Aile menutup mulutnya yang menguap lebar. Ia menaiki undakan tangga menuju kelasnya. Semalam, ia baru sampai di Jakarta jam satu malam, setelah menghabiskan hari Senin dengan berlibur bersama keluarganya dan Asra sekeluarga. Sekarang ia kembali masuk sekolah, walaupun masih merasa lelah dan mengantuk karena ia memang diberi izin hanya sampai hari Senin.
Sampai di kelasnya, ia baru mendapati Rona dan Romi serta dua orang temannya yang lain di kelas. Waktu memang masih menunjukkan jam setengah tujuh. Di sepanjang jalan tadi, belum terlalu banyak siswa yang datang.
Ia mengerutkan keningnya ketika melihat sebuah tas hitam menggantung di kursi kosong, samping tempatnya biasa duduk. Mata Aile beralih pada Rona yang sibuk dengan ponselnya dan Romi yang tertidur dengan kepala terkulai di meja.
“Ini tas siapa?” tanya Aile mengerutkan keningnya.
Rona mendongak sekilas. “Oh, itu tasnya anak baru. Dia masuk pas lo masih izin kemarin. Dia duduk di situ karena emang cuma itu kursi kosong,” jawabnya.
“Hah?” Aile melongo. “Tapi, kenapa harus di sini?” Aile menyugar rambutnya ke belakang dengan ekspresi masam.
“Udahlah, Le, terima aja. Masa iya dia harus angkat meja sama kursi dari gudang lagi, sih? Lagi pula wali kelas kita yang nyuruh dia duduk di sini,” ujar Rona menenangkan dan kembali sibuk dengan ponselnya.
Aile berdecak pelan. “Tetap aja—“
“Permisi,” ucap seseorang dari belakang Aile, memotong keluhan gadis itu.
Aile berbalik, menatap pemuda yang terlihat asing di matanya itu. Ia men-scanner pemuda yang terlihat sebaya dengannya itu dari atas sampai bawah dengan pandangan intens.
“Nah, itu anak baru, Aile,” ujar Rona.
“Hah? Lo kenapa nggak bilang kalau dia laki-laki?” bisik Aile tajam.
Rona mengedikkan bahunya. “Lo nggak nanya.”
“Ya, tapi tetap aja!” delik Aile lalu masuk ke bagian dalam dan duduk di bangkunya, agar anak baru itu bisa duduk di sampingnya.
Pemuda yang tadinya hanya kebingungan sekaligus gugup karena Aile mengamatinya terlalu intens kini mulai membalas kegiatan Aile barusan. Matanya berkedip-kedip, menatap Aile dengan antusias.
“Lo ngapain ngeliat gue gitu amat?” tanya Aile menatap pemuda itu tajam dari sudut matanya.
“Lo ... Aile?” tanya pemuda itu sangsi sembari duduk di samping Aile.
Aile hanya mengangguk tak acuh.
“Gue Meka. Lo ingat gue, ‘kan?”
Aile diam sejenak lalu menoleh pada pemuda yang mengaku Meka itu. Tatapannya yang intens kembali mengamati wajah Meka yang tersenyum canggung, salah tingkah karena dilihat seperti itu oleh seorang gadis.
“Meka ...,” lirih Aile berusaha mengingat. Semakin lama ia menatap pemuda itu, ia merasa wajahnya perlahan familiar. Aile mengalihkan tatapannya ke tembok sejenak, berpikir keras di mana ia pernah ketemu pemuda bernama Meka itu.
“Gue Meka, Le. Meka Satria, teman lo pas SD,” ujar Meka membantu Aile mengingatnya. “Kita dulu sering main bareng abis pulang sekolah,” tambahnya lagi.
Aile membatu sejenak sebelum akhirnya mendengus dan menganga tak percaya. Ia menutup mulutnya tak menyangka dan menatap Meka dengan speechless setelah akhirnya berhasil mengingat siapa pemuda itu.
“L-lo Meka yang dulu kribo itu, ‘kan?” tanyanya memastikan.
Tawa renyah Meja meledak. “Hahaha, iya itu gue. Tapi sekarang enggak lagi, makanya lo enggak kenal gue. Gue juga hampir aja nggak kenal lo kalau Rona tadinya nggak nyebut nama lo,” ujarnya lega.
“Bentar, bentar, kalian udah saling kenal?” Rona nimbrung dengan wajah keponya.
“Iya, dia temen deket gue pas SD,” ujar Aile tersenyum senang, masih tak menyangka bahwa ia bertemu dengan teman lamanya.
“Siapa yang udah saling kenal?” Romi yang merasa terganggu dengan suara-suara di sekitarnya akhirnya terbangun. Ia melihat pada Rona dengan mata yang masih setengah tertutup.
“Ini Meka, yang baru masuk kemarin. Dia teman lamanya Aile ternyata,” jelas Rona lalu mendengus jijik saat melihat sudut bibir saudaranya itu basah. “Iyuuuh, lo kok malah ileran, sih? Lap, ih, jorok banget!” suruhnya memberikan selembar tisu yang dia tarik dari laci mejanya.
“Thanks, Sister,” ujarnya lalu mengelap sudut bibirnya.
Aile menutup mulutnya lalu mengalihkan pandangannya dari Romi. Ia tiba-tiba saja merasa mual melihat wajah bantal pemuda itu.
“Btw, lo sekarang apa kabar, Le?” tanya Meka mengalihkan perhatian gadis itu dari Romi.
Aile mengendik pelan. “Seperti yang lo lihat, gue baik-baik aja, kok. Lo sendiri?”
“Gue juga baik-baik aja. Kemarin lo nggak datang ke sekolah, izin ke mana?” tanya Meka ingin tahu.
“Gue lagi ada acara keluarga,” jawab Aile dengan senyum tipis.
“Ah, gitu ya.”
“Btw, lo kenapa bisa pindah ke sini? Terus, dulu lo katanya pindah, ya? Pindah ke mana? Kenapa nggak kasih tahu gue?” tanya Aile beruntun. “Setelah itu, lo juga hilang kabar,” imbuhnya dengan suara bergumam.
Mendengar itu, Meka meringis. “Ya maaf, gue tiba-tiba aja pindah ke Sulawesi Tenggara karena orang tua gue waktu itu tiba-tiba aja dimutasi ke sana. Gue sebenernya pengen pamit sama lo, tapi nggak sempat karena semuanya tiba-tiba terjadi gitu aja. Gue pengen hubungi lo, tapi gue bahkan nggak tahu nomor atau akun medsos lo,” jelas Meka panjang lebar.
“Ah, begitu ya.” Aile mengangguk pelan. Gue nggak punya medsos, btw, kecuali w******p,” ujarnya berbohong.
Ia sebenarnya punya i********:, namun dengan memakai nama penanya. Itu pun ia baru buat saat mulai menulis dan hanya dipakai untuk mempromosikan ceritanya.
Aile kadang berpikir bahwa dirinya unik. Di saat teman-temannya berlomba-lomba untuk eksis di media sosial, ia lebih suka memakai ponselnya untuk membaca dan menulis ceritanya. w******p pun ia pakai karena pengumuman sekolahnya sering diumumkan di grup chat kelasnya. Kata Kayla, Aile mewarisi sifat ayahnya. Keduanya sama-sama tak terpengaruh atau tertarik dengan kecanggihan teknologi yang makin maju.
“Kalau gitu, gue boleh minta nomor WA lo?” pinta Meka lalu mengeluarkan ponselnya dari saku jas almamaternya.
Aile mengangguk setuju dan segera menyebut dua belas digit nomor ponselnya. Keduanya melanjutkan cerita mereka dengan santai, saling bertukar cerita tentang keadaan masing-masing setelah tak bertemu lagi.
Kania yang baru datang menatap keduanya heran. Gadis yang bertengkar dengannya beberapa waktu lalu kini berbincang akrab dengan siswa baru yang masuk kemarin. Aile bahkan tak seakrab itu dengan teman mereka yang sudah lama sekelas dengannya, tapi bersama Meka justru terlihat santai dan sudah kenal lama.
“Kaget, ‘kan, lo?” tanya Rona nyengir kuda melihat Kania yang sejak masuk hingga sampai di bangkunya tak melepas pandangannya dari Aile dan Meka.
“Mereka, kok, bisa seakrab itu?” bisik Kania heran.
“Katanya teman lamanya pas SD,” jawab Rona.
Kania menatapnya dengan alis terangkat.
***
“Le, mau ke kantin bareng?” ajak Meka selepas bel jam istirahat pertama berbunyi.
Aile yang tengah memasukkan buku-bukunya ke dalam tas menggeleng pelan. “Duluan aja, gue belum laper. Ntar jam istirahat kedua mungkin baru ke sana,” tolaknya dengan senyum tipis.
“Kalau gitu, ntar kita barengan aja,” ujar Meka akhirnya.
“Ah, nggak-nggak! Jangan nunggu gue,” karang Aile buru-buru. “Jangan sampai lo kelaparan karena mau barengan sama gue. Duluan aja, gue nanti bisa sendiri, kok. Serius,” imbuh Aile meyakinkan. Ia tak mau membuat anak orang kena maag karena menunggunya makan bersama.
Meka menghela napas, sedikit kecewa. “Yaudah, kalau gitu gue duluan, ya. Lo nggak apa-apa?” tanyanya memastikan lagi.
Aile mengangguk yakin. “Udah sana, gue emang belum lapar. Jam segini memang bukan jam makan gue.”
“Hm, oke, deh.” Meka berbalik ke belakang. “Romi, nggak mau ikut bareng gue?” tawarnya pada pemuda di belakangnya.
Romi meringis pelan lalu mengangkat kotak bekal yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya. “Gue kali ini bawa bekal. Sorry, ya,” tolaknya merasa bersalah.
Meka terkekeh pelan. “Ah, iya, nggak apa-apa, deh. Kayaknya besok-besok gue bawa bekal aja, ya, biar makan bareng kalian.”
“Boleh, boleh!” lontar Rona yang juga mengeluarkan bekalnya.
“Oke, kalau gitu gue ke kantin dulu, ya,” pamit Meka lalu pergi keluar kelas.
Selepas Meka pergi, Romi dan Rona diam sejenak, saling bertukar pandang. Seolah bisa membaca pikiran masing-masing, keduanya mengangguk pelan lalu menoleh bersamaan pada Aile yang sibuk dengan ponselnya.
“Sebenarnya, lo ada hubungan apa sama Meka, Le?” tanya Rona.
Aile menoleh sekilas, lalu kembali menghadap ke depan. “Maksud lo?” tanyanya cuek.
“Kalian deket banget, padahal baru ketemu.”
“Tadi udah gue bilang, dia temen deket gue semasa SD.”
“Tapi, kenapa secepat itu akrabnya?” celetuk Romi. “Gue aja udah lupa temen SD gue siapa aja.”
“Yoi, gue juga. Bahkan temen paling dekat gue semasa SD aja, gue udah nggak tahu dia ada di belahan Indonesia mana.” Kania nimbrung sembari menarik kursi Jenni —teman sebangkunya— ke sisi samping meja Romi. Ia juga membawa bekal dan ingin bergabung dengan si kembar.
Mendengar lontaran teman-temannya yang terkesan menuduhnya berbohong membuat Aile berbalik dan mendelik pada tiga orang itu.
“Bisa nggak, sih, nggak usah terlalu kepo sama kehidupan gue. Gue aja nggak pernah nanya macam-macam ama lo semua,” ujarnya sinis.
“Dih, langsung sensi aja. Kita cuman nanya aja, Le,” cibir Romi cemberut.
Aile mendesis pelan. Ia tidak suka orang-orang terlalu kepo dengan kehidupannya dan melontarkan berbagai pertanyaan yang terkesan memaksa dan memojokkan di saat dia lebih memilih untuk menyimpannya sendiri.
Memangnya kenapa kalau ia tetap akrab dengan teman semasa SD-nya walaupun baru bertemu lagi setelah sekian lama? Bukankah itu termasuk attitude yang baik? Tidak mungkinkan dia sok cool pada Meka yang notabenenya sangat dekat dengannya beberapa tahun yang lalu. Terlebih lagi Meka juga langsung terbuka padanya.
Pertemuan mereka justru membuatnya ingin lebih tahu tentang Meka, selama ini keadaannya di pulau lain bagaimana dan berbagai pembahasan lainnya.
“Le, lo lagi gak ngapa-ngapain?” Suara Clara, ketua kelas 12 IPA 4 memecahkan lamunan Aile.
“Kenapa?” tanya balik Aile. Ia mengangkat alis heran melihat ekspresi Clara terlihat gelisah.
“Boleh mintol gantiin gue ambil buku tugas biologi kita yang dikumpulkan minggu lalu itu? Bu Hani barusan nge-chat gue, suruh ambil tapi gue udah nggak tahan lagi,” ujarnya dengan suara yang makin mengecil.
“Lo kenapa, sih? Sakit?” tanya Aile heran
Clara menatap Romi sekilas. “Lo tahulah, masalah cewek. Tamu,” ujarnya yang hanya dimengerti sesama perempuan.
Aile langsung mengangguk mengerti. “Oke, oke, gue yang ambil. Langsung dibagiin ke teman-teman kita atau gimana?”
“Ng-nggak usah. Taruh di meja guru aja dulu,” ujar Clara lalu berlari keluar kelas.
Aile menatap pintu kelas lalu mengedikkan bahu pelan. Ia melirik tajam tiga temannya yang sibuk menikmati makanan mereka lalu melenggang keluar kelas.
Sesampainya di ruang guru, Aile langsung masuk, langsung menghadap ke bagian kiri menatap meja-meja guru, mencari meja dengan papan nama Bu Hani.
“Cari apa, Aile?” Suara Asra yang memasuki telinganya, lantas membuat Lorry berbalik ke belakang.
Asra berada di ruang guru sisi kanan tengah duduk dengan seorang guru wanita yang duduk di meja sampingnya.
“Ya, Pak? Ah anu, ini mejanya Bu Hani yang mana, ya?” tanya Aile, menelan ludah gugup.
Melihat Asra lantas membuat pikirannya terbang ke malam itu. Saat pria itu tak sengaja melihatnya hanya terbalut handuk. Ia segera berdehem pelan, berusaha menormalkan perasaannya. Jangan sampai wajahnya memerah lagi.
“Itu yang paling belakang.” Tunjuk Asra pada meja penuh tumpukan buku di dekat jendela.
“Ah, iya pak, terima kasih,” ucap Aile pelan dan langsung menghampiri meja Bu Hani.
Aile berjalan ke meja itu, memilah-milah buku sekelasnya. Kupingnya terpasang baik, menangkap percakapan Asra dan guru wanita yang tak ia tahu namanya itu.
“Pak Asra ini belum menikah, ya?”
“Iya, Bu.”
“Wah, sama saya juga belum menikah.”
“Tapi saya sudah tunangan.”
“Ah ....”
Aile mengulum bibirnya keras-keras, berusaha memendam hasrat untuk tertawa keras. Untung saja ia berdiri membelakangi keduanya. Ia tidak perlu repot-repot menormalkan ekspresinya, cukup menahan tawa saja.
Astaga, jelas sekali guru itu menyukai Asra. Guru itu pasti malu sekali. Sebagai sesama perempuan, Aile tahu bagaimana perasaan guru itu.
Setelah menghitung jumlah buku yang disesuaikan dengan jumlah teman sekelasnya, Aile membawa tumpukan buku itu dan pamit keluar dari sana. Ia melihat sekilas guru wanita tadi. Wanita itu terlihat salah tingkah sembari menggaruk tengkuknya.
“Astaga, kok gue yang malu, ya,” gumam Aile menyusuri anak tangga untuk naik ke lantai kelasnya.
“Apanya yang malu?”
“Astaga!”
Aile terkesiap dan berbalik cepat, menatap pria di depannya yang sepertinya membuntutinya sejak keluar dari ruang guru.
“Bapak ngikutin saya?” tanya Aile memicingkan matanya.
“Buku-buku yang kamu bawa kayaknya berat. Mau saya bantuin?” tawar Asra.
“Nggak usah, Pak. Ini ringan, kok. Cuma buku tulis doang,” tolak Aile. Jujur saja, buku-buku yang dibawanya memang berat, tapi lebih parah lagi kalau ada siswa lain yang melihat Asra membantunya membawa buku ke kelas.
“Cincin kamu mana?” tanya Asra setelah melihat jari manis Aile tak terpasang apapun di sana.
Aile menunduk sekilas. “Saya jadiin kalung, Pak. Nggak mungkin saya terang-terangan mau pakai di jari saya. Temen-temen saya kalau lihat ntar banyak nanya,” jelasnya dengan suara kecil, jaga-jaga kalau ada yang mendengarnya.
Aile lalu melirik cincin tunangan mereka yang tetap terpasang di jari Asra. Entah mengapa, hatinya justru menghangat melihat cincin itu tak dilepas oleh Asra.
“Tadi ... saya cuma sekedar ngobrol dengan Bu Clarisa. Tidak ada yang lebih dari itu,” jelas Asra berdehem pelan, sembari menatap ke arah lain.
Kening Aile berkerut. “Hubungannya sama saya?”
“Siapa tahu kamu cemburu. Saya ingin mematahkan kemungkinan itu,” ujarnya berbisik.
“Dih?” Aile menatap Asra aneh lalu melanjutkan langkahnya menyusuri tangga.
Setelah membelakangi pria itu, ekspresinya berubah total. Ia menghembuskan napas lega. Mendengar Asra berbisik dengan suara rendahnya membuat Aile meremang