Mata Andin berkedip-kedip bingung.
"Mama kamu belum bilang?"
Aile mematung sejenak lalu menatap ibunya kesal. "Ma, ini apa-apaan, sih? Kenapa nggak bilang-bilang sama Aile soal ini?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Aile yang sopan kalau ngomong sama Mama." Farhan menatap tajam putrinya
"Aile nggak peduli!” amuk Aile. “Bisa-bisanya kalian rencanain pertunangan Aile tanpa persetujuan Aile sendiri!”
Kayla menghela napas pelan. "Karena kalau Mama bilang sebelumnya, kamu pasti nggak akan hadir di sini sekarang,” ujarnya lembut, mengerti dengan reaksi putrinya.
"Memangnya harus ya kalian yang ngatur siapa jodoh Aile?" sarkas Aile emosi.
Ia berdiri dengan mata berkaca-kaca dan pergi dari sana. Terserah bagaimana tanggapan Asra dan keluarganya. Ini hidupnya, walaupun itu adalah orang tuanya, mereka seharusnya tak menyetir Aile seperti ini. Pertunangan berarti sudah serius melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ini bukan lagi soal pacar yang bisa diputuskan saat ada masalah.
"Aile!" Gadis itu tak mengindahkan panggilan ibunya.
Kayla menatap Andin dengan raut bersalah. "Maaf, ya, dia memang agak keras kepala. Dia pasti cuma syok aja karena sebelumnya aku belum cerita ini ke dia."
"Duh, dia pasti kaget," lirih Andin khawatir. “Kenapa nggak dikasih tahu lebih dulu, sih? Aku buat pertemuan karena kira anak kamu udah setuju, La.”
“Iya, maaf ya.”
Farhan berdiri namun istrinya menahan tangannya. "Jangan dimarahin, Pa. Makin dikerasi, takutnya dia malah makin membangkang."
"Iya, tapi kelakuannya itu sudah tidak sopan."
Kayla menggeleng pelan, menatap suaminya dalam. Farhan tetap kukuh pada keputusannya untuk menyusul Aile sampai akhirnya luluh pada tatapan istrinya. Ia kembali duduk dan meminum segelas air, berharap bisa mendinginkan kepalanya.
"Biar saya saja yang susul dia, Om, Tante." Asra angkat suara lalu berdiri.
Andin menggenggam tangan putranya dengan binar penuh harap. “Iya, Nak, kamu yang susul aja. Mungkin dia bisa mengerti kalau kamu yang jelasin sama dia.”
Asra mengangguk pelan, tak lupa memberi senyum tipis dan pergi menyusul Aile. Dalam hati, ia mengomel. Bagaimana memberi pengertian pada Aile kalau dia saja tak mengerti bagaimana pemikiran orang tuanya menjodohkannya dengan anak SMA. Sekarang bukan lagi jamannya Siti Nurbaya. Namun terkadang, justru orang-orang 'berada' yang menjodohkan anak-anak mereka dengan anak kenalan mereka dengan tujuan agar bisa menjalin kerja sama. Ujung-ujungnya adalah money. Mengorbankan perasaan anak untuk menghasilkan uang.
Miris.
Namun, Asra tak berpikir orang tuanya seperti itu. Setahunya, ayah Aile adalah dokter senior di rumah sakit terkenal, ibunya mantan pramugari yang kini hanya menjadi ibu rumah tangga. Dilihat dari sisi pekerjaan, tak ada hubungannya dengan profesi orang tua Aile dan orang tuanya. Apakah ibunya dan ibu Aile pernah berjanji akan menjodohkan anak-anak mereka?
Asra menggaruk belakang lehernya. Astaga, ia tak bisa membayangkan bagaimana punya pasangan yang masih labil.
“Aile?” sapanya hati-hati melihat seorang gadis yang duduk di bangku taman yang ada di belakang restoran.
Aile hanya melirik sedikit, menatap gurunya itu dari sudut matanya dan segera membuang muka ke arah lain. Wajahnya pasti kacau sekali. Matanya sembab dan saat mengusap air matanya, maskaranya ternyata luntur. Kalau tahu akan begini, ia tak akan mau didandani oleh ibunya.
“Saya boleh duduk di sini?” Asra bertanya dengan suara dibuat ramah.
Aile menggeser pantatnya sampai berakhir duduk paling pinggir. “Duduknya di ujung aja, Pak,” ujarnya serak tanpa menoleh ke Asra.
Asra menahan senyumnya dan akhirnya duduk di sisi lain kursi. Siapa pun yang melihatnya pasti mengira mereka hanyalah dua orang asing yang duduk di satu bangku.
“Saya mengerti kamu pasti kaget. Saya pun begitu, padahal sudah tahu akan dijodohkan,” ucap Asra membuka topik utama.
“Jadi, Bapak sudah tahu kalau akan ditunangkan dengan saya?”
Asra buru-buru menggeleng. “Tidak. Saya hanya tahu akan ditunangkan, tapi tidak tahu dengan siapa.”
“Seputus asa itu, ya, nyari pacar?” cibir Aile pelan.
“Kamu bilang apa?” tanya Asra tak dapat mendengarnya jelas.
Aile menggeleng pelan. “Tidak, Pak,” elaknya. Beberapa saat, ia mengubah posisinya duduk menyamping agar bisa berbicara dengan Asra lebih leluasa. “Pak, begini aja, gimana kalau Bapak minta sama ibu Bapak buat batalin pertunangan ini? Saya benar-benar belum siap untuk hubungan seperti ini, pacaran saja saya nggak pernah, Pak. Terlebih lagi, saya baru mengenal Bapak belum lama ini, itu pun sebagai guru,” ucapnya dengan nada memohon.
Asra mendengkus keras. “Bagi saya, sudah tak bisa lagi untuk membantah pertunangan ini. Ibu saya tak akan mendengarkan saya. Tinggal dari kamunya saja, kalau bisa meyakinkan orang tua kamu untuk membatalkan perjodohan ini, ibu saya pasti tidak bisa apa-apa.”
“Kalau Bapak kalah sama ibu Bapak, saya malah lebih parah. Ayah saya kalau bilang itu, ya itu. Nggak bisa diganggu lagi, kecuali beliau sendiri yang mau mengubahnya. Bapak aja, deh, yang bilang ke ibu Bapak, tunangannya dibatalin karena saya nggak mau. Saya paling malas ribut sama ayah saya.”
“Sama, Aile. Saya juga malas ribut sama ibu saya.”
“Jadi gimana dong, Pak?” Aile menatap gurunya itu dengan wajah cemberut.
“Apanya?”
“Masa iya pertunangan ini mau dilanjut?”
“Kalau saya, sih, oke-oke saja.”
Aile menatap gurunya itu horor. “Mulut Bapak ringan banget ngomong begitu. Saya yang pusing, masa iya mau tunangan sama guru sendiri, mana udah om-om pula.”
“Heh, kamu tidak sopan ya! Saya ini masih umur 20-an!” sewot Asra.
“Sedangkan saya masih umur belasan,” balas Aile tak mau kalah.
Selama bukan di sekolah, ia bisa membalas perkataan Asra semaunya, terlebih ini menyangkut hal pribadi. Terus terang, Aile merasa Asra tak seperti saat di sekolah. Kelihatannya ramah, tapi tidak ada yang tahu, mungkin saja ini taktik pria itu agar ia menyetujui pertunangan ini.
“Kamu ini ....” Asra tak dapat berkata-kata.
“Ini bukan di sekolah, jadi bisa dong saya membalas kata-kata Bapak. Lagipula, saya ngomongnya realistis, kok.”
“Oke. Saya akan bicara di depan mereka kalau kita sama-sama butuh waktu untuk memikirkannya,” ujar Asra akhirnya.
“Ngomong begitu pasti akan buat mereka berharap kita akan menyetujui pertunangan ini,” bantah Aile.
“Tapi setidaknya kita punya waktu cari cara agar pertunangan ini dibatalkan.”
Aile mencernanya sejenak dan mengangguk mengerti. “Ah, iya. Oke, bagus juga. Tapi, Bapak yang bicara, ya.”
Asra mengangguk, mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya. “Pergi cuci mukamu sebelum kita kembali ke dalam,” suruhnya mengulurkan sapu tangan itu. “Muka kamu semrawut sekali,” tambahnya lagi.
Aile lantas memegang wajahnya dan meringis malu. Astaga, sedari tadi ia ngobrol dengan bawah mata yang menghitam karena maskara. Ia menerima benda itu dari tangan Asra dan berlari ke toilet sembari mengutuk dirinya sendiri.
***
“Aile, duduk di sini dulu, Sayang.”
Aile menghentikan tungkainya yang baru saja ingin menaiki undakan tangga. Ia menyugar rambutnya ke belakang dan bernapas lelah lalu berbalik ke ruang keluarga, di mana ayah dan ibunya sudah duduk di sana. Sepertinya permintaan Asra agar diberi banyak waktu untuk berpikir tak berlaku bagi orang tuanya.
“Terus terang, Mama agak kecewa dengan sikap kamu tadi. Walaupun kaget, nggak seharusnya kamu bersikap seperti itu di depan mereka,” ujar Kayla lembut.
“Aile juga kecewa, Mama nggak cerita ini sama Aile lebih dulu.”
“Mama, udah bilang kan, kalau cerita ini ke kamu pasti kamu nggak akan setuju.”
“Jadi, pertunangan ini semacam pemaksaan buat Aile?” sarkas Aile. “Kalian jadiin keluarga Pak Asra tameng biar Aile nggak bisa apa-apa di depan dan terpaksa menyetujui pertunangan ini?”
“Kamu tidak tahu, Mama kamu lakukan ini karena tahu yang terbaik untuk kamu!” bentak Farhan. “Kami juga tidak asal-asalan mencarikan pasangan untuk kamu, Aile! Mama kamu dan Tante Andin itu teman baik. Daripada kamu pacaran di luar sepengetahuan kami, lebih baik kamu memilih pasangan yang sudah jelas asal-usulnya!”
“Aile ngerti! Tapi, harus ya saat Aile masih sekolah?” lawan Aile dengan mata berkaca-kaca.
“Aile sayang, ini kan baru tunangan. Menikahnya nanti setelah kamu selesai pendidikan,” terang Kayla sabar.
“Ma, Aile masih butuh satu tahun untuk lulus SMA. Belum lagi akan kuliah paling lama empat tahun. Semuanya itu lima tahun. Mama yakin hubungan kami bakal aman-aman saja dengan waktu yang panjang itu? Mama memang kenal baik dengan orang tuanya, tapi enggak dengan anaknya. Nggak ada yang tahu, mungkin aja Pak Asra punya perempuan lain yang disukainya? Kalian mau hidup Aile nggak bahagia?”
“Kamu nggak kasian sama Mama kamu?” todong Farhan lagi dengan tajam. “Bagaimana kalau mereka nanti ceritakan ini ke teman mereka yang lainnya tentang sikap kamu yang tidak sopan itu? Bukan cuma Mama kamu, nama baik Papa juga tercoreng!”
Aile mengalihkan pandangannya dan mendengus pelan. “Di saat ini, kadang Aile merasa nggak beruntung harus dilahirkan di keluarga yang hanya memikirkan nama baik, tanpa memikirkan perasaan korbannya.”
Plak!
Hanya sepersekian detik setelah Aile mengatakan itu, tamparan keras meninggalkan rasa perih di pipinya. Rahangnya mengetat, tangannya terkepal erat, menahan rasa perih dalam hatinya yang lebih terasa dibandingkan tamparan ayahnya sendiri.
“Papa!” teriak Kayla terkejut. Ia mendekati putrinya, ingin memeriksa pipi anak semata wayangnya itu. Namun, Aile perlahan mundur dengan isak tangis yang mulai terdengar samar.
“Ini bahkan belum cukup untuk menghukumnya! Anak tidak tahu terima kasih! Pikir, dari uang siapa kamu hidup selama ini! Uang orang tua kamu! Kamu sudah hidup di rumah senyaman ini dan punya fasilitas yang cukup, apa lagi yang mau kamu cari, hah? Setidaknya balas kebaikan orang tua kamu kali ini!” teriak Farhan berang. “Pokoknya, setuju tidak setuju, kamu harus bertunangan dengan Asra. Mengerti?!”
Aile tak menjawabnya. Tanpa berkata apa pun, ia berbalik menuju kamarnya, menaiki undakan tangga dengan pandangan yang mengabur karena air mata.