Bab 10

1653 Words
Aile menunjukkan smirk-nya setelah berhasil membuat Asra kehilangan kata-kata. Padahal ia hanya melontarkan kata cemburu tanpa maksud apa pun selain karena kesal, tapi reaksi pria di depannya membuat tersenyum menang. Aile melipat tangannya di depan d**a dengan senyum angkuh. “Bapak beneran cem—“ Suara pin apartemen yang tengah dimasukkan terdengar samar-samar, menginterupsi kata-kata Aile. Ia menoleh ke arah sana dengan raut terkejut dan tak lama kemudian, pintu apartemen Asra terbuka. “Ah, ternyata kamu belum ganti password-nya, ya, Sayang?” Seorang wanita, menggunakan dress hitam selutut berdiri di depan pintu, menatap Asra dengan senyum manis. “Sa-sayang?” lirih Aile samar. Aile menatap tajam pada Asra yang terlihat agak linglung, belum mencerna sepenuhnya kejadian saat ini. Di satu sisi ia masih bertanya-tanya tentang perasaannya dan di sisi lain, pikirannya dipenuhi oleh wanita yang mulai melangkah mendekatinya itu. “Trish? Kamu ... kenapa bisa masuk?” tanya Asra bingung. Wanita bernama Trish itu menaikkan sebelah alisnya. “Lho? Dulu kamu yang bilang pin apartemen kamu itu tanggal ulang tahunku. Masa kamu udah lupa, sih?” tanyakan dengan bibir cemberut, namun sedetik kemudian kembali tersenyum. “Udah, nggak apa-apa. Yang penting, aku akhirnya ketemu kamu lagi,” tambahnya dan memeluk lengan Asra. Asra langsung menepisnya. “Kamu kenapa datang ke sini lagi?” tanyanya dengan tatapan mengintimidasi. “Ck, kita udah nggak ketemu hampir dua bulan, lho. Masa kamu begini, sih, sama pacar kamu sendiri?” Pacar?! Aile membulatkan matanya, mengetatkan rahangnya, berusaha menahan emosinya. Ia tertawa sinis dalam hati. Wah, luar biasa! Mereka baru saja berdebat tentang pertemanannya dengan Meka dan apa yang sekarang terjadi? Seorang wanita datang dengan santainya memanggil calon tunangannya dengan embel-embel sayang? Tangan Aile terkepal erat, berusaha menahan kekesalannya yang hampir meledak. Ia merasa pertemuannya dibatasi, sementara yang membatasi ternyata punya kekasih. “Ini siapa, Asra?” Trish menatap Aile yang masih berseragam sekolah. “Ah, dia ....” Asra menggantung ucapannya. Apa ia harus memperkenalkan Aile sebagai tunangannya? Melihat sikap Asra yang ragu membuat hati Aile mencelus. Ia mengambil napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan, berusaha mengendalikan emosinya. Tangannya yang tadi terkepal erat kini mulai melemah. Rahangnya tak mengetat seperti di awal. “Saya sepupunya Pak Asra.” Aile yang akhirnya memberi jawaban untuk pertanyaan Trish. Tak lupa, ia memberi senyum tipis pada wanita itu. “Sepupu? Tapi, kenapa manggil Pak?” tanya Trish heran. “Ah, Pak Asra guru saya di sekolah, jadi saya terbiasa memanggilnya seperti itu,” jelas Aile. Trish mengangguk pelan. “Ah, iya. Tapi, kamu bisa, kok, ngomong santai sama aku. Nggak usah terlalu formal,” sarannya. “Maaf,” Aile menggeleng pelan, “saya tidak bisa seperti itu dengan orang baru. Kalau begitu, saya pergi dulu,” pamitnya menatap Asra sekilas. “Biar saya antar, Aile,” tawar Asra langsung. “Nggak usah, Pak. Saya bisa pulang naik taksi,” tolak Aile lalu berjalan menuju pintu. “Aile—“ “Asra, udah. Dia bilang bisa pulang sendiri, ‘kan? Lagi pula dia udah besar,” potong Trish menghalanginya, lalu memeluknya. “Aku kangen banget sama kamu.” Asra mematung di tempatnya. Ia ingin menyusul Aile namun kakinya seperti terjerat oleh perekat di lantai. Kini, ia tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menyimpan kegelisahan saat sadar Aile masih melihat Trish yang memeluknya. Walaupun hanya sekilas sebelum pintu apartemennya tertutup sempurna. “Lepasin!” Asra melepas tangan Trish yang melingkar di pinggangnya. “Kamu kenapa, sih, jadi begini? Kamu nggak kangen sama aku?” “Tidak ada gunanya aku merasakan hal sia-sia itu,” hina Asra. “Kamu kenapa ke sini lagi?” “Lho, kamu kok tanya kayak gitu? Aku ini pacar kamu, lho, Sra.” “Hubungan kita udah selesai sejak dua bulan yang lalu.” Trish menghela napas lalu meraih kedua tangan Asra, menggenggamnya erat. “Aku mabuk waktu itu sampai nggak sadar bilang gitu ke kamu. Aku masih cinta sama kamu, Asra. Aku juga masih ingat, kamu bilang akan perkenalkan aku sama ortu kamu sebelum serius melamar aku. Maaf, kalau akhir-akhir ini aku nggak ada kabar. Ada hal penting yang harus aku urus. Sekarang aku ke sini karena ingin jelasin sama kamu, kalau perkataan aku waktu mabuk, itu enggak benar,” ujarnya menatap Asra yakin. Asra memalingkan wajahnya ke arah lain untuk sejenak lalu kembali menatap wanita di depannya dengan ekspresi datar. “Orang-orang cenderung jujur saat mabuk,” ujarnya melepas tangannya dari Trish. “Asra! Please, believe me!” mohon Trish. “Aku benar-benar sayang sama kamu, jadi tolong percaya sama aku.” Asra mendengus sarkas. “Sangat mudah untuk kamu bilang seperti itu. Mengatakan putus, menghilang lalu muncul lagi seolah kata putus tidak pernah keluar dari mulut kamu itu. Trish, umur kita sekarang bukan umur di mana kita dengan mudahnya mengakhiri hubungan seperti itu. Awalnya aku hampir serius sama kamu, tapi karena sikap kamu itu, aku merasa tidak yakin dengan kamu ke jenjang yang lebih serius. Aku tahu kamu pasti sudah mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan kita dan mungkin saja itu membuat kamu frustasi. Jadi, kamu melampiaskannya dengan mabuk-mabukan dan akhirnya mengatakan apa isi hati kamu sebenarnya.” “Asra, kamu salah! Harus aku jelasin bagaimana lagi supaya kamu ngerti?” pinta Trish lelah. “Aku juga ingin hubungan kita lebih serius, jadi tolong maafin aku dan kita coba perbaiki hubungan kita lagi, oke?” Asra menggeleng pelan. “Sudah tidak bisa. Aku tidak bisa kembali lagi dengan kamu, Trish,” tolaknya frustasi. “Oke, aku anggap kamu marah karena sakit hati dengan keputusan aku mengakhiri hubungan kita,” ujar Trish masih berusaha. “Jangan seenaknya berpendapat tentang aku,” tegur Asra menatap wanita itu tajam. “Pergi dari sini,” suruhnya dengan suara rendah. “Tapi, emang kenyataannya, ‘kan kamu kecewa sama aku? Makanya aku mau perbaiki itu,” balas Trish tetap bertahan. Asra memejamkan matanya sejenak. “Tolong pergi dari sini, sebelum aku kasar sama kamu. Tolong, Trish,” lirihnya menghela napas berat. “Oke, oke, aku pulang. Aku akan kasih kamu waktu untuk berpikir jernih. Aku tahu kamu masih sayang sama aku,” tekan Trish lagi. Ia hendak menepuk pundak Asra namun pria itu melangkah mundur. Trish tersenyum paksa lalu berbalik ke pintu, pergi dari apartemen Asra. *** Aile keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia mengambil ponselnya yang sedari tadi berdering lalu mendengkus keras melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Asra. Alasan apa kira-kira yang diberi pria itu padanya? Wanita bernama Trish itu sudah jelas-jelas bilang dia adalah pacar Asra. Bagaimana dengan pertunangan mereka? Kenapa Asra setuju dengan pertunangan padahal ia punya pacar? Aile menggaruk kepalanya yang masih basah dan duduk di bibir tempat tidurnya. Panggilan Asra masuk lagi, dengan cepat ia reject saja. Tak berselang lama kemudian, sebuah pesan w******p masuk. Aile membulatkan matanya kesal melihat chat Asra yang baru masuk. “What?!” Matanya melotot lebar. Pak Asra: Angkat panggilan telepon saya. Jangan kekanak-kanakan. “Siapa yang kekanak-kanakan? Seenaknya banget, ya, ngatain gue!” geram Aile meremas ponselnya. Panggilan Asra masuk lagi dan tanpa pikir panjang, Aile langsung mengangkatnya. "Memangnya cuma saya yang kekanakan-kanakan? Bapak juga kekanakan-kanakan!" sembur Aile langsung begitu panggilan mereka tersambung. "Maksud kamu?" Aile bisa membayangkan wajah bingung Asra. "Bapak ngelarang saya dekat-dekat dengan Meka, teman saya. Sementara Bapak ternyata punya pacar! Kenapa menyetujui pertunangan ini kalau Bapak punya pacar?" "Aile, saya tidak pacaran– maksudnya dia bukan pacar saya lagi! Kamu salah paham,” ujar Asra berusaha menjelaskan. "Ya, terus yang saya dengar tadi apa? Nggak mungkin saya salah denger. Saya korek telinga tiap hari!" omel Aile jengkel. "Ah, ternyata kamu belum ganti pinnya, ya, Sayang?" imbuhnya lagi, meniru gaya bicara Trish. "Kamu cemburu?" Asra malah fokus ke arah lain. "Ya enggaklah!" bantah Aile langsung, makin kesal. "Saya cuma nggak suka pertemanan saya dibatasi, sementara Bapak juga bebas sama cewek lain. Gini aja, deh, nggak usah peduli satu sama lain tentang kehidupan pribadi, cukup di depan orang tua masing-masing aja, Pak. Saya bebas mau berteman sama siapa pun, Bapak juga bebas mau pacaran sama siapa. Adil, bukan?" "Tidak bisa begitu! Kita ini sudah bertunangan, sangat salah kalau kamu ingin kita saling selingkuh," tolak Asra mentah-mentah. "Ah, ternyata kamu belum ganti pinnya, ya, Sayang?" Lagi-lagi Aile menirukan ucapan Trish dengan nada mengejek. "Aile, saya sudah bilang, 'kan, dia bukan pacar saya. Dia mantan saya," tegas Asra. "M.a.n.t.a.n, di baca mantan" lanjutnya mengeja hurufnya. Aile memutar bola matanya. "Dia yang mutusin saya, mungkin udah dua bulan. Sejak itu, saya tidak pernah berhubungan dengannya lagi. Saya saja kaget, dia tiba-tiba muncul di apartemen saya.” "Lalu kenapa dia tahu pin apartemen Bapak?" "Saya lupa ganti pin apartemen saya." Aile berdecak pelan. "Kalau memang begitu, mending Bapak selesaikan dulu dengan dia. Tegasin kalau emang hubungan kalian udah selesai. Karena dia kelihatannya belum mau ngelepasin Bapak," ujar Aile memberi solusi. "Saya juga kesal karena merasa dicurangi, tahu!" lanjutnya dengan nada gusar. "Iya, saya akan bicara dengan dia." Nada lega Asra terdengar. "Dia tahu Bapak udah tunangan?" "Belum. Saya belum kasih tahu dia." "Lebih baik jangan. Saya nggak mau hidup saya terusik kalau sampai dia tahu," ujar Aile ketus. Asra menyunggingkan senyum tipis mendengarnya. "Kalau begitu, kamu sudah tidak salah paham lagi, 'kan?" Aile mengulum bibirnya. "Hm, iya." "Jadi, tidak usah dekat-dekat dengan Meka lagi. Kalau perlu, suruh dia tukar dengan siswi yang duduk di belakang kamu itu. Yang kembar itu." "Mana bisa, Pak. Dari dulu Romi dan Rona nggak terpisahkan, selalu sebangku. Lagi pula memangnya kenapa, sih, kalau saya duduk sama Meka? Dia teman saya, Pak," jelas Aile kembali kesal. "T.e.m.a.n, dibaca teman," imbuhnya menirukan ucapan Asra sebelumnya. Asra lantas berdecak. "Kamu pinter banget, ya, imitasi ucapan orang lain?" "Terserah saya. Udah, Pak, tutup teleponnya,” ujar Aile tak ingin kesal lagi. "Oke. Saya tutup teleponnya." Aile menjauhkan ponselnya dari telinganya dan termenung beberapa saat. Pikirannya tengah dibanjiri oleh wajah Trish. Bagaimana ucapan wanita itu terngiang-ngiang di otaknya. Belum lagi, ia masih ingat betul, matanya menangkap Trish yang memeluk Asra dengan erat. "Ish!" geram Aile kesal lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD