Badanku panas dan mataku bengkak parah! Tapi hari ini ada ulangan kimia dan aku tidak belajar. Kak Rere sudah datang ke kamarku dan mengatakan bahwa aku harus libur, tentu saja aku menolaknya karena jika ulangan kima susulan bisa-bisa aku harus susulan di ruang guru dan di tunggu Pak Joko dengan wajah menyeramkan yang ngebikin soal gampang jadi sulit banget gara-gara nervous (itu sih kata kakak kelas yang pernah ulangan kimia susulan). Memang nggak enak banget kalo di rumah nggak ada orang tua, nggak di urusin kayak gini deh.
Hari ini aku dianter Kak Rere sampai di depan gerbang sekolah untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku juga dipinjamin kaca mata hitam milik Kak Rere untuk menutupi mataku yang bengkak. Aku juga diajarin pelajaran kimia waktu sarapan di ruang makan. Pagi ini Kak Rere benar-benar baik kepadaku, mungkin karena mood-nya yang sedang baik juga.
Aku masih memakai kaca mata hitamku meskipun banyak mata yang melihat kearahku. Aku tidak peduli omongan mereka, hingga Kak Bagas mendatangiku yang masih berada di tangga menuju kelasku. Kak Bagas mendengar kabar dari teman sekelasnya yang mengatakan jika hari ini aku sangat aneh. Kak Bagas langsung nyamperin aku sampe’ ketemu deh. Benar-benar cowok yang paling perhatian.
“kamu kenapa?” tanya Kak Bagas sambil nunjuk-nunjuk kaca mata hitam yang terlihat aneh olehnya. Aku menggelengkan kepala sabil tersenyum. Kemudian aku membuka kaca mata hitamku dengan pelan.
“aku kurang tidur nih kak” aku bohong.
“nggak mungkin, kamu pasti abis nangis? Kata kamu kalo ada masalah musti di ceritain? Nggak boleh sedih sendirian, apalagi nangis sampe’ bengkak gitu” Kak Bagas mengucel-ucel rambutku. Aku menganggukkan kepala, namun masalah kali ini aku nggak bisa terbuka sama Kak Bagas.
“tadi malem aku di marain papa sama mama sama Kak Rere” benar-benar bohong. Padahal papa dan mamaku masih di Bandung jenguk Kak Yogi yang lagi sakit, tapi mereka nggak pulang-pulang, lupa jalan pulang mungkin.
Kak Bagas percaya dengan alasan bohongku itu, aku benar-benar merasa bersalah. Kak Bagas mengambil kacamata dari tanganku dan memakaikannya lagi dengan sangat lembut. Kak Bagas juga mengantarkanku hingga benar-benar duduk di kursiku. Hana yang sudah datang hanya menggaruk-garuk rambutnya yang merasa bingung dengan dandananku hari ini. Aku menoleh kearah Devan yang duduk di kursinya dan membaca buku tebal. Apalah itu aku nggak peduli.
Hana menyenggol-nyenggol tanganku sesaat setelah Kak Bagas pamit untuk kembali ke kelasnya dan keluar dari kelasku. “Tami.. Tami? Kenapa tuh mata??” Hana menunjuk-nunjuk kacamata hitamku.
“ini tren terbaru tau” dengan santai aku mengatakan itu. Memang, Kak Bagas selalu bisa menenangkan hati ku yang sedang sangat kacau ini. Hana masih menggaruk-garuk rambutnya, masih tidak mengerti. Aku hanya tertawa sambil merusak tatanan rambut Hana.
“ih, apaan sih kamu ini. Lagi berbunga-bunga aja dilampiasin ke temennya” kata Hana dengan nada menyindir. Aku hanya senyam-senyum nggak jelas.
“eh, selama ini yang deket sama Devan kan kamu?” kataku hati-hati saat pelajaran jam pertama baru saja di mulai, yaitu pelajaran sejarah dengan guru cewek yang udah mau pensiun. Hana kaget dengan pertanyaan ku hanya menganggukkan kepalanya. “aku boleh nanya tentang Devan nggak?” Hana hanya menggukkan kepalanya lagi. “tapi jangan bilang ke Devannya ya?” Hana hanya mengaggukkan kepalanya untuk ke tiga kalinya. “janji?” Hana menganggukkan kepalanya untuk kesekian kalinya tapi dengan menjulurkan jari kelingkingnya dan menatap mataku. hiiy, serem! “apa kamu tau Devan bisa main musik?”
Hana menatap mataku dengan sedih, kemudian menganggukkan kepalanya. “dia selalu berlatih bermain gitar di ruang ekskul musik setiap hari, katanya sih dia ingin nunjukin kepada seseorang, tapi dia nggak pernah ngasih tau nama orangnya ke aku” Hana nampak sedih mengatakan hal itu kepada ku.
Aku tidak tau harus ngomong apa, tapi aku ingin tau lebih jauh tentang Devan!
“kamu tau nggak lagu apa yang selalu di nyanyiin Devan waktu main gitar?” aku bertanya dengan hati-hati kepada Hana.
Hana melirikku sepertinya dia curiga, tapi aku memasang muka serius. “kenapa sih kamu nanya-nya ke aku? ke orangnya sendiri kenapa?” kan, Hana benar-benar curiga. Aku tidak menjawab hanya memamerkan muka memelas. “aku pernah sih nganterin dan nungguin dia di ruang ekskul musik, tapi lagu yang dinyanyiin cuma satu dan hanya lagu itu yang dinyanyiin..”
“that should be me?” sela ku memotong kata-kata Hana..
Hana kaget dan memelototkan matanya.
“iya iya, kamu kok bisa tau? Kamu kan sekarang udah nggak barengan Devan lagi?” Hana menanyakan pertanyaan bertubi-tubi.
“apa sih maksud lagu itu?” aku tidak menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari Hana.
“kalo dari artinya sih that should be me itu seharusnya aku, aku nggak hafal liriknya jadi nggak tau maksud lagunya” Hana sambil menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa.
Untung saja guru sejarah orangnya udah tua banget, jadi meskipun kami berdua lebih banyak ngobrolnya dari pada merhatiin pelajarannya, kami nggak bakalan kena marah.
**
Lho, aku dimana ini? Kok aku malah tiduran di kasur putih ini sih?
“Tami.. Tami.. untung kamu udah sadar” Hana menggoncang-goncang tubuhku saat aku masih tertidur lemas di ruang UKS. Kepala ku masih berputar dan sakit, aku nggak kuat duduk. Hana mengerti keadaanku langsung mengangkat ku hingga terduduk di atas kasur putih ruang UKS.
“kamu tadi pingsan waktu istirahat” aku mengingat ingat kejadian tadi pagi. Hana mengajakku ke kantin tapi aku tidak mau karena malu memakai kaca mata hitam ke kantin. Kemudian aku tetap berada di kelas.
“ada yang bilang kamu dibawa ke UKS sama Devan tapi waktu aku cepet-cepet kesini malah Kak Bagas yang nungguin kamu, tapi Kak Bagas pamit mau kemana gitu soal pendafTamin osis, gitu katanya” Hana nampak serius.
“Devan?”
“kata saksi mata sih, waktu kamu pingsan cuma ada Devan di kelas. Trus dia gendong kamu sampe ruang UKS, dia sampe’ gak ikut ulangan kimia juga lho” Hana mengatakan dengan senyumannya, aneh! Hana kan suka Devan? Kok dia malah senyam-senyum kayak gitu.
“ulangan kimia? Lho tadi udah pelajaran kimia? Huh, dasar! Padahal aku masuk hari ini cuma bela-belain biar nggak ulangan kimia sendirian..”
“kamu kan nggak sendirian. Kan bareng Devan?” sela Hana sambil tersenyum genit.
“kamu itu gimana sih, katanya suka Devan? Tapi kok malah senyum nggak jelas gitu aku deket sama Devan. Seharusnya kamu itu marah!” aku mengatakan itu karena aku jengkel dengan Hana yang tingkah lakunya aneh.
Tak kusangka, muka Hana menjadi merah, mungkin kata-kata ku terlalu menyinggung perasaan sahabat ku ini.
“maaf, maaf..” belum selesai aku ngomong Hana sudah mengangkat jari telunjuknya dimulutnya, menyuruhku diam.
“aku yang seharusnya minta maaf ke kamu” aku hanya mengerutkan keningku, tidak mengerti yang dimaksudkan Hana. “ada satu rahasia Devan yang hanya aku tau”
“apa?”
“maaf, aku nggak bisa bilang ke kamu.
Maaf, aku sudah berjanji dengan Devan, Devan mengatakan bahwa pada saatnya kamu akan tau. Maaf” aku merasa kesal dengan kelakuan kedua sahabatku yang nggak mau terbuka denganku. Aku hanya memalingkan muka tidak menghadap kewajah Hana. “ternyata Devan sudah tau kalo aku menyukainya, dan dia menolakku” lanjut Hana dengan suara terbata-bata.
Udah tau? Dulu kan aku yang memberitahu Devan kalau Hana itu suka dengannya. Aku merasa bersalah.
Aku hanya bisa meneteskan air mata dan memeluk erat Hana yang tadi aku acuhkan. “aku juga minta maaf, tapi mulai sekarang kita harus saling jujur. Kita tetap sahabat selamanya” aku melepaskan pelukanku dan menjulurkan jari kelingking kepada Hana.
Hana menyambutnya juga sambil meneteskan air mata. Aku juga berjanji pada diriku sendiri tidak akan melakukan tidakan bodoh yang seperti anak kecil.
Saat bel pulang berbunyi Kak Bagas menjengukku di UKS sambil membawakan tasku dan senyuman manisnya yang tak pernah habis untukku.
“pulang denganku ya?” Kak Bagas menurunkanku dari kasur putih sedikit keras.
“bukannya Kak Bagas repot buat pendafTamin osis yang baru?”
“rumah kamu kan deket, jadi nggak bakalan ngerepotin kok” kata Kak Bagas masih membawa tasku yang berat. Aku hanya mengangguk pelan. “kalau ada apa-apa kamu jangan segan ngehubungin aku, selama ini kamu jarang ngehubungin aku duluan bisa diitung dengan lima jari aja” lanjut Kak Bagas sambil mengucek-ucek rambutku yang memang sudah berantakan dari awalnya.
Aku sangat senang mempunyai pacar yang perhatian dan baik kayak Kak Bagas. Hampir semua keburukan Kak Bagas yang diomongin orang itu nggak pernah terbukti. Mungkin nggak ada orang lain yang bisa seberuntung aku. haha, senangnya.
Di sepanjang jalan aku masih mengenakan kaca mata hitamku. Entah mengapa, setiap aku bersama Kak Bagas, rasa percaya diri ku muncul kembali. Kak Bagas telah banyak mengajari ku tentang bagaimana menjadi diri sendiri dengan baik.
“makasih ya kak, mau mampir dulu?” kata ku setelah aku turun dari Ninja-nya. Kak Bagas hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian berlalu meninggalkanku. Aku melihat garasi rumahku yang nampak ada sedan hitam, berarti mama papa ku sudah datang dari bandung. “aku pulaang” lho, kok nggak ada yang bales? Apa nggak ada orang? Tapi pagar terbuka, pintu rumah juga terbuka. Tapi nggak ada siapa-siapa, jangan-jangan kerampokan?
“mama.. papa.. mama.. kak Rere.. papa..” aku memanggil-manggil tapi tidak ada yang mendengar, aku semakin takut dan tidakan bodohku selalu saja ikut campur disaat aku kebingungan seperti ini.
Aku keluar rumah sambil berterik “maling.. malingg.. maling” tanpa basa-basi semua tetanggaku keluar rumah keluar dari rumah sambil membawa peralatan masing-masing.
“di mana maling? Dimana?” Pak Supri tetangga depan rumahku langsung mendekatiku sambil membawa raket nyamuk.
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumahku, sontak kami semua mengahadap ke rumahku. “Tami.. Tami..” lho mama? “cepet masuk rumah, bubarin tuh semua nggak ada apa-apa kok” Mama keluar rumah dengan hanya mengenakan daster panjangnya.
“aduh semuanya, maaf ya.. kayaknya di rumah saya nggak ada apa-apa. Maaf ya, sekarang semuanya di mohon bubar” aku mengatakannya seperti komandan upacara.
“nggak bisa gitu, kamu jangan main-main kau, kalo ada maling, kompleks kita kan jadi nggak aman. Bla bla bla bla..” Pak Supri terus saja mengomel padahal tetangga yang lain sudah membubarkan pasukannya.
Aku segera lari masuk kedalam rumah.
“mama.. aku kangen” sambil memeluk mama yang masih di depan pintu dengan daster merahnya.
Mama hanya terdia tanpa membalas pelukanku. Aneh ya.
“mama kenapa? Nggak kangen ya sama aku? yang lain mana?” aku melepaskan pelukanku dan melangkahkan kakiku memasuki ruang tamu.
“Tamia!!” tiba tiba Papa, Kak Rere, Kak Dewi dan Kak Yogi muncul dari dapur sambil membawa kue yang nampak ramai.
“waduh ada apa nih, tumben ngadain acara beginian?” tanyaku. Benar, aku lupa, padahal hari ini adalah hari ulang tahunku.
“selamat ulang tahun….” Teriak semuanya dan langsung memelukku. Aku senang sekali karena keluargaku masih mengingat hari jadiku. Banyak kejadian bulan-bulan ini, yang menjadikan aku lupa haru ulang tahunku sendiri.
Aku memotong kue pertama dan aku berikan untuk Kak Rere yang dalam bulan-bulan ini udah ngebuat aku sangat jengkel. Kemudian untuk mama dan papa, karena mereka berdua adalah orang yang sangat spesial bagiku, kemudian Kak Yogi, dan terakhir adalah ceweknya Kak Rere (nggak lama lagi kan jadi bagian keluargaku).
Tapi sayang, nggak ada sahabatku dan juga Kak Bagas yang ikut merasakan pesta kecil ulang tahunku.
Pada malam hari, aku dan juga keluargaku (tanpa Kak Dewi tentunya) ngadain makan malam di hanacara café. Papa yang punya inisiatif ke sini, karena papa memang dari jawa. Dan makanan daerah jawa di café ini memang terkenal enainya.
Saat aku ke kamar mandi sebelum pesanan kami datang, aku melihat Devan yang nampak senang berbincang-bincang dengan seorang cewek, tapi aku nggak tau cewek itu siapa. Aku kembali dari kamar mandi memilih jalan memutar agar bisa melihat siapa cewek yang bersama Devan.
Tidak!! Hana adalah cewek yang bersama Devan, aku pura-pura tidak melihat karena Hana sepertinya mengetahui keberadaanku.
“Tami” aduh, Karin benar-benar mengetahui jika aku berjalan di depannya. Aku hanya tersenyum dan terus berjalan.
“Eh tunggu” Hana berdiri dan memegangi tanganku, aku melihat Devan yang sedang melahap es krim cokelat. “kamu disini sama siapa?” Hana nampak senang hari ini, aku nggak mau ngerusak dan ingin segera pergi.
“sama keluargaku, duluan ya” aku berusaha melepaskan pegangan tangan Hana yang sangat kuat.
“tunggu dulu, ada acara apa?” tanya Hana lagi dengan melototiku.
“nggak ada” aku berhasil melepaskan genggaman tangan Hana dan berjalan meninggalkan mereka berdua.
Aku tidak tahu kalau Hana ternyata mengejarku hingga sampai di meja tempat aku dan keluargaku memesan makanan..
“lho, Hana ya? Sini sini” mama ku semakin membuat ruwet urusanku.
“waduh gak usah deh tante, nanti ganggu acara keluarganya” Hana malu-malu dan hendak pergi namun tangannya di Tamik oleh mamaku.
“ini kan acara hari jadinya Hana, jadi kamu nggak ganggu. Ayo duduk di samping Tami sana”
“tapi..”
“tapi apa? Jangan malu-malu” sela mama sebelum Hana menyelesaikan ngomongnya.
“bukan itu, tapi saya tadi kesini sama temen” jangan Devan! Aku nggak mau melihat muka nya lagi.
“lho, diajak kesini gih temenmu” papa menyuruh Hana memanggil teman Hana, ya Devan pastinya. Hana menyusul Devan, dan tak lama kemudian Hana sudah kembali dengan membawa Devan yang tidak menampakkan ekspresi apa pun.
“lho, Devan?” mama tiba-tiba sok kenal kepada Devan. Devan tersenyum namun tidak duduk di kursi di samping Hana.
“maaf tante, saya harus pulang. Trima kasih sebelumnya, ini ada acara apa ya?” rupanya Devan belum di beri tau Hana, entah mengapa aku merasa sedih karena Devan menolak untuk makan malam bersama.
“kalian ini gimana, katanya sekelas?” mama tetap saja mendudukkan Devan di kursi kosong sebelah Karin.
“hari ini hari jadinya Tami..” lanjut mama sambil duduk di samping papa. Devan seakan kaget bercampur bingung, namun dia selalu menutupi perasaannya dengan sifat sok coolnya itu.
Aku lega karena Devan tetap mau makan bersama kami meskipun hanya makan secuil dan lebih banyak ditanya-tanya oleh Kak Rere.