Alung tertawa terpingkal-pingkal saat melihat sebuah video t****k yang lewat di fyp nya, bahkan ia sampai melempar hape nya dan untung saja Aksa berhasil menangkapnya.
"Kalem napa Lung," kata Aksa.
"Gak bisa hyung, ini ngakak banget!" balas Alung sambil memegangi perutnya yang sakit.
"Sa," Reza melirik Aksa.
"Naon?"
"Yuk," Reza memberikan kode pada Aksa sambil memperhatikan Alung yang masih seperti orang gila.
Aksa tersenyum jahil, lalu cowok itu perlahan mendekati Alung bersamaan dengan Reza. Aksa mengambil selang yang ada dibawah, sedangkan Reza yang menghidupkan kerannya.
Byuuurrr
"Woy anjing," umpat Alung kaget. Cowok itu berusaha menghindar tetapi Aksa tak henti mengarahkan air nya ke Alung.
"Ga boleh kasar, Lung!" seru Aksa.
"AKSA TAIII! BERHENTI SAA! GUE GAPLOK LU KALO KAGA BERHENTI!" teriak Alung, sekujur tubuhnya sudah basah terkena air.
"Gue kan cuman mainin selangnya doang, yang buka kerannya kan si Reja, kenapa gue yang lo teriakin?" tanya Aksa, masih dengan serunya menyiram Alung.
"REJAAA! MATIIN JAA! GUE TENDANG LO KE NERAKA KALO GA MATIIN!" teriak Alung pada Reza.
"Kamu siapaaa? Kamu siapaaa?" sahut Reza bernada.
Sementara itu kini dibelakang mereka ada Shanin dan ketiga temannya yang lewat, mereka melihat kakak kelasnya itu dengan heran.
"Mereka ngapain?" tanya Ocha.
"Ah pergi aja yuk, malu gue ketemu mereka," Shanin hendak mundur tetapi Gladis menahannya.
"Harusnya lo bangga Nin, karena video kayang lo kemarin berhasil masuk fyp, followers lo juga nambah kan?" tanya Gladis.
"Dibales lagi DM nya sama Kak Aksa, kurang apalagiii?!" Bulan geregetan sendiri.
"Tapi muka gue sekarang mau ditaroh dimana? Gue malu banget, ya kalo gue viral pas gue lagi cakep, lah ini gue pas cosplay jadi kentang," balas Shanin.
"Cantik gini ngaku kentang, dasar merendah untuk meroket," cibir Ocha.
⚪️⚪️⚪️
Aksa tiduran didalam ruang OSIS yang sepi dan dingin, suasana seperti ini bisa membuatnya merasa nyaman dan tenang. Lantas cowok itu menghidupkan ponselnya, dirinya tiba-tiba saja teringat akan sosok gadis yang kemarin video nya sempat viral, itu pun Shanin lakukan karena ia sudah berjanji pada Alung seperti ini:
"Kak Aluuung, boleh ga minta tolong?" tanya Shanin.
"Minta tolong apa?"
"Aku pengen banget dibales DM nya sama Kak Aksa, bilangin dong ke orangnya," pinta Shanin.
"Kalau gue bilangin terus orangnya mau nurut, lo bakal ngapain?" tanya Alung.
"Kayang Kak."
Alung sempat terkejut sambil menahan tawanya, "Serius lo?"
"Serius kak, ya ampun masa ga percaya." balas Shanin.
"Beneran nih ya?"
"Iya kak benerannn suwer deh!" sahut Shanin sangat meyakinkan.
"Oke, nanti gue chat dia," balas Alung.
"Oke! Makasih kak Alung!" ujar Shanin antusias.
Alung perlahan menarik kedua sudut bibirnya lalu balas mengetik pesannya. "Iyaa sama-sama."
Aksa kini sedang melihat video itu, cowok itu ketawa, tetapi ketawanya ketawa ganteng. Sampai akhirnya pintu ruang OSIS itu diketuk dari luar, hal itu membuat Aksa langsung bangun dari tidurannya.
"Masuk aja," sahut Aksa.
Cklek
Aksa mengarahkan pandangannya kearah pintu, ada seorang gadis berpakaian putih abu-abu yang masih terlihat baru dan kaku, berdiri diambang pintu sambil menatap Aksa.
"Kak Aksa..." panggilnya pelan.
Aksa langsung meletakkan ponselnya diatas sofa lalu berjalan mendekati gadis itu, "Kenapa?" tanya Aksa dengan suara rendah dan halus.
Setelahnya, gadis itu langsung menubruk tubuh Aksa dan memeluknya dengan erat, Aksa bingung apa yang terjadi padanya. Namun perlahan tangan Aksa bergerak untuk balas memeluknya, apalagi saat tau jika gadis itu ternyata menangis.
"Kenapa nangis Nay?" tanya Aksa.
"Nay digangguin sama kakak kelas, dimintain nomor telfon, terus digombalin juga." katanya.
Aksa langsung terkekeh, "Bener aja, orang kamu cantik." balas Aksa.
"Tapi Nay gak suka," kata Nayla.
"Emangnya dulu di SMP ga ada yang kaya gini ke Nay?" tanya Aksa.
Nayla terdiam sebentar lalu menjawab, "Ada."
"Kata Papa sama kata Om Alen kalau Nay digangguin atau ada masalah apa disekolah, abang yang harus nolongin," ujar Nayla.
"Masa gitu?" goda Aksa yang membuat Nayla langsung mencebikkan bibirnya kesal.
Sementara itu, kini dari kejauhan ada Shanin dan Ocha yang sedang melihat Aksa pelukan dari seorang cewek.
"Aaa Ochaaa! Itu siapaaa? Kok dipeluk sama Kak Aksa?" Shanin langsung merasa kesal.
"Pacarnya lah, siapa lagi." sahut Ocha enteng, bermaksud memanasi Shanin.
"Yang bener aja lo Cha, gak mungkin." balas Shanin.
"Gak mungkin apanya, orang udah jelas-jelas pelukan gitu. Emangnya ada disini yang berani deket-deket sama Kak Aksa sampe meluk dia?" tanya Ocha.
"Ya mana gue tau!" sahut Shanin jutek.
"Cemburuan lo, bukan siapa-siapanya juga," celetuk Ocha, pedas sekali.
Shanin langsung melirik Ocha dan memberengut kesal, "Jahat banget lo teh ichi ocha!"
Mendengar itu Ocha langsung menatap Shanin dengan tatapan tajam. "Bilang apa lo barusan?!"
"TEH ICHI OCHAAA!!" teriak Shanin meledeki Ocha.
Melihat ekspresi Ocha yang ingin memakannya, Shanin pun dengan segera langsung berlari menjauhi Ocha.
"SHANINNN!!!"
⚪️⚪️⚪️
Siang ini setelah bel pulang sekolah, Aksa bersama dengan anggota OSIS yang lainnya akan mengadakan rapat untuk lomba 17 Agustus mendatang. Aksa melirik arloji hitam yang melingkar dipergelangan tangannya, cowok itu tidak sabar ingin cepat-cepat pulang.
"Pulangnya ini kapan woyyy!?" teriak Aksa tiba-tiba.
Sontak semua teman-temannya langsung menolehkan pandang ke arah Aksa. Aksa menunjukkan muka juteknya pada semua orang yang ada disini.
"Rapat dulu Sa, baru pulang." kata Argo.
"Adek gue kasian belum dijemput," Aksa beralasan.
"Halah alasan lu," sahut Fikran.
"Beneran, adek gue masih SMP, ntar kalo dia nangis gimana? Kasian euy, bisa digaplok sama emak gue," ujar Aksa.
"Emangnya emak lo berani gaplok? Emak lo kan kalem kaya Alung," Alung langsung menunjukkan tampang polosnya yang dibuat-buat.
"Jijik anjing," sahut Fikran ingin muntah.
"Dah diem semua, Aksa kalo mau pulang pulang aja," ucap Ilham.
Aksa langsung menegakkan tubuhnya, lalu menunjukkan tampang senang, tetapi sebelum itu Ilham kembali melanjutkan kalimatnya.
"Tapi besok udah bukan anak OSIS lagi." lanjut Ilham dengan wajah serius.
Wajah Aksa kembali tertekuk, "Yaudah lah nurut aja sama ketua sosis," balas Aksa.
"Sabar Ca, sekali-kali orang ganteng ngalah," ucap Lea.
"Asik diakuin ganteng sama Lea," goda Aksa yang membuat Lea langsung memutar bola matanya malas.
Setelah itu semuanya pun kembali melanjutkan rapatnya sampai tuntas dan selesai. Dan tepat pukul 16.00 sore mereka semua langsung keluar dari ruang OSIS setelah saling berpamitan untuk pulang.
Aksa berjalan bersama Alung untuk menuju parkiran. Aksa memainkan kunci motornya ditelunjuk tangan, sedangkan Alung bernyanyi-nyanyi tidak jelas.
"Sebut namamu binti Ayahmu dan semua wali kan berkata SAHHH! ini gila tapi ku mau halal kan muu!" ujar Alung.
"Ya gak Sa?" Alung menyenggol Aksa.
"Gak."
"Jangan tolak gue Saaa!" Alung pura-pura nangis.
Aksa langsung menatapnya dengan ngeri, "Cari Pak Ustad yok Lung," kata Aksa.
"Ngapain? Lo mau gue nikahin beneran?!" Alung histeris sekaligus terkejut.
"Gak. Buat ngerukyah lo, biar jauh dari gangguan jin sama setan." balas Aksa.
"Bangke, lo pikir gue kesurupan apa?!" kesal Alung.
Aksa tak membalas, sampai akhirnya saat dirinya dan Alung sampai di motor masing-masing, ada seseorang yang memanggil namanya.
"Aksa!"
Aksa yang hendak memakai helm itu menoleh, ia mendapati Aurel yang tengah berlarian menyusulnya. "Kenapa Rel?"
Aurel mengatur napasnya sebentar, lalu langsung berucap, "Gue boleh nggak nebeng sama lo pulangnya?"
Aksa nampak berpikir, lalu ia melirik Alung yang sudah naik ke atas motor dan sudah menghidupkan mesin motornya.
"Sama Alung aja mau nggak Rel?" ujar Aksa.
Raut wajah Aurel yang tadinya nampak senang kini perlahan langsung memudar, namun Aurel kembali menunjukkan sikap biasa saja. "Lo kenapa emangnya Sa?" tanya Aurel.
"Gue capek Rel, mau cepet-cepet sampe rumah, maaf ya," balas Aksa, berusaha menolak dengan cara halus, seperti yang diajarkan mama dan papanya dari kecil.
Aurel menghembuskan napasnya berat, lalu perlahan ia mengangguk, "Yaudah nggak papa Sa, gue pulang pesen grab aja," balas Aurel.
"Dari pada naik grab bayar mending bareng sama Alung aja," usul Aksa.
"Iya Rel, mau gak bareng sama gue? Rumah lo lagian juga searah sama rumah gue, kalo sama rumahnya Aksa kan malah kejauhan," sahut Alung.
Aurel tampak berpikir, sebenarnya ia tadi memang sengaja agar tidak menyuruh supirnya untuk menjemput, supaya siang ini ia bisa pulang bersama Aksa. Tetapi Aksa malah menolaknya.
"Yaudah gue pulang sama Alung aja," kata Aurel.
Aksa mengangguk, lalu cowok itu memakai helm full face nya dan menghidupkan mesin motornya, "Gue pulang duluan, dah capek. Gudbay," pamit Aksa yang langsung melajukan motornya untuk keluar dari lingkungan sekolah.
Saat didepan gerbang, tepat saat Aksa ingin menyebrang jalan, matanya tiba-tiba saja memicing saat melihat ada keramaian orang yang tengah menggerumbuli seseorang.
Aksa sebenarnya penasaran tetapi karena dirinya sedang sangat capek dan lelah jadinya Aksa harus menghapus rasa penasarannya itu.
Namun, saat Aksa hendak menyebrang, cowok itu dengan cepat langsung menghentikan motornya, matanya membulat sempurna saat melihat adik kandungnya tengah menangis sambil dibantu orang-orang untuk duduk dihalte bis.
Mengetahui itu Aksa langsung menghampirinya dengan cepat, cowok itu memarkirkan motornya dan melepas helmnya.
Aksa berjalan mendekat, perasaannya langsung menjadi tidak enak. "Neira?"
Gadis pemilik nama yang tengah menangis itu langsung mengangkat kepalanya melihat wajah Aksa. "Abang.." Neira langsung memeluk perut Aksa karena cowok itu memang sedang dalam posisi berdiri.
Aksa bingung bercampur panik, "Kamu kenapa bisa ada disini Nei?" tanya Aksa lembut sambil mengelus rambut adiknya itu.
"Nei takut sendirian dirumah, mama sama papa gaada dirumah, jadinya Nei langsung kesini buat cari abang huaaa," Neira makin menangis keras.
"Nei tadi hampir ditabrak sama mobil, tapi untungnya aja ada kakak cewek yang nolongin Nei, kakaknya sampe dibawa ke rumah sakit, Nei takut nanti kalo Nei dibawa sama polisi gimanaaa baaang? Huaaaa," Neira masih terus menangis.
Aksa langsung duduk disebelahnya, kepala Neira bersembunyi didada cowok itu, tangannya juga sangat erat memeluk Aksa, terlihat jika Neira benar-benar ketakutan.
"Cup cup adeknya abang Aca jangan nangis, Nei ga bakal dibawa sama polisi kok, sekarang kita pulang dulu aja ya? Nanti mama nyariin," kata Aksa mencoba menenangkan adiknya.
Neira mengangguk, ia menolehkan kepalanya kepada banyak orang yang masih memperhatikannya bersama Aksa. Aksa perlahan berdiri begitu pula dengan Neira, namun Neira tidak mau melepaskan lingkaran tangannya dari perut Aksa.
"Makasi ya semuanya yang udah bantuin adek saya. Cewek yang tadi nolongin adek saya kira-kira dibawa ke Rumah Sakit mana ya?" tanya Aksa pada salah seorang murid di SMA Antariksa ini.
"Gatau kak, tapi aku kenal sama salah satu temennya yang ditabrak tadi, namanya Bulan, aku punya nomornya kak, nanti kakak bisa hubungin dia buat nanya gimana kabar temennya yang masuk rumah sakit itu," jelasnya.
"Oke, kalau gitu nanti lo DM aja ke IG gue ya kasih tau nomornya, makasih," ujar Aksa yang langsung berjalan bersama Neira untuk menuju motornya.
Sedangkan murid perempuan itu langsung memekik tertahan karena bisa berinteraksi dengan kakak kelasnya itu, disuruh DM IG nya pula.
⚪️⚪️⚪️
Sesampainya dirumah Neira masih menangis karena terus kepikiran dengan seseorang yang menolongnya tadi, bahkan orang itu sampai masuk Rumah Sakit. Bukan menangis karena itu saja, Neira menangis juga karena lutut dan sikutnya terluka karena tergores aspal.
"Abaaang Acaaaa," panggil Neira menangis, sampai terisak. Kedua matanya juga sudah membengkak, hidungnya pun memerah.
Aksa datang sambil membawa kotak P3K ditangannya, lalu cowok itu duduk disebelah Neira.
"Ga mau diobatin sama abang, ntar sakit!" kata Neira.
"Terus maunya diobatin sama siapa dong? Sama Chiko?" tanya Aksa, Chiko adalah nama kucing peliharaan Neira.
Neira menepuk paha Aksa karena kesal, "Nggaaak, Nei maunya diobatin sama mama huaaa," balas Neira.
"Mama kan lagi gaada dirumah Nei, diobatin sama Abang aja yaa? Ga sakit serius, nanti kalo Nei mau diobatin sama abang nanti abang beliin coklat yang banyak," bujuk Aksa.
"Sama es krim juga," tambah Neira.
"Iya itu juga," sahut Aksa, lebih baik iya menurutinya dari pada nanti ia dimarahi oleh mama dan papanya.
"Yaudah, abang yang obatin, tapi pelan-pelan," peringat Neira.
"Iyaaa." sahut Aksa panjang, terdengar gemoy sekali.
Lalu Aksa pun langsung mengobati luka adiknya itu dengan hati-hati, Neira sampai meringis karena menahan perih karena obat merah itu mengenai lukanya. Aksa pun sampai ikut meringis juga.
"Lagian kamu ngapain nekat banget nyusulin abang ke sekolah? Naik apa tadi?" tanya Aksa.
"Nei pesen grab lewat hp," balasnya.
"Emangnya kamu punya uang buat bayar supirnya?" tanya Aksa.
Neira menggeleng, "Enggak, uang sekolah Nei kan udah habis,"
"Terus kamu dapet uang dari mana? Jangan bilang ngambil dari kamarnya abang ya," tuding Aksa.
Neira dengan cepat membantah, "Eh nggak ya bang! Enak aja, kalo Nei ambil sama dengan Nei nyuri dong. Kan ga boleh kata mama sama papa, dosaaa." balas Neira.
"Terus gimana?"
"Tadi Nei bilang kalo Nei ga punya uang sama supirnya, supirnya langsung kaya mau marah gitu," ujar Neira.
"Terus habis itu?"
"Neira kasih aja hp nya Nei ke supirnya, Nei pikir ga boleh, ternyata diterima juga sama orangnya." kata Neira, bercerita dengan tenang.
Aksa seketika saja langsung cosplay menjadi patung, cowok itu memikirkan ponsel adiknya yang dengan mudahnya ia berikan kepada supir grab karena tidak bisa membayar menggunakan uang.
"Serius aja Nei," ucap Aksa. "Itu hp Nei, belinya pake uang," Aksa mendadak lemes, karena ponsel adiknya itu ponsel mahal yang kameranya ada tiga.
"Definisi sultan yang sesungguhnya."