EPISODE 14

2143 Words
Aku sudah sampai di rumah bersama semua keluargaku. Devan dan Hana tadi pamit terlebih dahulu untuk pulang, berarti Hana di bonceng Devan dong? Emang kalian pasangan yang serasi. Tapi aku sedih jika melihat kalian berdua bersama. Aku sudah memiliki seseorang yang aku sayangi, Kak Bagas. Aku sangat menyayanginya, namun tanpa aku sadar, waktu juga membuatku menyayangi sesorang lebih dari seorang sahabat. Aku jadi mengingat kata-kata di komik NG Boy x Paradise-ku. Yang bisa merubah sesuatu bukan karena lamanya waktu Tapi waktu seperti apa yang di lewatinya Aku menuju balkon kamarku seperti malam sebelumnya, aku nggak pedulli Devan ngomong kasar ke aku. Tapi hanya disini aku bisa ngobrol berdua dengan Devan. Aku kangen Devan!! Sekarang pukul sebelas kurang lima menit, tapi Devan tidak keluar menuju balkon untuk memetik gitar dan melantunkan lagu itu. Oh iya, aku jadi ingat kenapa harus lagu itu yang selalu dinyanyiin Devan? Aku segera masuk kamar dan mengambil Hp ku, kemudian duduk di kursi balkon kamarku sambil mencari lirik lagu That Should Be Me yang selalu dinyanyiin Devan. Dengan kemampuanku, aku mencoba mengartikan lagu That Should Be Me. Seharusnya aku yang menggenggam tanganmu Seharusnya aku yang membuatmu tertawa Seharusnya aku, ini sangat menyedihkan Seharusnya aku Seharusnya aku merasakan ciumanmu Seharusnya aku yang membelikanmu hadiah Ini sebuah kesalahan Aku tidak bisa pergi Hingga kamu percaya Seharusnya aku.. Untuk siapa lagu ini? Apakah benar Devan menolak Hana karena Devan telah menyukai seseorang? Seseorang itu siapa? Zzz… Mungkin aku terlalu memikirkan Devan, hingga aku tertidur di kursi balkon kamarku yang udaranya cukup dingin. Saat aku berdiri dari kursi balkon, aku melihat gitar Devan tergeletak diatas kursi empuk balkon rumahnya. Berarti tadi Devan di sana? Menyanyikan lagu itu lagi? Aku lega karena Devan sudah pulang. Saat aku akan masuk ke dalam kamar, ada kertas yang sudah di remas-remas tergeletak di dekat pintu balkon. Aku awalnya mengira hanya sebuah sampah. Namun, aku ingin membuka ketas yang sudah berbentuk bulat itu. Happy Birthday ya Tami Dan maaf.. R.K Untukku? Tapi kenapa tidak ada nama pengirimnya sih? hanya inisial namanya, mana aku tau kalo kayak gini? Aku mengurungkan niat untuk masuk ke dalam kamar. Aku melihat waktu di layar Hpku yang sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi. Tapi kan aku udah tidur, jadi nggak masalah kalo begadang sebentar aja. Aku menunggu Devan keluar dan mengambil gitarnya. Aku ingin dia tau kalo aku disini menunggunya, kalo aku disini mengkhawatirkannya. Kenapa sih perasaanku saat ini kok nggak karuan? Aku adalah pacar Kak Bagas dan pastinya aku menyayanginya. Namun, kenapa saat aku memejamkan mata malah bayangan Devan yang selalu hadir? Drrtt.. drrtt.. drrtt.. I miss your tan skin your sweet smile drrtt.. drrtt... Nada dering Hpku berbunyi, aku segera mengambil Hpku yang baru saja aku leatkkan di atas meja balkon. From : K’ Bagas  Mav gggu, udh tdur y? haha, (cma kngen) ;) Aku tersenyum melihat pesan singkat dari Kak Bagas yang mampu membuyarkan lamunanku tentang Devan. Send : huf~ ak blm tdur kak. (ak jg kngen) hihi drrtt.. drrtt.. I miss aku segera membuka pesan singkat dari Kak Bagas pastinya. From : K’ Bagas  Waduh, jgn tdur mlm2, bobo dah sana. Klo kk insomnia, jd ngga bsa tdur. Bobo ya.. Have a nice dream.. ;) aku tidak menjawab pesan singkat Kak Bagas, sebenarnya ada pesan singkat dari seseorang yang aku tunggu-tunggu malam ini. Drrtt.. drrtt.. drrtt.. I miss your tan skin your sweet smile drrtt.. drrtt.. Dengan enggan aku membuka pesan singkat yang sepertinya dari Kak Bagas lagi. From : Devan Bodo!! Cpt msuk, biar nggak demam. Trus nyusahin org d sklh Aku lega, bahkan sangat lega melihat pesan singkat yang masuk dari Devan, aku tersenyum tipis sambil membalas pesan singkat dari Devan. Send : ak ingin liat km main gtar smbl nynyi, mskpun ak tau itu bkn buat ak. Aku nggak tau kenapa aku ingin bertemu Devan, melihatnya bermain gitar dan menyanyi dengan hati. Cklekk’.. Suara pintu balkon rumah Devan terbuka dan Devan yang telah mengenakan piyama keluar dari dalam rumahnya. Dia menatapku dengan tatapan kosong, dan mengambil gitar dari kursi empuk dan Devan duduk di kursi empuk itu.. “kenapa kamu masih di situ?” tanya Devan tanpa menatap sedikitpun kearahku. “aku nungguin seseorang” “siapa?” “mungkin malaikat” “kenapa?” “karena aku kesepian” aku tidak bisa menahan kebiasaan ceplas-ceplosku jika dalam posisi terpojok seperti saat ini, “emang kamu kesepian?” lanjut Devan. “ya”. “ngapain kamu masih nungguin malaikatmu itu?” “karna aku yakin dia pasti kembali dari perginya yang aku tak tau ke mana”. “kenapa kamu begitu yakin?” “karena dia ada” aku memberikan alasan nggak jelas kepada Devan yang terus-terusan menanyaiku masalah yang nggak jelas juga yang aku buat sendiri. “bukannya malaikatmu pergi?” “yang pergi hanya kenangannya, tapi sebenarnya ada” “kemana kenangan itu?” “aku nggak tau, tapi aku yakin pasti masih tersisa kenangan itu walau hanya secuil kecil” Devan tidak bertanya tanya lagi, aku melihat Devan yang mulai memperhatikan gitarnya. Tak lama kemudian, ia mulai memetik gitarnya dengan lembut. Dan menyanyikan lagu itu lagi. Aku mendengarkan petikan gitar dan juga lantunan lagunya yang begitu menusuk hingga relung hati ku terdalam. Saat Devan selesai melantunkan alunan nada dari petikan gitarnya, Devan langsung berdiri dan mendekati pagar balkon. Aku langsung memperhatikan Devan yang sudah berdiri di dekat pagar balkon. “aku yakin, malaikatmu tidak akan melupakan secuil pun kenangannya bersamamu” kata Devan kemudian membalikkan badan menuju pintu balkon. “tunggu” aku berteriak dan berdiri mendekati pagar balkon rumahku. Devan pun langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan badan menatap mataku. “aku kangen kamu yang dulu” air mata sudah terkumpul di pelupuk mataku. “aku juga” jawab Devan enteng dan tanpa ekspresi yang mengagetkanku. Namun Devan segera masuk kedalam rumahnya dan menutup pintu balkon. Ha? Apa hanya segitu yang dirasakan Devan? Apakah hanya aku yang merasakan sakit ini? ** Aku mengingat perkataan Hana dulu yang akan menceritakan sesuatu tentang Kak Bagas, namun tidak jadi karena di kantin terlalu ramai. Kemudian aku mengajaknya ke kamar mandi, namun dia tidak mau dan memilih untuk ke rumahku. Tapi, sampai aku lupa dia tidak pernah ke rumahku. Saat ini aku di sekolah meminta penjelasan dari Hana tentang perkataannya itu. “oh iya, aku lupa kalo waktu itu mau ke rumah kamu” kata Hana sambil menggaruk-garuk kepalanya. “aku ceritain disini aja deh mau nggak?” kami sedang berada di kantin. Namun kali ini kantin sepi karena memang belum jam istirahat. Pelajaran kosong kami manfaatkan untuk ke kantin menunda lapar. Aku hanya meeganggukkan kepala dengan wajah penasaran. “Devan pernah cerita ke aku, kalo dia sering ngeliat Kak Bagas di tempat-tempat orang nggak bener gitu” Hana membisikkan dengan suara pelan. “apa bener seperti itu?” aku melirik Hana yang sedang memakan gorengan. Hana menganggukan kepalanya. “apa kamu percaya sama Devan?” aku melirik Hana yang mengangguk kuat-kuat. “apa yang ngebuat kamu percaya sama Devan?” aku bertanya lagi.. Hana berhenti mengunyah makanannya dan menatap mataku. “kita udah kenal Devan nggak baru kemaren, Devan itu sahabat kita” Hana mengucapkan itu penuh kesungguhan. Tapi bener juga kata Hana, tapi aku kenal Kak Bagas kan juga udah lama. Aku dan Hana kembali menuju kelas yang sepi karena isinya banyak yang ke lapangan basket, kamar mandi, perpus dan paling banyak emang ke kantin. Aku melihat Devan yang tertidur di bangkunya. Aku dan Hana menuju meja kami dan segera mengambil komik dari tas masing-masing yang dibawa secara sembunyi-sembunyi ke sekolah. “Eh Ra, kamu tau nggak Devan kenapa?” Hana menyenggol-nyenggol lenganku sambil melirik Devan yang menyandarkan kepalanya diatas meja. Aku hanya mengangkat bahu dan terus membaca komik Love Sign 1-ku.. “kamu tau nggak kalo Devan sekarang sedang murung?” Hana meletakkan komiknya diatas meja. Tanpa melirik Hana, aku hanya menggeleng-geleng kepala. “kamu tau nggak kalo dia suka cewek yang menurutku cewek itu hebat” Hana penuh semangat namun tetap dengan suaranya yang pelan. Aku kaget dan langsung menatap lurus-lurus mata Hana, Hana yang kaget dengan perubahan tingkah lakuku hanya senyam-senyum nggak jelas. . “siapa tuh cewek, kamu tau?” aku benar-benar penasaran. Hana tersenyum lebar. “tapi kamu jangan marah?” Hana mengatakan dengan serius. “cewek itu, aku” kata Hana pelan dengan wajah menyesal. Mungkin pada saat itu wajahku berubah menjadi merah padam, hingga Hana menertawaiku. “huahaha, aku bercanda.. haha!! Ya jelas kamu. hahaha” apa? Hana ngomong apa tadi? Aku nggak begitu denger! Hana langsung menutup mulutnya dan langsung mengalihkan pembicaraan. “emm, oh ya! Selamat ultah ya Tami.. huhu. Maaf ya kemarin aku nggak tau kalo kamu ultah..” Hana mengucel-ucel rambutku penuh semangat. Aku tersenyum menghadap kearah Hana dan langsung melanjutkan membaca komikku tanpa bicara sepatah kata pun. Krriingg.. krriingg.. Jam pelajaran keenam telah habis. Sekarang adalah pelajarannya Pak Paul, guru bahasa inggris yang udah tua dan ngomong inggrisnya itu medok jawa. Orangnya agak putih, rambutnya udah beruban semua disisir miring, pake kacamata bulet ada kumis yang juga warna putih dan orangnya agak gemuk. Wah, sekarang pelajarannya cuma kuis aja, di bagi kelompok! Pasti asyik.. “kelompoknya saya bagi dengan mengambil nomor kelompok di meja guru, saya sudah membuatkan nomor kelompoknya. Mengambilnya menurut nomor absen” kata Pak Paul dengan spidol hitam di tangannya. Satu persatu murid di kelas ku mengambil nomor undian kelompok yang dibagi menjadi enam kelompok dari tiga puluh murid. Hana melihatkan nomor undiannya yang ternyata nggak satu kelompok denganku. Hana kelompok satu, sedangkan aku kelompok lima. “yang sudah memegang nomor undian kelompok, segera cari kelompok masing-masing” lanjut Pak Paul sambil mengelilingi kelas. Aku segera menuju teman-temanku yang mempunyai nomor undian sama denganku. “lima lima lima!” teriakku sambil memperlihatkan kertas undian dan memutari kelas. Ternyata aku sekelompok dengan Zaki, Hildan, Hans dan DEVAN!! Astaga, yang satu kelompok denganku cowok semua, apalagi ada Devan yang membenci ku. Kalau gini mana bisa kompak? “kelompok ini adalah kelompok waktu pelajaran bahasa inggris, jadi setiap kali pelajaran bahasa inggris, kalian harus duduk sesuai kelompok ini, saya tidak menerima protes murid. Baik, saya akan memulai kuisnya” Pak Paul semakin bersemangat di masa tuanya. Ciit.. cit.. cit... Suara spidol Pak Paul yang tintanya sudah habis namun tetap dipaksa untuk menulis di papan tulis. Pak Paul menulis begitu banyak soal dengan tulisan yang nggak jelas. Kami semua di dalam kelas hanya melihat Pak Paul yang hanya menulis soal tanpa ngomong apapun kepada kami. Kami kan bingung? katanya kuis, kok malah di tulisin segitu banyak soal sih? aneh! “baik, sekarang catat soal ini di buku kalian masing-masing” kata Pak Paul, kelasku yang sebelumnya hening langsung riuh gara-gara harus menulis semua tulisan nggak jelas di papan tulis. “satu kelompok satu saja tidak apa-apa. Tentukan ketua yang bertanggung jawab dan menjaga kalian agar tidak ramai, tentukan juga sekretaris untuk mencatat jika di butuhkan” ucap Pak Paul. “saya sekarang ada urusan mendadak, tugas ini akan di jadikan PR, ini adalah tugas kelompok. Siapa saja yang tidak ikut mengerjakan nilainya tidak akan saya tulis di buku nilai. Untuk ketua kelompok, mohon jaga kelas agar tidak ramai” lanjut Pak Paul kemudian keluar dengan badan tegapnya. . “ketuanya aku, dan sekretarisnya Tami” kata Devan sepihak, tanpa bertanya dulu kepadaku. “nggak mau” aku berdiri sambil memalingkan wajahku. “kami bertiga setuju kok” kata Zaki yang memang anak paling males plus paling bandel di kelas.. “bagus!” ucap Devan seakan dia adalah pemenang. “cepet tulis soal dari Pak Paul di papan tulis. Dua puluh lima menit lagi bel pulang, nulisnya harus cepet dan bisa di baca” Devan ngoceh tanpa ekspresi wajah yang membuatku semakin jengkel dengannya. “ya udah deh, minta buku, bolpen dan tipe-x” kataku juga tanpa ekspresi akibat tertekan tiga cowok yang memelototiku dan satu cowok tanpa ekspresi yang serem. “enak aja! Siapin semuanya sendiri, kita sibuk” bentak Devan yang sedang main poker di bawah meja dengan semua cowok di kelompok lima. Aku yang udah senang Devan masih mau ngomong denganku langsung mengerjakan semua soal yang ada di papan tulis yang berjumlah dua puluh soal. Belum dua puluh lima menit berjalan, aku sudah selesai menulis dengan cepat dan tulisannya bagus di buku bahasa inggrisku. “Tamia!! Aku udah ngerjain semuanya” aku membungkuk menghadap semua cowok kelompokku yang masih asik main poker. “punya kita udah di tulisin juga belum?” Devan mendongakkan kepalanya masih tetap tanpa ekspresi. “kan kata Pak Paul cuma di suruh nulis satu aja! Nanti kan bisa foto copy sendiri” “sekarang kamu tinggal foto copy di Pak Yon” Devan masih saja menyuruhku untuk melakukan semua pekerjaan kelompok. “nggak mau kalo sendiri” aku kembali menghadap buku bahasa inggrisku. Devan kemudian berdiri dan menarik tanganku keluar kelas. “apaan sih, lepasin nggak!” aku berusaha melepaskan genggaman tangan Devan dengan memukul-mukul tanganya dengan buku bahasa inggris ku. Devan masih memegangi tanganku dan memelototiku. “katanya nggak mau sendirian foto copy nya! Yaudah sama aku!” bentak Devan yang membuatku semakin takut dengannya. Aku nggak berkomentar apa-apa, Devan masih terus menggandeng tanganku menuju tempat foto copy sekolah. “Pak Yon, ada anak kecil mau foto copy nih!” Devan menarikku masuk kedalam ruang foto copy. Pak Yon hanya senyam-senyum sambil meminta kertas yang akan di foto copy. Aku memeberikan buku bahasa inggrisku dengan manyun sambil menatap Devan yang sedang tertawa memperlihatkan semua giginya. Sepertinya Devan sudah mulai menerimaku kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD