Shanin menarik napasnya lalu membuangnya perlahan, gadis itu saat ini sedang nervous sekali, ia melihat Aksa yang sedang menunggu didepan gerbang rumahnya, mungkin cowok itu sudah lima menitan disana. Shanin pun akhirnya keluar rumah, tak lupa ia menutup pintu dan menguncinya.
Shanin berjalan dengan kaki yang gemetaran, gadis itu memegang kedua tali tasnya dengan tangan. Kini dirinya telah berada didepan gerbang, ia tak bisa bohong, Aksa terlihat ganteng banget, apalagi naik motor ninja berwarna hitam. Cowok itu juga memakai jas OSIS nya yang memang style nya kece. Makanya dulu pada banyak yang mau daftar OSIS karena jas nya memang bagus dan keren.
Oke kembali ke topik. Aksa menolehkan pandang, cowok itu memasang wajah datar sekali, tidak ada guratan senyum dibibirnya, mungkin karena efek masih pagi dan baru bangun tidur kali ya?
"Pagi kak," sapa Shanin.
"Pagi."
"Berangkat sekarang kak?" tanya Shanin.
Aksa menatapnya, "Nggak. Taun depan," Aksa menjeda kalimatnya, hal itu membuat Shanin membuka sedikit mulutnya, sampai akhirnya Aksa melanjutkan. "Sekarang lah, mau kapan lagi? Buruan naik." perintah Aksa.
"Oke kak siap."
Shanin pun mengumpulkan keberaniannya untuk naik ke jok belakang motor Aksa, kini mereka sangat dekat sekali, wangi parfum Aksa jadi semakin tercium jelas. Kepala Aksa menoleh ke belakang, "Udah belum?"
"Ud-udah kak."
"For your information ya, gue kalau naik motor ngebut kaya bokap gue. Jadi gue pikir lo tau harus ngapain tanpa gue bilang," kata Aksa.
Otak Shanin langsung bekerja cepat, dan alhamdulillah nya langsung nyantol, yakali ga nyantol kan? Shanin mah kalau soal gini-ginian paham. Tapi...beneran nih Shanin harus peluk Aksa?
Tanpa Shanin sadari, Aksa mulai melajukan motornya perlahan, tetapi Shanin masih bingung, jadinya ia memilih pegangan dibesi belakang jok motor.
Aksa melihat wajah Shanin dari spion motornya, ia memang masih melajukan motornya dengan kecepatan normal. Aksa menarik senyum disalah satu sudut bibirnya, cowok itu mulai menambah kecepatan laju motornya, sampai lama-kelamaan semakin cepat seperti orang yang dikejar-kejar setan. Shanin yang terkejut pun refleks memegang kedua bahu Aksa.
"Lo pikir gue tukang ojek?" seru Aksa sambil menolehkan kepalanya ke belakang dengan sekilas.
"Hah? Apa kak? Nggak denger. Maaf." balas Shanin sambil teriak-teriak.
"Pegangannya yang bener," kata Aksa, belum sempat Shanin mendengarnya dengan jelas, Aksa sudah meng-gas motornya lagi sampai akhirnya Shanin langsung memeluk perut Aksa dari belakang, gadis itu memejamkan kedua matanya.
"Ya Allah semoga aja Shanin selamat sampe tujuaaannnn aamiin! Kak Aksa gilaaaa kalo naik motoooor!" jerit Shanin dalam hati.
⚪️⚪️⚪️
Semua pasang mata kini sedang menyorotkan pandangannya ke arah Aksa dan Shanin yang baru saja masuk ke dalam pekarangan sekolah. Shanin yang diperhatikan seperti itu justru merasa tidak enak hati, cewek itu tidak nyaman diperhatikan seperti ini. Aksa yang memasang wajah biasa-biasa saja itu menoleh ke arah Shanin.
"Gue mau ke ruang OSIS dulu, lo masuk ke kelas aja ya," kata Aksa pada Shanin
Shanin menoleh, sambil mengangguk, "Iya kak makasih ya udah mau dibarengin berangkat sekolahnya." balas Shanin.
"Oke," sahut Aksa, sebelum pergi cowok itu memperhatikan penampilan Shanin yang agak mengganggu dipengelihatan.
Tangan Aksa perlahan bergerak untuk menggapai rambut Shanin, cowok itu sedikit merapikan rambut Shanin, hal itu membuat anak-anak yang memperhatikan mereka langsung memekik histeris. Sedangkan Shanin, ia tidak tahu lagi harus melakukan apa, yang jelas detak jantungnya kini berdebar tak karuan.
Shanin melirik ke kanan dan ke kiri dengan was-was, banyak sekali pasang mata yang memperhatikannya, dirinya sudah seperti tawanan yang sedang diintai saja.
"J-jangan kak," Shanin menepis tangan Aksa pelan.
"Why?"
"Banyak yang ngeliatin, aku malu," ujar Shanin.
"Oke," balas Aksa, lalu akhirnya cowok itu pun pergi, tetapi sebelum itu ia sempat mengacak rambut Shanin sekilas, hal itu membuat Shanin mematung dan pipinya berubah menjadi merah, padahal itu adalah hal yang biasa, tetapi kalau yang gituin cogan mah Shanin langsung melayang.
Aksa berjalan dikoridor kelas, cowok itu memang sengaja melakukan hal tadi kepada Shanin, cowok itu memang suka mencari kehebohan. Lihat saja habis ini, pasti seluruh anak sekolah heboh dan menggosipinya bersama dengan Shanin.
"Anjaaaay!" Reza datang sambil merangkul pundak Aksa dari samping.
"Ngapain lo?"
"Kangen gue sama lo Sa," ungkap Reza.
"Iya gue emang ngangenin," balas Aksa.
"Lo nggak kangen sama gue Sa?" tanya Reza.
"Gak. Najis ngangenin lo Ja," balas Aksa lalu cowok itu tertawa. Reza yang kesal pun langsung mendorong Aksa sampai cowok itu hampir masuk selokan.
"Anying lo ubi!" umpat Aksa. "Kalo gue nyungsep terus muka gue jadi jelek gimana? Lo bisa ganti muka gue yang cakep ini?" omel Aksa.
"Kagak. Sekali-kali jadi orang jelek gapapa kali," tawa Reza.
"WOY!" Alung tiba-tiba datang dan langsung mengambil tempat ditengah-tengah antara Aksa dan Reza.
"Eh ada pemulung, pakabar lung? Sukses mulungnya?" tanya Reza.
Alung langsung menempeleng kepala Reza dengan kejam, "Palalo pemulung! Ganteng gini lo panggil pemulung!"
"Gantengan Aca." sahut Aksa.
"Narsis bener jadi human," ejek Alung.
"Semuanya kenapa pada ngeliatin lo Sa?" tanya Reza sambil menoleh ke kanan kirinya.
"Tiap hari si Aca juga selalu diliatin," balas Alung.
Lantas setelah itu mereka pun sampai didepan ruang OSIS, "Lah, ini ngapain kesini dah?" tanya Reza.
"Ada hal something," balas Aksa.
"Ah gak seru lu, gue bukan anak OSIS lu ajak kesini," ujar Reza.
"Emang gue tadi ngajak lo? Gak kan? Yee lo nya aja yang ngikut," ujar Aksa. Lalu saat cowok itu hendak masuk ke dalam ruangan osis, tiba-tiba saja ada Lea yang keluar, Lea aja ya nggak pake (k).
"LO JOROK BANGET SIH LUUUNG!" Lea yang baru keluar itu langsung ngomel-ngomel saat melihat Alung.
"Lah lah, gue salah apaan woi? Baru juga dateng," sahut Alung.
"INI KAOS KAKINYA SIAPAA? EWH BAU BANGET TAU GAAA?! LO GA GANTI BERAPA TAUN SIH?!" teriak Lea mengomeli Alung sambil melempar kaos kaki itu ke wajahnya.
"WOE ANJRIT! KAGA ADA AKHLAK LU LEAK!" teriak Alung kesal.
"Lo yang gak ada akhlak pemulung! Masa kaos kaki ditinggal didalem ruangan OSIS?! Bikin bau sumpah!" Lea masih terus mengomel.
"Wangi nih! Enak aja dibilang bau, lo tuh yang bau," balas Alung seraya menggerakkan kaos kakinya didepan wajah Lea.
Lea langsung ingin muntah, cewek itu langsung mengambil ancang-ancang untuk menjambak rambut Alung, tetapi beruntungnya Alung dengan cepat langsung berlari menjauh. Lea yang kesal pun akhirnya mengejarnya.
"CAAA TOLONGIN GUE CAAA! GUE DIKEJAR-KEJAR LEAAAAKKK!" teriak Alung menggema disepanjang koridor.
"AWAS LO PEMULUUUUNG!!!" teriak Lea, suaranya menggelegar, geraknya bisa dibilang sangat lincah saat mengejar Alung.
Aksa dan Reza tertawa ngakak, "Mamvus, makanya jangan cari gara-gara sama Lea, gue aja kaga berani. Orangnya kalo dah kumat kaya leak beneran," ujar Aksa.
"Ho'oh bener banget!"
Teng teng teng!
⚪️⚪️⚪️
Shanin melamun sambil mencoret-coreti buku bagian belakangnya, cewek itu terlihat senyum-senyum sendiri, sampai keasikan dan lupa jika saat ini adalah jam pelajarannya Bu Tika yaitu fisika.
Bulan yang merupakan teman sebangkunya pun menyadari akan tingkah Shanin, cewek itu melirik ke arah buku Shanin melihat apa yang ditulis oleh anak itu.
Bulan mengejanya perlahan, "Shanin....love.....Aksa. Hah? Anjir," Bulan hampir saja berteriak.
Menyadari akan hal itu, dengan cepat Shanin langsung menutup bukunya dan menjauhkannya dari Bulan. "Apaan sih Mbul? Liat-liat segala," kesal Shanin, kini dirinya malu sendiri.
"Ih, lo suka ya sama Kak Aksa? Hayolo ngaku!" Bulan bisik-bisik sambil menunjuk wajah Shanin.
Shanin menepis telunjuk Bulan, "Enggak, siapa juga yang suka sama dia," Shanin mengelak.
"Halah, lo pikir mata gue rabun? Gue bisa liat jelas kali kalo disitu lo tulis namanya Kak Aksa, dikasih lop lop lagi." ujar Bulan.
Ocha dan Gladis yang duduk dibelakang mereka pun jadi merasa kepo karena pembicaraan mereka menyebut-nyebut nama 'Aksa'. Ocha menggerakkan tangannya untuk menoel punggung Shanin.
"Nin, Shanin. Bahas apaan sih? Ajak-ajak dong," kata Ocha berbisik.
Gladis yang sedari tadi melihat ke arah depan, kini langsung memberikan kode ke Ocha agar tidak berisik, karena Bu Tika sedang memperhatikan mereka.
"Ih Ocha, jangan ngomong, diliatin Bu Tika noh," bisik Gladis, namun Ocha tak mendengarnya, cewek itu tetap merusuhi Shanin, sampai akhirnya Shanin kesal dan berbalik badan ke arah belakang.
"Apasih Cha?! Nyolek-nyolek mulu!" omel Shanin.
Pandangan Bu Tika langsung menuju ke arah Shanin yang barusan berteriak. Begitu pula anak-anak yang lain, Bulan, Ocha dan Gladis pasrah, mereka meneguk ludah. Sedangkan Shanin, gadis itu belum sadar atas kedatangan Bu Tika disebelahnya.
"Nin," Ocha memberikan kode.
"Itu Nin," Gladis pun sama.
Bulan yang duduk disebelahnya, akhirnya langsung menepuk paha Shanin sampai akhirnya Shanin menoleh dan mendapatkan Bu Tika ada didepannya.
"Eh, Ibu." kejut Shanin.
"Kenapa kamu teriak-teriak Shanin?" tanya Bu Tika.
Shanin gelagapan, ia bingung mau menjawab apa, "Ehm itu, Och--Ocha,"
"Ocha kenapa?" pepet Bu Tika.
Shanin merutuki Ocha dalam hati, ia tidak bisa menjawab. "Ehm tadi saya mau pinjem penghapus ke Ocha Bu."
Bu Tika terdiam sebentar, sampai akhirnya guru itu melirik ke arah buku tulis milik Shanin yang tertutup. "Coba liat catatan kamu Shanin," ucap Bu Tika.
Shanin membulatkan matanya, "Mampus, gue belum ada nyatet sama sekali lagi." batinnya.
"Mana liat."
Perlahan Shanin pun mengambil bukunya dan memberikannya kepada Bu Tika. "Ini Bu."
Bu Tika membuka buku Shanin, tidak ada coretan catatan rumus satu pun disana, hanya ada nama, absen, dan kelas Shanin yang gadis itu tulis dilembar paling depan. Sampai Bu Tika membalik bukunya dan membuka lembar belakang, guru itu mengernyitkan keningnya sambil membaca tulisan yang ada disana.
"Ya ampun! Dibaca!" batin Shanin panik.
"Nah kan kena dah tu," ucap Bulan pelan.
Bu Tika menutup buku Shanin lalu menatap gadis itu dengan galak, "Kamu saya hukum. Karena mengobrol dalam pelajaran saya dan tidak mencatat materi saya, kamu juga malah buat tulisan nama Aksa disini buat apa?"
"I-iya Bu maaf. Ngomongnya jangan keras-keras dong Bu, malu nih." ujar Shanin memelas.
"Sekarang kamu keluar, berdiri ditengah lapangan sambil megangin tulisan ini. Jangan pergi sebelum bel istirahat," perintah Bu Tika, jahat sekali.
"HAH?! JANGAN DONG BUUU! SAYA MALU JADINYA!" Shanin refleks berbicara ngegas.
"Shanin!" sentak Bu Tika.
"Eh iya Bu maaf."
"Ayo cepat, jalani hukuman kamu sekarang." ucap Bu Tika tegas.
Shanin melirik teman-temannya secara bergantian, mereka menunjukkan wajah prihatin kepada Shanin.
"Semangat ya Shanin. Nanti pas istirahat gue sama yang lain langsung nyusulin lo kok." kata Bulan pada Shanin.
"Hmm." Shanin pun bangkit dari duduknya, gadis itu mengambil bukunya lalu pamit kepada Bu Tika untuk keluar. "Permisi Bu."
"Ya."
Shanin berjalan gontai keluar kelas, cewek itu memasang wajah kecut, "Yakali woy gue berjemur dilapangan sono? Panas banget lagi, emang tuh guru gak ada kasian-kasiannya." Shanin mendumel.
Shanin telah sampai ditengah lapangan yang luas, gadis itu dengan malas bercampur dengan kesal mulai membuka bukunya dan memeganginya tepat didepan d**a. Menunjukkan tulisan-tulisan yang telah ia buat tadi.
Untung saja hari ini lapangan dan koridor sepi, jadinya Shanin bisa menjalankan hukumannya tanpa malu dilihat oleh siswa siswi lain.
Lima menit berlalu, Shanin melihat ke arah lorong kelas 11, disana nampak ada kakak kelasnya yang berjalan menuju lapangan menggunakan pakaian olahraga. Shanin mulai terlihat panik dan ketir-ketir, jumlah kakak kelasnya yang berjalan dari lorong menuju ke lapangan terlihat semakin banyak.
Pastinya sekarang ini adalah waktunya jam olahraga, dan memang benar, hari ini adalah jadwalnya pelajaran olahraga untuk kelas 11 IPA 1.
"Aduh mampus, gimana nih?" Shanin menggigit bibir bawahnya. "Ya ampun kakak kakak, gak bisa apa ya olahraganya dilapangan sebelah aja jangan disini."
Suara keramaian dan keributan mulai terdengar jelas ditelinga Shanin, kakak kelasnya itu kini sudah pada berkumpul dilapangan.
"PARARUNTEN AKANG TETEH!" Alung memperagakan gerakan yang dilakukan oleh seorang perempuan yang viral waktu itu.
"Perlahan engkau pun menjauh dari diriku, melupakan semua yang tlah terjadiii~~~" Reza bernyanyi, wajahnya galau sekali.
"LIHAAAAT YANG MENGAKU BUNDAMUU, BAJUNYA BEGITU LUSUH!" Alung mendekatkan wajahnya ke arah Aksa pada saat kata 'lusuh'.
"Muka lu yang lusuh nying," sahut Aksa jengkel.
Reza menggaruk kepalanya, "Lo ngapain sih Lung? Lagu apaan dah?"
"Makanya main t****k biar tau!" balas Alung.
"PARARUNTEN AKANG TETEH!" Alung berteriak ditelinga Reza.
"Woy anying sakit kuping gua!" kesal Reza.
"BODO A--NJING ITU SAHA?!" Alung melihat kearah Shanin yang kini tengah berbalik badan.
Aksa yang tadinya tengah asik memantul-mantulkan bola basket kini langsung mengikuti arah pandang Alung. Cowok itu menyipitkan pandang, berusaha melihat dengan jelas. Dari belakang sepertinya Aksa tahu itu siapa.
"Bagus bener badannya," cetus Reza.
Aksa menempelengnya, "Mau gue culek?!"
"Kagak lah!"
"Makanya jangan macem-macem." kata Aksa.
Alung menyenggol Aksa cukup kuat, "Acieh! Ada apaan lo sama Shanin? Roman romannya nih kaya ada ekhem." sindir Alung.
"Nggak ada."
"Dia kenape ye? Dihukum?" tanya Reza.
"Kagak tau deh," balas Alung.
Shanin bisa merasakan punggungnya yang panas, karena ia merasa banyak sekali yang tengah memperhatikannya dibelakang sana, termasuk Aksa. Shanin kesal sekali, kenapa harus jadwal kelasnya Aksa yang olahraga?!
Dikoridor hadapan Shanin ada beberapa anak-anak kelas 10 yang lewat yang merupakan teman seangkatannya, tetapi Shanin tidak mengenal mereka. Mereka berhenti tepat didepan Shanin, sambil membaca tulisan yang ada dibuku yang sedang dipegang Shanin. Lantas mereka langsung tertawa.
"EH EH ADA ORANGNYA TUH, PANGGIL YUK!" seru cewek itu.
Shanin membulatkan matanya, "Eh jangan dong!"
"KAK AKSA! LIAT SINI KAK!" teriak cewek itu yang membuat Shanin ingin melemparinya sepatu sekarang juga.
"Eh kurangajar ya lo! Main panggil-panggil segala!" kesal Shanin.
"Sorry ya, biar seru gitu hehehe." balas anak itu.
"Seru palalo," balas Shanin kesal sekali.
Mumpung guru olahraga Aksa belum datang, jadinya Aksa pun berniat untuk berjalan mendekati Shanin, bersama dengan Alung dan Reza.
Shanin merasakan mereka makin dekat dengannya, sampai akhirnya ada suara Alung yang terdengar.
"a***y, ada siapa nih? Dihukum ya neng?" tanya Alung berdiri disebelah Shanin.
"Bawa apa tuch?" tanya Reza.
Shanin pun langsung mendekap bukunya, gadis itu menyembunyikan tulisan yang terlihat. "Bukan apa-apa kak. Kakak pada ngapain disini? Nanti kalo gurunya dateng bisa dimarahin loh," kata Shanin.
Aksa terkekeh ringan, "Gurunya temen akrab gue, jadi selow aja."
"Serius Sa? Sejak kapan?!" tanya Reza.
Alung menyahut. "Dah lah anak pungut kagak tau jokes lu."
"Tai."
Aksa mengangkat sebelah tangannya, hendak mengambil buku Shanin, tetapi Shanin segera menghindar.
"Coba liat," pinta Aksa dengan suara halus.
"Nggak mau," balas Shanin.
Sementara anak-anak yang tadi menonton Shanin malah makin mengompori, "Tadi ada tulisannya lope lope gitu kak! Shanin love Aksa gitu! Awokawok." tawanya.
Aksa menatap Shanin sambil menahan senyumnya, "Seriusan lo nulis kaya gitu?"
"Nggak. Apaan sih lo semua! Sok tau banget!" balas Shanin kepada teman-temannya.
Karena Shanin sedang lengah saat ini, dengan segera Aksa mengambil buku yang didekap oleh cewek itu, Shanin terkejut, ia hendak mengambil kembali bukunya, tetapi Aksa terlalu tinggi.
"Kak! Jangan dibaca plis!" Shanin panik.
Sayangnya, Aksa sudah membacanya sedetik yang lalu, cowok itu mengulas senyum, manis sekali. Hal itu berhasil membuat Shanin langsung diam seakan terpesona.
Aksa diam beberapa saat sambil menatap Shanin, lalu tiba-tiba saja cowok itu menyeletuk.
"Yaudah, i love you too." ucap Aksa.