Seperti ruang kelas pada umumnya, suasana hiruk-pikuk kelas XII IPA 4 terjadi setelah upacara usai. Kebanyakan dari mereka mengeluh sembari mengipasi wajah yang memerah dan berkeringat dengan topi ataupun buku tulis. Ada juga yang langsung membentuk kelompok kecil, berteriak heboh saat salah satu dari mereka terang-terangan bilang saling curi pandang dengan gebetan saat upacara tadi. Juga, maniak belajar yang selalu duduk paling depan, sudah siap belajar dengan buku di meja padahal guru bahkan belum muncul.
“Eh, eh, jadwal pertama hari ini matematika, ‘kan?” tanya salah satu dari mereka.
“Yoi, tapi yakin, deh, kita belum belajar pasti. Masih awal semester, kok,” jawab lainnya.
“Yang ngajar guru siapa?”
“Tahun lalu Bu Siska, nggak tahu kalau berganti.”
Semua percakapan itu bagai angin lalu di telinga Aile. Gadis itu justru duduk menyendiri di mejanya dengan ponsel di tangannya. Ia senyum-senyum sendiri menatap kalimat manis di kolom komentar Hate That CEO.
Gandika:
Huaaaa, cerita baru lagi! Author semangat! Karyamu benar-benar something!
Sejak pertama kali menulis di Dreame, pembaca bernama Gandika ini sudah menemaninya, memuji dan memberi saran untuk tulisannya di setiap bab dan selalu menjadi penyemangatnya untuk menulis. Benar-benar pembaca yang setia.
“Ah, manis sekali,” gumamnya tak dapat menahan senyum.
“Cie, cie, yang lagi kesemsem. Chattingan sama siapa, tuh?” goda Rona yang duduk di bangku belakang Aile sembari mencondongkan tubuhnya ke depan.
Aile segera menjauhkan ponselnya dari gadis itu dengan ekspresi risih. “Nggak usah kepo lo!” hardiknya.
“Cie, cie, nggak mau dilihat chat-nya. Aile udah pinter pacaran, ya?” Romi kembaran Rona ikut-ikutan menggoda Aile.
“Sok tahu lo berdua! Sana, nggak usah campurin urusan gue!” sinis Aile dan duduk menyamping, bersandar ke tembok agar keduanya tak bisa mengintip lagi.
“Eh, eh! Sekolah kita kedatangan guru baru!” seru Kania. Admin lambe turah kelas itu muncul membawa berita terkini dan duduk di kursi kosong samping Aile untuk mengatur napasnya.
“Laki-laki?” tanya Rona antusias.
“Iya, masih muda njir! Ganteng lagi!” jawabnya speechless.
“Yes!” Gadis-gadis lain di kelas itu ikut antusias.
Aile menatap keduanya bergantian. “Aneh! Gitu aja heboh,” sinisnya.
Kania menatapnya jengah. “Ck, lo yang aneh. Umur begini wajar tergila-gila sama paras tampan. Lo kayaknya yang perlu dipertanyakan,” ejeknya.
“Gue nggak seperti yang di pikiran lo itu!” sembur Aile.
“Memangnya apa yang ada di pikiran gue?” pancing Kania, tersenyum usil.
“Pergi lo! Ngapain duduk di kursi orang, sana!” Aile mendorong gadis itu dengan kakinya yang terbalut kaus. Sepatunya dilepas karena kakinya berkeringat.
“Ish, lo kasar banget, sih. Lagian itu kursi kosong, kok, bukan kursi lo,” keluh Kania merasa nyeri di bagian pinggulnya akibat tendangan Aile.
“Terserah gue. Pokoknya meja sama dua kursi ini dalam kuasa gue,” ujar Aile songong.
Kania melayangkan tinjunya ke udara dengan gemas. “Pengen gue tonjok.”
“Tonjok aja!”
“Woi, udahan geludnya! Guru baru yang lo bilang tadi jalan ke arah sini, Nia.” Seorang siswi yang berdiri di depan pintu, mengawasi guru datang, berseru lantang.
“Beneran?!” Mata Kania membulat sempurna.
“Cepetan duduk rapi!” ketua kelas memberi arahan.
Semuanya akhirnya berhamburan, masing-masing berlari ke bangku masing-masing dan duduk rapi. Aile pun ikut memakai sepatunya lagi dan segera menyimpan ponselnya di laci.
Seorang pria yang masih muda akhirnya masuk ke ruang kelas itu. Tatapan matanya setajam elang, menusuk siswa satu per satu hingga membuat kelas yang tadinya ribut kini hening. Suasananya tiba-tiba saja menjadi suram sejak kedatangan guru itu.
“Tampan, sih, tapi kayaknya galak, deh,” bisik Rona pada kembarannya.
“Jangan berani-berani suka sama beliau. Gue nggak mau punya calon ipar modelan gitu,” balas Romi memperingati kembarannya.
“Lo kira gue gila mau pacarin guru sendiri?”
“Ck, diam lo berdua.” Aile menegur keduanya tanpa menggerakkan bibirnya dan tanpa berbalik, walaupun begitu keduanya masih bisa mendengarnya dengan jelas.
“Kelas 12 IPA 4?” tanya guru tersebut beberapa saat kemudian.
“Iya, Pak!”
“Baik. Selamat pagi semuanya.”
“Pagi, Pak!”
“Langsung saja, saya perkenalkan diri. Nama saya Ganasra Handika, kalian bisa panggil Pak Asra saja. Ah iya, umur saya 27 tahun. Ini hari pertama saya di sini dan saya akan mengajar mata pelajaran matematika, sekaligus menjadi guru BK untuk sementara. Ada yang mau ditanyakan?” Asra mengakhiri perkenalannya dengan senyum tipis, namun tak mengurangi ketegangan di kelas itu.
“Tidak ada, Pak!” seru siswa.
Siswa paham kenapa Asra langsung dipilih jadi guru BK. Pak Asmar, guru BK sebelumnya telah pensiun dan mungkin saja Asra dipilih untuk sementara karena ... ya, menakutkan.
“Buset, nama depannya aja Ganas. Pasti ganas beneran ini,” bisik Romi khawatir. Ia paling b**o soal hitung-hitungan masalahnya.
“Sekarang jam pelajaran matematika, ‘kan?” tanya Asra lagi setelah memeriksa laci mejanya.
“Iya, Pak!”
“Naikkan buku kalian, kita langsung mulai pembelajaran,” perintah Asra membuat siswa menelan kecewa.
Kania yang duduk di belakang Romi langsung cemberut. “Ganteng, sih, tapi gaya kaku banget. Masa iya langsung belajar?”
Asra sesekali menatap siswa-siswi di depannya sembari mengambil buku paket matematika dari dalam tasnya. Ia membaca sejenak buku paket itu dan mengambil spidol dari dalam laci meja guru.
“Siswi yang duduk di bangku kedua dekat jendela, ada apa?” tegurnya pada Aile yang duduk sendirian. Hanya gadis itu yang belum menaikkan buku dan alat tulisnya. Hanya diam menatap meja dengan ekspresi seolah tak percaya itu adalah meja.
Aile terkesiap dan menatap sekelilingnya dengan linglung. Ia buru-buru mengambil bukunya dari dalam tas setelah menyadari semua temannya memandangnya dengan mata dibulat-bulatkan, berusaha menyadarkan gadis itu.
Aile menatap Asra sejenak dengan sorot tak terbaca. “Ma-maaf, Pak,” cicitnya pelan.
“Baik, kali ini saya maafkan. Biar saya beritahu, saya paling tidak suka ada siswa yang melamun atau memikirkan hal lain saat saya sedang menjelaskan. Mengerti, semuanya?” tegas Asra.
Para siswa menjawab dengan raut tegang. “Mengerti, Pak!”
“Suka juga, kan, lo?” bisik Kania yang duduk di belakang Rona, mencondongkan tubuhnya ke depan, membelah jarak antara Romi dan Rona.
Aile berbalik dan mendelik pelan pada gadis berambut panjang itu . Saat guru baru tersebut sibuk menulis di whiteboard, ia mencuri-curi pandangan pada beliau. Aile bukannya terkesima dengan ketampanan beliau.
Setitik pun tak ada maksud seperti itu.
Ia hanya tiba-tiba merasa semuanya kebetulan, kebetulan yang membuatnya tiba-tiba merasa gelisah. Ganasra Handika, tokoh utama yang berperan sebagai CEO di cerita barunya dan juga berumur 27 tahun. Itu semua murni dari pikiran Aile saat memberikan karakter pada tokoh dalam ceritanya. Bagaimana bisa nama dan umur tokoh fiksi sama persis dengan gurunya yang kini mencorat-coret whiteboard kelasnya?
***
Lagu Nothin’ On You mengalun lembut di cafe yang bernuansa alam dengan segala perabotan dari kayu itu. Di bagian sudut yang mempunyai spot foto instagramable, Aile duduk sendiri di sana dengan seragam SMA masih melekat di tubuhnya. Matanya fokus pada ponselnya. Di mejanya terdapat jus alpukat yang tersisa setengah.
Matanya beralih dari layar ponsel ketika mendengar denting bel pertanda ada yang masuk ke dalam cafe. Ia melambaikan tangannya, menyapa seorang gadis yang menghampirinya dengan langkah tergopoh-gopoh masih dengan almamater kuliahnya.
“Sorry banget, Le, gue buat lo nunggu lama. Dosen gue masih sibuk jelasin materi padahal jamnya udah selesai,” ucap gadis itu dengan napas terengah-engah.
“It’s okay, Kak,” balas Aile ramah. “Duduk, gih. Mau pesan minuman apa?” tawarnya.
“Jus alpukat aja,” sahut gadis itu sembari duduk di kursi kayu, berhadapan dengan Aile.
“Mas, jus alpukatnya satu, ya!” seru Aile pada waitress.
“Kak Karina kenapa tiba-tiba ngajak ketemu?” tanyanya. “Sorry, kemarin nggak angkat teleponnya, lagi makan bareng Mama tapi abis itu telepon balik, eh malah diluar jangkauan,” ungkapnya.
“Nggak apa-apa. HP gue kemaren lowbat. Btw, selamat, ya, naskah lo udah signed lagi,” balas Karina mengucapkan selamat.
Gadis itu awalnya hanya teman dunia maya Aile. Berhubung mereka sama-sama menulis di platform Dreame, dipertemukan dalam satu grup penulis dan tinggal di daerah yang sama, keduanya akhirnya akrab dan sering bertemu.
“Hehe, iya Kak. Makasih, ya,” ucap Aile nyengir.
“Btw, penulis satu grup kita pengen meet. Lo mau ikutan?” ajak Karina antusias.
“Penulis satu grup? Wah, mereka, ‘kan, tersebar di daerah-daerah lain, malahan ada yang beda pulau. Memang bisa, ya?” tanya Aile tak percaya.
Karina mengangguk. “Udah diatur itu, mah. Ketemuannya juga nanti dekat sini, kok,” jelasnya. “Ah, makasih, Mbak,” ucapnya ramah pada waitress yang membawakan jus alpukat.
“Kapan rencananya?” tanya Aile.
“Minggu ini, hari Sabtu,” jawab Karina lalu menyeruput jusnya.
Aile langsung cemberut. “Kayaknya gue nggak bisa ikutan. Hari Sabtu gue udah ada janji.”
“Janji?” beo Karina lalu senyum. “Lo udah punya pacar, ya?”
Aile lantas menggeleng cepat. “Nggak. Maksudnya, janji sama keluarga, Kak. Ada acara keluarga, gitu,” jelasnya lagi, tak ingin ada salah paham.
“Ooh, iya, gak apa-apa. Nanti dibahas lagi, siaap tahu bisa diundur hari Minggu aja. Bisa, kan?”
“Iya bisa, Kak.” Aile mengangguk. “Btw, Kak, aku mau nanya sesuatu,” lanjutnya sangsi.
Karina mengangguk sembari menyeruput jusnya. “Silakan.”
“Kakak pernah dapat karakter tokoh cerita Kakak sama dengan karakter seseorang di dunia nyata?” tanya Aile, menelan ludah.
Karina berpikir sejenak lalu mengangguk. “Iya, sih. Secara karakter tokoh-tokoh cerita gue semuanya terinsipirasi dari orang-orang di sekitar gue.”
“Tidak, tidak. Maksudnya, sebelumnya nggak pernah ketemu. Pas ketemu malah dapat karakternya, contoh nama dan umur sama persis gitu, Kak,” ralat Aile, lebih merincinya lagi.
Karina terdiam beberapa saat. Keningnya berkerut. “Mungkin ada yang sama persis, tapi ... kalau ketemu sama kita, kayaknya itu agak mustahil, ya,” jawabnya skeptis.
Aile tak berkata-kata lagi. Guru baru itu memenuhi pikirannya. Sejak mengenal gurunya itu, Aile berusaha keras untuk menekan dirinya agar menganggap semua kesamaan itu hanyalah kebetulan. Namun, tetap saja kegelisahannya tak kunjung berkurang.