Jam 12 malam, pintu kamar terbuka. Risty keluar dari pintu kamar yang dimasukinya. Dia berjalan menunduk sambil menutup mulut dan mengusap air yang turun dari dua pelupuk matanya. Beberapa bodyguard yang berjaga hanya berdiri dan tidak terlalu mempedulikan Risty, namun ada juga yang melirik raut wajah Risty yang seperti ketakutan menahan tangis. Saat jarak Risty sudah jauh sekitar lima puluh meter dari kamar Gaishan, Alan yang sedang menggendong Dimas muncul. "Dimas, sudah malam, besok baru kita lihat kakak-kakak cantik lagi, yah?" bujuk Alan. "Nggak mau! Dimas mau lihat kakak-kakak cantik!" "Ah, Alan, tinggalin aja Dimas di sini, biar dibawa genderuwo." Finisa melotot ke arah sang anak. Dia sudah lelah, namun sang anak masih belum ingin tidur. "Nggak mau tinggal di sini!" Dimas ber

