Bab 9

2559 Words
Asra mengedarkan pandangannya pada siswa-siswa 12 IPA 4. Tak ada suara yang terdengar. Hanya terlihat wajah-wajah tegang yang sepertinya menunggu kedatangannya namun juga takut. Mata Asra berhenti pada meja Aile. Bangku yang selalu kosong di samping gadis itu kini diduduki oleh seorang pemuda yang terlihat asing di matanya. Asra memicingkan matanya. Seragam sekolah yang dipakai pemuda itu juga terlihat masih baru. Anak-anak yang menyadari pandangan Asra mengarah ke Meka kini ikut-ikutan menatap pemuda itu hingga membuatnya kebingungan. “Siswa baru?” tanya Asra sembari membuka buku absensinya. Meka segera berdiri dan menganggukkan kepalanya. “Iya, Pak.” “Namanya siapa?” “Meka Satria, Pak.” “Pindahan dari mana?” tanya Asra tak menatap siswa baru itu lagi. Ia sibuk menulis di buku absensinya. “Sulawesi Tenggara, Pak.” Asra yang baru selesai menuliskan nama Meka di buku absensinya lantas mendongak dengan alis terangkat, heran. “Jauh, ya. Alasan kamu pindah apa?” todong Asra lagi. Mendengar itu, Meka tersenyum kaku. “Ada masalah pribadi, Pak.” “Masalah pribadi? Kamu bermasalah di sekolah lamamu?” “Tidak, Pak,” elak Meka menggeleng cepat, “bukan di sekolah, tapi ... saya hanya ingin tinggal jauh dari orang tua saya,” imbuhnya terdengar enggan. Asra ber-oh pelan, tiba-tiba merasa bersalah. Ia mungkin tak seharusnya bertanya seperti itu. Melihat wajah Meka yang mendadak suram, ia pasti sudah menanyakan hal yang salah, pun di depan banyak siswa. Namun, rasa bersalah itu hilang dalam sekejap saat melihat Aile yang menarik Meka kembali duduk dan mengusap punggungnya. Ada apa dengan keakraban itu? Kenapa mudah sekali mengusap punggung Meka tanpa rasa canggung? Meka benar-benar siswa baru, ‘kan? Berbagai pertanyaan itu timbul di benak Asra, namun ia harus profesional. Saatnya jam pelajaran, ia harus menyepelekan perasaan anehnya saat ini. “Baik, kita langsung saja. Sudah sampai di mana pembelajaran kita?” Asra memulai kelas. Sembari mendengarkan sahutan seorang siswa yang menjawab pertanyaannya tadi, Asra membuka laci mejanya dan mengambil spidol hitam dari sana. Ia berdiri, menuliskan judul dari materi pelajaran yang akan mereka bahas hari ini. Tak berselang lama kemudian, whiteboard sudah dipenuhi oleh rumus-rumus matematika serta contoh soal dan cara penjabaran untuk menemukan jawabannya. Sesekali, Asra menyempatkan untuk melirik ke meja Aile. Gadis itu terlihat sibuk memperhatikan penjelasannya sekaligus membantu Meka melengkapi catatannya seringkas mungkin karena mereka sudah melewati banyak bab untuk pelajaran matematika. Melihat itu, Asra berusaha menahan cibirannya. Sok pintar banget, batinnya dalam hati, tak sadar meletakkan spidol ke meja terlalu keras hingga membuat semua siswa terkejut. Asra memandangi mereka dengan wajah pura-pura tak tahu. “Baik, ada yang mau ditanyakan sejauh ini?” tanyanya mengalihkan. “Tidak ada, Pak!” sahut semua siswa. Asra mengangguk pelan dan mengambil whiteboard eraser. Ia menghapus contoh soal beserta penjelasannya dan hanya menyisakan rumus-rumus di whiteboard. Tangannya kembali mengambil spidol dan menuliskan satu soal di sana lalu kembali duduk. “Oke, siapa yang bisa mengerjakan soal di atas?” tanya Asra mengedarkan pandangannya. Semua siswa terdiam, saling melirik berharap ada di antara mereka yang mau menjawab. Clara, siswa yang termasuk pintar matematika menjadi sasaran lirikan mereka, namun gadis itu juga diam. “Tidak ada yang mau naik?” Asra akhirnya bertanya lagi setelah beberapa saat menunggu. Semua siswa tetap diam. Asra melirik Aile sebentar, tapi gadis itu langsung menunduk, pura-pura menulis sesuatu di bukunya dengan kepala menggeleng pelan, berusaha memberi kode pada Asra agar tak menyuruhnya naik. Asra mendengus pelan. “Karena tidak ada yang mau naik, saya yang akan menunjuk kalian untuk naik mengerjakannya secara acak,” ujar pria itu akhirnya, membuat siswa makin gelisah. “Sekarang hari Rabu, ‘kan? Dihitung dari Senin, ini adalah hari ketiga,” ujar Asra lalu membuka absensinya. “Jadi, siswa dengan nomor absensi ketiga yang naik mengerjakannya,” ujarnya final. Semua siswa menatap Aile, si nomor urut ketiga dalam absensi. Air muka Aile berubah drastis. Gadis itu menatap Asra dengan wajah pias. Ia lantas beralih teman-temannya dengan wajah memelas, berharap ada yang mau menggantikannya naik. Namun, semuanya membuang muka. “Pak, saya nggak tahu ...,” lirih Aile pelan. “Berarti kamu belum mengerti?” tanya Asra menatapnya datar. Aile mengangguk sangsi. “Lalu kenapa diam saja saat saya mempersilakan kalian untuk bertanya jika ada yang kurang dimengerti?” “Tapi, Pak—“ “Saya tidak terima alasan apa pun. Selesaikan soal di atas!” perintah Asra final. Aile terpaksa berdiri dengan wajah masam. Berjalan ke depan dan mengambil spidol dari meja Asra. Ketika netra keduanya bertabrakan, Aile segera melengos dengan tatapan sinisnya. Gadis itu mendengus melihat soal yang sama sekali tak dimengerti otaknya. Mau bagaimana pun ia berusaha mencerna penjelasan materi serta contoh soal, tetap saja ia tak bisa mengerjakan soal di atas karena berbeda dari contohnya tadi. Tangannya yang mengendalikan spidol menari-nari di atas whiteboard kini berhenti saat selesai menuliskan hal-hal yang diketahui dari soalnya. Keningnya berkerut dalam hingga alisnya hampir menyatu. Telinganya bisa mendengar bisik-bisik temannya yang berharap ia bisa menyelesaikan soal itu. “Kenapa berhenti?” tegur Asra. “Saya nggak tahu mau nulis apa selanjutnya, Pak,” jawab Aile terlalu jujur. Asra berdecak pelan. “Contoh soal tadi dan soal yang kamu kerjakan sekarang itu memakai rumus yang sama Aile. Saya hanya menukar pertanyaannya, yang sebelumnya diketahui di contoh soal, sekarang berubah jadi ditanyakan di soal yang kamu kerjakan sekarang,” jelas Asra, sedikit membantunya. Namun sepertinya tak membantu apa-apa pada Aile. Gadis itu justru cemberut menatap soal dan menggaruk kepalanya tak karuan. Astaga, Otak Bodoh, tolonglah pintar-pintar dikit. Kali ini aja, mohon Aile dalam hati. Melihat tunangannya itu terlihat hampir gila, Asra jadi tak tega. Waktunya juga hampir habis. Tetapi, Asra tak akan membiarkan gadis itu lepas begitu saja. Aile perlu diberi pencerahan. “Sudah, sudah! Saya yang lelah lihat kamu berdiri di sini!” interupsi Asra. “Ini pembelajaran buat kamu, harus lebih memperdalam pemahaman kamu. Jangan cuma berpatok pada satu contoh soal. Kalau kamu benar-benar memahaminya, bahkan saat soal itu diacak-acak dan membutuhkan lebih dari satu rumus, kamu pasti bisa menyelesaikannya. Soal ini termasuk sangat gampang, Aile. Tolong pahami lagi setiap materinya karena saya tidak tahu kapan kamu harus naik mengerjakan soal dari saya lagi,” tegur Asra panjang lebar. Aile mengangguk lega, walaupun harus makan hati lagi karena ditegur di depan semua temannya. “Baik, Pak,” sahutnya dengan suara lirih. “Ini juga berlaku untuk kalian semua, bukan hanya Aile. Pahami materi-materi serta rumus yang saya beri karena saya akan pastikan kalian semua naik mengerjakan soal di papan tulis. Mengerti?” Asra menatap semua siswa. “Mengerti, Pak!” “Ada yang bisa gantikan Aile selesaikan soal di atas? Sebelum waktu habis,” pinta Asra. Meka langsung mengangkat satu tangannya. “Saya, Pak!” Mata Aile membulat senang. “Silakan naik,” suruh Asra. Meka naik dan berdiri di samping Asra, mengambil spidol dan mengerjakannya tanpa hambatan. Aile di sampingnya takjub. “Woah, hebat, Meka!” bisiknya bahagia. Asra yang masih bisa mendengarnya mengerutkan kening, heran mengapa keduanya bisa sangat akrab. “Kalau kamu tahu cara kerjanya, kenapa tadi malah diam saja?” tegur Asra menerima spidol yang dikembalikan Meka. Meka meringis. “Maaf, Pak.” “Ya sudah, kalian berdua kembali ke tempat duduk kalian,” suruh Asra menggeleng-geleng pelan. Matanya masih terus mengikuti Aile yang menepuk punggung Meka dan tersenyum lebar pada pemuda itu. [Apaan, sih, Asra? Kenapa lo benci lihat mereka akrab?] *** Suasana riuh karena suara motor sudah biasa saat pulang sekolah. Meka dan Aile berjalan beriringan menuju parkiran, berhati-hati karena ada beberapa siswa nakal yang sengaja membalap motornya keluar dari area sekolah. “Lo bawa motor sendiri?” tanya Meka. “Hm, iya. Lo juga?” Meka mengangguk. “Ah iya, soal tugas kelompok Bahasa Indonesia itu, kayaknya gue nggak bisa ngerjainnya hari ini,” ujarnya merasa bersalah. “Kenapa? Tadi lo sendiri yang bilang mau ngerjain hari ini biar cepet selesai.” Aile berkedip bingung. “Ah, itu kakak gue minta dijemput. Mobilnya ada masalah dan pasti gue yang bakal urus itu untuk bawa ke bengkel. Hari Sabtu aja boleh? Lebih bagus ngerjain hari libur. Toh, tugasnya baru dikumpulkan hari Selasa,” terang Meka. Aile mengangguk setuju. “Oke, deh, hari Sabtu aja lebih bagus.” “Hm, oke. Ayo pulang bareng, kayaknya parkiran masih full, ntar gue bantuin keluarin motor lo,” tawar Meka. “Hm, ayo.” Aile memasuki parkiran namun ia menghentikan langkahnya ketika merasakan ponselnya bergetar lama. Aile mengerutkan keningnya melihat kontak Pak Asra tertera di layar ponselnya. Ada apa, sih? Batinnya bertanya-tanya. “Ya, halo?” “Pulang sama saya saja.” Aile mengerutkan kening. Suara Asra terdengar berat. Ia lalu menjauh sedikit dari Meka agar percakapannya tak terdengar. “Kenapa, Pak? Saya bawa motor sendiri, kok.” “Saya sudah hubungi Kang Burhan untuk ambil motormu.” “Pak!” teriak Aile kebablasan. “Jangan ngerepotin orang lain, dong, Pak. Memangnya kenapa kalau saya pulang sendiri?” tanyanya berbisik “Ada yang mau saya omongin sama kamu.” “Ck, langsung ngomong di sini aja, Pak.” “Masuk ke mobil saya atau saya yang keluar jemput kamu?” Asra malah mengecamnya. Aile mencibir gemas dan berbalik pada parkiran guru. Menatap sinis pada Pajero Sport milik Asra. Ia yakin gurunya itu pasti ada dalam sana. “Iya, iya, saya ke sana. Tapi nanti, masih banyak orang,” ujar Aile mengalah. “Oke, saya tunggu kamu di sini.” Aile memutuskan panggilannya dan menghampiri Meka yang menunggunya. “Mek, lo pulang duluan aja, ya. Gue mau balik ke kelas dulu, kelupaan sesuatu,” alibinya. “Lho, kok bisa? Gue temenin kembali aja,” tawar Meka. “Ng-nggak usah, gue bisa sendiri, kok. Jangan nungguin gue, oke? Gue bakal lama kayaknya. Langsung pulang aja, ya?” suruh Aile memaksa lalu berbalik, melangkah kembali masuk gedung sekolah “Tapi ....” Meka menutup mulutnya dan menghela napas panjang. Ia akhirnya berjalan menghampiri motornya dan segera meninggalkan area sekolah. *** Aile melirik Asra di sampingnya yang sedari tadi hanya diam. Entah karena serius mengemudi atau ada masalah lain. Tetapi, Aile yakin pasti ada masalah dilihat dari wajah Asra yang terlihat suram. Pria itu bisa saja mengajaknya bicara dengan pandangan tetap ke depan. Tak usah terlalu serius sampai membuat orang di sebelahnya jadi bingung. “Pak, kok, diam saja, sih? Nggak tahu diri banget, yang nyuruh pulang bareng siapa, yang bungkam siapa,” ujar Aile akhirnya dengan kesal. “Mulai besok, kita sama-sama ke sekolah. Nggak usah bawa motor sendiri, saya yang akan jemput kamu.” Asra akhirnya bersuara, tapi justru membuat Aile makin bingung. “Lho? Saya punya kendaraan sendiri kenapa harus diantar jemput sama Bapak? Ngerepotin aja. Nggak usah, deh,” tolaknya tak enak. “Nggak ngerepotin. Justru merepotkan kalau kamu pergi sekolah dengan kendaraan sendiri,” bantah Asra datar. “Ya tapi tetap aja, Pak. Ini tujuan kita sekolah, lho, Pak. Banyak orang yang kenal saya sama Bapak. Kalau sampai ada yang lihat, mau bagaimana? Saya nggak suka terlibat masalah,” ujar Aile mengibaskan tangannya. “Itu bisa diurus,” jawab Asra tak acuh. Aile memalingkan wajahnya keluar jendela dengan jengah. Keras kepala sekali tunangannya itu. Memangnya dia anak kecil yang harus diantar jemput? Lalu bagaimana ia harus menjawab jawaban teman-temannya yang pasti kepo karena tak bawa motornya. Astaga, Asra suka sekali membuatnya repot! “Eeh, ini kita mau ke mana?” tanya Aile bingung saat mobil Asra berbelok kanan, padahal jalan menuju rumahnya lurus-lurus saja. “Ke apartemen saya.” “WHAT?” Mata Aile membulat sempurna. “Ki-kita mau ngapain ke sana?” tanyanya gugup. Asra melirik sekilas padanya. “Kamu berpikiran yang aneh-aneh, ya?” “Nggak, kok!” Bantah Aile membentaknya. “Saya mau ngomong sesuatu sama kamu,” jelas Asra. “Yaelah, dari tadi juga ditelpon ngomong ada yang mau dibahas mulu. Kenapa nggak sekarang aja, sih?” protes Aile jengah. “Tidak. Saya sekarang lagi nyetir.” “Berhenti di pinggir aja dulu.” “Tidak. Saya juga sekalian mau ngasih lihat kamu apartemen yang sekarang saya tinggali.” “Bapak nggak tinggal bareng ortu Bapak?” tanya Aile heran. “Tidak.” “Kenapa?” “Saya suka saja hidup mandiri.” Aile menghembuskan napas pelan dan menengok keluar ketika mobil Asra memasuki sebuah parkiran bawah tanah. “Udah sampai?” “Belum, apartemen saya di lantai lima,” jawab Asra lalu keluar lebih dulu dari mobil. Aile mengikutinya, masuk ke lift dan naik ke lantai lima. Ia mengekori Asra menyusuri lorong panjang hingga akhirnya sampai di pintu dengan nomor 207. Asra menekan beberapa pin angka dan pintu akhirnya terbuka. Aile masuk dan mengamati bagian dalam apartemen itu. Rapi dan bersih, itu kesan pertama Aile. Wanginya juga khas Asra sekali. Ruangannya luas dengan ruang tamu berisi sofa, TV dan lemari berisi barang-barang antik lalu meja setrika yang ada di dekat pintu —mungkin pintu kamar Asra. Dapurnya juga terlihat rapi. Warna putih dan abu-abu mendominasi warna ruangan dan benda-benda di apartemen Asra. Hampir mirip dengan selera Aile. “Kamu mau minum apa?” tawar Asra sembari meletakkan tasnya di sofa dan melepas sepatunya. “Nggak usah. Langsung to the point aja, Bapak mau ngomong apa?” tagih Aile melipat tangannya di depan d**a. Asra diam sejenak lalu menghembuskan napas dengan keras. Ia menghampiri Aile dan menatapnya dengan intens. “Meka itu siapanya kamu?” “Heh?” Aile lantas bingung. “Itu yang mau Bapak tanyain?” “Jawab aja, Aile,” tekan Asra melangkah lagi makin dekat dengan gadis itu. Ailej langsung grogi. Ia mundur perlahan, memberi ruang banyak-banyak di antara mereka. “Dia teman saya semasa SD. Baru ketemu lagi waktu dia pindah ke sini.” “Teman SD?” beo Asra. “Kenapa kalian sedekat itu?” Aile memutar bola matanya. “Ck, Bapak sama aja dengan teman-teman saya. Kenapa harus dipertanyakan lagi, sih? Memangnya saya nggak boleh dekat dengan teman saya sendiri? Kami akrab banget pas SD dan dia tiba-tiba pindah ke sini. Tapi bukan berarti saat ketemu kembali, kami nggak bisa akrab lagi, bukan?” “Jauhin dia,” ujar Asra dengan suara rendah. “Saya nggak suka kamu dekat-dekat dengannya.” “Lho, kenapa saya harus jauhin dia karena Bapak?” “Saya tunangan kamu, Aile.” “Bapak, kok, jadi gini, sih? Bapak takut saya macam-macam? Nggak akan, kok. Saya justru tersinggung, tahu. Bapak nuduh saya cewek apaan dengan berpendapat seperti itu? Memangnya saya nggak boleh berteman setelah tunangan gitu? Meka satu-satunya teman dekat saya, selain dia nggak ada lagi. Bapak mau saya berteman dengan siapa kalau bukan dia?” “Masih banyak temanmu yang lain. Kania, Rona, memangnya kamu nggak bisa bertemanlah dengan mereka saja? Itu lebih aman, Le,” nasihat Asra. “Saya berteman dengan mereka, tapi tidak bisa seakrab Meka, Pak. Kenapa jadi protektif begini, sih? Bapak cemburu?” tanya Aile telak. Asra terdiam. Cemburu ... apa itu yang benar-benar ia rasakan sekarang? Perasaan tak rela melihat tunangannya lebih akrab dengan orang lain dari pada dirinya. Sikap protektif yang tanpa disadarinya muncul. Rasa kesal yang membuatnya hampir tak terlihat profesional di kelas saat melihat Aile kagum pada Meka. Apakah semua itu cemburu? Cemburu tak muncul karena alasan apa pun selain ... karena mungkin saja ia sudah jatuh cinta pada gadis itu. Asra terhanyut dalam pikirannya sendiri, hingga tak sadar pintu apartemennya telah dibuka seseorang. “Ah, ternyata kamu belum ganti password-nya, ya, Sayang?" Seorang wanita, menggunakan dress hitam selutut berdiri di depan pintu, menatap Asra dengan senyum manis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD