Bab 5

1409 Words
Aile melangkah masuk ke dalam kelas dengan tungkai yang melangkah lunglai. Ekspresi wajahnya menggambarkan dengan jelas bagaimana buruknya mood-nya sekarang. Ia terlihat seperti orang penyakitan, namun nyatanya kena tekanan mental. Tas punggungnya yang hanya tersampir di satu bahunya diletakkan asal ke meja. Matanya melirik jam yang melingkar di pergelangan mungilnya. Masih beberapa menit sebelum upacara dimulai. “Huft.” Aile membuang napas, terdengar berat. Bagaimana tidak, sejak mengetahui ia akan bertunangan dengan gurunya sendiri, hari-harinya tiba-tiba saja terasa berat, ditambah hatinya yang masih terluka akibat tamparan ayahnya. Bahkan untuk bangun pagi saja, rasanya sangat susah. Aile ingin malam punya waktu yang panjang. Nyatanya, siang dan malam mempunyai waktu yang sama banyaknya, tetapi mengapa malam terasa sangat singkat? “Lo sakit, ya, Le?” tanya Rona dari belakang. Tadinya gadis itu tengah ngobrol dengan Kania. Tetapi, napas berat Aile yang terdengar jelas di telinganya membuatnya jadi ingin tahu, terlebih melihat wajah Aile yang seperti mayat. “Gue nggak sakit. Ntar kalau bel upacara bunyi, bangunin gue, ya,” pinta Aile sembari perlahan menutup matanya. “Oh, oke—“ Kriiiiiiiiiing! Rona tersenyum kecil dan menepuk bahu Aile dengan pelan. “Mbak, upacaranya udah mau mulai.” “Ck.” Aile mendecak pelan. Dengan mata yang masih terbuka setengah, tangannya menarik topi yang selalu disimpannya dalam laci lalu berjalan keluar kelas dengan langkah terseret-seret. “Astaga, mager banget,” ucap Rona mengelus dadanya. Kania yang tengah merapikan dasinya dan memakai topinya terlihat khawatir. “Dia begitu karena gue, gak, ya?” tanyanya. “Memangnya lo apain dia?” tanya balik Rona. “Nggak ingat gue udah bikin layar hapenya retak?” “Oh iya juga!” Rona berseru antusias. “Tapi, kenapa baru sekarang dia begitu? Iya, sih, hampir tiap hari mukanya kecut mulu kalau ada masalah, tapi abis dari ruang BK mukanya nggak separah sekarang, ‘kan? Dia cuma cuek-cuek aja, tuh, sama lo,” komentarnya. “Mungkin karena ketahuan ortunya dan dimarahin?” tebak Kania. Rona mengendik acuh. “Entahlah. Tapi, sebelum lo ditagih ongkos perbaikan, mending diam aja dulu,” sarannya sembari mengambil dua topi sekolah dari dalam tasnya. “Romiii, ambil topi lo! Upacara udah mau mulai!” “Bentar!” “Hentiin dulu game-nya! Lo mau kena hukuman lagi, ya?!” “Ck, bacot banget, sih, lo!” “Yaudah! Gue lempar nih topi lo keluar jendela!” “Iya, iya! Siniin topinya!” Diiringi dengan background suara si kembar yang saling sahut-sahutan karena persoalan topi, Kania mengecek dompet mini nan imut miliknya yang selalu ia bawa ke manapun pergi. Uang untuk ganti rugi layar layar ponsel Aile sudah sedia, ini hasil dari korek-korek tabungannya di bank. Namun, sampai saat ini, uang itu belum sampai di tangan Aile. *** Lapangan basket yang juga dijadikan lapangan upacara kini dipenuhi lautan manusia yang merupakan penghuni SMA Cahaya Taruna Jakarta. Bel sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, namun upacara belum juga dimulai. Kebiasaan jam karet sudah melekat erat setiap upacara Senin karena siswa yang susah diatur. Giliran masuk belajar, jadwalnya bahkan belum mulai, sosok guru bahkan sudah muncul di depan kelas. Aile melepas topinya dan menggaruk kulit kepalanya yang berkeringat. Ia lantas mundur ke belakang, berlindung di bawah pohon cemara yang rimbun bersama teman-temannya yang lain. “Ish, kapan mulainya, sih?” gumam Aile kesal. Ia menatap sinis siswa dari kelas 12 IPA 2 yang kali ini mendapat bagian menjadi petugas upacara namun sampai saat ini masih saling melemparkan tanggung jawab. Kalau tahu akan begini, ia ingin lanjut tidur saja di kelas. “Buset, ini upacaranya kapan mulai kalau mereka nggak ada yang mau ambil bagian?” tanya Rona kesal. “Emangnya pas hari Jumat nggak latihan memang, ya? Mereka udah tahu, ‘kan, kalau hari ini bagian mereka jadi petugas upacara?” Kania ikut protes. “Nggak tahu, tuh,” sahut lainnya. “Iya, ih. Coba, deh, yang pembawa bendera ambil dari paskibra aja dulu, dari pada kita mati kepanasan doang ini!” “Bener! Itu si Ami tinggal baca protokol upacara apa susahnya, sih? Kalau gue langsung comot yang itu aja!” “Guru-guru juga kenapa pada negur doang, nggak bantu nyari solusi gitu?” “Ah, ngeselin!” Aile mengentak-entakkan kakinya, merasa lelah berdiri. Ia setuju pada komentar-komentar yang terdengar di sekitarnya itu. Ingin rasanya ikut bacot, namun sekarang ia malas gerak, apa lagi untuk mengeluarkan suara. Sudah cukup energinya terbuang sia-sia hanya untuk menunggu. “Ih, Pak Asra muncul!” pekik tertahan Kania terdengar. “Astaga, capek gue berasa ngilang gitu aja! Kok, bisa ya ada laki-laki sebening Pak Asra?” “Tuh, lihat! Pak Asra menonjol banget berdiri di antara guru-guru tua!” “Eh, dosa lo ngomong gitu!” Aile mendengkus sejenak. Memangnya Asra sebening apa sampai buat teman-temannya meleyot? Perasaan Aile, laki-laki itu biasa-biasa saja. Tampan iya, tapi masih banyak laki-laki yang lebih tampan dibanding guru itu. Contohnya Zayn Malik. “Eh, eh, beliau ngeliat ke arah sini!” pekik Rona ikut-ikutan. Yang lainnya langsung berseru heboh, saling unjuk diri bahwa merekalah yang ditatap oleh Asra. Kehebohan itu membuat Aile tak sengaja menatap ke depan, langsung bertatapan dengan Asra. Walaupun mereka dibatasi oleh jarak, Aile yakin bahwa dialah yang ditatap oleh Asra. Firasatnya berkata seperti itu. Namun, tak butuh waktu lama, Aile mengalihkan pandangannya ke arah lain dan berdehem pelan. Tiba-tiba saja ia merasa grogi, setelah mengingat bahwa laki-laki yang menatapnya tadi itu mungkin saja akan menjadi tunangannya. *** Bukan mungkin lagi, tapi Asra sudah pasti menjadi tunangan Aile. Terbukti dengan kedatangan pria itu dan orang tuanya ke rumah Aile untuk membahas lebih dalam pertunangan mereka. Aile yang duduk di tengah-tengah orang tuanya hanya bisa menunduk, menatap ujung flat shoes-nya dengan tatapan bosan. Walaupun pertemuan kedua keluarga hanya dilaksanakan di rumahnya, namun ibunya tetap menyuruhnya memakai dress yang dibeli untuknya. Asra juga sepertinya mulai jenuh karena sedari tadi orang tua mereka sibuk berdiskusi Sejak kejadian pipinya ditampar, Aile tak pernah mau melihat wajah ayahnya. Bahkan sekarang di saat sosok itu berdiri di sampingnya, ia menganggapnya tak ada. Baru membalas perkataan ayahnya saja ia sudah menerima ‘hadiah’, bagaimana jika ia menunjukkan sifatnya seperti saat di sekolah? “Untuk cincin pertunangannya, pakaian, perhiasan untuk Aile biar aku yang urus, Kay,” ujar Andin sembari mencatat di memo ponselnya. “Lho, kenapa? Aku bisa, kok, urus yang itu. Lagi pula kamu juga masih harus siapkan apa-apa yang diperlukan Asra,” ucap Kayla. Andin tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Asra nggak terlalu banyak butuh. Lagipula, aku nantinya beli bareng Aile, sekalian biar kami akrab. Iya, kan, sayang?” Ia menatap Aile dengan lembut. Aile mengangguk kecil. “Iya, Tante.” “Lagipula, kan kamu yang udah handle lokasi dan dekorasinya , jadi udah adil, ‘kan kalau aku yang urus tentang ini,” imbuh Andin lagi. Kayla mengangguk. “Oke, kalau gitu. Jadi, untuk lokasinya udah fix di Bali, ‘kan? Berhubung kita sama-sama mau acara ini privasi, jadi aku juga cuma undang keluarga dekat aja. Nanti serahkan daftar nama yang mau kamu undang, biar undangannya papa Aile yang urus.” “Oh iya, nanti aku kirim nama-namanya,” sahut Andin. Farhan, ayah Aile mengeluarkan benda pipih dari dalam tasnya. “Ini contoh undangannya. Sudah bagus atau mau cari model yang lain lagi?” Ayah Asra mengambilnya, mengamatinya sejenak dan mengangguk setuju. “Ini udah bagus menurut saya. Ma, gimana menurut kamu?” Hardin bertanya pada istrinya. Andin melihatnya lalu mengangguk. “Ini udah bagus.” Hardin lalu menaruhnya di meja dan sibuk ngobrol dengan Farhan mengenai perencanaan jalannya pertunangan anak-anak mereka nanti. Aile lalu iseng mengambil undangan tadi. “19 Juli 2020 ....” Aile membaca tanggal pertunangan mereka. “Hah?” serunya kaget hingga menarik perhatian. “Kenapa, Aile?” tanya ibunya khawatir. “19 Juli ... maksudnya, acaranya minggu depan, Ma?” Mata Aile membulat tak percaya. Kayla menatap Andin sekilas dengan tatapan tak enak. “Iya, Sayang. Kamu, kok, kaget, sih? Bukannya ini udah dibahas sama-sama tadi? Kamu melamun lagi, ya?” “I-iya, tapi ... ini nggak terlalu cepat, ya?” cicitnya pelan. Tanpa menoleh pun, ia sudah tahu ayahnya sudah tak sabar ingin menegurnya. Andin tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Aile. Ini baru tunangan, kok, Sayang.” Aile merenung sejenak lalu mengangguk linglung. Ia mengamati para orang tua yang kembali sibuk berdiskusi. Netranya lalu tak sengaja bertubrukan dengan netra hitam milik Asra. Pria itu sepertinya memperhatikannya sedari tadi. Kedua saling tatap beberapa saat, seolah tak ada yang mau mengalah lebih dulu. “Apa lihat-lihat?” tanya Aile tanpa suara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD