31. Mengagumi CiptaanNya

1206 Words

Menjelang magrib hujan benar-benar reda, menyisakan hawa dinginnya yang menusuk tulang. Embusan malam masuk melalui celah pintu belakang yang terbuka. Dersiknya berpadu dengan dentingan sendok dan piring, menciptakan sebuah nada yang menjadi satu-satunya pengisi kesunyian. Mbah Haji telah selesai makan dan meninggalkan meja makan. Seperti sengaja, sosok sepuh itu hanya makan sedikit dan buru-buru beranjak. Kini, hanya ada aku, Ulil, dan kesunyian. Masing-masing di antara kami tidak ada yang tampak ingin memecah kebisuan. Di sisiku, Ulil makan dengan tenang. Sesekali sambil melirikku dan matanya diepenuhi cahaya yang berpendar indah. Namun, tidak ada kata yang terucap. Aku pun enggan untuk membuka suara, membiarkan rasa canggung dan grogi memenuhiku. Berbanding dengan isi piringku yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD