CERITA 2

1880 Words
Aku berada di balkon kamarku yang menghadap ke tetangga belakang rumah. Capek banget hari ini, dikejar-kejar ketua osis, ketua bagian kedisiplinan, dikerjain cowok nggak jelas, telat kursus fisika hingga disuruh ngerjain soal aneh. Tapi, di sini suasananya enak banget, udara malam yang sejuk dan ditemani bintang-bintang. Kapan ya aku bisa hidup tenang kayak gini terus? “Woy!!” baru saja aku bilang kalau saat ini aku tenang, damai, dan nggak ada yang ganggu. Eh, ada seorang cowok berteriak. Wajahnya nggak kelihatan karena penerangan yang minim. Tentu saja aku menoleh ke sumber suara, tepatnya di balkon rumah belakang rumahku. “Siapa kamu?” aku bertanya dengan suara lantang, yang kalau maling dengar bisa kabur. Kemudian, aku berdiri mendekati sumber suara itu. Ku lihat ada sosok menggunakan celana pendek di atas dengkul, serata kaus berlengan pendek berwarna biru muda, yang kontras dengan warna kulitnya yang terlihat putih bersih. “Ini aku, yang tadi siang liat anak SMA ingusan!” kata cowok itu dengan bangganya. Ternyata dia adalah cowok yang tadi siang ngerjain aku di ruang pembinaan. Saat mengingatnya, rasanya aku tidak terima untuk hanya berdiam diri saja. Kalian dengar kan? dia yang tadi siang mengerjaiku. Enak saja dia bisa bisanya berkata sesantai itu. Aku harus membalasnya! “s**l!” umpatku. Mataku melotot. Berusaha terlihat tidak suka dan tidak ramah. Enak banget kalau dia aku baik-baikin. “Ngapain kamu di situ? Kamu mau nyuri ya ? Dari mana kamu masuknya?” Aku berseru panik. “Jangan-jangan kamu emang mau nyuri? Hiii anak SMA Angkasa kok nyuri sih?” seruku, mataku memicing, menatapnya dengan pandangan sangsi. Mata cowok itu ikut melebar. Rautnya berubah dari santai ke kaget. “Eit, tunggu-tunggu!” sahutnya sambil melambaikan tangan. Ehm, maksudku menunjukkan gestur tidak sepakat. “Ada yang salah paham nih kayaknya,” katanya, kemudian ia bersedekap dan bersandar pada pagar balkon rumah itu. Rumah bercat merah delima yang terletak di seberang rumahku. Well, rumahku terletak di komplek perumahan lumayan bagus, namun juga tidak terlalu elit. Intinya, bokapku ya nggak kaya-kaya banget kayak di sinetron sinetron gitu lho. Sewajarnya aja. Aku hanya menatapnya dengan tatapan mencurigakan. “ini rumahku” lanjutnya sambil senyum-senyum nggak jelas. “Rumah kamu? Rumah dari nyuri?” aku benar-benar nggak ngerti yang diomongin cowok nggak jelas itu. “Ya, rumah orang tuaku lebih tepatnya?” “Jadi?” “Iya! Aku ini tetangga baru kamu! Masa nggak ngerti-ngerti juga dari tadi? Bodo!” cowok itu rese’ banget ternyata. Belum kenal aja udah ngejek aku, apalagi kalo udah kenal, kayaknya nggak panjang umur deh! “TAUK!” sewajarnya dong aku marah. Aku langsung kembali duduk di kursi balkon sambil membaca komik, yang barusaja terhenti akibat perbuatan cowok nggak jelas itu. “Ngapain kamu?” cowok itu mulai lagi. Dia bertanya-tanya seenak jidat seolah aku setuju diajakin ngobrol. Kalau butuh temen ngobrol, sama hantu loteng aja. Di sini aku mau menenangkan diri. Tapi, sepertinya hidupku nggak bakalan tenang di dunia ini. Aku nggak melirik cowok itu, apalagi menjawab pertanyaannya nggak penting banget deh. Aku terus saja membaca komik ‘hai, miiko’ ku sampai tuntas. Saat aku berdiri, cowok nggak jelas itu ternyata masih ada di balkon rumahnya sambil melihati aku yang dari tadi ber-haha-hihi sendiri. “Lho, ngapain kamu masih ada di situ? Ngeliatin aku lagi! Suka?” bertubi-tubi pertanyaan aku berikan buat cowok nggak tau diri itu. “Suka? Aku suka kamu? Ih, nggak banget deh, cewek nggak kayak cewek, nggak tau diri, kepedean lagi! Nggak banget deh.” Sahutnya panjang lebar. Loh loh, tuh anak kok malah ngomel sendiri. Pake ngatain aku nggak kayak cewek. Padahal dia sendiri yang cowok nggak cowok, tapi malah kayak emak-emak, abis doyananannya ngomel. “Ih, siapa yang bilang kamu suka ama aku??” dasar! Cowok emang suka ke-GR-an. “Kamu bilang, suka?? Ih, cewek aneh!” katanya nggak mau kalah. “Kamu tuh yang aneh, maksud aku kamu suka ama komik ini? bodo!” kataku sambil menunjukkan komik yang aku pegang. Mampus deh lu! Aku buat malu kan sekarang? Ini pembalasan pertama dari aku, masih banyak lagi kok jurus-jurus yang akan aku keluarin. Tenang aja, tunggu tanggal mainnya. Tanpa memperdulikan wajahnya yang sedang memerah sekarang, entah karena malu atau marah, aku segera masuk kedalam kamar dan menutup pintu yang menghubungkan Tami balkon dengan kamarku. *** Dianter Kak Rere? Aduh, bisa-bisa aku diturunin nggak tepat di depan gerbang sekolah nih! Emang Kakak cowok ke-duaku ini bener-bener super-super rese’. Coba aja kalo ceweknya yang minta anter kemana-mana, pasti dianterin, dibeliin makan, udah gitu tanpa disuruh, nawarin sendiri buat nganter pulang atau jemput sana-sini. Aku ini siapanya? Adeknya tau! Dasar bucin! “nggak mau Ma! Bisa-bisa aku… hmphmphmp!@-#$%&*()” Kak Rere langsung membungkam mulutku sambil menyeret aku menuju depan kamar mandi. Mama yang melihatku disiksa Kak Rere hanya senyam-senyum sambil menggeleng-geleng kepalanya. “puih, apa-apaan sih ‘Kak?” saat berada di depan kamar mandi bawah, Kak Rere langsung melepaskan tangannya yang sudah basah karena air liurku. Kak Rere memandang tangannya yang baunya nggak karuan itu. Sambil mengusap-usapkan ke piyama tidurku. Tentu saja aku belum menggosok gigi. Saat aku baru bangun tidur, tiba-tiba mama masuk kamarku sambil menawarkan aku dianterin Kak Rere. “ih, kamu itu lho Tami, bau!” kata Kak Rere masih saja mengusap-usapkan tangannya di piyama tidurku dengan muka jijik yang amat sangat luar biasa. Aku tertawa melihat mukanya yang kayak banci keserempet becak. Salah sendiri negbungkam mulutku! “kamu jangan bilang bilang Mama dong kalo aku kayak gitu..” katanya lagi dan memandangiku dengan muka memelas. “kayak gitu? Kayak gitu apanya?” kataku sambil mengerutkan keningku. “kalo nggak pernah nganter kamu sampek depan sekolah, kamu ini bodo apa b**o sih? Kan aku udah bilang ini berkali-kali” Kak Rere tiba-tiba menjadi Godzilla menyeramkan. “Kak Rere tuh maunya sendiri aja! Kalo nganter ceweknya aja, mau. Kalau aku? Hih, nganter sampek sekolah aja yang jaraknya lima kilometer dari rumah sayang bensin, mendingan dianter Kak Yogi meski pun make sepeda bututnya. Pokoknya kakak aku bilangin ke Mama. Biar Mama tau kalo Kakak itu jahat sama aku!” aku nggak tahan sikap kakakku yang kayak anak taman kanak-kanak tapi nggak lulus-lulus sampek umur tujuh belas tahun. Aku langsung lari menuju kamarku. Tapi masih sempat-sempatnya Kak Rere ngomong “awas kamu!” sambil melototin matanya yang lebih belo dari mata milikku. Kok nggak copot aja langsung tuh mata. Hari ini MOS udah selesai, semoga nggak ada terror dari ketua osis dan juga ketua bagian kedisiplinan. Capek tau lama-lama! Bisa-bisa tenagaku bukan habis buat belajar, tapi buat menghadapi ketololan mereka. Tokk.. tokk.. tok.. tok… Siapa sih? Nggak tau aku belum mandi apa? “Tami, Tami, cepet turun sayang, ada yang ingin ketemu dengan kamu” Mama? Tumben ngeburu-buruin aku? Perasaan biasanya santai aja nunggu aku turun sendiri. Eh, bener kan ini masih jam kayak biasanya? Aku nggak kesiangan? Aku melirik jam, lalu mendesah lega. “o, iya ma” aku melempar handukku ke tempat tidur kemudian turun untuk menemui tamu yang menungguku. Siapa ya? Perasaan aku nggak janjian sama siapa-siapa deh, “siapa ma?” tanyaku kepada mama yang ternyata menunggguiku di depan kamar. Mama hanya menyunggingkan senyum manisnya kepada ku. Aneh banget, nggak biasanya mama nggak banyak omong. Aku pun menuju ruang tamu masih dengan rasa penasaran yang luar biasa. “tarraa!!” tiba-tiba ekspresi wajah mama berubah seratus delapan puluh derajat saat kami telah berada di ruang tamu. What? Tamu yang menungguku ternyata cowok nggak jelas itu dengan mama nya yang sekarang senyam-senyum kearahku. “kenalin, Tante Ira ini temen mama waktu SMA, beliau juga di SMA Angkasa, sama kayak kamu. Makanya, anak-anaknya di sekolahin di SMA Angkasa juga” kata mama panjang lebar dengan bangganya. Aku pun menjulurkan tanganku untuk berkenalan dengan mereka. “Tami, tante” kataku sambil memberikan persediaan senyum termanisku. Kemudian aku menuju cowok nggak jelas itu. “Tami” kataku sok cuek tanpa memberikan senyum meski pun sebenarnya persediaannya masih banyak. Tapi, khusus untuk cowok nggak jelas itu, tidak akan kuberikan senyum manisku ini secara gratis. Ehhh, dia malah tersenyum geli melihatku seperti itu. “kalian udah pada kenal?” tanya mama kepadaku, mungkin gara-gara melihat tingkah laku ku yang aneh. Aku langsung menggelengkan kepala sekuat mungkin. “eh, Ir, siapa nama anak ke duamu ini, aku lupa, emang sudah lama banget nggak ketemu” kata mamaku kepada Tante Ira dengan sedikit basa-basi. “Namanya Devana Anggara, tapi biasa dipanggil Devan,” jawab Tante Ira, kemudian beliau menoleh ke arahku. “katanya sekelas sama kamu?” tanya tante Ira disertai senyuman. “em, iya mungkin Te, soalnya aku di sekolah sibuk jadi belum kenal semua temen yang ada di kelas” kata ku tergagap-gagap sambil menggaruk-garuk kepala. Untung saja Tante Ira bukan tipe ibu-ibu arisan yang kalo sekali ngomong nggak bisa berhenti. Padahal alasanku payah banget. “ya udah ma, aku mau mandi dulu” bisikku kepada mama sambil memegangi piyama ku. Ugh kenapa sih harus ketemu cowok ini sebelum mandi? Mana masih ileran lagi? Mama aneh banget deh. Masa ngenalin anak gadisnya dalam format seperti ini. Eh, tapi nggak masalah dong? Biar aja dia nyium bauku yang nggak enak belum mandi ini? Emang dia siapa? “iya, mandinya yang cepet” kata mama sambil menyuruhku pergi. Aku hanya senyum tipis kepada mama dan Tante Ira. Saat aku sudah berada di kamar, aku melirik jam dinding yang berada di atas meja belajarku. Hah? Udah jam tujuh kurang dua puluh, sementara aku masuknya jam tujuh. Munculah keinginan nggak ingin mandi. Ya udah, aku nggak mandi tapi gosok gigi aja deh. Saat aku menuruni tangga, mama ku terheran-heran melihatku sudah memakai seragam lengkap dan tas cokelat yang telah berada di tanganku. “oh ya, Tami, kamu berangkatnya bareng anaknya Tante Ira ya?” mama langsung memberikan pernyataan seperti itu saat aku barusaja sampai di depannya. Refleks aku langsung manyun sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kenapa juga mama pake ngebareng-barengin aku sama dia? Biasanya juga berangkat sendiri? Apa dia yang minta? Emangnya dia nggak bisa berangkat sendiri apa? “enggak-enggak, pokoknya harus mau” ucap mama sambil menarik cowok rese’ itu berdiri. Lah, dia masih nungguin di sini? Sengaja ya? Mamaku beda banget sama Tante Ira yang hanya senyam-senyum melihatnya. Terpaksa deh aku berangkat sekolah bareng cowok nggak jelas ini yang ternyata namanya adalah Devan. Aneh ya? “kita naik bus,” kata Devan langsung memutuskan sepihak tanpa meminta persetujuanku saat kami sudah berada di halte bus di depan kompleks perumahanku. “nggak naik angkot aja,” kataku “Kita kan nggak perlu berdiri, kalo naik bus dan busnya penuh dan ada orang-orang prioritas… kita sebagai anak muda yang masih sehat pasti…..” belum selesai aku ngomong, Devan langsung menarik tanganku dan menaiki sebuah bus kecil yang di khususkan untuk anak sekolah. “eh, apa-apaan sih kamu?!” aku langsung melepaskan pegangannya sambil manyun lagi. “duduk dulu, baru aku jelasin” katanya seakan nggak punya dosa, dan seakan lebih tahu dari pada aku yang sudah lama tinggal di sini. Ogah berdebat karena masih pagi, aku pun menuruti permintaannya. Kemudian kami duduk di kursi yang hanya terdapat dua tempat duduk, aku memilih duduk di sebelah jendela agar tidak berkeringat. Aku pun menoleh ke arah Devan dan meminta penjelasannya. “apa sih kamu ngeliatin aku aja!” kata Devan yang sedang ke-GR-an gara-gara aku liatin terus. “suka kamu ya?” “TAUK DEH!!” Ya ampuuun, apaan sih nih anak? Udah tau dia yang aneh, yang katanya mau ngasih penjelasan. Malah bahas yang enggak-enggak! Aku langsung memalingkan wajahku ke arah jendela bus yang berada di sampingku. Di sekitar taman kota, masih banyak orang yang berolahraga di sana. Cuacanya juga sedang cerah, pas banget buat mengawali hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD