mandi dan berlari menuju Ari meminta tolong. Ari tertawa terbahak-bahak saat menyadari apa yang dia pikirkan menjadi kenyataan. Sebenarnya kecoak itu juga sudah langsung melarikan diri, tapi Ari tak bisa menolak pelukan Kana. Wanita itu menjadikan Ari menjadi tameng dari kecoak.
“Jangan ketawa, kecoak itu menjijikkan tau,” desis Kana kesal karena Ari mentertawakan dirinya sampai keluar air mata. Dia melepaskan pegangan tangannya dari punggung Ari yang lebar saat menyadari sudah tidak ada lagi kecoa di tubuhnya.
“Ya…ya aku tahu, aku juga tidak menyukai kecoa,” ujar Ari sambil membersihkan tenggorokannya. Kana bersikap kembali acuh dan menatap ruangan di hadapannya.
“Ruang apa ini? Seperti ada kamar?” tanya Kana pelan-pelan mendekati pintu. Dengan takut-takut dia mencoba membuka pintunya, tapi terkunci.
“Dari awalnya developer memang membuat ada ruangan di sini. Tapi penyewa yang terdahulu menjadikan ini sebagai kamar tidurnya. Dia meninggalkan AC sebagai kompensasi betapa jorok dan dekilnya rukoku ini.” Ari mengeluarkan lagi kumpulan kuncinya dan membuka pintunya.
“Silahkan masuk.” Pria itu mendorong pintu dan menunggu Kana. Wanita itu segera menggeleng. “Tidak, aku tidak mau masuk duluan. Kamu saja masuk duluan,” ujar kana lagi-lagi dengan ketus. Walau sebenarnya dia hanya takut ada kecoa lagi yang berjalan di kakinya. Ari mendengus geli lalu masuk ke dalam. Tangannya segera meraih sklar lampu dan menyalakannya.
Melihat sepertinya kamar itu aman, dengan penuh rasa penasaran Kana ikut masuk mengikuti Ari masuk. Ruangannya berwarna merah muda. Ada satu AC yang segera Ari pasang.
“AC-nya masih dalam keadaan yang baik ya, Cat nya juga masih bagus jadi aku membiarkannya, tapi kalau kamu mau di cat ulang katakan saja ya nanti.” Ari menatap Kana sambil tersenyum ramah.
Kana melihat sekelilingnya dan sangat menyukai ruko ini. Dia bahkan bisa memiliki kantor sendiri di atas. Ruko milik Ari ini seperti mimpi menjadi kenyataan buat Kana.
“Jadi bagaimana? Kamu suka kan dengan ruko ini?” tanya Ari sambil mendekati Kana. Wanita itu mengangguk dengan senyuman tipis di bibirnya.
“Suka, aku suka dengan konsepnya, taman di belakang itu bebas aku apakan kan?” tanya Kana riang. Ari mengangguk senang melihat wanita yang dia sukai itu akhirnya tersenyum.
“Jadi mengenai pembayaran,-” Namun sebelum Ari selesai berbicara, pintu kamar itu tiba-tiba terbanting dan tertutup. Kana memekik pelan karena kaget. Ari segera menuju pintu dan mencoba membukanya.
“Jangan becanda,” ujar Kana saat melihat Ari sekuat tenaga mencoba membuka pintu itu.
“Aku tidak bercanda, pintunya seperti nyangkut, aku tak bisa membukanya.” Ari berusaha membuka pintu dan mendorongnya dengan sekuat tenaga.
“Ari, kalau kamu bercanda, ini sudah keterlaluan,’’ desis Kana kesal. Dia mendekati pria itu dan mencoba membuka pintu dengan sekuat tenaga, namun pintu tetap bergeming. "Astaga, dia tidak bercada," jerit Kana dalam hati.