Almira bangkit perlahan, dengan perasaan marah yang dia coba redam sekuatnya. Rasanya sungguh sangat sakit, bagai dicabik-cabik. Sementara cairan bening tak mau berhenti menetes dari kedua sudut matanya. Dadanya terasa begitu sebah tercekat menahan isak. "Kamu benar-benar laki-laki b******k, Mas!" Umpatan itu lagi-lagi meluncur dari mulut Almira, dia terduduk sambil mengusap perut buncitnya yang terasa mengencang. "Bisa-bisanya kalian berdua menikamku sedemikian jahat! Apa salahku, Mas? Apa!" Tangisan Almira tertahan, dan rasanya sangat sakit sekali. Kenyataan yang baru saja dia dengar benar-benar meluluhlantakkan segalanya. Kenapa ada orang setega itu? Kenapa Sandi begitu tega menyakitinya? "Al ..." Sandi beranjak, mencoba menjelaskan sekali lagi kepada sang istri. Kakinya melangkah

