Hari pesta pertunangan Asra dan Aile kini telah dilaksanakan, tepatnya hari Minggu malam di Bali. Bertempat di sebuah taman hotel bintang lima dengan dekorasi bertema rustic dilengkapi gapura kayu yang ditata rapi di sepanjang aisle. Langit malam yang cerah dipenuhi kelap-kelip bintang, ikut mendukung kemeriahan acara pertunangan mereka.
Para tamu undangan yang hanya keluarga dekat dari masing-masing pihak berdiri dan bertepuk tangan ketika Asra dan Aile muncul sembari bergandengan tangan, melangkah menuju backdrop berwarna krem dengan tambahan bunga dan dedaunan buatan yang makin memperkuat nuansa alamnya.
Andin dan Kayla sama-sama menitikkan air mata ketika anak-anak mereka melangkah menyusuri lorong yang dilengkapi gapura kayu.
Asra terlihat gagah dengan setelan tuxedo abu-abunya. Sementara Aile sendiri terlihat anggun dengan gaun panjang berwarna senada dengan tuxedo Asra. Gaun itu melekat indah dan pas di tubuhnya yang ramping. Dengan sentuhan mutiara putih di bagian lingkar lehernya, ia memang sudah seharusnya menjadi pusat perhatian malam ini. Kakinya terbalut dengan high heels indah berwarna perak.
Namun, tak ada yang tahu dibalik keanggunan Aile, ada langkah kaki yang harus dijaga agar tak tergelincir dari heels, terkecuali Asra. Di sepanjang aisle mereka melangkah, Asra berusaha mempertahankan senyumnya agar tak berubah jadi tawa yang lebar. Genggaman Aile di lengannya sangat erat dan tremor, terlalu kentara bahwa gadis itu tak terbiasa memakai heels.
“Tidak usah terlalu keras pegangnya, saya tidak akan tinggalin kamu, kok,” bisik Asra tanpa menggerakkan bibirnya.
Aile mengetatkan rahangnya. “Bapak ngejek saya? Belum pernah rasain pakai heels?” balasnya berbisik.
“Perlu kamu ingat, saya ini laki-laki,” jawab Asra, lalu tersenyum ramah pada paman dari ayahnya ketika pandangan mereka bertemu.
Aile menahan desisannya agar tak keluar. Senyumnya tetap terjaga sampai keduanya sampai di depan backdrop. Di bagian sudut kanan depan, seorang MC yang memandu acara pertunangan mereka, melemparkan godaan pada keduanya yang hanya dibalas senyum tipis.
Setelah melewati beberapa prosesi termasuk pemberian seserahan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan, tiba akhirnya di mana keduanya bertukar cincin.
Seorang anak kecil —keponakan Asra— maju dengan kaki mungilnya, membawa kotak merah berbentuk hati. Ia membukanya dengan jemari pendeknya, lalu mengulurkan tangannya ke atas, menyerahkan dua cincin di dalam kotak itu.
“Makasih, Sayang,” ucap Asra lalu mengambil cincin untuk Aile. Tanpa ragu, ia memasang cincin itu di jari manis kiri Aile. Tepuk tangan yang riuh menyusul setelahnya.
Aile terdiam sejenak, memandang cincin di jari manisnya. Emas yang melingkar di jarinya itu menjadi simbolis bahwa ia telah menjadi milik seseorang. Seseorang yang tak pernah ia sangka akan menjadi tunangannya, bahkan tak punya setitik perasaan untuk pria yang berstatus gurunya itu.
Aile sendiri terkadang masih bingung. Sebenarnya ... bagaimana rasanya menyukai seseorang?
Ia belum dihadapkan dengan perasaan seperti itu, namun kenyataan justru membuatnya tiba-tiba saja terjebak dalam sebuah hubungan yang akan mengikatnya untuk selamanya.
“Aunty, kenapa cincinnya belum diambil? Kara capek angkat tangan.” Keluhan keponakan Asra membuat lamunan Aile terpecah.
Ia berkedip-kedip bingung lalu akhirnya tersadar. Gadis itu tersenyum dengan ekspresi bersalah. Ia segera mengambil cincin untuk Asra dari kotak itu.
Aunty? Itu panggilan untuknya? Aile membatin.
Dia masih SMA dan seseorang sudah memanggilnya aunty? Rasanya ia mendadak merasa tua.
Walaupun begitu, Aile tetap memasang wajah normal dan membalas memasang cincin itu di jari manis Asra tanpa ragu dan gugup. Salah satu keahlian Aile selain skill mengarang ceritanya, yaitu mampu membuat ekspresi yang berlawanan dengan suasana hatinya.
Sekali lagi, sorak riuh dan tepuk tangan terdengar. Semua keluarga mengucapkan selamat kepada mereka. Acara selanjutnya tak terlalu formal lagi. Para keluarga saling membaur, untuk mendekatkan diri sebagai calon besan sekaligus menikmati hidangan yang telah disediakan. Asra membawa Aile keliling, berkenalan dengan keluarganya.
“Aile dilihat dari dekat, cantiknya makin kelihatan,” puji sepupu Asra, ibu dari anak kecil yang membawakan kotak cincin tadi
“Anggun banget. Asra memang nggak salah pilih,” tambah lainnya.
Saat mereka melontarkan pujian itu, Aile bertanya-tanya dalam hatinya, apakah mereka akan tetap berkata seperti itu jika melihat kelakuannya di sekolah.
“Cantik, ya, tunangannya. Semoga cepat-cepat lanjut ke pernikahan, ya,” doa Tante Kania, keluarga dari ibu Asra.
Aile spontan menampiknya. “Ah, maaf Tante, saya masih SMA.”
Tante Kania langsung tertawa pelan. “Ah, iya juga. Kalau gitu, doa Tante sekarang kalian langgeng, ya. Jangan sering-sering adu mulut. Kalau ada masalah dibicarakan baik-baik. Jangan saling menyalahkan, lebih baik saling mengalah. Satu lagi, pertunangan ini bukti kalau kalian siap untuk terus sama-sama sampai tiba di jenjang pernikahan. Jaga perasaan masing-masing, jangan sampai di antara kalian menyakiti perasaan satu sama lain,” ujar wanita itu memberi petuah.
“Baik, Tante. Asra akan ingat baik-baik pesan Tante,” jawab Asra sopan.
Setelah basa-basi sebentar, Tante Kania lalu pamit pergi untuk berbincang dengan keluarga lainnya.
Aile menghela napas lega. Sejujurnya ia tak keberatan diberi pesan oleh Tante Kania. Justru pesan seperti itu akan ia ingat baik-baik walaupun terkadang ia belum yakin apakah hubungannya dengan Asra bisa bertahan.
Hanya saja, kakinya kini sudah sangat capek!
Aile tak bisa bertumpu lagi pada sepatu yang memiliki tumit tinggi nan runcing itu. Matanya menatap sekelilingnya memperhatikan keluarganya yang saling membaur dengan keluarga Asra untuk berkenalan. Orang tuanya sendiri tengah menikmati makanan di meja bundar bersama orang tua Asra dan mengobrol santai.
Kayla sempat melirik putrinya itu, memberi kode mengusir lewat gerakan tangan agar lebih baik menghabiskan waktu bersama Asra di kesempatan ini.
“Kamu mau ke mana?” tanya Asra ketika Aile melepaskan lengannya dan pergi menjauh dengan langkah lebar namun hati-hati.
Aile tak menjawab. Sebisa mungkin ia pergi dari taman itu sebelum dihadang oleh para undangan untuk basa-basi. Saat sudah masuk ke dalam gedung hotel, Aile langsung memperlihatkan ekspresi kesakitannya. Ia melangkah menuju kolam renang indoor dan duduk di bangku yang ada di pinggiran kolam.
“Aish, pantesan sakit,” gumam Aile meringis, melihat kakinya lecet dan kini memerah. Ia membungkuk, berusaha untuk membuka pengait untuk melepas high heels itu. Namun, gaunnya yang cukup ketat membuatnya kesusahan untuk membungkuk.
Di tengah usahanya untuk meraih pengait heels-nya, sepasang kaki terbungkus pantofel hitam muncul di hadapannya. Tak lama kemudian, pemilik kaki itu duduk dan membantu Aile melepas heels-nya dengan hati-hati setelah melihat lecet kemerah-merahan di bagian tumit Aile.
“Harusnya kamu jujur saja ke mama saya kalau nggak terbiasa pakai sepatu model gini. Kamu bisa, ‘kan, pakai flatshoes saja, daripada menyiksa diri sendiri,” ujar Asra lalu duduk di samping Aile.
Aile bernapas lega saat merasakan kakinya lebih bebas setelah heels-nya dilepas. “Makasih, Pak. Tapi, gaun kayak begini nggak cocok sama flatshoes,” ujarnya mengoreksi.
Asra menatap cincin di jari manisnya. “Saya tidak menyangka, sudah punya tunangan,” lirihnya.
“Yah, begitulah,” jawab Aile tak acuh.
“Kamu kelihatannya pasrah banget. Jangan-jangan kamu suka sama saya, ya?” tuding Asra memicingkan matanya pada Aile.
Mendengar tudingan itu membuat Aile melotot lebar. “Enak aja! Ya kali saya suka sama Bapak! Ketemu aja belum sampai sebulan lamanya!” bantah gadis itu terang-terangan.
Melihat itu Asra justru merasa terpancing membuat Aile makin naik darah. Ia mengambil satu heels-nya milik Aile dan mengendus-ngendusnya.
“Kok, bau? Pasti gara-gara kaki kamu, nih,” ujarnya dengan nada mengejek.
Aile tak berkata-kata lagi. Satu pukulan mewakili kejengkelannya saat ini.
Plak!
“Heh!” Asra melongo tak percaya. “Kamu berani pukul saya?”
“Memangnya kenapa? Saya sama Bapak, ‘kan, sudah tunangan. Memangnya salah mukul pasangan kalau mulutnya macam-macam?” tantang Aile songong.
“Saya masih guru kamu, ya. Berani macam-macam, nilai matematika kamu terancam,” ancam Asra mengusap lengannya yang tadi dipukul Aile.
Aile lantas mencibir. “Dih, nggak boleh gitu, dong. Hal pribadi nggak boleh dihubungkan dengan pendidikan. Di sekolah guru dan siswa, di luar sekolah saya dan Bapak itu tunangan!” ucapnya dengan nada tegas.
Asra terdiam cukup lama setelah Aile berucap seperti itu. Namun, yang terjadi selanjutnya ia malah senyum-senyum tak jelas.
“Ternyata kamu sudah rela banget, ya, terima pertunangan ini? Jangan-jangan kamu memang benar suka sama saya?” tanyanya menggoda.
“Ck, tengil banget, sih!” kesal Aile lalu pergi keluar tanpa alas kaki.
“Hei, kamu mau ke mana? Acaranya belum selesai!” panggil Asra.
“Tolong bilang kalau saya sakit kepala!”
“Memangnya iya?”
“Iya. Saya sakit kepala lihat kelakuan ngeselin Bapak!” teriak Aile menekan tombol lift dengan kasar.
Ia menoleh pada pintu kolam renang. Tak ada suara apa pun lagi dari sana. Entah apa yang kini dilakukan Asra. Setelah mengenal pria itu lebih dalam, Aile sadar mereka memiliki kesamaan. Kepribadian mereka berbeda saat ada di rumah dan di sekolah. Terlepas dari sikap dingin dan tegasnya di sekolah, Asra justru tengil dan sering membuatnya kesal saat berada di luar sekolah.
Hal itu justru membuat Aile takut. Sifat CEO dalam ceritanya juga tengil dan mengesalkan. Aile berusaha untuk tak percaya bahwa alur ceritanya akan terjadi padanya. Itu hanya terjadi di dunia fantasi sementara dunia yang ditinggalinya adalah dunia yang nyata.
Namun, beberapa momen justru mendukung hal yang dihindarinya. Termasuk pertunangan mereka yang telah dilakukan.
***
Aile keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya terbalut handuk. Tangannya menyisir pelan rambutnya yang basah dan berjalan ke arah nakas, di mana ponselnya berdering. Ia lalu beralih ke dekat jendela, di mana pemandangan malam Pantai Kuta terpampang dari ketinggian lantai lima.
“Halo, Kak? Ada apa?” Aile menerima panggilan telepon dari Karina
“Halo, Le. Lo di mana?”
“Ya? Em anu ....” Aile menggigit bibirnya, tak tahu harus menjawab bagaimana.
“Besok boleh ketemu, nggak? Gue butuh temen nongkrong, nih,” pinta Karina.
“Besok?” beo Aile pelan. “Kayaknya gue nggak bisa, Kak,” lanjutnya dengan nada bersalah.
“Kenapa?”
Aile diam sejenak. “Gue lagi nggak di Jakarta.”
“Oh ya? Terus lo sekarang di mana?” Nada suara Karina terdengar kaget.
Aile meringis pelan. “Di Bali, Kak.”
“Bali? Oh, lagi liburan, ya?”
“Oh enggak, Kak. Gue ngikut sama ortu, ada urusan keluarga,” ujar Aile tak sepenuhnya bohong. Toh, Aile ke Bali karena keputusan para orang tua yang mengadakan pertunangannya secara mendadak di sini.
“Ah begitu, ya. Kalau gitu gue minta maaf udah ganggu waktu lo,” ujar Karina.
“Enggak apa-apa, kok, Kak. Nanti gue kabarin lagi kalau udah kembali ke Jakarta, ya.”
“Em, oke. Nikmatin waktu lo di sana buat liburan bentar, mumpung dapat izin sekolah, ya, ‘kan?”
Aile terkekeh pelan. “Iya, Kak.”
“Oke, deh. Gue tutup teleponnya, ya. Have fun, Le!”
Aile menjauhkan ponselnya dari telinganya ketika panggilan diputuskan oleh Karina lebih dulu. Ia tersenyum kecil dan berbalik, tak menyangka bisa sedekat itu dengan orang yang lebih tua darinya. Bahkan teman-teman sekelasnya yang sebaya dengannya saja tidak terlalu akrab dengannya padahal sudah hampir tiga tahun mereka bersama.
Ia kembali meletakkan ponselnya di atas nakas, hendak ke ruang ganti pakaian yang tersedia dalam kamarnya. Namun, belum sempat melangkah ke sana, pintu hotelnya terbuka, menampilkan Asra yang sudah berpakaian santai dengan tangan menenteng high heels milik Aile
“Aile, ini—“
Asra membatu di tempatnya berdiri setelah melihat penampilan Aile yang hanya terbalut handuk. Matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip, pada tubuh Aile. Bahu dan kaki gadis itu terpampang jelas di matanya.
Aile ikut membatu, tak menyangka pintu kamarnya bisa dibuka oleh orang lain dari luar. Beberapa detik kemudian dia mengutuk dirinya sendiri karena lupa menguncinya. Gadis itu tersadar lebih cepat dari Asra. Dengan segera, menyimpangkan tangannya di depan dadanya sebagai bentuk perlindungan dan membalikkan tubuhnya ke arah lain. Suasananya tiba-tiba terasa canggung.
“Ba-bapak ngapain ke sini? Kenapa nggak ngetuk dulu?!” tanyanya sedikit membentak.
“Y-ya mana saya tahu! Pintu kamarmu terbuka sedikit jadi saya kira ....” Asra tak menyelesaikan ucapannya dan menghela napas panjang. “Ah lupakan! Saya ke sini cuma mau kembalikan high heels kamu ini,” lanjut Asra terdengar berat.
“Yaudah, taruh di situ aja!” Aile menunjuk rak sepatu yang ada di dekat pintu. Wajahnya terasa panas sekarang. Ia yakin wajahnya pasti sedang memerah. Matanya melirik sedikit ke arah pintu ketika Asra meletakkan high heels itu di tempat penyimpanan sepatu yang tersedia.
“Kamu habis mandi?” tanya Asra bodoh.
“Bapak masih nanya?” Aile membalas dengan kesal.
“Sebelum mandi, seharusnya kamu perhatikan baik-baik pintu kamarmu sudah dikunci atau tidak. Untung saja kamu ....”
“Nggak usah dilanjutin, dasar m***m!” jerit Aile malu. “Udah keluar sana!” usirnya tak peduli lagi status lain Asra adalah gurunya.
Asra yang baru tersadar ia terlalu lama berhadapan dengan gadis yang hanya memakai handuk langsung berbalik, pergi dengan rasa malu yang makin memuncak. Sembari melangkah ke kamarnya, ia mengutuk dirinya sendiri.
“b**o lo, Asra. Bisa-bisanya terang-terangan liatin ketertarikan lo!” rutuknya pelan dengan langkah yang makin cepat.