Alen mengusap wajahnya sambil menghela napasnya berat, terlihat sekali jika lelaki itu lelah. Alen baru saja mendengar kabar jika anak perempuannya telah memberikan ponselnya ke abang-abang grab dengan mudahnya, alasannya karena anaknya itu tidak membawa uang untuk membayar sopir grabnya.
"Pinter banget anak gue Ya Allah," ucap Alen pelan.
"Papaaa jangan marahin Neiii! Huaaa! Mamaa papa kayanya mau marah dehhh huaaa!" Neira menangis sambil memeluk Raina dan menatap Alen takut-takut.
Raina mendekap Neira sambil mengelus-elus rambut panjangnya yang halus, "Enggak Nei, papa ga marah sama kamu," kata Raina.
"Boong, itu liat mukanya nyeremin udah kaya mau nerkam Nei," ujar Neira.
Aksa yang baru saja turun dari kamarnya, langsung menciptakan wangi parfum yang menyeruak masuk ke hidung, cowok itu berpakaian seperti ingin pergi. Alen yang menyadari itu langsung bertanya.
"Mau kemana Ca?"
"Mau ke Rumah Sakit pa," balas Aksa sambil menghampiri tiga anggota keluarganya itu.
"Ngapain?" tanya Raina barengan dengan Alen.
"Mau jengukin orang yang udah nolongin Neira," balas Aksa.
Alen dan Raina mengerutkan keningnya tanda bingung, "Emangnya Neira habis kenapa?"
"Nei habis jatuh," cetus Neira.
"Kok bisa?"
"Bisa aja, kan dibisain Pa," sahut Neira.
Lagi-lagi Alen menghela napasnya lelah, sepertinya dulu saat dirinya dengan Raina memproduksi Neira ada yang salah. Makanya jadilah seperti ini. Dan, bertepatan saat itu Raina baru menyadari adanya luka ditangan Neira.
"Ini?" tunjuk Raina sambil sedikit mengangkat tangan Neira, lalu Neira mengangguk.
Alen melihatnya, lalu pandangannya menoleh kearah Aksa, menunjukkan tatapan tanya.
Aksa yang paham akan hal itu pun langsung berucap, "Tadi Nei nekat nyusulin Aksa ke sekolah, naik grab tapi ga punya uang, terus akhirnya Nei bayar pake hp nya---"
"Stop. Langsung aja, jangan ingetin itu lagi, bikin stress," potong Alen.
Aksa kemudian berdehem, "Oke Pa."
"Nei mau nyebrang jalan, tapi dia ga liat kanan kiri, jadinya ada mobil yang hampir nabrak dia, tapi untungnya aja ada cewek yang dorong Nei ke pinggir jalan, jadinya cewek itu yang ke tabrak mobil, sampe jadinya dia sekarang masuk Rumah Sakit. Makanya Aksa mau jengukin dia sekarang," jelas Aksa.
Untuk yang ketiga kalinya lagi-lagi Alen menghela napasnya berat, lelaki itu menatap Neira yang sedang bersembunyi ditubuh Raina.
"Punya anak gini amat, astaghfirullah." gumam Alen, sebenarnya ia ingin marah tetapi tidak bisa. Apalagi saat melihat Raina yang menunjukkan wajah seperti bicara "sabar Alen..."
"Lain kali Neira jangan nekat kaya tadi ya? Kan bahaya, nanti kalau Nei kenapa-napa gimana? Cukup hp nya Nei aja yang jadi korban, Nei jangan..." ujar Raina.
Neira mendongak menatap wajah Raina, gadis itu memasang wajah yang sedih sekali, "Iya Ma, maafin Nei..." kata Neira lalu Raina mengangguk.
Lalu Neira perlahan mencuri pandang ke arah Alen, takut sekali untuk menatap mata papanya itu. "Paa..."
"Hm?"
"Maafin Nei yaa gara-gara ga bawa uang jadinya Nei kasih hp nya ke abang grabnya..." Neira menunduk. "Nei takut nanti
kalo dibawa ke kantor polisi karena ga bisa bayar, makanya Nei kasih aja hp nya. Lagian katanya abang berbagi itu indah, bisa dapet pahala, yaudah deh kasih aja hp nya..." ujar Neira.
Aksa langsung menyahut, "Tapi ga gitu-gitu juga berbaginya Nei, astaga punya adek modelnya kaya gini."
"Buatin adek baru aja ya Pa," lanjut Aksa dengan entengnya.
"Aksaa! Enggak boleh bilang kaya gitu," tegur Raina.
"Padahal udah mau bilang iya," balas Alen.
"Nggak." sahut Raina.
"Biar 3 sayang," kata Alen.
"Enggaaak, apaansi," balas Raina kesal.
Aksa yang mengerti pun langsung ketawa ngakak, sedangkan Neira yang melihat abangnya seperti itu langsung menunjukkan ekspresi bingung yang alami, tetapi lama-kelamaan Neira pun ikut-ikutan ketawa saja walaupun ia tidak mengerti apa-apa.
Aksa pun perlahan menghentikan tawanya karena Raina memperhatikannya dengan raut wajah datar, cowok itu berdehem lalu menyugar rambutnya ke belakang.
"Ampun Ma," kata Aksa.
"Yaudah lah Aksa mau berangkat dulu ke Rumah Sakit, keburu kemaleman ntar," ujar Aksa.
"Abang, Nei ikuuut!" seru Neira.
"Udah malem Nei," sahut Aksa.
"Masih jam tujuh, gapapa kan Ma?" tanya Neira.
Raina terdiam sebentar lalu akhirnya mengangguk, "Iya gapapa."
"Yeayyy! Ayo abangg!" seru Neira sambil berlari menghampiri Aksa.
"Ma, Pa, Nei sama abang Aca pergi dulu yaa! Assalamualaikum," pamit Neira dan Aksa.
"Waalaikumsalam, hati-hati."
⚪️⚪️⚪️
Aksa menggandeng sebelah tangan Neira agar adiknya itu tidak hilang, karena adiknya itu selalu ceroboh. Ditangan satunya Neira membawa sebuah keranjang berisi buah-buahan untuk diberikan kepada seseorang yang telah menolongnya tadi.
Aksa dan Neira menyusuri lorong Rumah Sakit yang hari ini terbilang ramai, Aksa sudah mengetahui dimana gadis itu dirawat, jadinya Aksa tidak perlu kesusahan mencarinya.
Aksa dan Neira berhenti tepat didepan ruang kamar inap nomor 56, cowok itu mengintip ke dalam ruangan, lalu akhirnya perlahan ia membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya.
Aksa dan Neira melihat seorang gadis yang tengah tidur diatas brankar, disofa sebelahnya ada tiga orang gadis yang menemaninya. Tiga orang gadis itu langsung terperanjat kaget atas kehadiran Aksa dan Neira.
"Anjir kak Aksa!" pekik Ocha.
"Eh ini beneran dia?" Gladis terkejut.
"Iya beneran, tadi kak Aksa DM an sama gue katanya mau kesini," kata Bulan.
"Hah, serius aja lo Mbul?! Kenapa gak cerita sih?!" kata Ocha.
"Hehe enggak sempet," cengir Bulan.
Gladis yang mendengar itu langsung menyenggol lengan kedua temannya, "Udah ish, jangan ngomongin orangnya ada disini, malu-maluin aja," bisik Gladis.
Setelah itu mereka bertiga langsung berdiri, "H-hai kak Aksa," sapanya.
"Hai," balas Aksa ramah.
"Aku nggak disapa juga nih kak?" celetuk Neira.
Semuanya pun langsung mengarahkan pandang ke Neira, "Eh iya, hai juga....?"
"Neira, namaku Neira, aku bukan anak kecil paman, eh kak." sahut Neira.
"Halo Neira," sapa mereka.
Aksa dan Neira mendekti brankar sambil melihat keadaan gadis yang tengah tertidur itu, bibirnya terlihat pucat, dan dikeningnya ada plaster yang menempel.
"Nei taruh sini ya kak," ucap Neira.
"Iya Nei, makasih banyak ya," ucap Bulan.
"Sama-sama Kak."
Aksa duduk dikursi yang ada disebelah brankar, cowok itu mengamati Shanin dari ujung kaki sampai ujung kepala, kurangajar sekali.
"Kaya nggak asing sama mukanya," cetus Aksa.
Neira pun ikut mengamati, "Nei juga gak asing, emm kapan ya Nei pernah liat?" Neira nampak berpikir, karena tadi siang saat kejadian iti Neira tidak sempat melihat wajah Shanin.
Seketika saja terbelesit suatu ingatan diotak Neira, lantas gadis itu langsung menjentikkan jari, "OHHH! INI KAN KAKAK YANG MASUK FYP t****k NYA NEI ABANG!" Neira menyeru keras, bahkan suaranya berhasil membuat semuanya terjingkat kaget.
"YANG KAYANG ITU KAAANNNN?!" Neira heboh sendiri, membuat semuanya terus menatapnya tanpa berkedip karena cengo.
Aksa memegang tangan adiknya itu, bermaksud menegurnya, "Neira, jangan teriak-teriak."
Neira yang menyadari itu langsung terdiam sebentar lalu menggaruk pipinya dengan kikuk, "Ehm iya maafin Nei, kebawa suasana tadi hehehe."
Dan, kalian tahu? Teriakan Neira barusan sampai berhasil membangunkan Shanin yang tadinya sedang tertidur pulas, gadis itu membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa pening, tetapi tidak separah tadi.
Shanin masih mengumpulkan nyawanya, jadi gadis itu hanya menatap langit-langit kamar, ia masih belum menyadari kehadiran Aksa yang ada disebelahnya.
"Nin?" panggil Gladis yang pertama kali tahu jika Shanin sudah bangun.
Semuanya pun langsung menatap Shanin secara bersamaan, Shanin yang merasa sedang ditatap pun langsung melirik perlahan, ia menyusuri pandangan, ada Ocha, Gladis, Bulan, dan....gadis yang ia tolong tadi. Lalu....
Jantung Shanin mendadak mencelus kedalam saat melihat ada Aksa disamping brankarnya, gadis itu terkejut seakan-akan habis melihat setan. Matanya melebar, rasa pusing yang tadinya hampir hilang kini malah muncul lagi.
"Ya Allah, Shanin masih mau idup, jangan ambil nyawa Shanin sekarang," ujar Shanin sambil menatap Aksa yang juga sedang menatapnya.
"Apaan sih Nin, lo ngaco deh," tegur Ocha.
"D-dia malaikat pencabut nyawa kan? Dia mau cabut nyawa gue? Kok ganteng," celetuk Shanin lagi.
"Abang Aca bukan malaikat pencabut nyawa kak," tutur Neira.
"Tapi malaikat tak bersayap, ganteng kan?" celetuk Neira sambil senyum-senyum.
Aksa langsung menoleh sambil memberikan tatapan tajam, "Apaansih, oon banget."
Mendengar ucapan Aksa barusan, Neira yang semulanya sedang senyum-senyum kini langsung cemberut dan mencubit lengan Aksa.
"Ih! Jahat! Nei aduin mama rasain!" ancamnya.
Skip, kembali ke Shanin. Kini gadis itu merasa degup jantungnya berpacu lebih cepat, telapak tangannya juga berkeringat. Dia tidak sedang mimpi kan? Kenapa Aksa bisa ada disini?
"Masih sakit?" tanya Aksa pada Shanin yang masih bengong.
"Nin, lo ditanyain anjir malah diem aja," kata Gladis.
"Punya temen lemotnya alami tanpa rekayasa," kata Bulan.
"Lo sama aja!" sahut Ocha.
Karena tak mendapatkan balasan, jadinya Aksa langsung berbicara lagi, "Gimana rasanya video kayangnya bisa viral?"
Shanin langsung mengerjapkan matanya beberapa kali, "Em anu." kini Shanin jadi salah tingkah.
"Anu apa?"
"I-itu kak,"
"Itu apa?" tanya Aksa.
"Itu, anu." Shanin kebingungan sendiri mau menjawab apa.
"Kenapa? Lo mau anuan sama gue?" tanya Aksa sambil menaikkan satu alisnya.
Lantas semua yang ada disini langsung terkejut atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Aksa, apalagi itu ambigu.
"Nggak kak." sahut Shanin cepat.
"Lagian dari tadi ngomongnya anu itu mulu," ujar Aksa.
"Grogi tuh kak, maklum." cetus Neira.
Lalu Ocha, Gladis, dan Bulan saling tatap menatap, mereka mengode satu sama lain, sampai akhirnya Bulan berucap.
"Emm kak, kita permisi mau keluar dulu ya, biar kak Aksa bisa ngobrol berdua sama Shanin. Nggak papa ya?"
"Iya." sahut Aksa.
"Kakak kakak cantik, Nei nggak diajak nih? Masa Nei disuruh jadi nyamuk disini?" tanya Neira.
Ocha, Gladis, dan Bulan terkekeh, "Iya ayo kamu ikut kakak aja."
"Oke! Abang, Nei ikut kakak kakak ini ya? Abang disini aja dulu, yaaa?" ujar Neira.
"Oke," balas Aksa.
"Kak Shanin disini sama bang Aca yaa! Makasi kak tadi udah nolongin aku hehehe," ujar Neira.
Lantas semuanya pun mulai berjalan keluar dari kamar inap Shanin, Shanin yang melihat itu langsung memberikan kode pada teman-temannya agar tidak pergi, tetapi mereka malah menunjukkan tampang mengejek.
Kini tinggalah Aksa dan Shanin berdua diruangan ini. Sunyi dan canggung bagi Shanin, tetapi biasa saja bagi Aksa. Shanin hanya bisa mendengar suara detikan jam dinding serta degup jantungnya sendiri.
"Makasih udah nolongin adek gue ya, gue nggak tau lagi gimana nasibnya dia kalau lo nggak nolongin." ucap Aksa.
"I-iya kak sama-sama."
"Biasa aja kalau ngomong sama gue, nggak usah grogi gitu, nggak enak dengernya," kata Aksa.
"O-oke kak."
"Eh maksudnya, oke kak!" ralat Shanin.
Aksa mengangguk lalu ia bertanya, "Orangtua lo dimana? Gue mau minta maaf sama ngucapin makasih juga."
Raut wajah Shanin seketika berubah menjadi murung dan sedih, "Bunda aku udah meninggal kak, kalau Ayah nggak tau ke mana." balas Shanin, suaranya pelan dan rendah.
Aksa yang mendengar itu pun langsung merasa tidak enak dan merasa bersalah, "Nin, sorry ya gue nggak tau, gue nggak maksud bikin lo sedih." Aksa dengan refleks menyentuh punggung tangan Shanin.
Shanin yang menerima sentuhan fisik itu langsung merasa darahnya berdesir, ini adalah pertama kalinya mereka bersentuhan.
Apakah Shanin harus bilang Mas! Jangan sentuh aku? Gitu? Nggak kan? Shanin mah seneng banget bisa dipegang tangannya sama Aksa. Jangankan tangan, apapun Shanin bolehin, ehh.
"Maaf." Aksa menjauhkan tangannya.
Kenapa minta maaf sih kak? Gue mah seneng banget lo pegang-pegangin, otw sembuh nih langsungan. Batin Shanin.
"Iya kak, nggak papa." balas Shanin.
"Biasanya lo berangkat sekolah naik apa?" tanya Aksa.
"Naik angkot, naik ojol, kadang dijemput sama temen-temen aku juga," ujar Shanin.
"Besok berangkatnya bareng sama gue aja ya," kata Aksa tenang.
Kedua mata Shanin membulat, ini dia tidak sedang mimpi kan?! Seorang Aksa Ailen Dirgantara mengajaknya berangkat sekolah bareng.
"Bercanda kan?" tanya Shanin dengan hati-hati.
"Enggak. Gue serius, nggak mau nih? Yaud—"
"Mau kak!" sahut Shanin cepat. Gila aja dia nolak.
Aksa menahan senyumnya, tingkah cewek ini benar-benar konyol, waktu itu saat hari pertama MPLS sampai detik ini selalu saja bikin heboh.
"Oke, jangan lupa sharelock ya," pesan Aksa.
"Iya kak."
"Umur lo berapa sih?" tanya Aksa, pertanyaan random itu tiba-tiba terbesit dipikirannya.
"Umur gue? Eh- aku?" Shanin menunjuk dirinya.
"Iyalah, siapa lagii?"
"Enam belas tahun kak, kenapa?" tanya Shanin.
Aksa lalu mengangguk dan berohria, "Yaudah berarti pas."
"Pas apa kak?" Shanin bingung.
"Pas umurnya sama gue, gue suka cewek yang umurnya lebih muda dari gue," kata Aksa tenang.
Shanin menatap Aksa dengan pandangan bertanya-tanya, "Kak Aksa mau jadiin aku pacar?!" histerisnya.
Aksa langsung terkekeh, "Pede banget jadi cewek. Jangan kepedean," kata Aksa bercanda.
"Eh iya kak maafinnn."
⚪️⚪️⚪️
Kak Alung:
Sekarang lo sekolah nggak?
Kalau lo belum sehat beneran, jangan sekolah dulu.
Shanin mengerutkan keningnya bingung saat membaca pesan yang barusan ia terima dari kakak kelasnya itu, "Kok kak Alung?"
Kak Alung:
Itu terusan chat dari Aksa. Dia ga punya nomer lo jadi titip ke gue.
Cieee diperhatiin sama aksa, ada apaan lu beruda?
*verdua
*bersua
*anjinh tipo mulu
*berdua
*nah vener
*anying kebord gua
*kek tai
Shanin terpingkal sendiri saat melihat chat dari kakak kelasnya itu, lantas ia mengetikkan balasan pesan disana.
Shanin Ratu:
Sekolah kak.
Gak ada apa-apa.
Makanya beli hp yang mahal?
Kak Alung:
Gak ada duit
Hp gue kentang
Dah ye, buruan siap siap, aca udah ada didepan rumah lo.