Bab 3

1816 Words
Aira terkejut ketika CEO tengil yang pernah ditemuinya itu keluar dari mobil hitam dengan setelan rapi. Tak lama kemudian, sepasang suami istri yang telah berumur menyusulnya keluar dari mobil.   Aira menatap ibunya dengan raut tak percaya. “Ma, itu, ‘kan ….”   Ibu Aira mengangguk dengan seulas senyum. “Iya, calon tunanganmu tampan, ‘kan?”   Aile tersenyum kecil melihat episode yang sudah siap di-upload pagi ini. Konflik dari ceritanya sudah hampir dimulai. Senyumnya langsung luntur saat mendengar suara pintu digebrak, menyusul suara cempreng yang memekakkan telinga.   “Guys, dengan senang hati gue umumkan, Bu Asti nggak masuk ngajar!” seru Kania lantang di depan pintu kelas.   Siswa lainnya langsung heboh, bersorak seolah tengah memenangkan sesuatu. Menang dari rasa kantuk yang terus mendera tiap Bu Asti mulai menceramahi mereka di tengah-tengah pelajaran berlangsung. Mereka sudah merasakannya di kelas 10, lega karena guru lain yang mengajar di kelas 11 namun kembali bertemu di kelas 12. Tak ada yang tak senang dengan jamkos, bahkan untuk sang ketua kelas. Kecuali, Aile yang hanya duduk santai di kursinya, tak peduli keadaan di sekitarnya.   Baru tiga hari di bangku kelas paling senior tapi sudah tepar. Guru-guru di kelas 12 rata-rata seram dan kaku mengajar.   “Ah, syukur banget bisa tidur bentar. Sumpah tadi pas Pak Asra menerangkan, mata gue berat banget. Pengen tidur tapi lebih takut ditusuk sama matanya,” ujar Romi merinding pelan.   Teman-temannya yang lain langsung mengiyakan. Senin dan Rabu menjadi awal penderitaan mereka di kelas 12. Entah bagaimana bisa mapel matematika berada di jam pertama kelas mereka di dua hari itu. Benar-benar penyiksaan otak.   “Btw, Bu Asti kenapa nggak masuk?” tanya Rona kepo.   “Anaknya sakit katanya.” Kania yang tengah merogoh isi tasnya menyahut tanpa menoleh.   Aile geleng-geleng kepala pelan. “Beliau nggak masuk karena anaknya sakit. Kalian bukannya prihatin malah senang-senang,” cibirnya lalu fokus pada ponselnya.   Semua temannya lantas menatapnya jengah. Aile memang susah diajak senang seperti ini, padahal mereka tahu gadis itu juga setengah mati menahan kantuk kalau Bu Asti mengajar. Kalau Kania dikenal sebagai admin lambe turah kelas itu, maka Aile dijuluki quenn of sensi karena sifatnya yang sedikit-sedikit sinis, sedikit-sedikit marah. Sepertinya ia PMS tiap hari. Mereka tak tahu saja, Aile di rumahnya setiap waktu tebar senyum , terlebih kalau bersama ibunya.   “Le, gue duduk di sini dulu, ya. Mau makan bareng Rona,” pinta Kania dengan kotak bekal di tangannya.   Aile mengangguk acuh tak acuh, lebih mementingkan ponselnya. Ia lalu duduk menyamping agar Kania tak mengintip layar ponselnya.   Kania langsung duduk di sana dengan senyum lebar. Sembari ngobrol dengan Rona, tangannya sibuk membuka bekalnya. Wajahnya mengerut ketika merasa kesusahan membuka tutup bekalnya.   “Kenapa? Keras, ya? Mau dibantu?” tanya Romi.   “Nggak usah, gue bisa sendiri,” tolak Kania mentah-mentah.   Usahanya akhirnya berhasil. Tutup bekalnya terlepas. Namun sayangnya karena terlalu keras menarik, tangannya melenting ke belakang membuat sikunya menyenggol keras ponsel Aile yang berposisi di sampingnya hingga melayang melewati meja depan lalu terseret di lantai dan berakhir kepentok dinding depan kelas.   “Ouch ….” Kania menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya. Ia menatap Aile dengan raut takut sembari perlahan berdiri. Otaknya sudah mengisyaratkan akan ada bahaya yang datang padanya.    “Le, so-sorry. Gue nggak senga— AKHHH! RAMBUT GUE!”   Aile tak memberi kesempatan untuk Kania minta maaf setelah melihat layar ponselnya mendadak cosplay jadi sarang laba-laba. Dengan berang, ia meraih rambut panjang gadis itu dan menariknya keras tanpa peduli erangan sakit yang menggema. Belum puas, tangannya meraih buku catatan matematika yang masih tergeletak di mejanya dan memukuli Kania dengan benda itu.   “Lo bilang maaf? Lihat hape gue kena imbasnya gara-gara kelakuan lo!” gertak Aile di dekat telinga Kania.   “Gue nggak sengaja, anjir!” teriak Kania ditengah-tengah kesakitannya.   Ia bisa merasakan beberapa helai rambutnya tercabut paksa dengan akarnya. Rasa perih itu akhirnya memunculkan sebuah emosi. Ia meraih rambut Aile yang hanya sebahu dan tak lama setelah itu, jeritan Aile menyusul, memenuhi ruang kelas.   “Ini yang lo bilang minta maaf?!” hardik Aile kesakitan.   “Lo yang narik rambut gue lebih dulu!”   “Ya, berarti minta maaf lo nggak ikhlas!”   “Gimana mau ikhlas, lo pakai kekerasan gini!”   “Hape gue rusak gara-gara lo!”   Teman-teman mereka yang lain lantas berdiri membentuk setengah lingkaran dengan keduanya berada di tengah-tengah. Ada yang bersorak-sorak, ada pula yang berniat untuk melerai namun ragu-ragu karena keduanya sama-sama brutal.   Hanya satu dari mereka yang keluar dari kelas, menuju ruang BK hendak melaporkan kejadian di kelasnya.   “Rona, lo mau ke mana?” Romi berteriak pada kembarannya itu.   “Mereka kalau nggak cepat-cepat dipisahin ntar malah botak!”   ***   Asra menatap dua siswi di depannya yang terlihat awut-awutan. Rambut kusut, bahkan yang rontok masih menempel di seragam masing-masing. Baju mereka yang awalnya rapi kini berantakan, keluar dari rok. Keduanya terlihat ingin lanjut berkelahi lagi jika dilihat dari tatapan sinis keduanya. Asra menghela napas panjang dan memijit keningnya.   “Aile, saya tahu kamu marah karena layar ponselmu rusak, tapi bukan begini cara menyelesaikannya. Kamu salah karena menggunakan kekerasan padahal temanmu yang sudah minta maaf. Kamu juga Kania, harus lebih berhati-hati, jangan sampai hal seperti ini terulang lagi. Masih untung hanya layarnya yang retak, bagaimana kalau ponselnya tidak bisa menyala lagi? Aile sampai semarah ini mungkin saja karena ada yang penting di sana. Intinya, kalian berdua sama-sama salah,” jelas Asra setelah mendengar penjelasan keduanya—yang tentu saja diiringi dengan adu bacot.    “Sekarang, saling bermaafan,” suruhnya dengan wajah lempeng.   “Pak!” Keduanya protes bersamaan.    “Atau nilai sikap kalian dikurangi,” imbuh Asra santai.   Keduanya menghela napas jengah. Kania melirik Aile lalu mengulurkan tangannya ogah-ogahan. “Maaf.”   Aile membalasnya dengan raut malas. “Ya, maaf juga.”   “Yakin minta maafnya sudah ikhlas?” tanya Asra.   Keduanya hanya mengangguk agar cepat-cepat keluar dari ruangan itu.   “Baiklah. Kembali ke kelas kalian sekarang. Kalian pelanggan pertama saya di ruangan ini. Jangan kembali sebagai siswa bermasalah atau saya akan kurangi nilai matematika kalian,” ancam Asra.   “Baik, Pak. Terima kasih,” ujar Aile datar lalu keluar lebih dulu. Kania menyusul tak lama setelahnya, sengaja agar tak berbarengan ke kelas.   Setelah merasa benar-benar sendiri di ruangan itu, Asra langsung mendengkus lelah dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk. Menjadi guru ternyata tak semudah yang dibayangkannya. Ia menatap ruang itu dengan pikiran random sampai matanya berhenti pada sebuah objek berbentuk persegi panjang di mejanya. Sebuah buku bersampul hijau itu menarik perhatiannya. Ia mengambilnya dan membaca nama pemilik buku yang tertera di sana.   “Aile Arkania Gunati, 12 IPA 4, catatan matematika.” Asra membaca tanda pengenal buku yang tertempel di sudut kanan atas sampulnya.     Pria itu lalu memutuskan melihat isinya, memastikan salah satu siswanya itu mencatat poin penting materi yang sudah diajarkan. Ia menggumam puas saat melihat catatan gadis itu lengkap dengan tulisan yang kecil dan rapi. Ketika hendak menutupnya, ia tak sengaja melihat halaman belakang yang dipenuhi corat-coret. Asra menajamkan penglihatannya ketika membaca barisan huruf di sana.   “What the …..”   ***   Aile akhirnya mengerti kenapa ibunya menyuruhnya agar tak ke mana-mana di hari Sabtu. Ternyata ia dibawa ke restoran, tetapi belum tahu tujuan utama mereka ke sini. Ibunya bukan tipe yang ke restoran cuma isi perut, pasti akan bertemu dengan orang penting terlebih lagi meja mereka khusus untuk kapasitas maksimal 10 orang. Ayahnya bahkan ikut juga. Di depan mereka, sudah tersedia berbagai jenis makanan yang membuat perut Aile keroncongan.   “Ma, kita mau ketemu sama siapa, sih?” tanya Aile lelah menunggu. Dress selutut yang dipakainya membuatnya tak nyaman karena tak terbiasa memakai pakaian seperti itu.   “Kamu, kok, tahu?” tanya Kayla kaget.   Aile mendecak. “Ck, Aile udah tahu kebiasaan Mama kalau makan di luar gini.”   “Aile, ngomong sama Mama jangan berdecak gitu.” Suara berat ayahnya terdengar jelas di telinga kirinya.   “Iya, maaf, Pa,” balas Aile. Dalam hati ia mencibir, ayahnya belum tahu saja bagaimana mulutnya di sekolah. Mungkin beliau terkena serangan jantung kalau sampai tahu.   “Kayla! Kamu apa kabar?” sebuah suara bernada antusias terdengar dari arah belakang.   “Ah, Andin, akhirnya kamu datang!” balas Kayla tak kalah antusias. “Aku kabar baik. Kamu sendiri?”   “Baik juga, Kay. Maaf kami terlambat, terjebak macet soalnya. Oh iya, salaman dulu, nih, sama suamiku dan putraku,” ucap wanita yang seumuran dengan ibu Aile itu.   Aile lantas berdiri, mengikuti gerakan orang tuanya menyapa tiga orang yang baru datang. Ia tersenyum kecil ketika melihat ibunya seperti anak muda yang cipika-cipiki dengan wanita yang seumuran ibunya. Sementara ayahnya dengan suami wanita itu hanya bersalaman dengan senyum tipis. Ia lalu menyusul, menyalami wanita itu juga suaminya.   “Aile, ini Tante Andin teman Mama. Kami dulu waktu masih jadi pramugari satu maskapai penerbangan. Itu Om Hardin, suaminya,” jelas Kayla pada putrinya.   “Selamat malam, Tante, Om. Saya Aile,” sapa Aile sopan.   “Uh, cantiknya!” puji Andin.   Aile tersenyum, namun dalam hati sudah mewanti-wanti pertemuan seperti ini akan membuatnya mati kebosanan. Giliran saat hendak menyalami seorang pria yang disebut putra oleh Tante Andin, senyumnya sirna ketika baru sadar siapa sosok itu   “Aile?” Asra sepertinya juga baru sadar. Matanya seperti mau meloncat keluar dari kandangnya saat bertubrukan mata dengan Aile.   Nggak, nggak mungkin. Masa iya, gue mau tunangan sama dia? Batinnya merasa ngeri.   “Pak Asra?” Mata Aile juga membulat, namun tak separah Asra. Ia hanya tak menyangka, putra teman ibunya adalah gurunya sendiri.   Para orang tua saling pandang. “Kalian berdua sudah saling kenal?” tanya Kayla.   Aile mengiyakan dengan ekspresi bingung. “I-iya, Ma. Beliau guru Aile di sekolah,” jawabnya terbata.   “Ooh, bagus dong kalau sudah kenalan,” ujar Andin tersenyum. “Asra, kamu salaman, gih, sama Om Farhan dan Tante Kayla,” suruhnya pada putranya.   Aile melirik Asra yang menyapa kedua orang tuanya.   “Aile udah kelas berapa?” tanya Andin setelah mereka semua duduk.   “Udah kelas 3 SMA, Tante,” jawab Aile.   “Berarti umur 18 tahun, ya?”   “Iya, Tante.”   “Kayla, umurnya nggak apa-apa terpaut jauh gitu?” tanya Andin beralih pada Kayla.   “Nggak apa-apa, kok, cuma beberapa tahun doang,” jawab Kayla menggeleng pelan.   Aile berbisik pada ibunya. “Ma, ini sebenarnya ada apa, sih?”   Kayla menoleh menatap anaknya itu dan hanya menjawabnya dengan senyum yang membuat kening Aile berkerut bingung.   “Asra, kamu pasti sudah kenal sama Aile, ‘kan?” tanya Andin.   Asra melirik gadis itu sekilas. Rasa ingin ceplas-ceplos soal Aile yang masuk ruang BK memenuhi pikirannya. “Iya, Ma, kebetulan aku ngajar di kelasnya juga.   Aile meneguk segelas air untuk menahan tawa. Kedengarannya aneh mendengar gurunya itu menggunakan kata ganti aku.   “Nah, bagus kalau udah kenal. Dia ini yang Mama ceritain akan jadi tunangan kamu.”   Aile yang tengah minum langsung tersedak. Matanya membulat sempurna, menatap ibu Asra dengan raut syok.   “Apa Tante bilang!?”   Tunangan dengan gurunya sendiri? Yang benar saja!        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD