Pintu kamar terbuka. Ava yang tengah memakai piyamanya sontak berteriak karena terkejut. Untung saja ia sudah mengancingkan semua kancing piyamanya. Arka masuk dengan wajah tenang, tanpa memerdulikan Ava yang heboh sendiri. “Pak Arka gak bisa ketuk pintu dulu, ya?” “Saya lupa,” kata Arka. Pria itu langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Ava melongo. oh, ayolah … pikiran kotornya sekarang semakin tidak tahu arah. Ava terdiam, memandang Arka yang sudah memejamkan matanya. Menyadari Ava tidak tidur di sebelahnya, Arka membuka mata. Ia menoleh menatap Ava. “Kenapa? Kamu gak mau tidur?” Ava masih diam. Pria itu menghela napas. “Saya cuma mau tidur, Va. Apa yang salah?” “Enggak ada.” “Ya udah, ayo tidur. Udah malam, Va.” Ava mengangguk saja, lalu berjalan ke tempat tidur. ia merebahk

