Caleb terlalu terpengaruh dengan aroma tubuh Noella yang menyegarkan sehingga dia tidak menyadari kalau wanita itu sudah memekik kesakitan saat pergelangan kakinya kembali tertarik ototnya. Keseimbangan wanita itu goyah dan dengan cepat wanita berambut pirang kecoklatan itu terjatuh. Dan saat kursi tua itu berderit patah, tubuh langsing Noella sudah terbang dan Caleb segera berusaha menangkapnya.
Betapa terkejutnya saat dia merasakan bibir lembut wanita itu berada diatas bibirnya. Itu bukan ciuman, karena bibir mereka saling terantuk, bahkan Caleb dapat yakin kalau bibir bagian dalamnya terluka. Tapi bukankah jika bibir dua orang saling bertemu itu dikatakan ciuman?
Bola mata gelap milik Caleb memandang terus ke Noella yang berada di atas tubuhnya. Napas mereka tertahan karena terlalu terkejut. Sampai akhirnya Noella yang tersadar dan segera ingin bangkit dan melepaskan diri dari Caleb. Tapi saat dia mencoba berdiri rambut pirang keemasannya entah bagaimana bisa tersangkut di kancing kemeja Caleb. Noella dengan panik mencoba menarik rambutnya dengan memekik kesakitan.
Akhirnya Caleb tersadar dari keterkejutannya dia lalu menggenggam tangan Noella yang panik lalu pelan-pelan mengurai rambutnya yang menjadi kusut karena tadi dipaksa tarik. Ada beberapa helai yang lepas. Caleb mendengus dengan perasaan tidak beraturan saat menatap kembali Noella yang masih tetap berada di atas tubuhnya. Desah napas wanita itu terdengar pelan dan aroma tubuhnya yang manis masih membuat Caleb penasaran.
“Tapi, apa yang aku pikirkan, dia itu adikku,” suara dari kepalanya membuat Caleb mendorong Noella sampai wanita itu terjatuh ke sampingnya. “Ma-maaf, aku tak bermaksud… tadi hanya kecelakaan saja, sebaiknya kamu lupakan…” Caleb ingin menyangkal semua yang terjadi karena dia yang terlalu sibuk menghirup aroma tubuh Noella, namun saat kali ini dia menatap Noella, dia segera menyentuh bibir wanita itu lagi.
“Bibir kamu…” wajah Noella yang cantik itu semakin memerah karena malu. dia menunduk dan mencoba untuk menghindari pandangan dari pria di hadapannya itu. Tapi, Caleb bangkit dari tidurnya dan membantu Noella untuk bangkit tanpa melepaskan pandangannya. “ Noella, bibir kamu,” ujar Caleb lagi sambil menyentuh bibir Noella dengan lembut.
Noella merasa terhipnotis dengan pandangan Caleb yang kali ini sangat dekat dengannya, awalnya dia pikir Caleb membicarakan tentang ciuman mereka tadi, tapi ternyata saat dia mengangkat tangannya dan menyentuh bibirnya, ada darah segar yang Noella rasakan.
“Aaah, bibirku berdarah,” ujar Noella meraung.
“Maaf, sepertinya terantuk dengan gigiku,” ujar Caleb dengan gugup menyentuh rahang Noella dan memperhatikan keadaan bibir Noella dengan lebih seksama. Jantung Noella serasa mau copot karena berdebar begitu kencang dari tadi. Merasakan sentuhan Caleb di rahang dan bibirnya membuat Noella merasa seperti sedang bermimpi.
“Tidak apa-apa,” ucap Noella lalu hendak berdiri tapi kakinya berdenyut sakit, dengan sigap Caleb separuh menggendongnya agar dia dapat duduk di atas tempat tidur. Pria itu menggaruk belakang kepalanya dengan gugup karena melihat bibir Noella yang agak bengkak.
“Maafkan aku, sepertinya aku sudah membuat kakimu sakit, sekarang membuat bibirmu bengkak,” ujar Caleb dengan nada menyesal. Pria itu berdiri lalu megambil tisu dan memberikannya pada Noella.
Wanita itu segera menekan bibirnya yang terluka dan melihat darah sedikit di tisunya. “Bibirku bengkak ya?” tanya Noella dengan bibir yang melengkung ke bawah. Caleb seharusnya tidak tertawa, tapi tampilan Noella dengan bibir bengkak dan melengkung ke bawah itu sangat lucu sekali.
Pria itu kembali tertawa melihat wajah cantik Noella yang mengenaskan. Noella dengan kesal mendorong d**a pria itu lalu mencoba berdiri untuk melihat wajahnya di cermin. Caleb segera menghentikan tawanya dan membantu Noella yang tertatih-tatih menuju cermin. Dia menepis rambut panjangnya ke belakang dan mendekatkan dirinya ke cermin sambil mendesah panjang.
Bibirnya yang biasa mungil kini bengkak merah keunguan. Wanita berambut pirang itu menatap bola mata Caleb yang coklat kehijauan itu dengan kesal. “Bibirku bengkak, kenapa bibir kakak tidak?” tanya Noella seraya mengangkat tangannya dan menyentuh bibir Caleb yang tebal.
Pria itu terkejut saat merasakan sentuhan jemari Noella, dia sedikit mundur dan segera menatap wajahnya di cermin. “Bibirku agak bengkak juga,” gumamnya merasakan aneh saat jemari Noella menyentuh wajahnya.
“Nggak kelihatan,” desis Noella kesal sambil memperhatikan bibirnya yang keunguan. “Kamu pakai lipstik saja, pasti ketutup, ujar Caleb memberikan ide.
“Ungunya bisa, tapi bengkaknya nggak, lagian aku mau kemana pakai lipstik?” tanya Noella sambil menatap pria di sampingnya yang terlihat merasa bersalah. Noella segera mendapatkan ide. Dia tersenyum kepada Caleb sambil merangkul tangannya.
“Bagaimana kalau kakak bayar ganti rugi,” ujar Noella sambil memandang pria itu dengan manja. “Ganti rugi?” tanya Caleb bingung sambil melepaskan pelukan Noella dari tangannya.
Noella mendesah sambil menunjuk bibirnya yang bengkak. “ Bibirku bengkak karena ciuman dengan kakak.” Caleb segera menoleh menatap Noella dengan cepat. “Itu bukan ciuman,” desahnya semakin menjauhi Noella.
“Jika kedua bibir bertemu, itu namanya ciuman,” ujar Noella dengan bola mata keemasannya yang berbinar-binar.
“Dan kakak juga harus tanggung jawab akan kakiku ini,” lanjut Noella sambil mengangkat kakinya yang terkilir. Caleb mau membalas lagi tapi akhirnya mendesah kalah.
“Oke… kamu mau ganti rugi apa, awas nggak boleh yang aneh-aneh,” ujar Caleb dengan suara lemah. Noella mengerutkan keningnya sambil melengkungkan kembali bibirnya
Ke bawah. “Aneh-aneh bagaimana?” tanya Noella menyelidik.
“Ya…aneh-aneh,” balas Caleb dengan wajah tersipu. Dengan cepat pria itu mengalihkan pandangannya.
“Ish, keknya kakak yang pikirannya m***m ya?”
“Nggak.”
“Itu wajahnya merah,” balas Noella sambil menarik lengan kemeja pendek Caleb untuk melihat wajah Caleb yang terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah.
“Nggak, ini karena kamar ini agak panas ya?” tanya Caleb sambil segera berpura-pura kepanasan. Dia mengipas-ngipas wajahnya yang memerah padam.
“Jadi kamu mau apa?” tanyanya lagi agar Noella menghentikan tatapannya yang semakin lama semakin dekat.
“Aku mau beli sabun dan perlengkapan mandiku, kakak bertugas menjadi pengawalku dan traktir aku makan, oke?” tanya Noella sambil mengedipkan matanya.
Caleb memandang wanita yang dia anggap sebagai adik terkecilnya itu. Wajahnya begitu bersemangat dengan bibir yang bengkak. “Kenapa tadi aku berpikir macam-macam, gadis ini hanya minta ditemani ke mall,” pikir Caleb dalam hati, “Oh oke, aku traktir makan siang, yuk kita berangkat.
“Sebentar-sebentar, bukan cuma anterin aku ke mall. Tapi kita KENCAN,” ujar Noellan dengan senyum penuh kemenangan.
“Hah?”
“Iya kencan,” jawab Noella tersenyum lebar. Caleb segera memicingkan matanya dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak-tidak…kalau antar beli sabun dan makan siang bareng nggak apa-apa, tapi jangan kamu anggap itu kencan.” Noella segera merengut mendengar perkataan Caleb yang tegas.
“Kenapa? Takut ketahuan kak Aruna? Aku akan diam-diam saja, dia tak akan tahu. Aku juga tidak akan post di media sosial.
“I-iya…nanti Aruna akan berpikir macam-macam.” Caleb menarik dirinya dan kembali menjadi kaku.
“A-aku akan menganti baju, kamu berdandanlah untuk menghilangkan warna ungu itu,” ujar Caleb sambil berjalan keluar dari kamar Noella. Wanita itu mendesah menatap kepergian pria itu.
“Aneh, takut sekali dengan Aruna menyebalkan itu, kita tetap jalan berdua, dan makan siang bersama, memangnya kenapa kalau disebut kencan?” tanya Noella sambil mendesis ke arah pintu.
“Soalnya kalau kencan boleh ciuman,” balas suara di benaknya.
Noella kembali menatap wajahnya di cermin. “Bibirku…aku merasakan ciuman dengan Kak Caleb, tapi menerima hukumanku secara langsung,” desahnya sambil menyentuh bibirnya yang bengkak. “Ciuman, aku telah mencium Kak Caleb, dalam sehari aku sudah mencium pipinya, memeluknya dan kali ini aku malah sudah mencium bibirnya, kemajuan yang sangat pesat Noella, anak pintar,” ujarnya pada bayangan dirinya di cermin. Dia tertawa sendiri lalu segera mulai memasang makeup.