34. Telaga Kesucian

1323 Words

Seharian cerah, langit turut berbahagia menyambut hari kemenangan. Semua orang bersuka cita bersilaturrahmi mengunjungi sanak saudaranya. Di mana-mana ada senyum dan tawa. Namun, begitu hari merambah sore, mendung tebal menggelayuti. Hanya dalam hitungan menit langit mengucurkan tangisnya disertai angin dan petir yang menyambar-nyambar. Kelelahan keliling bersilaturrahmi ditambah turut menemui tamu yang datang silih berganti ke rumah Ibu, aku melupakan selimut tebal yang kujemur pagi-pagi buta sebelum berangkat ke masjid untuk melaksanakan salat Ied. Tergopoh-gopoh kuayunkan kaki keluar rumah. Namun, sudah terlambat. Tubuhku basah kuyup menerjang hujan, sementara selimut bulu malang tersebut sudah berkali-kali lipat lebih berat, menyerap air hujan. Tenagaku nyaris tidak kuat mengangkatn

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD