Kana menepis tangan pria itu dengan segera. Pria itu terkekeh dan tak peduli dengan tatapan tidak suka wanita itu. Kana mendengus karena terperangkap dengan pria itu disana. Dengan hujan deras yang masih berderu dan petir menyambar, Kana tidak bisa pergi kemana-mana. “Ayo saya tunjukkan,” ucap pria itu dengan kekehnya yang menyebalkan mendahului Kana ke atas bertepatan dengan telepon Ari. Hati Kana melompat dengan harapan, walau hanya dengan teleponnya Kana segera merasa sudah aman. Dia tahu Ari pasti bingung dengan gayanya di telepon, tapi dia harus membuat pria yang kini menatapnya dengan curiga percaya kalau Ari akan segera datang menjemputnya. Dia berusaha mengikuti gaya Aruna kalau sedang membujuk kakaknya untuk melakukan sesuatu. Kini dia merasa ada untungnya juga mengenal wanita

