Aile melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah area kantor, memotong jalan yang langsung menuju parkiran khusus guru agar lebih dekat. Waktu pulang masih sejam lagi, namun jam terakhir kelasnya kosong. Ia memilih pulang cepat, mengurung diri di kamar untuk menabung bab ceritanya. Tubuhnya yang ramping menyusup di antara barisan mobil guru yang terparkir rapi, menuju parkiran siswa yang ada di seberangnya.
Namun, saat melewati sebuah mobil Pajero Sport berwarna putih, pintu bagian depan mobil itu tiba-tiba saja terbuka membuat Aile terkejut. Ia bahkan tak sempat memekik kaget ketika sebuah tangan kekar menariknya hingga ia terpaksa masuk dan langsung terduduk di samping kursi kemudi— entah bagaimana bisa pemilik tangan kekar itu menariknya dari kursi kemudi.
“Pak Asra?” lirih Aile menatap lelaki di sampingnya dengan binar tak percaya.
“Iya, ini saya,” balas Asra tak acuh sembari menyalakan mesin mobil.
Aile berdecak kesal. “Ngapain narik saya, sih, Pak? Nggak sopan banget! Mana kasar lagi!”
“Bisa-bisanya kamu ngatain guru sendiri tidak sopan!” Asra mendelik pada gadis itu.
“Ya, emang kenyataan!”
“Ck, kamu udah mulai berani ngomong seenaknya sama saya, ya?”
“Memangnya kenapa? Toh, saya sama Bapak sama-sama nggak bisa menghindari pertunangan itu lagi.”
“Tapi, tetap saja ini masih di sekolah.” Asra bersikeras.
Mendengar itu Aile memutar bola matanya jengkel. “Yang lebih dulu narik paksa saya masuk siapa? Itu Bapak. Bapak nggak bisa nuduh saya sementara Bapak sendiri seenaknya narik saya masuk ke sini,” cecar Aile. “Udah, ya, Pak. Kalau nggak ada yang mau penting, saya turun aja,” imbuhnya hendak membuka pintu, tetapi Asra segera menahannya.
“Jangan, pulang sama saya saja,” ajak Asra datar.
“Lha?” Aile mengerutkan keningnya. “Saya ke sini naik motor, Pak. Masa iya saya mau ninggalin motor kesayangan saya di sini, sih?” tanyanya dengan nada protes.
“Motor kesayangan?” beo Asra polos. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk seolah baru teringat sesuatu. “Ah, yang Scoopy itu, ya? Sudah sampai lebih dulu di rumahmu, Aile. Kamu ditinggalin sama motormu sendiri,” ujarnya tersenyum tipis.
Aile mematung sejenak. Tanpa berkata apa-apa, gadis itu keluar dari mobil Asra secepat kilat, berlari menuju parkiran motor siswa. Ia meremas rambutnya frustasi saat tak melihat motor Scoopy hitamnya sudah tak ada di tempat ia biasanya parkir.
“Aish, Pak Asra ....” Aile mendesis, berbalik pada Pajero Sport putih itu. Walaupun tak melihat ekspresi Asra karena kaca mobil yang tak tembus pandang dari luar, ia yakin laki-laki itu pasti tengah menertawainya di dalam mobil.
Tak lama setelah itu, mobil milik Asra menyala lalu melaju dan berhenti di depannya. Kaca mobil turun setengah, menampilkan wajah datar Asra.
“Naik,” suruhnya.
“Bapak ke manakan motor saya?” tanya Aile tak menuruti perintah Asra.
“Saya sudah bilang, motormu sudah pulang lebih dulu ke rumah kamu,” jelas Asra.
“Enggak mungkin jalan sendiri!” bantah Aile tak mau mengalah.
Asra menghela napas lelah lalu berujar, “Saya dikasih kunci cadangannya sama Mama kamu. Terus Kang Burhan yang bawa pulang ke rumahmu. Puas?”
Aile merengut dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, masih kesal.
“Sampai kapan kamu mau berdiri terus di situ? Ayo naik sebelum guru atau siswa lainnya lihat,” perintah Asra, kali ini dengan nada lebih tegas.
Keduanya saling berpandangan untuk beberapa saat. Masing-masing unjuk tatapan elangnya. Kejadian itu berlangsung beberapa detik hingga akhirnya Aile mengalihkan tatapannya lebih dulu dengan jengah.
“Ish!” desis Aile kesal. Namun, ia tetap masuk ke dalam mobil. Susah juga kalau sampai ada orang yang melihat mereka hanya berdua di parkiran yang sepi.
Asra melirik gadis yang melipat tangannya di depan d**a dengan ekspresi datar. Senyum gelinya tak dapat tertahan lagi hingga ia harus menutup mulutnya dengan satu tangan. Satu tangannya lagi mengendalikan kemudi. Mobilnya perlahan meluncur, meninggalkan pekarangan sekolah yang terlihat sepi karena kebanyakan kelas tengah melakukan pembelajaran.
***
Aile turun dari mobil dan mengamati rumah dua lantai Asra dengan tatapan kagum. Tak lebih besar dari rumahnya, namun rumah Asra terlihat lebih mewah dibandingkan rumahnya yang bergaya minimalis. Ia menyusuri undakan tangga, mengikuti Asra untuk masuk ke dalam rumah.
“Kok, sepi, Pak?” bisik Aile pelan.
Belum sempat Asra menjawabnya, Andin sudah muncul dari dalam salah satu kamar dengan senyum cerah menatap calon tunangan putranya. Tangan wanita itu memegang sebuah paper bag.
“Ah, selamat datang, Sayang!” sapa Andin lalu menuntun Aile agar cipika-cipiki dengannya.
Aile hanya menurutinya, walaupun merasa canggung. Ia menatap Andin dengan senyum tipis. “Tante apa kabar?”
“Baik-baik aja, kok. Ah, iya, Asra udah kasih tahu kita mau ke mana?” tanya Andin
Aile berkedip-kedip bingung, menatap Asra sekilas. “Ng, nggak, Tante,” jawab Aile akhirnya. Ingin rasanya ia mengadu bahwa Asra memaksanya pulang bersama dan menyuruh Kang Burhan melarikan motornya. Namun, keinginan itu ia pendam baik-baik. Baginya, Tante Andin masih asing. Bisa saja awal-awalnya Tante Andin bersikap seperti ini, tapi saat kenal lama sikapnya perlahan berubah.
Karena itu, Aile lebih memilih menjaga sikap di sekitar keluarga Asra. Terlebih lagi ia sudah meninggalkan kesan buruk saat pertama kali mereka bertemu.
“Hari ini kita mau fitting baju kamu dan Asra, terus beli perlengkapan lainnya juga, termasuk cincin,” jelas Andin. “Sebelum pergi, kamu ganti baju dulu, nih. Nggak mungkin, kan, mau ke mall pakai seragam sekolahmu,” tambahnya sembari menyerahkan paper bag yang tadi dipegangnya.
“Ah, i-iya, Tante.” Aile segera menerimanya.
“Kamu nggak capek, 'kan? Atau lapar? Biar Tante siapin makan buat kamu dulu,” tawar Andin hampir saja bergegas ke dapur, namun Aile buru-buru menahannya.
“Nggak usah, Tante. Saya masih kenyang, kok,” tolak Aile ramah.
“Beneran?” Andin mengerutkan keningnya. “Kita ke mall bukan lima menit doang, lho.”
“Iya Tante, saya nggak apa-apa, kok. Kalau begitu, saya langsung ganti pakaian aja, ya. Terus itu langsung pergi, ‘kan?” tanya Aile mengalihkan. Ia melirik Asra sejenak. Laki-laki itu hanya diam mendengarkan dengan tangan memainkan kunci mobil.
“Yaudah, kalau itu mau kamu. Ganti bajunya di kamar sana, ya. Tante sama Asra tunggu kamu di luar.”
Aile mengangguk lalu berjalan menuju kamar yang diyakininya sebagai kamar tamu. Setelah selesai berganti pakaian, ketiganya langsung meluncur ke Mall terdekat. Sepanjang perjalanan, Aile benar-benar merasa canggung. Andin menyuruhnya duduk di depan mendampingi Asra yang tengah menyetir.
Aile tentu saja merasa tak enak. Masa iya, dia duduk di depan sementara ibu Asra yang duduk di belakang. Namun, ia malas menolak hal itu. Resikonya, sepanjang perjalanan lehernya lebih sering menoleh ke belakang karena Andin terus mengajaknya bicara.
“Menghadap ke depan aja, Le. Tidak apa-apa, kok.” Itu yang dibisikkan Asra pada Aile saat melihatnya sesekali meregangkan otot lehernya. Namun, Aile tak mengacuhkannya.
Mereka akhirnya sampai di sebuah mall yang besar dan luas. Andin memimpin jalan lebih dulu, masuk menyusuri lantai satu bagian toko berbagai jenis flat shoes, high heels, sneaker dan sendal.
“Tante, ini sepatu-sepatunya udah sama dengan sepatu mama saya, kah?” tanya Aile dengan polosnya saat melihat Andin yang langsung membeli enam sekaligus setelah mengukur kakinya. Tiga flatshoes dan sisanya high heels.
“Enggak, dong. Ini semua untuk kamu,” jawab Andin tersenyum manis.
Sementara itu, Aile melongo, tak mampu berkata-kata. Ia menatap Asra, meminta penjelasan lebih lanjut namun Asra hanya menatapnya pasrah, seolah tengah berkata, “Jalani saja, Aile.”
“T-tapi, Tante ... satu aja cukup, kok,” ujar Aile. Semua sepatu yang dibeli tadi pasti mahal-mahal. Bagaimana bisa Andin mencomot enam sekaligus?!
“Eh, nggaklah, Aile Sayang. Enam bahkan kurang. Mana tahu pas acara, sepatu kamu ada yang rusak, jadi bisa langsung ganti karena ada cadangannya,” jelas Andin. “Atau kamu mau tambah lagi?”
Aile spontan menolak. “Nggak usah, Tante! Ini aja udah lebih dari cukup, kok,” tolaknya meneguk ludah. Sejak kecil, ia dididik ayahnya untuk tetap berhemat. Melihat Tante Andin yang sangat ringan tangan mengambil sepatu-sepatu itu tentu saja membuatnya syok.
Di saat itu pula, ia bersumpah ini pertama dan terakhir kalinya ia belanja bersama ibu Asra.
Bayangkan saja, baru belanja di lantai satu, Asra sudah menenteng dua paper bag yang isinya hanya sepatu-sepatu. Belum lagi, perlengkapan lainnya yang tak mampu Aile jabarkan satu per satu.
Mereka lalu naik ke lantai dua untuk membeli cincin, mengajak Aile perawatan di salon, membelikan sebuah dress sebagai hadiah walaupun Aile sudah berjuang mati-matian untuk menolaknya, namun ujung-ujungnya Andin yang memang.
Lalu yang terakhir, fitting baju yang akan dipakai saat pertunangan nanti. Aile hanya pasrah saja saat beberapa bagian tubuhnya diukur oleh desainer dan mendengarkan Andin berceloteh memilihkan model gaun untuknya.
“Ini gimana, Le?” Andin menunjukkan contoh gaun panjang berbahan brukat dengan bagian atas model off-shoulder.
“Iya, Tante. Model itu menurut saya bagus, kok” jawab Aile seadanya. Ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah jam lima sore. Mereka benar-benar sudah menghabiskan waktu dua jam di mall.
“Tapi, nanti acaranya malam. Takutnya kamu malah kedinginan. Pilih gaun yang bahunya tertutup aja kali, ya?” pikir Andin lagi.
Aile menahan napas agar tidak mengeluarkan hembusan kasar. Rasanya benar-benar jengah. Ia sering mendengarkan cerita Kania yang suka menghabiskan akhir pekannya dengan jalan-jalan di mall. Apa bagusnya berkeliling mall? Membosankan. Lebih baik baik nongkrong di cafe sambil ngemil.
“Aile?” panggil Andin melihat gadis itu malah melamun.
“Ah iya, Tante. Kenapa?”
“Kamu capek, ya?”
Akhirnya peka juga, batin Aile. “Nggak, kok, Tante,” balasnya penuh dusta. Belum sampai lima detik yang lalu ia merasa lega karena Andin terlihat peka dengan ekspresi bosannya.
“Kamu duduk dulu di sofa bareng Asra,” suruh Andin. “Tante mau ngomong sebentar sama Mbak Mika dulu.” Mika adalah desainer yang akan merancang gaun pertunangan untuknya.
Aile mengangguk lalu pergi menghampiri Asra yang duduk di sofa ruang tunggu. Pria itu duduk dengan mata terpejam. Di sampingnya, ada tumpukan paper bag hasil asal comot Andin selama berbelanja tadi.
“Udah selesai?” Asra membuka matanya begitu merasakan keberadaan seseorang di sekitarnya.
Aile yang baru duduk di sofa tunggal mengangguk. “Iya, tapi Tante masih ngomong sebentar sama Mbak Mika,” terangnya.
“Gimana rasanya?” tanya Asra tiba-tiba.
“Apa?”
“Belanja bareng Mama saya.”
Aile berpikir sejenak. “Ya, menyenangkan,” jawabnya skeptis.
“Tidak usah bohong kamu,” tuding Asra. “Saya tahu kamu sama bosannya seperti saya, bahkan mungkin lebih bosan. Saya sudah terbiasa dengan kebiasaan Mama saya, sementara kamu baru akan memulainya.”
Melihat Asra yang kali ini sepertinya satu rasa dengannya, Aile langsung mengeluarkan unek-uneknya. “Iya juga, sih. Saya bosan banget. Bahkan sampai mikir, bisa-bisanya tahan selama ini di mall. Belum lagi beli barang nggak lihat harga, mana asal ambil aja. Papa saya kalau lihat mungkin udah setengah mati nahan biar nggak misuh-misuh di depan ibunya Bapak,” jelasnya menggebu-gebu.
“Bahkan kadang masih lama lebih dari ini dan belanjaannya lebih banyak dari ini,” tambah Asra.
Keduanya sama-sama menghembuskan napas kasar lalu menghempaskan punggung ke sandaran sofa. Dua jam terasa seperti mereka sudah seharian berada di tempat ini.
“Oke, fitting baju selesai!” suara Andin yang terdengar riang terdengar. Wanita itu keluar dari butik dengan wajah yang masih berseri-seri. Benar-benar tak terlihat wajah kelelahan.
Asra dan Aile segera berdiri.
“Mau saya bantu angkat separuh, Pak?” tawar Aike meringis pelan melihat Asra yang kesulitan menenteng semua paper bag berisi belanjaan mereka.
“Tidak usah. Mama saya pasti akan larang kamu kalau tahu,” tolak Asra.
“Tapi, itu kelihatannya Bapak menderita banget tenteng semuanya.”
Asra tak meresponnya dan menghampiri ibunya. “Sudah beres, ‘kan, Ma? Pulang sekarang?”
Andin malah menoleh pada Aile yang berdiri di belakang mereka. “Masih ada yang mau dibeli lagi?”
“Nggak!”
“Tidak!”
Asra dan Aile saling bertatapan setelah mengucapkan kata penolakan itu secara bersamaan. Andin yang melihatnya langsung terbahak-bahak.
“Ah, kalian lucu sekali. Kayaknya memang udah jodoh. Menjawab aja bersamaan,” ujar Andin geli. “Oke, deh, kalau gitu kita pulang sekarang,” ajaknya berjalan lebih dulu.
Aile dan Asra menghembuskan napas lega dan berjalan beriringan mengikuti Andin. Selain lelah diajak keliling mall, Aile juga tak suka punya terlalu banyak barang apa lagi jika harus ditaruh di kamarnya, bikin sesak saja.
Sementara itu, Asra sendiri hanya punya satu alasan. Lelah dijadikan b***k untuk menenteng belanjaannya ibunya.