1. Sebuah Kisah
Emi Prameswari, seorang gadis yang berusia tujuh belas tahun baru saja pulang. Ia duduk termangu sambil memegang tisu di tangannya.
Suasana mendung menggelayut manja di atas langit kota ini. Emi sedang terisak lantaran hubungannya dengan pria yang bernama Vino berakhir.
Hubungan mereka yang telah terjalin selama kurang lebih sudah tiga tahun terakhir ini harus benar-benar diakhiri karena perbedaan pendapat diantara keduanya.
Kekerasan hati Vino yang membuat Emi harus selalu mengalah, hingga ia tak tahan lantaran sikap Vino makin menjadi dan tak mau mendengarnya.
Pendapat dan sarannya di anggap angin lalu dan tak pernah dihiraukan Vino. Padahal, tiga bulan lagi mereka akan melangsungkan pertunangan. Bahkan Vino berani berselingkuh di belakangnya, dengan membawa seorang gadis ke dalam kamar kosnya. Mulanya ia hanya mendengar saja desas desus tentang rumor yang mengatakan kalau Vino selalu membawa gadis ke kamarnya. Emi yang berpikiran polos dan tak macam-macam dengan hubungannya bersama Vino hanya menganggapnya sebagai bagian dari kabar bohong belaka.
Hingga siang ini saat Emi datang ke kos Vino yang berseberangan dengan tempatnya bekerja, ia melihat Vino tengah berduaan dengan seorang gadis yang ternyata diketahuinya adalah kekasih lain dari Vino. Emi sangat kaget saat melihatnya, dengan mata kepalanya sendiri, bahkan Vino tampak santai menanggapinya.
Gadis itu tampak masih bersekolah dan Emi memergokinya tengah duduk berdua dengan tangan Vino merangkul pundaknya. Mereka bermesraan di dalam kamar kos Vino yang memang kerap ia datangi untuk sekedar mampir sebentar.
Ia marah dan memaki Vino yang ternyata tak kaget saat ia datang dan memergokinya. Sungguh biadab sikapnya yang kurang ajar tak tahu diuntung itu.
"Tega sekali kamu, melakukan ini di belakang ku!" pekik Emi sambil melempar asbak pada Vino.
Vino mundur dan berdiri sambil membela diri seolah ia tak merasa bersalah dan berkata jika gadis itu bukan selingkuhannya.
"Eits, tunggu dulu! Jangan salah sangka begitu, Em!" sergahnya.
"Salah sangka yang bagaimana, jelas-jelas kalian bermesraan disini, tertutup lagi!"
"Dia datang ingin meminta bantuan membuat prakarya, lihat ini!"
Emi tak percaya begitu saja, sehingga iapun akhirnya pergi setelah gadis yang berada di belakang Vino turut berkata dengan mengakui padanya kalau ia kekasih Vino.
Pupus sudah semua harapan dan juga cita-cita Emi untuk meraih kebahagiaan bersama Vino.
"Tega kamu!" teriaknya.
Ia sudah mengatakan putus tadi dan Vino hanya diam saja tak berkutik ataupun mengejarnya.
"Jadi, ini maumu! Berpisah denganku dan memilih gadis ini yang lebih bisa menghiburmu ketimbang aku!"
Emi pergi dan duduk di toko tempat ia berjaga hari ini, ia memang bekerja di sebuah toko cina yang letaknya dekat dengan tempat Vino tinggal.
Semua perasaannya hancur dan ia tak fokus saat bekerja di toko, hari ini ia memutuskan keluar dari toko tempat ia kerja.
Toko itu berdekatan dengan tempat indekos Vino bahkan sangat dekat dan ia tak mau mengingat lagi kenangan bersama pria itu dan memutuskan untuk berhenti dan diam di rumah selama beberapa minggu agar pikirannya tenang.
~~~
Sudah seminggu ia tak keluar dari rumah, uang di dompet juga mulai habis. Ibunya sedang di dapur saat ia keluar dari kamar dan minta tolong untuk pergi ke warung membeli garam.
"Jangan Emi, Bu. Emi sedang pusing, Intan saja yang disuruh!"
"Patah hati kok ya sampai lama begini, Em?" sahut Ibunya hampir tidak percaya dengan kelakuan anak perempuannya.
Emi cuek dan ia duduk sambil menuang air putih. Sudah saatnya ia mulai melamar kerja dan mencari pekerjaan lebih jauh dari rumahnya supaya ia bisa menghilangkan stres yang selama ini ia rasakan.
"Tadi temanmu kesini, Kiran sama Rara," ucap Ibunya.
"Lho, kok aku nggak dengar, Bu?"
"Lah, kamu kayanya tidur,"
"Padahal Emi baru tidur tadi, mungkin nggak dengar kali, ya Bu?"
"Ibu lihat kamu memang tidur, adikmu mana, kok Intan nggak kelihatan?"
"Ada di kamar,"
Ibunya dengan cepat pergi ke kamar dan memanggil adiknya yang sedang asyik bermain HP.
"Tan, belikan Ibu garam sama bumbu penyedap, buruan ya!"
"Yah, Ibu kan ada Mbak Emi," gerutunya.
"Hush, disuruh malah begitu, Mbak Emi sedang pusing, ini uangnya,"
"Mbak Emi nganggur juga, ngapain pusing?" sahut Intan dengan bersungut.
Ibunya hanya geleng-geleng kepala saja. Tapi, meski rewel tapi Intan tetap beranjak pergi ke warung membeli apa yang Ibunya minta tadi.
Sementara itu Emi sedang melihat di layar HP nya, ada pesan dari Rara. Setelah membacanya, ia menghampiri ibunya yang sedang duduk meracik masakan. Agak takut dan ragu ia mengatakan sesuatu yang pastinya ibunya pasti tak setuju. Ibunya pernah bilang kalau tak ingin dia pergi jauh.
"Bu, kata Rara ada info pekerjaan di sebuah pabrik. Emi boleh nggak kerja di pabrik?"
"Pabrik apa, Em?"
"Kayanya pabrik elektronik, Bu. kaya bikin dalaman TV, HP gitu,"
"Ibu sih terserah kamu saja, nanti kamu kalau memang butuh motor, pakai saja!"
Emi mulai ragu, tapi ia nekad mengatakannya.
"Tapi nggak di sini,"
Ibunya menoleh dan menatapnya heran.
"Kalau nggak disini, lalu dimana, Em?"
"Di Jakarta, Bu," ucap Emi.
Raut wajah Ibunya agak kecewa karena ia akan jauh dari anak perempuannya yang sulung ini.
Anaknya hanya dua saja, dan ia selalu bersama dengan keduanya seharian penuh tanpa pernah berpisah.
Ayahnya Emi pergi merantau ke Kalimantan dan hingga kini tak ada kabarnya. Sudah hampir 10 tahun ini ia dan kedua anaknya hidup dalam serba pas-pasan. Semua ia lakukan demi bisa menghidupi kedua anaknya. Ia pun minta Emi untuk memikirkannya lagi, pergi jauh belum tentu bisa lebih enak ataupun berhasil.
"Em ... Ibu minta kamu jangan pergi jauh dari Ibu apalagi adikmu itu. Intan nanti kesepian juga,"
Emi menoleh pada ibunya dan merasa tak tega karena sorot matanya yang berkaca-kaca.
"Ibu kok nangis?"
Ibunya terdiam, lalu mengatakan sesuatu yang membuatnya sedih.
"Cukup Ayahmu saja yang pergi dan tak kembali, kamu jangan.Ibu takut ...!"
Emi terdiam, ia ingat Ibunya begitu trauma dengan kepergian Ayahnya yang tak kunjung pulang meski telah bertahun-tahun lamanya dan kini kedua anaknya telah menjadi remaja bahkan dewasa.
"Bu, Emi belum tentu jadi pergi kok, tenang saja. Jangan menangis, Emi nggak akan kemana-mana,"
Emi memeluk tubuh Ibunya yang tampak lemah dan begitu sedih. Emi berjanji tak akan meninggalkan ibunya sendirian. Ibunya benar-benar trauma dan tak mau ia pergi meski hanya berjarak dekat sekalipun.
***
Seorang pria tampak melihat ban mobilnya yang terlihat pecah dan ia melihat jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul satu siang.
"Aduh ... pakai bocor lagi." gerutunya.
Seorang pria datang dan mendekatinya, menanyakan keadaan ban nya yang benar-benar bocor.
"Pak, di sana ada tukang tambal ban. Bisa dipanggil kalau mau," ujar pria itu.
"Oh, ya. Terima kasih, Pak," ucap pria pemilik mobil.
Ia membawa mobilnya dengan bantuan pria tadi yang ikut mendorong dengan bantuan seorang pria lagi dan sampai juga di sebuah bengkel yang dekat dengan tempat ia tadi berhenti.
"Pak, ini uang lelah untuk Bapak, silakan!" ucap pria pemilik mobil itu.
"Aduh, nggak usah. Makasih, lho saya niat bantu saja," ujarnya.
Tapi, pria yang satunya menerima dengan senang hati, katanya ia sudah kehausan dan tetap menerima pemberian pria itu untuk mengganti tenaganya tadi.
"Maaf, Bang aku menerimanya. Kebetulan sedang mencari kerja dan belum minum sedari tadi,"
"Oh ya, silakan! Terima kasih bantuannya," ucap pria pemilik mobil itu.
Mereka pun pergi meninggalkan si pria dengan mobilnya yang sudah diletakkan di depan bengkel itu.
Ia menunggu mobilnya selesai diperbaiki dan ia menghubungi seseorang untuk bisa datang ke jalan yang sedang ia duduki saat ini.
"Kesini ya, aku mau membonceng kamu saja. Rapatku hari ini akan dimulai, kalau terlambat bisa kena marah si Bos nantinya," ujarnya.
Pria itu tersenyum puas manakala temannya akan datang dan menjemputnya.
"Pak, ini aku tinggal sebentar. Temanku yang akan disini, dia akan membawa mobil ini,"
"Baik, Pak," jawab si tukang bengkelnya.
Tak lama kemudian, temannya datang dan memberikan kunci motor pada pria itu dan duduk menunggu ban mobilnya selesai.
Dalam hitungan menit, mobil itu akhirnya jadi dan dia membayar biaya perbaikan kemudian pergi ke suatu tempat.
Tiba di kantor ia mendapat pesan dari ibunya kalau anaknya mulai rewel lagi.
"Bu, usahakan cari orang untuk mengasuh Iva!" ucapnya sambil bersiap pergi rapat.
***
Emi sedang sibuk menyapu lantai rumah, ia sedang bersih-bersih agar rumah terlihat rapi dan indah. Lalu, ketika Ibunya datang, ia lekas membuatkan minuman hangat untuk ibunya itu.
"Em, Ibu bawa berita bagus," ucap ibunya sambil duduk meneguk minumannya.
"Apa, Bu?"
"Ada pekerjaan untuk kamu,"
"Wah, dimana itu. Semoga nggak jauh dari rumah, lah,"
"Iya, nggak jauh juga, kok. Ada orang yang tinggal berdua dengan anaknya dan orang itu bekerja siang dan malam, anaknya nggak ada yang mengurus."
"Yah, jadi baby sitter, Bu?"
"Iya, mumpung gajinya gede katanya. Orang kantoran, duda lagi," ucap Ibunya.
"Ah, ibu ini. Nggak mau, lah,"
"Lihat dulu rumahnya, ini orangnya dan ini anaknya, ini kucingnya. Semuanya minta diurus oleh satu orang dan gajinya lumayan,"
Emi melihat orang yang dikatakan duda itu, ia melihat anaknya begitu lucu dan Emi pun akhirnya menerima dan minta alamat pada Ibunya.
Besoknya, ia pergi kesana dengan langkah pasti dan bertemu dengan seorang wanita paruh baya.
"Mau melamar kerja, Bu," ucap Emi dengan sopan sambil tersenyum.
Wanita itu memandangnya dari atas ke bawah dan melihat dirinya dengan tatapan yang penuh selidik.
Emi dengan sabar tetap tersenyum meski ia terlihat biasa saja, tapi penampilannya pagi ini cukup rajin dan juga sopan untuk ukuran orang yang akan melamar kerja.
"Kamu ehm rumahnya dimana, masih gadis, tho?"
"Rumah saya di ujung jalan depan jalan ini, Bu tepatnya di RW 5," ucap Emi dengan cepat dan suara lembut.
"Oh, dekat kalau begitu, tapi kamu masih gadis apa bisa mengurus anak kecil, susah, lho?"
"Akan Emi usahakan bisa, Bu," jawab Emi dengan jujur.
Tapi, wanita itu tampak masih belum percaya, ia masih menatapnya dengan lebih selidik.
Emi hanya diam sambil menunggu perintah selanjutnya, apa ia diterima atau tidak. Menurut keyakinannya ia pasti bakal diterima. Itupun kalau bisa mengingat kata Ibu yang tengah memandanginya ini sedang berpikir untuk menerima baby sitter seorang gadis sepertinya.
Emi diam sambil memainkan ujung kain bajunya dan menunggu hingga beberapa menit lamanya sampai ia di suruh untuk pulang lagi.