CERITA 3

1791 Words
Berjalan berdua dengan Devan memasuki halaman sekolah yang sudah ramai rasanya sangat tidak menyenangkan. Kakak kelas memperhatikan kami dengan tatapan yang tidak menyenangkan juga. Cepat! Cepat! Aku ingin cepat sampai di kelas. Kelas? OH, NO!! Aku teringat sesuatu! Aku sekelas sama Devan! Yang berarti aku musti jalan bareng sampek di kelas. Ayo berfikir!! pasti ada alasan yang tepat untuk bisa jalan sendiri. “kamu nggak mau liat papan pengumuman?” pada akhirnya Devan ngajak ngobrol tapi pada waktu yang nggak tepat. Seharusnya aku ngomongnya tadi lebih cepat daripada Devan, kalo aku alasan mau ke toilet, tapi kalo udah di tanyain kayak gini jadi kan nggak enak. “buat apa?” “nggak jadi deh, langsung ke kelas aja, kamu kan sekelas sama aku?” lagi-lagi dia ngomong seenaknya dan kali ini dia menarik tanganku tanpa meminta persetujuanku. Lho? kok tambah gini situasinya? Deg.. deg.. deg.. TIDAAK!! Kok deg-geg-an dan agak nyetrum gini sih? Jangan-jangan Devan siluman belut yang bisa mengalirkan listrik? Nggak-nggak, jangan ngawur! Ya udah deh ikutin aja apa kemauan cowok nggak jelas ini. Tapi nggak pake pegangan tangan kayaknya lebih enak deh diliatnya. Aku pun berusaha melepaskan genggaman Devan yang ternyata cukup erat. Emang ya, tenaga cowok emang beda. Saat Devan melihatku, ia mulai sadar jika aku berusaha melepaskan genggaman tangannya. Dan saat itu juga dia melepaskan genggamannya sambil tertawa terbahak-bahak. “apaan sih kamu?” Aku bertanya, setengah mengeluh sambil memukul pundak Devan. Harusnya dia tuh sadar dari tadi, dan kalau sudah, minta maaf. Bukannya malah ketawa. Ini sih udah kayak psyco! “hahaha, liat tuh muka kamu merah gitu” kata Devan dengan tangan kanan menunjuk-nunjuk pipiku sedangkan tangan kiri memegangi perutnya yang sakit karena tertawa berlebihan. Merah? Emangnya aku tomat? Ngaco deh kalau ngomong! “rese’ kamu! Ngomong aja kalo kamunya yang ke-GR-an, nggak usah ngomong pipiku merah segala, ngaku deh kamu..” kataku mencoba mencari alasan yang tepat, tapi sepertinya itu bukan alas an yang tepat. Lho? “masa?” katanya lagi, kali ini dengan tatapan genit yang sangat-sangat genit, kayak banci disuruh kerja jadi kuli bangunan. Kali ini aku nggak bisa ngomong apa-apa, toh, meski pun aku ngomong, Devan selalu aja menyangkal, dasar anak aneh!! Untung saja aku sudah berada tak jauh dari kelasku, aku segera lari meninggalkan Devan yang jalannya kayak siput yang lagi kejepit. Aku segera menuju mejaku yang berada di tengah-tengah (nggak bisa dibilang depan, nggak bisa dibilang belakang juga). Aku melihat Hana sedang menungguku dengan muka yang ingin tau apa yang sedang terjadi padaku pagi ini. Tuh anak memang nggak punya kerjaan lain kayaknya, selain ngepoin aku. “ada apa sih Ra?” tanya Hana. Bener kan? Dia pasti nanya-nanya meski pun aku belum sampai benar di tempat dudukku. Aku hanya melirik Devan yang juga sudah berada di tempat duduknya, tepatnya di tempat duduk pojok kiri belakang. Dia juga ikutan lari gara-gara aku lari nggak jelas. “kenapa? Elo suka Devan?” tanya Hana mengagetkanku. “jelas enggak lah,” bantahku. Apaan coba? Kok langsung nembak gitu pertanyaannya. “trus apa dong? Jawab jawab!!” tanya Hana sambil menarik-narik bajuku hingga nggak ketauan bentuknya. Yaaaa banyak. Ya sebel, ya ogah, ya enegh. Aku pun menghela napas, karena sudah kesa. Gila ya. Kesal bisa ngabisin tenaga juga lho. Haruskah aku buat penelitiannya? “Tadi aku berangkat bareng dia gitu deh” aku berkata dengan suara lantang, bingung juga kenapa bisa selantang itu. “tapi dia jalannya lambat” lanjutku, kali ini dengan suara yang lebih pelan tapi tetap keras, sehingga seluruh isi kelas menghadap ke arahku. Tidak ketinggalan juga, Devan yang sudah berdiri dari bangkunya sambil menyilangkan tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku hanya tersenyum sambil mengacungkan dua jariku hingga membentuk peace. Ya, udah dulu musuhannya. Aku lagi capek dan fokus buat mulai pelajaran. Kan mama nyekolahin aku di SMA faforit ini buat belajar, bukan buat cari musuh dan berantem. Kemudian untuk pertama kalinya aku memulai pelajaran di SMA Angkasa setelah berhari-hari dihantui MOS yang memang menghantuiku. Pelajaran pertama adalah pelajaran kimia. Ugh. Nggak ngerti banget deh aku, apa nggak ada yang lebih enteng? Huh, bener-bener sekolah nggak pake basa-basi deh. Kalo waktu SMP kan sekarang ini masih hari tenang, perkenalan-perkenalan dulu, nyeritain pengalaman, motivasi kenapa ingin masuk SMP ini, apa yang membuat tertarik sehingga ingin sekolah SMP ini, tapi ini? Gurunya aja kayaknya nggak bisa diajak basa-basi. Pak Joko namanya, guru kimia yang umurnya sudah setengah abad lebih banyak, memakai kaca mata ‘super tebal’nya yang menggantung pada hidungnya. Ubannya sudah mendominasi rambutnya yang disisir menyamping sehingga nampak rapi. Tiba-tiba Hana yang berada di sampingku menyenggol-nyenggol tanganku. “Tami, Tami.. eh, Tami” suara Hana tidak begitu jelas di telingaku tapi aku yakin kalau dia sedang memanggilku. Aku menghadap ke arahnya. Kulihat wajahnya nampak bingung dan kulihat seisi kelas juga menghadap kearahku. Jangan jangan.. TIDAK!! Aku menghadap ke arah Pak Joko yang melihatku dengan tatapan seolah-olah aku telah menjadi ‘tersangka’ pembunuhan berencana. “kamu, bisa mengerjakan soal itu?” kata Pak Joko mendekatiku sambil memberikan spidol ditangannya kepadaku. Soal? Soal yang mana ya? Aku yang bingung tetap maju ke depan kelas mengerjakan soal yang diberikan Pak Joko pada whiteboard yang telah dipenuhi lambang-lambang kimia yang tidak aku mengerti. Aku hanya memandangi whiteboard itu, kemudian menghadap ke arah belakang mencari bantuan kepada teman-temanku. Tuhan, beri aku pertolongan, turunkan malaikatmu untuk menolongku hari ini. “pak boleh saya membantu?” sepertinya tuhan telah mengabulkan doaku. Aku mengahadap kepada dewa penolongku itu, dengan wajah mengungkapkan ‘makasih banyak’ tapi tanpa memberikan senyuman atau apapun agar Pak Joko merasa kasihan kepadaku. Dan kamu tau siapa yang menawarkan untuk membantuku? Devan!! Ha? Dia sepintar apa sih hingga menawarkan diri seperti itu? Dari wajahnya aja nggak nampak kalo dia anak pinter. Rambut udal udalan, baju nggak rapi banget, nggak make kaca mata lagi (biasanya orang pinter itu kan identik dengan kutu buku dan kutu buku itu identik dengan kaca mata yang tebal). Tapi Devan, beda seratus delapan puluh derajat! Mana mungkin dia bisa ngerjain soal kimia sulit kayak gini? Thomi, temen satu SMP denganku yang sangat pinter aja nggak menawarkan diri untuk jadi dewa penolongku. Sok banget deh! Paling-paling cuma nyari perhatian Pak Joko aja. Atau cari perhatian cewek yang dia taksir di kelas ini? bodo amat dehhh, yang penting aku bebas! “kamu? Boleh, silahkan maju.” Aku mengerutkan keningku sambil menatap Devan yang telah bangkit dari kursinya. “kamu berdiri di sana!” bentak Pak Joko kepadaku sambil menyuruhku berdiri didekat pintu kelas. Yeee, kirain disuruh duduk Pak. Wajar dong aku nggak bisa, kan ini hari pertama hehe. Dari tempatku bediri, melihati Devan yang telah mengerjakan soal Pak Joko di papan tulis. Tidak kusangka, sangat tidak kusangka, Devan sudah selesai mngerjakan soal aneh yang ditulis di papan tulis dengan mudah, cepat dan sepertinya betul. Sepertinya ya… aku juga nggak tau. Kan aku juga nggak bisa. Cuma kuterawang-terawang dari wajah Pak Joko yang menyunggingkan senyum bangga, kayaknya sih jawaban Devan bener. Pak Joko menepuk bahu Devan dan membisikkan sesuatu, Devan kemudian tersenyum dan kembali duduk di kursinya. Aku hanya memandang Devan dengan tatapan kesal. Bagaimana bisa cowok slengek’an kayak dia bisa ngerjain soal sulit yang orang lain nggak bisa?! Aku yang anak baik-baik begini malah bernasib mengenaskan di pojokan kelas begini. Hingga pelajaran Pak Joko usai aku masih harus berdiri di dekat pintu kelas. Dan, kali ini lebih parah, aku dibawa keruang pembinaan untuk kesekian kalinya. “Lho Pak, kenapa saya dibawa keruang pembinaan?” aku mengomel dan terkaget-kaget saat tanganku ditarik oleh Pak Joko menuju ruang pembinaan. Kalau begini, apa gunanya dewa penolong? Kalau tau begini, semestinya aku berdoa satu kelas nggak bisa ngerjain aja. Atau paling enggak, pura-pura nggak bisa ngerjain biar dihukumnya bareng, atau malah nggak dihukum sama sekali karena dimaklumu, atau yang lebih oke lagi, gurunya yang dihukum karena dianggap kurang lihai dalam menjelaskan materi. Ih sebel! Pak Joko hanya melirikku dengan tatapan menyeramkan. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Di ruang pembinaan nampak guru perempuan yang masih muda, aku tidak mengenalinya karena baru saat ini aku melihatnya. “ada apa Pak?” tanya guru itu dengan suara genitnya, menjijikkan!! “ini Bu, anak baru sudah nggak konsen sama pelajaran saya, mohon nasehatnya ya Bu” kata Pak Joko sambil menarik kursi tepat di depan ibu genit itu, dan menyuruhku duduk di kursi itu. Tanpa berkata-kata lagi aku langsung duduk di kursi ‘panas’ itu. Kemudian Pak Joko meninggalkan kami berdua di ruang pembinaan dengan tersenyum genit ke arah ibu guru genit itu juga. Aku hanya menunudukkan kepalaku tanpa merasa bersalah, aku memang nggak bersalah kok. Waktu di kelas aku hanya melamunkan tentang Pak Joko, masalah sepele gitu aja aja sampai di bawa ke ruang pembinaan. Aku tau!! Mungkin Pak Joko yang udah tua itu cuma mau nyari penyegaran mata dengan melihat ibu guru genit ini, pinter juga aku. Karena ya, kalau diperhatikan lagi, banyak kok yang lebih nggak memperhatikan Pak Joko daripada aku. Ada yang sembunyi-sembunyi main hp, ada yang coret-coret buku nggak jelas, ada yang mandangi gebetannya, ada yang ngelamunin makanan di kantin dan ngitungin jam pulang, banyak deh! Tapi mungkin s**l, jadi aku yang terseret ke sini. “maaf, kamu kelas berapa?” tiba-tiba ibu guru yang bernama d**a LINA SARIDEVI ini membuka pembicaraan. “kelas sepuluh bu” dengan malas aku memandang ke wajah Bu Lina itu. “sepuluh apa ya?” ia bertanya lagi, ternyata aku menyimpulkan yang salah tentang Bu Lina ini, namun sepertinya dia adalah guru yang sabar dan tidak genit-genit amat. “sepuluh dua” kataku singkat. “nama kamu siapa?” “Tami Wiyanta, bu” “emm, menurut kamu Pak Joko itu seperti apa?” ha? Yang benar saja, pertanyaan macam apa itu!! Nggak sekalian ditanya, menurut kamu, saya itu orangnya seperti apa? Aku langsung saja menjawab sambil mengerutkan keningku. “Pak Joko itu kalo nerangkan pelajaran cepet banget bu, terus pakaiannya rapi, rambutnya juga disisir rapi” aku berkata terus terang, Bu Lina hanya menyunggingkan senyum tipis kepada ku. “tapi Bu, Pak Joko itu kayaknya suka marah-marah nggak jelas gitu deh Bu” perlahan, tanpa sadar aku jadi mulai terbuka kepada Bu Lina. “oh, gitu ya?” tanya Bu Lina dengan senyum memperlihatkan giginya. Aku hanya memberikan anggukan sambil tersenyum juga. “ya sudah, kamu boleh kembali ke kelas, tapi jangan diulangi lagi ngelamun waktu pelajaran siapa pun juga gurunya” kata Bu Lina sambil memberikan kartu bukti bahwa aku telah selesai diberi bimbingan konseling. “Tami, kamu nggak apa-apa?” kata Hana mengagetkanku saat aku baru saja sampai di dalam kelas. “nggak apa-apa apanya?” “barusan, di ruang pembinaan? Kamu diapain aja? Dimarahin nggak? Di bentak-bentak? Atau di..” “ssstt..” belum selesai Hana ngomong panjang lebar itu, aku menyuruhnya diam dan menariknya menuju tempat duduk kami. “aku nggak diapa-apain kok, Bu Lina itu ternyata baik banget, masak aku cuma ditanya bagaimana Pak Joko itu, abis itu langsung disuruh kembali ke kelas deh” kata ku dengan mata berbinar-binar. Hana nggak bisa mengomentari lagi karena pelajaran kedua telah dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD